Jumat, 17 Maret 2017

Sehari Bersama Minions


Beruntungnya saya bisa menemani tur media peraih gelar juara ganda putra All England 2017, Kevin Sanjaya Sukamuljo (Kevin)/Marcus Fernaldi Gideon (Sinyo) hari Rabu pekan lalu. Berlelah dengan penerbangan hampir 15 jam sehari sebelumnya plus penyambutan meriah di bandara Soekarno-Hatta dengan beberapa agenda yang membuat waktu istirahat terpotong, tidak membuat mereka menolak ajakan mengunjungi media yang ingin mengapresiasi perjuangan selama di All England.

Walau dengan muka lelah dan kondisi tubuh yang masih jetlag, Kevin/Sinyo yang dijuluki Minions ini cukup antusias menjalani tur media pertama dalam hidup mereka, mungkin.

Singkat cerita, berangkatlah kami ditemani satu driver. Kami berangkat sekitar pukul 11.30 WIB dari pelatnas PBSI Cipayung menuju studio Kompas TV di bilangan Palmerah. Kevin/Sinyo diminta stand by pukul 12.45 WIB. Iya mepet dan saya mengambil resiko tapi alhamdulillah tepat waktu.

Sepanjang perjalanan, Kevin/Sinyo memang tidak banyak mengobrol bahkan terkesan tanpa interaksi. Saya pun hanya sesekali mengajak ngobrol mereka lalu kebanyakan saya dan driver saja yang bertukar wicara. Mereka tetap diam, sunyi dan dingin.

Setibanya di studio Kompas TV, Kevin/Sinyo langsung jadi serbuan orang. Dari mulai crew hingga narasumber bergantian meminta foto bareng dan mengucapkan selamat. Di dalam hati saya merasa bangga dan senang karena ternyata masih banyak orang yang menghargai prestasi bulutangkis Indonesia, olahraga yang tidak sepopuler sepak bola tapi selalu konsisten memberi kebanggaan pada negeri ini. Cielah.

Kevin/Sinyo baru on cam pada pukul 13.45 WIB di acara Sapa Indonesia Siang dan hanya lima menitan padahal nunggunya sejam. Haha. Dibalik pendiam dan coolnya, Kevin/Sinyo saya akui cukup baik saat menjawab pertanyaan-pertanyaan media baik on air maupun off air. Singkat tapi profesional, tegas dan lugas.

Pukul 14.05 WIB kami meluncur ke media kedua. Metro TV di program Sport Line jadi tujuan kami. Lagi-lagi mepet karena pukul 15.05 WIB mereka sudah harus on cam tapi lagi-lagi juga hari itu kami beruntung, jalanan Jakarta cukup bersahabat. Palmerah-Kedoya hanya memakan waktu tempuh 35 menit.

Kevin/Sinyo masih sempat beristirahat di ruang tunggu yang mewah dan nyaman sambil mengobrol santai dengan mas Boy Noya sebelum banyak kameramen mengambil gambar mereka untuk keperluan stock shot.

Pukul 15.05 WIB mereka pun on air, lumayan lama karena tiga setengah segmen atau sekitar 40 menit. Saat itu saya sama sekali tidak memperhatikan wawancara Kevin/Sinyo karena hati saya sedang berdegup kencang dan nervous mendapati kenyataan kalau presenter yang mewawancarai mereka adalah idola saya sejak lama, Widya Saputra. Seusai acara ketika crew Metro TV sibuk berfoto dengan Kevin/Sinyo, saya malah memberanikan diri meminta foto dengan Widya, hehe. Dan ternyata dia orangnya ramah banget, dia malah minta kontak Whatsapp saya dan berharap terus keep contact. *pingsan ga tuh digituin idola?

Lah malah jadi ngomongin Widya gini, haha. Oke oke kembali ke tema.

Beres dari Metro TV sekitar pukul 15.45 WIB dan Kevin/Sinyo langsung dibajak Media Indonesia. Ini di luar jadwal sebenarnya tapi berhubung jadwal on air berikutnya masih jam 8 malam jadi ya ga ada salahnya saya mengizinkan Media Indonesia yang satu grup dengan Metro TV untuk wawancara mereka juga. Setengah jam berlalu akhirnya selesai dan saya baru ingat kami belum makan siang. *Iya iya saya ga peka sebagai manager roadshow

Kami keluar dari komplek Metro TV pukul 16.30 WIB. Setelah berdiskusi panjang akhirnya diputuskan makan di daerah Petamburan dekat markas PB Djarum. Pukul 17.10 kami tiba dan langsung pesan makan. Dari wajah-wajahnya sudah keliatan pada lapar. Makanlah kami.

