Selasa, 27 Oktober 2015

#ExploreIndonesia #IndonesiaBagus : Sunrise Mempesona Di Puncak Sikunir

Dataran tinggi Dieng, sudah lama menjadi fenomena yang bergema seantero negeri. Cerita rakyat yang melegenda tentang keunikan rambut gimbal alami pada anak-anak asli Dieng plus keindahan alam yang memanjakan mata adalah alasan pas untuk menjadikan tempat ini sebagai tujuan destinasi wisata berkategori wajib.

Terletak di 2 Kabupaten di daerah Jawa Tengah yaitu Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara, dataran tinggi Dieng menawarkan banyak sekali keindahan seperti kawah, telaga, perkebunan yang luas, komplek percandian hingga sang primadona yaitu puncak bukit Sikunir yang menjadi salah satu spot terbaik menikmati matahari terbit walau kata para pendaki profesional, spot sunrise Gunung Prau yang juga terdapat di dalam bagian dataran tinggi Dieng lebih mempesona. Dan itu sempat menggoda saya namun waktu dan perlengkapan yang minim ditambah saya yang tak biasa naik gunung membuat Sikunir jadi tempat yang cukup realisitis untuk dipilih.

Saya tiba di stasiun Purwokerto sekitar pukul 11.00 WIB usai hampir 6 jam berkereta hari Sabtu kemarin, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan mobil ke dataran tinggi Dieng selama kurang lebih 5 jam. Lama? Ia karna kami sempat berhenti lama di sebuah kawasan (lupa namanya) karna satu dan lain hal. Saat memasuki Dieng hari sudah sore, kabut sudah turun menutup kiri kanan jalan yang cukup curam jadi saya tidak bisa menikmati pemandangan apa yang terhampar. Esoknya saat perjalanan pulang, saya baru tahu kalau yang ditutup kabut itu adalah jurang dan perkebunan warga dengan kedalaman yang cukup membuat ngeri namun indah tak terperi. Pukul 18.00, saya tiba di penginapan di daerah Sikidang, pedesaan yang cukup dekat dengan bukit Sikunir. Udara dingin khas dataran tinggi langsung menyeruak saat saya keluar dari mobil, menusuk-nusuk tulang pipi dan membuat merinding bulu kuduk. Saya langsung yakin, suhu semakin malam akan semakin drop mungkin bisa menyentuh 0 derajat celcius.

Karena saya lahir dan besar di Sukabumi yang juga berada di dataran tinggi, saya tahu persis bagaimana untuk membuang sedikit rasa dingin di posisi saat itu yaitu mandi dengan air daerah setempat yang pastinya sudah seperti air es. Dan percayalah, itu berhasil untuk membuat agak hangat setelahnya walau saat mandi terasa seperti sedang menghadapi tantangan Ice Bucket Challenge yang sempat booming beberapa waktu lalu. Hehe.

Sejurus malam pun turun, ketakutan saya akhirnya terjadi, suhu semakin drop dan udara dingin semakin menggigit. Saya yang ingin terpejam sesaat sebelum menghadapi pendakian subuh nanti menjadi terganggu padahal 2 jaket plus 1 baju lengan panjang sudah saya pakai tapi tetap saja gagal menghalau dingin yang merasuk hingga tulang belakang. Dingin luar biasa.

Saya akhirnya memilih untuk memaksa memejamkan mata walau gagal dan akhirnya membiarkan waktu terus berdetak hingga tiba waktunya. Tepat pukul 03.00 pagi saya beranjak melawan dingin suhu 9 derajat celcius untuk menuntaskan penasaran pada matahari terbit di puncak Sikunir yang terkenal itu. Usai menyiapkan semuanya termasuk menambah 1 jaket lagi untuk dipakai, saya bergegas kembali ke mobil yang akan mengantar saya hingga kaki bukit sebelum dilanjut trekking. Sesampai di kaki bukit udara dingin tidak terlalu terasa bahkan boleh dibilang cukup hangat, mungkin karena sudah ada ratusan orang yang berkumpul di sana yang juga punya 1 tujuan dengan saya.

