Dataran tinggi Dieng, sudah lama menjadi fenomena yang bergema seantero negeri. Cerita rakyat yang melegenda tentang keunikan rambut gimbal alami pada anak-anak asli Dieng plus keindahan alam yang memanjakan mata adalah alasan pas untuk menjadikan tempat ini sebagai tujuan destinasi wisata berkategori wajib.
Terletak di 2 Kabupaten di daerah Jawa Tengah yaitu Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara, dataran tinggi Dieng menawarkan banyak sekali keindahan seperti kawah, telaga, perkebunan yang luas, komplek percandian hingga sang primadona yaitu puncak bukit Sikunir yang menjadi salah satu spot terbaik menikmati matahari terbit walau kata para pendaki profesional, spot sunrise Gunung Prau yang juga terdapat di dalam bagian dataran tinggi Dieng lebih mempesona. Dan itu sempat menggoda saya namun waktu dan perlengkapan yang minim ditambah saya yang tak biasa naik gunung membuat Sikunir jadi tempat yang cukup realisitis untuk dipilih.
Saya tiba di stasiun Purwokerto sekitar pukul 11.00 WIB usai hampir 6 jam berkereta hari Sabtu kemarin, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan mobil ke dataran tinggi Dieng selama kurang lebih 5 jam. Lama? Ia karna kami sempat berhenti lama di sebuah kawasan (lupa namanya) karna satu dan lain hal. Saat memasuki Dieng hari sudah sore, kabut sudah turun menutup kiri kanan jalan yang cukup curam jadi saya tidak bisa menikmati pemandangan apa yang terhampar. Esoknya saat perjalanan pulang, saya baru tahu kalau yang ditutup kabut itu adalah jurang dan perkebunan warga dengan kedalaman yang cukup membuat ngeri namun indah tak terperi. Pukul 18.00, saya tiba di penginapan di daerah Sikidang, pedesaan yang cukup dekat dengan bukit Sikunir. Udara dingin khas dataran tinggi langsung menyeruak saat saya keluar dari mobil, menusuk-nusuk tulang pipi dan membuat merinding bulu kuduk. Saya langsung yakin, suhu semakin malam akan semakin drop mungkin bisa menyentuh 0 derajat celcius.
Karena saya lahir dan besar di Sukabumi yang juga berada di dataran tinggi, saya tahu persis bagaimana untuk membuang sedikit rasa dingin di posisi saat itu yaitu mandi dengan air daerah setempat yang pastinya sudah seperti air es. Dan percayalah, itu berhasil untuk membuat agak hangat setelahnya walau saat mandi terasa seperti sedang menghadapi tantangan Ice Bucket Challenge yang sempat booming beberapa waktu lalu. Hehe.
Sejurus malam pun turun, ketakutan saya akhirnya terjadi, suhu semakin drop dan udara dingin semakin menggigit. Saya yang ingin terpejam sesaat sebelum menghadapi pendakian subuh nanti menjadi terganggu padahal 2 jaket plus 1 baju lengan panjang sudah saya pakai tapi tetap saja gagal menghalau dingin yang merasuk hingga tulang belakang. Dingin luar biasa.
Saya akhirnya memilih untuk memaksa memejamkan mata walau gagal dan akhirnya membiarkan waktu terus berdetak hingga tiba waktunya. Tepat pukul 03.00 pagi saya beranjak melawan dingin suhu 9 derajat celcius untuk menuntaskan penasaran pada matahari terbit di puncak Sikunir yang terkenal itu. Usai menyiapkan semuanya termasuk menambah 1 jaket lagi untuk dipakai, saya bergegas kembali ke mobil yang akan mengantar saya hingga kaki bukit sebelum dilanjut trekking. Sesampai di kaki bukit udara dingin tidak terlalu terasa bahkan boleh dibilang cukup hangat, mungkin karena sudah ada ratusan orang yang berkumpul di sana yang juga punya 1 tujuan dengan saya.
Pukul 03.40, saya memulai trekking untuk mencapai puncak bukit. Pengalaman pertama kali membuat saya menduga-duga akan seperti apa jalur yang akan saya lewati untuk sampai ke puncak sana. Terjalkah? Curamkah? Berbahayakah? Atau seperti apa? Waspada level paling atas langsung saya pasang tapi usai ditapaki ternyata jalur trekking ke puncak Sikunir ini sudah dilengkapi tangga-tangga batu dan patok-patok untuk memudahkan perjalanan saya dan wisatawan lain untuk sampai ke puncak sana apalagi waktu trekking hanya memakan waktu 40-60 menit saja. Tidak terlalu melelahkan. Hanya debu pekat dan oksigen yang tipis yang agak menghambat perjalanan.
Pukul 04.30 saya sudah sampai di puncak dan semburat jingga sang fajar di kejauhan dengan gradasi biru di atasnya langsung menyapa saya sementara bumi masih hitam pekat, masih ingin terlelap. Takjub akan pemandangan itu membuat saya terenyuh, terdiam dan ingin meneteskan air mata. Sekali lagi terharu akan masterpiece Tuhan. Menakjubkan.
Belum lama memandangi pemandangan itu, semburat jingga berubah menjadi putih pias dan akhirnya disana, di ufuk timur tanpa malu-malu muncullah sang mentari, sang raja tata surya, bulat, kuning terang, cepat dan tegas. Siap menjalankan tugasnya dengan penuh semangat, menerangi hari bagi saya dan jutaan orang di bumi ini. Saya dan jutaan orang yang kecil dan tak ada apa-apanya. We got it! Golden sunrise!
Usai berfoto-foto, saya mencari spot lain untuk lebih jelas melihat surga lain dari puncak Sikunir. Yap, selain sunrise, puncak Sikunir menawarkan sisi lain pemandangan yaitu jajaran gunung di Jawa Tengah yang bisa kita nikmati dengan mata telanjang. Memandang jauhlah maka akan terlihat setidaknya 6 puncak gunung yang terpisah ratusan kilometer yaitu Sindoro, Sumbing, Slamet, Merbabu, Ungaran dan Merapi. Momen ini berhasil membalikkan memori masa kecil saya di Sukabumi dulu yang suka sekali memanjat rumah dan duduk di atas genting sambil menikmati indahnya gunung Gede-Pangrango yang gagah berdiri bak raksasa jahat namun mendamaikan.
Belum puas rasanya memandang gunung-gunung itu tapi saya harus segera turun karena hari itu juga saya akan kembali pulang. Sebelum pulang saya menyempatkan mampir di objek wisata di sekitaran Dieng dari mulai kawah Sikidang, Telaga Warna dan Candi Arjuna dan mengakhiri perjalanan dengan menyantap Mie Ongklok Longkrang yang lezat di pusat kota Wonosobo.
Oia..ada hati dan kenangan tertinggal disana, ada rasa belum puas saya sehingga di ketinggian 2.300 mdpl di puncak Sikunir saya mengucap syukur telah diizinkan Tuhan untuk mengecap manisnya Dieng sambil menggurat janji suatu hari saya akan kembali. Insya Allah.
@Destangreys, 2015