Tepat 17.30 WIB kami melanjutkan perjalanan ke studio NET TV di Gatot Subroto. Dari keseluruhan tur, bagian ini yang paling saya suka karena Kevin/Sinyo yang tadinya hanya diam akhirnya keluar juga aslinya. Ya aslinya ternyata dua bro ini ngocol banget, seneng bercanda dan jail abis. Driver kami korbannya sepanjang Petamburan-Gatot Subroto dijailin tanpa berhenti, saya hanya bisa terus tertawa mendengar kelakar-kelakar mereka. 

Sayang saya tidak bisa cerita disini bagaimana jailnya mereka, japri aja deh ya kalau penasaran. 

Dan akhirnya saya menyadari satu hal : "Oh dari tadi kalian diem aja itu laper, abis makan langsung semangat ngobrol, becanda dan jail. Hahaha."

Tiba di studio NET TV kami sempat ngopi dulu karena dua-duanya merasa ngantuk dan waktu on air InI Talkshow yang masih lama. Saya sempat khawatir, mereka yang cool gitu apa bisa tertawa lepas di program Sule cs yang bertema comedy talkshow tapi kekhawatiran saya sirna ketika acara dimulai. Kevin/Sinyo yang hanya mendapat jatah satu segmen terlihat begitu enjoy dan geli melihat tingkah polah Sule dan Andre yang tidak henti menebar jokes.

Saya bersyukur, setidaknya ini penutupan tur media yang baik untuk mereka setelah seharian dihajar jadwal padat. Melepas penat dengan tertawa. 

Lalu di sepanjang perjalanan pulang ke asrama saya akhirnya merenungkan bagaimana hubungan mereka berdua yang sama-sama agak pendiam dan introvert ini tapi bisa jadi pasangan yang menakutkan. Memang Kevin/Sinyo tidak memiliki hubungan bromance bahkan mengaku jarang ngobrol berdua dan punya kehidupan masing-masing.

Tapi kalau ditelaah, mereka seperti punya keterkaitan jauh di sana, di alam bawah sadar. Seperti telepati. Itu tercermin juga dari cara mereka menjawab pertanyaan, apa yang Kevin jawab akan selalu ditambahkan Sinyo tanpa bantahan begitu juga sebaliknya. Dan itu tidak direncanakan.

Layaknya permainan mereka di lapangan yang penuh kejutan, cara mereka memaknai arti dari kemistri di luar lapangan pun tak terduga. Unik, menarik dan tak biasa.

@Destangreys, 2017

Senin, 12 Desember 2016

Sulit Tapi Bisa

Bikin materi itu sulit.
Bikin materi dan lucu itu sulit.
Bikin materi dan lucu dari sesuatu yang ga lucu itu sulit.
Bikin materi dan lucu dari sesuatu yang ga lucu selama dua setengah jam itu sulit.
Bikin materi dan lucu dari sesuatu yang ga lucu selama dua setengah jam dan selalu bekerja di 24 kota itu sulit.

Tapi Pandji Pragiwaksono lewat Juru Bicara World Tour nya membuktikan kalau dia bisa.

Sulit tapi bisa!

@Destangreys, 2016

Minggu, 11 Desember 2016

Terima Kasih Pandji, Terima Kasih #JuruBicaraJKT

Sabtu, 10 Desember 2016, satu potong puzzle terakhir akhirnya melengkapi lembaran mozaik cerita epik hidup saya tahun ini. Saya mewujudkan tekad dan niat menonton konser stand up comedy special milik idola dan inspirasi saya selama ini, Pandji Pragiwaksono.

Bertajuk Juru Bicara World Tour, Pandji setahun terakhir memang mengadakan tur dunia stand up comedy (lagi). Tidak tanggung-tanggung, 24 kota di 5 benua dia sambangi yang katanya untuk membuktikan kalau tur dunia sebelumnya yang diberi nama Mesakke Bangsaku World Tour bukan kebetulan semata.