Pukul 03.40, saya memulai trekking untuk mencapai puncak bukit. Pengalaman pertama kali membuat saya menduga-duga akan seperti apa jalur yang akan saya lewati untuk sampai ke puncak sana. Terjalkah? Curamkah? Berbahayakah? Atau seperti apa? Waspada level paling atas langsung saya pasang tapi usai ditapaki ternyata jalur trekking ke puncak Sikunir ini sudah dilengkapi tangga-tangga batu dan patok-patok untuk memudahkan perjalanan saya dan wisatawan lain untuk sampai ke puncak sana apalagi waktu trekking hanya memakan waktu 40-60 menit saja. Tidak terlalu melelahkan. Hanya debu pekat dan oksigen yang tipis yang agak menghambat perjalanan.

Pukul 04.30 saya sudah sampai di puncak dan semburat jingga sang fajar di kejauhan dengan gradasi biru di atasnya langsung menyapa saya sementara bumi masih hitam pekat, masih ingin terlelap. Takjub akan pemandangan itu membuat saya terenyuh, terdiam dan ingin meneteskan air mata. Sekali lagi terharu akan masterpiece Tuhan. Menakjubkan.

Belum lama memandangi pemandangan itu, semburat jingga berubah menjadi putih pias dan akhirnya disana, di ufuk timur tanpa malu-malu muncullah sang mentari, sang raja tata surya, bulat, kuning terang, cepat dan tegas. Siap menjalankan tugasnya dengan penuh semangat, menerangi hari bagi saya dan jutaan orang di bumi ini. Saya dan jutaan orang yang kecil dan tak ada apa-apanya. We got it! Golden sunrise!

Usai berfoto-foto, saya mencari spot lain untuk lebih jelas melihat surga lain dari puncak Sikunir. Yap, selain sunrise, puncak Sikunir menawarkan sisi lain pemandangan yaitu jajaran gunung di Jawa Tengah yang bisa kita nikmati dengan mata telanjang. Memandang jauhlah maka akan terlihat setidaknya 6 puncak gunung yang terpisah ratusan kilometer yaitu Sindoro, Sumbing, Slamet, Merbabu, Ungaran dan Merapi. Momen ini berhasil membalikkan memori masa kecil saya di Sukabumi dulu yang suka sekali memanjat rumah dan duduk di atas genting sambil menikmati indahnya gunung Gede-Pangrango yang gagah berdiri bak raksasa jahat namun mendamaikan.

Belum puas rasanya memandang gunung-gunung itu tapi saya harus segera turun karena hari itu juga saya akan kembali pulang. Sebelum pulang saya menyempatkan mampir di objek wisata di sekitaran Dieng dari mulai kawah Sikidang, Telaga Warna dan Candi Arjuna dan mengakhiri perjalanan dengan menyantap Mie Ongklok Longkrang yang lezat di pusat kota Wonosobo.

Oia..ada hati dan kenangan tertinggal disana, ada rasa belum puas saya sehingga di ketinggian 2.300 mdpl di puncak Sikunir saya mengucap syukur telah diizinkan Tuhan untuk mengecap manisnya Dieng sambil menggurat janji suatu hari saya akan kembali. Insya Allah.

@Destangreys, 2015

Rabu, 14 Oktober 2015

Kekalahan Yang Memenangkan

Greysia/Nitya meraih hasil negatif di Denmark Super Series Premiere 2015 usai takluk dari ganda Korea Lee So Hee/Chang Ye Na 13-21 14-21 di babak pertama. Torehan ini mencoreng perjalanan Greys/Nitya yang sejak Juni lalu berada di performa terbaik dengan prestasi mentereng.

