Menjadi supporter olahraga terutama sepak
bola adalah hal yang sangat menyenangkan bagi saya. Saya menikmati setiap
sensasinya, saya menghirup semangatnya dan saya merasakan kemegahannya. Ada
satu kepuasan tersendiri saat melihat jagoan saya menang atau bahkan kalah
sekalipun.
Saya adalah fans berat Manchester United dan
minggu lalu ketika mereka kalah dari Real Madrid di Liga Champions Eropa dan
diimbangi Chelsea 2-2 di perempat final Piala FA padahal sudah unggul 2-0 di
babak pertama membuat saya mengalami tekanan, ejekan dan cemoohan dari aliansi
AJM (Asal Jangan Manchester Utd). Sudah menjadi tipikal bila “Setan Merah”
kalah para AJM itu akan melakukan “bullying”
pada kami, baik yang hanya menyindir atau benar-benar frontal mengajak perang.
AJM ini bukan hanya terdiri dari fans-fans klub BPL pesaing MU tetapi juga fans
klub dari Italia dan Spanyol. Istilah AJM sendiri saya dapat dari buku “Berani
Mengubah” karya Pandji Pragiwaksono. :)
Menyebalkan memang mendapat hal-hal seperti
itu tetapi saya merasa “bullying”
mereka adalah suatu hal yang positif untuk perkembangan saya sebagai seorang
supporter. Dulu, saya selalu balas mengejek siapapun yang menghina MU namun
akhir-akhir ini saya tidak pernah melakukannya, mampu sportif dan respek
ternyata lebih baik. Saya juga pernah menangis tersedu karena MU kalah oleh
Porto di perempat final Liga Champions 2003/2004, setelah itu saya tidak pernah
lagi menangis semenyakitkan apapun MU kalah paling hanya kecewa. Selain itu,
Saya pernah sangat marah ketika Chelsea begitu digdaya di tahun 2005/2006
tetapi musim lalu ketika Manchester City mengambil “hak” kami di pekan terakhir
saya ternyata bisa santai-santai saja.
Ambil contoh lain, bagi Milanisti semalam
mungkin menjadi malam yang sangat pahit, terlalu pahit untuk menelannya bulat-bulat.
Bagaimana tidak? Membawa keunggulan 2-0 dari San Siro 2 minggu lalu, Milan
dipermak Barcelona 4 gol tanpa balas di Camp Nou sekaligus menyingkirkan Rossonerri dari gelaran Liga Champions
Eropa. Kecewa pasti cuma saya yakin Milanisti sejati takkan banyak terpengaruh
dan siap kembali mendukung tim kesayangannya di laga musim tersisa karena
sebenarnya Milan pernah merasakan kekalahan lebih sakit di final Liga Champions
2004/2005 kontra Liverpool. Saat itu, Milan yang sudah unggul 3-0 sejak turun
minum malah berhasil disamakan dan direbut kemenangannya lewat drama adu
penalti oleh Liverpool.
Inilah yang disebut permainan, menang
dramatis atau kalah ngenes peluangnya
sama besar bila sudah di lapangan dan harus siap diterima para supporter.
Resiko yang menjadi daya tarik tontonan sepak bola sekaligus hal yang
menjadikan seorang supporter dewasa. Yap, sepak bola dengan
pembiasaan-pembiasaannya, kejutan-kejutannya, drama-drama yang mengiringinya
juga cemoohan-cemoohan dari supporter lain membuat seorang akan tumbuh lebih
kuat dan tangguh.
Masalahnya terletak pada bagaimana
menjadikan kepribadian yang kuat dan tangguh yang dibentuk dari hasil menjadi supporter itu
tetap mengarah ke hal-hal positif khususnya supporter di Indonesia. Tidak jadi
fans buta nan fanatik yang rela melakukan apa saja demi klub favoritnya.
Perseteruan Jak Mania dengan Viking atau Aremania dengan Bonekmania yang tak
kunjung usai adalah bukti sahih sulitnya menjadikan supporter sebagai bagian
dari sepak bola yang positif. Kekuatan dan ketangguhan mereka belum didasari
sikap dewasa yang penuh toleransi dan empati. Wajar sich, jangankan di sepak
bola, di kehidupan sehari-haripun kita ini memang masih sulit untuk berempati
dan bertoleransi kepada orang lain terutama pada mereka yang berbeda pendapat
dengan kita.
Bergeser dari sepak bola, saya juga adalah
penggemar Greysia Polii sejak 5 tahun lalu. Tau Greysia Polii? Pasti taulah
yah, dia adalah atlet ganda putri Indonesia. Dari saya ngefans atau bahkan
sebelum saya ngefans, dara Manado ini memang belum pernah mempersembahkan gelar
bergengsi untuk Indonesia tapi entah kenapa saya tetap menyukainya. Saya suka
semangatnya, saya suka permainan cantiknya, saya suka pembawaannya di luar
lapangan dan saya suka cara dia bertahan dalam kesulitan lalu keluar menyerang
menyongsong kemudahan. Namun ekspektasi yang besar terhadapnya membuat dia
kadang tertekan dan itu berimbas pada saya sebagai penggemar dan puncaknya di
Olimpiade London 2012 lalu saat dia bersama pasangannya didiskualifikasi
setelah dituduh bermain “sabun”. Tak ayal, ejekan dan caci maki menghiasi
timeline Twitter dia dan saya.
Setelah hal itu, apa yang saya lakukan?
Meninggalkannya? Tentu tidak. Bukan sesuatu yang bijak saya rasa untuk berhenti
“mencintainya” saat dia sedang terpuruk walau dalam hati saya juga kecewa.
Mungkin kalau kejadiannya terjadi 7-8 tahun lalu baru saya akan
meninggalkannya. Hehe. Sampai sekarang saya masih selalu support dia dan akan
terus support bahkan ketika publik mulai gerah menanti prestasinya seperti hari
ini.
Semua yang saya jabarkan di atas membuktikan bahwa menjadi
supporter bisa membuat kita berkembang ke arah yang lebih baik, setidaknya bagi
saya. Saya bisa lebih tolerir dan empati pada semua supporter lain tanpa
mengurangi adrenalin dan kenikmatan saya sebagai penggemar MU. Saya bisa
belajar bagaimana menanggapi mereka dengan tanpa emosi, saya belajar
mengendalikan amarah dan saya belajar bagaimana tidak membalas kelakuan mereka
ketika tim mereka kalah karena saya tau bagaimana rasanya diperlakukan seperti
itu saat tim favorit saya kalah. :)
Pilihannya sekarang tergantung kepada diri
kita masing-masing karena kedewasaan juga merupakan suatu pilihan toch?
Namun yang pasti, esensi dari sebuah
permainan sebenarnya bukan hanya menang atau kalah tapi menjunjung tinggi sportivitas,
respek, toleransi dan empati.
“Jangan
pernah bersorak saat kami menang, bila tak mampu mendukung saat kami kalah”
@Destangreys, 2013
Casino Bonus No Deposit Bonus 2021 | Best Casino Bonuses for
BalasHapusCasino Bonus No Deposit Bonus Order jordan 15 retro now 2021. This page is updated daily. We also recommend casinos offering 사이트 추천 no deposit bonus offers to air jordan 12 shoes Outlet new players. You Air Jordan 6 Retro can start 토토 사이트