Setelah resmi diumumkan, Juru Bicara Jakarta langsung jadi bidikan utama saya. Karena selain paling dekat dijangkau, Jakarta selalu jadi penutup rangkaian turnya Pandji. Dua tur sebelumnya, Merdeka Dalam Bercanda dan Mesakke Bangsaku juga berakhir di Jakarta jadi saya yakin dia tidak akan memberikan yang biasa, istilahnya Juru Bicara Jakarta adalah paling special dari yang special.

Dan benar saja, Pandji memilih The Kasablanka Hall berkapasitas 3500 orang di lantai tiga mal Kota Kasablanka sebagai venue Juru Bicara Jakarta. Gila!

17 Agustus 2016, presale satu yang menjual 1000 tiket dimulai dan tak dinyana dalam waktu 24 jam tiketnya ludes terjual. Saya beruntung karena termasuk yang bisa mendapatkan tiket dari penjualan tiket di presale satu itu. Lega dan tidak sabar!

Oia..sekedar informasi 3000 tiket akhirnya sold out beberapa minggu sebelum konser digelar. GOKS!
Empat bulan kurang menunggu akhirnya harinya tiba. Pukul 18.30 WIB saya sudah duduk manis di venue megah itu, menunggu, dengan lagu dari playlist Pandji yang kaya akan warna musik. The Kasablanka Hall memang sempurna untuk sebuah pertunjukan. Kapasitas, layout hingga audio sangat mumpuni (ya walau mic Pandji sempat mati dua kali sih).

Tepat pukul 19.30 WIB konser dimulai, dibuka dengan penampilan Coki Pardede dan Indra Jegel. Sejujurnya saya tidak terlalu suka dua komika ini tapi malam itu, saya terbahak menonton mereka bahkan sejak bit pertama. Coki dengan keabsurdannya dan Jegel yang agresif dan sangat berani membuat pembukaan Juru Bicara Jakarta bukan saja hangat tapi panas. Saya rasa tidak salah Pandji memilih opener.

Bit Coki favorit saya adalah bit pertama tentang Young Lex sementara bit Jegel favorit saya tentang reality show "Katakan Putus" yang cowonya pengangguran. Itu kampret banget!

Usai Coki dan Jegel, tanpa jeda Pandji langsung mengambil alih panggung. Diawali intro video selama perjalanan 23 kota dengan iringan lagu dari Bone Thugs-n-Harmony feat Phil Collins "Home", Pandji membuat isyarat bahwa ini saatnya kembali ke rumah, menutup tur di rumah, di Jakarta.

Sayangnya, bit pembuka dari Pandji tentang budaya kentut di Tiongkok sudah pernah saya dengar jadi tidak terlalu nendang tapi selepas itu selama lebih kurang dua setengah jam, Pandji menghajar saya dengan bit-bit yang membuat rahang dan perut saya sakit karena tak henti tertawa.

Lebih dari itu, Pandji tidak hanya memberikan tawa-tawa kosong tapi dia dengan sangat jenius memberikan motivasi, ilmu dan banyak keresahan yang harus jadi pemikiran kita, harus jadi concern kita dan harus kita cari solusinya. Itulah yang selalu terjadi ketika menonton stand up nya Pandji, keluar dari situ pikiran kita akan penuh dengan pemikiran-pemikiran. Ya walau saya tahu ada yang tidak setuju dengan banyak apa yang Pandji sampaikan tapi percayalah itu bikin ketagihan. Hehe.

Berbicara materi, Juru Bicara memang materinya paling tidak aman, isunya serius dan tidak ada lucu-lucunya tapi Pandji sekali lagi dengan sangat jenius membuat semuanya menjadi sangat lucu. Materi tentang rating, regulasi ganja, regulasi prostitusi, aksi kamisan, HAM dan konservasi satwa yang mencerahkan, materi berkarya yang menginspirasi hingga materi mie instan, daun bungkus Papua, magic tissue dan Duo Serigala yang ringan dibungkus dengan apik oleh Pandji sebagai bukti kematangan dan kedisplinan Pandji dalam berkarya. Unik, beda dan original.

Sehingga tak ayal kalimat "sedikit lebih beda lebih baik, daripada sedikit lebih baik" dan "disiplin awalnya mengekang pada akhirnya membebaskan" akan selalu terkenang oleh 3500 penonton yang standing ovation saat Pandji menutup dengan ucapan selamat malam. You deserved to be the best Mr. World Tour! Congratulations!