Usai juara di Korea Super Series beberapa minggu lalu, Greys/Nitya memang diharapkan mampu berbicara banyak di turnamen ini tapi tak dinyana mereka tampil di luar ekpektasi publik yang besar.

Namun juga kekalahan dari ganda baru Korea yang sedang bagus performanya juga tidak mengejutkan sebenarnya, sebagai catatan Lee/Chang baru saja meraih 2 final di 2 turnamen beruntun sebelum ini (Korea Super Series dan Thailand Grand Prix Gold), ditambah Denmark yang tidak ramah bagi Greysia juga jadi beban tersendiri untuk melangkah lebih jauh. Greysia tercatat sejak 2007 hanya 2 kali lewat dari babak pertama di Denmark Open baik Super Series maupun Super Series Premiere yaitu tahun 2008 dan 2009 bersama Nitya Krishinda Maheswari dengan raihan semifinalis dan babak kedua. Sedangkan 2007, 2010, 2011 dan 2013 Greysia selalu kalah di babak pertama. Sisanya, tahun 2012 dan 2014 Greysia absen.

Selain itu, permainan mereka memang tidak bagus kemarin. Itu diakui keduanya maupun pelatih Greys/Nitya, Eng Hian seperti dikutip dari press release PBSI di badmintonindonesia.org sebagai berikut :

"Di game pertama awalnya pola kami sudah masuk di permainan mereka. Cuma ketika mereka akhirnya ngejar dengan permainan cepat, kami jadi keikut main buru-buru. Jadinya malah jadi boomerang buat kami dan mati-mati sendiri,” kata Nitya

“Hari ini mereka bola-bolanya mateng banget. Sementara kami mau cepat matiin dan nggak sabaran. Seperti kata Nitya tadi, hal tersebut jadi boomerang buat kami. Selain itu bola-bola lawan hari ini jarang mati sendiri, jauh berbeda dengan penampilan mereka di Korea kemarin,” imbuh Greysia.

“Hasil hari ini bisa dibilang kurang menggembirakan. Yang harus lebih diperhatikan adalah bagaimana pola pikir mereka di lapangan. Saat strategi yang mereka jalankan tidak berhasil, saya arahkan mereka untuk tidak panik, tapi mereka malah jadi panik. Jadi pola pikir mereka yang harus dibentuk lagi,” kata Eng Hian.

“Saat pertemuan mereka di Korea strategi berjalan sesuai rencana. Sementara lawan pasti juga kan ada evaluasi. Jadi ketika di sini strateginya tidak berhasil, Greysia/Nitya harus mengantisipasi kondisi ini. Sebaliknya dipikiran mereka malah jadi, kenapa bola susah semua, apa-apa jadi nggak bisa. Mereka harus bisa mengontrol emosi,” tambah Eng Hian lagi.

Tapi jujur, saya tidak terlalu khawatir dengan kekalahan mereka kemarin karena seusai terus berada di puncak performa, Greys/Nitya harus segera kembali menapak ke bumi. Merasakan kekalahan di awal akan membuat pikiran mereka tidak jumawa sehingga fokus latihan dan evaluasi terus dilakukan sambil mencari formula, strategi dan kekuatan baru serta mempertahankan effort yang haus kemenangan dari turnamen ke turnamen. Hal ini perlu mengingat Greys/Nitya yang sekarang adalah Greys/Nitya yang ditakuti, diwaspadai dan diinginkan kekalahannya oleh semua lawannya jadi saya rasa adakalanya Greys/Nitya harus sedikit menurunkan tensi agar deteksi kewaspadaan lawan berkurang.

Dan akhirnya, semoga kekalahan kemarin di babak pertama dari lawan yang sudah pernah dikalahkan mampu memenangkan mereka. Memenangkan hati, mental dan tekad mereka untuk berjuang lebih keras di perjalanan demi sampai dan berprestasi di Olimpiade Rio De Janeiro Brazil tahun depan.

@Destangreys, 2015