Usai berikan kenangan manis lewat medali emas Asian Games tahun lalu, tahun ini Korea lagi-lagi jadi tempat bersejarah bagi pasangan ganda putri terbaik Indonesia, Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari. Bagaimana tidak, kemarin 20 September 2015 mereka akhirnya berhasil raih gelar Super Series pertama dalam karirnya usai menangi laga melawan wakil tuan rumah Chang Ye Na/Lee So Hee di partai puncak Korea Open Super Series. Uniknya dua gelar mayor itu sama-sama didapat pada bulan September. Deja vu.
Greysia/Nitya memang fenomenal sejak kembali berduet medio pertengahan 2013. Torehan gelar juara di turnamen kompetitif pertama, Thailand Grand Prix Gold 2013, jadi bukti sahih bahwa harapan bangkitnya nomor ganda putri bisa dimulai dari mereka. Dan benar saja, setahun kemudian Greysia/Nitya menjelma menjadi pasangan yang haus kemenangan. Mereka berhasil berdamai dengan masa lalu yang kelam lalu meninggalkan bersama-sama masa-masa itu dan kembali terlahir dengan mind set baru tentang kepercayaan diri dan kesuksesan. Siapa saja bisa menang, siapa saja bisa juara asal kita mau berusaha keras. Kehadiran coach Eng Hian juga jadi kunci berhasilnya Greys/Nitya.
2014, Greys/Nitya mengalami peningkatan grafik yang sangat signifikan dengan juarai Taipei Grand Prix Gold 2014 dan sabet emas Asian Games, emas yang sudah tidak singgah ke tanah air selama 36 tahun. Pemutus dahaga.
Sempat menurun di awal 2015 menyusul cederanya Nitya, mereka menemukan momentum kebangkitan di Piala Sudirman dengan tampil cukup apik walau gagal antar Indonesia ke partai puncak. Usai Piala Sudirman, Greys/Nitya mengikuti 6 turnamen dengan hanya 2 kali gagal podium yaitu di Australia Super Series dan Jepang Super Series yang harus puas terhenti di perempat final. Sementara 4 turnamen sisanya Greys/Nitya selalu mantap berdiri di podium dengan raihan 1 kali finalis di Indonesia Open Super Series Premiere 2015, 1 medali perunggu Kejuaraan Dunia 2015 dan 2 gelar juara di Taipei Grand Prix Gold 2015 serta Korea Open Super Series 2015. Impresif!
Sekedar catatan, medali perunggu kejuaraan dunia adalah medali pertama usai puasa 18 tahun di nomor ganda putri sedangkan gelar Korea Open Super Series adalah gelar Super Series pertama bagi Indonesia usai terakhir 7 tahun lalu direbut Vita Marissa/Liliyana Natsir di Istora. Pemecah rekor!
Bila menelisik partai final kemarin sebetulnya bisa dibilang sebagai partai Greys/Nitya paling emosional dari seluruh pertandingan mereka terutama laga puncak. Ada energi berlebih, ada semangat yang sangat menggelora ketika melihat mereka bermain. Walau tetap tampil fokus dan tenang, Greys/Nitya kentara sekali sedang berada dalam emosi yang kental. Greys terlihat begitu ekspresif, Nitya yang biasanya kalem malah mendapat 2 kali peringatan dari Umpire karna dianggap mengintimidasi lawan saat mendapat poin. Uncontrol. Tapi akhirnya bila melihat perjuangan dan penantian selama ini akan menjadi wajar adanya bila penampilan mereka seperti itu, mereka sadar betul ini kesempatan emas untuk wujudkan mimpi, ada keinginan besar untuk ulangi memori indah setahun silam dan kesampaian. Luar biasa!
Jelas sekali ada kelegaan yang dilepaskan, ada rasa penasaran yang tuntas dan ada kebahagiaan tak terperi. Mendamba sekian lama dan berujung manis. Kerja keras, doa dan percaya tidak akan mengkhianati. :)
Korea bulan September memang selalu indah bagimu Greys/Nitya. Selamat!
@Destangreys, 2015