Dan akhirnya walau banyak sekali impian saya terwujud tahun ini termasuk impian sejak tahun 2008 yaitu kerja di PBSI tapi Pandji dan Juru Bicaranya menyadarkan saya sesuatu bahwa mewujudkan mimpi itu tidak cukup tapi kita harus berani menghidupi dan hidup dari mimpi-mimpi tersebut. Berkaryalah!

Terima kasih Pandji, terima kasih #JuruBicaraJKT!

@Destangreys, 2016

Minggu, 24 Juli 2016

Olimpade Rio : Momentum Kembalikan Tradisi Dan Ciptakan Sejarah

Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brazil tinggal menghitung hari. Acara pembukaan akan dihelat 5 Agustus 2016 dan berakhir pada 21 Agustus 2016. Terlepas dari banyak permasalahan internal di negara penyelenggara dari mulai kesiapan infrastruktur hingga penyebaran virus Zika tetapi pesta olahraga terakbar sejagad ini tetap layak ditunggu.

Kiprah persaingan ribuan atlet dari seluruh penjuru dunia demi sekeping medali untuk negara akan terpampang di ajang bertajuk Live Your Passion ini termasuk juga dari Indonesia. 28 atlet Merah-Putih yang sudah dikukuhkan sekaligus dilepas Pak Jokowi minggu lalu akan berangkat hari Rabu, 27 Juli 2016 menuju Brazil. 28 atlet itu berasal dari 7 cabang olahraga, Bulutangkis, Dayung, Panahan, Atletik, Renang, Balap Sepeda dan Angkat Besi.

Jumlah atlet ini meningkat dibanding Olimpiade London 2012 walaupun jumlah cabang olahraga yang diikuti berkurang. Saat itu Indonesia hanya mengirim 22 atlet tapi dari 8 cabang olahraga dengan torehan 1 perak dan 1 perunggu dari Angkat Besi.

Torehan inilah yang ingin dilebihi kontingen Indonesia di negeri Samba apalagi tradisi emas sejak Olimpiade Barcelona 1992 terhenti karena gagal totalnya genk PBSI tunjukkan taji. Selain itu, menambah koleksi medali Olimpiade yang sekarang berada di angka 27 menjadi motivasi lain para atlet.

Walau gagal total di London 2012, Indonesia nyatanya masih mengandalkan Bulutangkis untuk meraih medali emas. Ini tak lepas dari prestasi Bulutangkis yang kembali moncer usai Gita Wirjawan mengambil alih tampuk kepempinan dan mempulangan Rexy Mainaky cs ke Cipayung. Program jangka panjang dengan target terbesar mengembalikan tradisi emas di Olimpade Rio semakin terlihat nyata. Gelar demi gelar mulai hadir sebagai pelecut kepercayaan diri sebelum Rio tiba, sesuatu yang tidak terjadi jelang London. Dan setidaknya 10 peluru yang dikirim sekarang lebih rasional untuk mendulang medali dibanding 4 tahun silam saat diisi 9 peluru.

Namun dengan begitu bukan berarti jalan Tommy, Linda, Ahsan/Hendra, Owi/Butet, Jordan/Debby dan Greys/Nitya akan mudah. Tetap butuh perjuangan ekstra keras dan semangat pantang menyerah tapi kalau dilihat dari apa yang sudah mereka lakukan dan usahakan selama ini peluang itu besar adanya.

Harapan dan beban terbesar memang ada di cabang Bulutangkis tapi kita tidak boleh menutup mata untuk cabang lain. Peluang mereka juga sama besarnya untuk mempersembahkan medali untuk Indonesia dan menciptakan sejarah baru.

Maria Londa di cabang Atletik nomor Lompat Jauh contohnya. Emas Asian Games 2014 di Incheon menjadi modal penting untuk melakukan sesuatu yang lebih besar. Atletik yang selama ini belum pernah sumbang medali bisa jadi pecah telur tahun ini lewat dara 25 tahun ini.

Atau mungkin Riau Ega Agata Salsabila, Muhammad Hanif, Hendra Wijaya dan Ika Yuliana Rochmawati di cabang panahan mampu membuat sejarah baru dengan torehan medali emas sehingga film "3 Srikandi" garapan Iman Brotoseno yang mengangkat cerita tentang bagaimana semangat Lilies Handayani, Nurfitriyana Saiman dan Kusuma Wardhani di tim Panahan saat putri mendulang medali perak, medali pertama Indonesia di Olimpiade Seoul 1988 yang akan tayang Agustus nanti bisa ada sekuelnya.

Selain Atletik dan Panahan, Angkat Besi pun berpeluang untuk mengubah 3 Perak dan 2 Perunggunya menjadi kumandang Indonesia Raya di edisi ini mengingat Eko Yuli Triawan dan Triyatno sang penyumbang medali di London kembali hadir di Rio bersama para suksesornya Deni, M Hasbi dan I Ketut Ariana serta penerus peraih 2 perak Olimpiade Sydney 2000 dan Athena 2004, Lisa Rumbewas, Sri Wahyuni dan Dewi Safitri.

Dan akhirnya semoga semua atlet kita nantinya bisa maksimal memberikan penampilan terbaik demi kebanggaan negara apalagi motivasi dipastikan bertambah lewat terobosan Chief de Mission, Raja Sapta Oktohari, yang memberi bonus awal untuk atlet yang lolos Olimpiade via kualifikasi dan menyiapkan tiket pesawat kelas bisnis ke Brazil. Wow!

Kalau sudah begini, jadi berapa medali, Indonesia?

@Destangreys, 2016

Senin, 11 Juli 2016

Memahami Cristiano Ronaldo

Cristiano Ronaldo Dos Santos Aveiro atau dikenal dengan Cristiano Ronaldo baru saja menambah koleksinya dengan trofi Piala Eropa bersama Portugal usai kalahkan tuan rumah Perancis dengan skor tipis 1-0 lewat babak perpanjangan waktu.

Tambahan gelar ini melengkapi sederet prestasi mentereng CR7 (Julukan Cristiano Ronaldo) yang sudah dia raih di level individu maupun klub sekaligus menjadi gelar pertama untuk tim nasionalnya. Walau begitu, nada sinis nan nyinyir masih saja belum mau pergi menghampiri Ronaldo. Yap, Ronaldo dianggap terlalu arogan dan angkuh untuk seorang pesepakbola dengan ban kapten melingkar di lengan. Di Piala Eropa ini kentara sekali bagaimana Ronaldo begitu dominan bagi pemain Portugal lainnya, tidak ada yang berani padanya.

Tapi benarkah Ronaldo searogan itu? Jawabannya bisa ya bisa tidak, tergantung dari persepektif mana dilihatnya tapi bagi saya Ronaldo memang arogan tapi itu alamiah karna obsesinya yang selalu ingin jadi yang terbaik dan jadi pemenang. Justru karna sifat itulah akhirnya Ronaldo menorehkan tinta emas untuk dirinya, untuk klubnya dan untuk Portugal. Saya yakin bila tidak bersikap seperti itu, kemampuannya tidak akan keluar secara maksimal. Ronaldo adalah tipe orang yang harus selalu diberi "panggung" untuk memperlihatkan bakatnya, banyak kan orang dengan kecenderungan seperti itu?

Jadi wajar menurut saya, dia uring-uringan saat tidak bisa mencetak gol, kesal dan marah pada teman 1 timnya yang tidak bisa membagi bola dengannya, mengkritik tim lawan, menangis saat kalah atau cedera di laga penting seperti semalam di final dan lain sebagainya.

Tapi dibalik itu semua, Ronaldo adalah seorang ksatria, dia adalah sosok yang besar hati dan sadar betul tidak perlu mengecilkan orang lain untuk menjadi orang besar. Sikapnya pada Modric dan Bale jadi contoh bagaimana Ronaldo sebetulnya punya hati yang tulus. Belum lagi bila melihat cara dia menyemangati rekan-rekan di Portugal di saat genting. Joao Moutinho saat adu penalti kontra Polandia atau saat dia meyakini Eder akan mencetak gol kemenangan di final juga saat bagaimana dia dengan sangat heroik berteriak-teriak bak pelatih di pinggir lapangan sambil menahan rasa sakit.

Di luar lapangan, kisah kedermawanan dan kepedulian sosial Ronaldo bahkan lebih luar biasa. Ramah terhadap fans, rajin mengunjungi anak-anak dengan keterbatasan dan tak segan berbagi dengan sesama membuat kritik tajam tentang arogan dan keangkuhannya menjadi amat tidak pas.

Menurut saya lho ini.

Dan sebagai pribadi yang tidak mau membanding-bandingkan siapa dengan siapa, dalam hal ini Ronaldo dengan Messi, saya beranggapan yang mencintai Messi tidak membenci Ronaldo pun begitu sebaliknya. Mereka hanya tidak atau belum memahami saja.

Viva Ronaldo!

@Destangreys, 2016

Sejauh Doa dan Usaha

Ada banyak kejadian menarik di jagat Sepakbola tahun ini, 2 yang paling fenomenal adalah juaranya Leicester City di kancah Liga Inggris dan Portugal yang berhasil menggondol gelar Piala Eropa.

Tidak ada yang menyangka memang, 2 tim yang tidak pernah diperhitungkan, underdog, kuda hitam atau apapun itu namanya malah mampu berdiri di podium paling atas sebuah turnamen.

2 hal ini berhasil membawa kenangan saya ke tahun 2014 silam saat ganda puteri Indonesia Greysia/Nitya berhasil meraih medali emas Bulutangkis Asian Games di Korea yang sudah 36 tahun tidak pernah singgah. Padahal sebelumnya tidak ada yang mewaspadai Greysia/Nitya, mereka kalah saing dibanding ganda2 Tiongkok, Jepang dan Korea.

Lalu apa sih kunci sukses 3 tim yang bisa dibilang semenjana ini sehingga akhirnya mampu menjungkalkan logika dan memutarbalikkan ekspektasi publik dengan meraih pencapaian yang fantastis? 

Jawabnya setidaknya ada 4 faktor kesamaan yang mereka lakukan untuk sebuah gelar juara : Keyakinan, Kemampuan, Fokus dan Keberuntungan.

Ya, keyakinan adalah modal penting bagi sebuah tim untuk meraih kemenangan. Keyakinan pada pelatih, pada rekan setim, pada diri sendiri dan pastinya pada Tuhan. Lihatlah bagaimana solidnya Leicester musim ini karena ada koneksi keyakinan satu dengan lainnya, Ranieri berhasil menyatukan tim menjadi amat menakutkan karna adanya keyakinan pada Vardy, Mahrez, Huth, Kante, Kasper dkk untuk berbuat sesuatu yang lebih. Tidak berbeda jauh dengan Portugal, tim yang selalu dicap sebagai One Man Team karna terlalu bergantung pada sang kapten Cristiano Ronaldo berhasil menunjukkan kerjasama tim yang baik dalam permainan kolektif ketika Ronaldo tidak dalam performa terbaik. Bahkan di final Piala Eropa kemarin Ronaldo hanya bermain 25 menit karena cedera dan Portugal masih bisa juara. Sementara Greysia/Nitya usai meraih emas Asian Games secara terang-terangan mengungkapkan bahwa keyakinan pada Tuhan, pelatih dan partner adalah kunci sukses mereka.

Setelah keyakinan, kemampuan jadi menu penting untuk menjadi juara. Kemampuan yang mereka punya memang diremehkan tapi berbekal keyakinan tadi dan terus mengasahnya niscaya akan ada jawaban yang tak pernah terduga. Leicester dengan perubahan keseimbangan lini yang luar biasa, Portugal dengan gaya bermain sabar nan pragmatis yang mematikan dan agresifnya Greysia/Nitya adalah hasil dari kemampuan mereka yang dimaksimalkan.

Faktor ketiga adalah fokus. Fokus untuk meraih kemenangan demi kemenangan juga penting. Leicester yang selalu punya daya juang selama semusim penuh adalah bukti mereka fokus dari minggu ke minggu tanpa berpikir dulu untuk juara, itu pula yang dilakukan Greysia/Nitya. Portugal bahkan lebih kentara fokusnya, bagaimana cara mereka mempraktekkan strategi pelatih dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya begitu smooth, begitu baik, tanda fokus mereka terjaga. Bahkan ketika harus bermain lebih dari 90 menit, Portugal tidak terganggu fokusnya.

Dan yang terakhir adalah keberuntungan. Terlalu naif bagi saya untuk tidak memasukkan faktor ini ke dalam kunci sukses Leicester, Portugal dan Greysia/Nitya karna di setiap permainan keberuntungan adalah hal mutlak. Andai Spurs tidak kalah di saat Leicester hanya bermain imbang di pekan 36, andai tidak ada peringkat 3 terbaik di Piala Eropa, andai tendangan Giroud di final tidak mengenai tiang, andai match point 16-20 di game ketiga dari pasangan Taipei tidak berbalik jadi 22-20 untuk Greysia/Nitya, mungkin 3 cerita heroik mereka tidak akan pernah ada. Keberuntungan? Ada!

Oia..saya lupa memasukkan 1 hal lain dari 3 cerita bak dongeng Leicester, Portugal dan Greysia/Nitya tadi. Hal itu adalah doa dan dzalim dari publik. Ketika dapat 1 saja lebih banyak maka gelar juara akan tiba. Leicester juara karna dapat doa yang lebih banyak dari publik sementara Ronaldo dan Portugalnya serta Greysia/Nitya dapat dzalim yang lebih banyak berupa sindiran, cacian dan diremehkan sebelum akhirnya juara. Ya setidaknya itu yang muncul di Timeline Twitter dan Path juga beranda Facebook saya. Hehe.

Ya kita memang tidak pernah tahu masa depan akan bekerja seperti apa tapi kita tahu jarak kita dengan juara hanya sejauh doa dan usaha.

@Destangreys, 2016

Selasa, 28 Juni 2016

CI : Bukan Sekedar Komedi

Sebagai seorang yang sedang gemar menonton film dalam beberapa tahun terakhir, saya mulai bisa memilah-milah mana film yang bagus, kurang bagus, penuh makna atau hanya sekedar menghibur.

Tapi kalau ditanya sepanjang tahun 2016 yang sudah berjalan kurang lebih 6 bulan ini, film mana yang menurut saya terbaik agak sulit juga menentukannya namun rasanya saya tidak bisa tidak memasukkan Central Intelligence ke jajaran film terbaik. Ya film yang masih nongol di beberapa bioskop Indonesia ini memang tidak se-booming film-film lain yang viral dan menyedot banyak penonton.

Banyak alasan kenapa film yang sebenarnya sangat bagus ini tidak meledak-ledak amat gaungnya. Pertama, mungkin karna ini bukan film Superhero, bukan juga sekuel yang bikin penasaran dan pemerannya pun tidak sepopuler Chris Evans, Robert Downey Jr, Jennifer Lawrence atau Leonardo Di Caprio. 2 Pemeran utama film ini hanyalah seorang mantan pegulat Smackdown bernama Dwayne The Rock Johnson yang pindah jalur menjadi aktor dan seorang komika yang lebih banyak dikenal dari Stand Up Comedy nya yang khas, Kevin Hart.

Lalu menjadi aneh kenapa saya akhirnya bisa memasukkan film bergenre action komedi ini ke jajaran terbaik, jawabannya adalah film ini ternyata bukan hanya tentang komedi dan action bahkan pesan yang disampaikan terlalu serius untuk disebut komedi. Film ini berkisah tentang Tommy Weirdich (Dwayne Johnson) yang menjadi korban bully saat SMA akhirnya malah berhasil menjadi orang penting di masa depan dan mengganti nama menjadi Bob Stones sementara Calvin Jorney (Kevin Hart) adalah seorang bintang sekolah yang mendapat predikat terbaik dan diramal bakal sukses usai lulus malah gagal mencapai ekspektasi dengan menjadi akuntan yang mandek karirnya. Pertemuan mereka 20 tahun setelah lulus via Facebook menjadi awal mula petualangan menegangkan mereka untuk menyelamatkan dunia.

Petualangan-petualangan itulah yang menjadi kekuatan film ini dimana pesan tentang hubungan suami-istri, pertemanan, persahabatan, kenangan dan kepercayaan dikemas secara apik yang dekat dengan kehidupan kita selain komedi yang segar dan lucu.

Dan akhirnya pesan paling ngena dari film ini adalah kita bisa belajar bagaimana seorang korban pembullyan melepas trauma masa lalu yang kelam dan menjadikan itu sebagai kekuatannya dalam menyongsong kehidupan yang lebih baik karna hal terpenting dari pembullyan adalah bangkit, keluar lalu pembuktian setelahnya.

Central Intelligence : MUST WATCH!!!

@Destangreys, 2016