Selasa, 27 Oktober 2015

#ExploreIndonesia #IndonesiaBagus : Sunrise Mempesona Di Puncak Sikunir

Dataran tinggi Dieng, sudah lama menjadi fenomena yang bergema seantero negeri. Cerita rakyat yang melegenda tentang keunikan rambut gimbal alami pada anak-anak asli Dieng plus keindahan alam yang memanjakan mata adalah alasan pas untuk menjadikan tempat ini sebagai tujuan destinasi wisata berkategori wajib.

Terletak di 2 Kabupaten di daerah Jawa Tengah yaitu Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara, dataran tinggi Dieng menawarkan banyak sekali keindahan seperti kawah, telaga, perkebunan yang luas, komplek percandian hingga sang primadona yaitu puncak bukit Sikunir yang menjadi salah satu spot terbaik menikmati matahari terbit walau kata para pendaki profesional, spot sunrise Gunung Prau yang juga terdapat di dalam bagian dataran tinggi Dieng lebih mempesona. Dan itu sempat menggoda saya namun waktu dan perlengkapan yang minim ditambah saya yang tak biasa naik gunung membuat Sikunir jadi tempat yang cukup realisitis untuk dipilih.

Saya tiba di stasiun Purwokerto sekitar pukul 11.00 WIB usai hampir 6 jam berkereta hari Sabtu kemarin, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan mobil ke dataran tinggi Dieng selama kurang lebih 5 jam. Lama? Ia karna kami sempat berhenti lama di sebuah kawasan (lupa namanya) karna satu dan lain hal. Saat memasuki Dieng hari sudah sore, kabut sudah turun menutup kiri kanan jalan yang cukup curam jadi saya tidak bisa menikmati pemandangan apa yang terhampar. Esoknya saat perjalanan pulang, saya baru tahu kalau yang ditutup kabut itu adalah jurang dan perkebunan warga dengan kedalaman yang cukup membuat ngeri namun indah tak terperi. Pukul 18.00, saya tiba di penginapan di daerah Sikidang, pedesaan yang cukup dekat dengan bukit Sikunir. Udara dingin khas dataran tinggi langsung menyeruak saat saya keluar dari mobil, menusuk-nusuk tulang pipi dan membuat merinding bulu kuduk. Saya langsung yakin, suhu semakin malam akan semakin drop mungkin bisa menyentuh 0 derajat celcius.

Karena saya lahir dan besar di Sukabumi yang juga berada di dataran tinggi, saya tahu persis bagaimana untuk membuang sedikit rasa dingin di posisi saat itu yaitu mandi dengan air daerah setempat yang pastinya sudah seperti air es. Dan percayalah, itu berhasil untuk membuat agak hangat setelahnya walau saat mandi terasa seperti sedang menghadapi tantangan Ice Bucket Challenge yang sempat booming beberapa waktu lalu. Hehe.

Sejurus malam pun turun, ketakutan saya akhirnya terjadi, suhu semakin drop dan udara dingin semakin menggigit. Saya yang ingin terpejam sesaat sebelum menghadapi pendakian subuh nanti menjadi terganggu padahal 2 jaket plus 1 baju lengan panjang sudah saya pakai tapi tetap saja gagal menghalau dingin yang merasuk hingga tulang belakang. Dingin luar biasa.

Saya akhirnya memilih untuk memaksa memejamkan mata walau gagal dan akhirnya membiarkan waktu terus berdetak hingga tiba waktunya. Tepat pukul 03.00 pagi saya beranjak melawan dingin suhu 9 derajat celcius untuk menuntaskan penasaran pada matahari terbit di puncak Sikunir yang terkenal itu. Usai menyiapkan semuanya termasuk menambah 1 jaket lagi untuk dipakai, saya bergegas kembali ke mobil yang akan mengantar saya hingga kaki bukit sebelum dilanjut trekking. Sesampai di kaki bukit udara dingin tidak terlalu terasa bahkan boleh dibilang cukup hangat, mungkin karena sudah ada ratusan orang yang berkumpul di sana yang juga punya 1 tujuan dengan saya.

Pukul 03.40, saya memulai trekking untuk mencapai puncak bukit. Pengalaman pertama kali membuat saya menduga-duga akan seperti apa jalur yang akan saya lewati untuk sampai ke puncak sana. Terjalkah? Curamkah? Berbahayakah? Atau seperti apa? Waspada level paling atas langsung saya pasang tapi usai ditapaki ternyata jalur trekking ke puncak Sikunir ini sudah dilengkapi tangga-tangga batu dan patok-patok untuk memudahkan perjalanan saya dan wisatawan lain untuk sampai ke puncak sana apalagi waktu trekking hanya memakan waktu 40-60 menit saja. Tidak terlalu melelahkan. Hanya debu pekat dan oksigen yang tipis yang agak menghambat perjalanan.

Pukul 04.30 saya sudah sampai di puncak dan semburat jingga sang fajar di kejauhan dengan gradasi biru di atasnya langsung menyapa saya sementara bumi masih hitam pekat, masih ingin terlelap. Takjub akan pemandangan itu membuat saya terenyuh, terdiam dan ingin meneteskan air mata. Sekali lagi terharu akan masterpiece Tuhan. Menakjubkan.

Belum lama memandangi pemandangan itu, semburat jingga berubah menjadi putih pias dan akhirnya disana, di ufuk timur tanpa malu-malu muncullah sang mentari, sang raja tata surya, bulat, kuning terang, cepat dan tegas. Siap menjalankan tugasnya dengan penuh semangat, menerangi hari bagi saya dan jutaan orang di bumi ini. Saya dan jutaan orang yang kecil dan tak ada apa-apanya. We got it! Golden sunrise!

Usai berfoto-foto, saya mencari spot lain untuk lebih jelas melihat surga lain dari puncak Sikunir. Yap, selain sunrise, puncak Sikunir menawarkan sisi lain pemandangan yaitu jajaran gunung di Jawa Tengah yang bisa kita nikmati dengan mata telanjang. Memandang jauhlah maka akan terlihat setidaknya 6 puncak gunung yang terpisah ratusan kilometer yaitu Sindoro, Sumbing, Slamet, Merbabu, Ungaran dan Merapi. Momen ini berhasil membalikkan memori masa kecil saya di Sukabumi dulu yang suka sekali memanjat rumah dan duduk di atas genting sambil menikmati indahnya gunung Gede-Pangrango yang gagah berdiri bak raksasa jahat namun mendamaikan.

Belum puas rasanya memandang gunung-gunung itu tapi saya harus segera turun karena hari itu juga saya akan kembali pulang. Sebelum pulang saya menyempatkan mampir di objek wisata di sekitaran Dieng dari mulai kawah Sikidang, Telaga Warna dan Candi Arjuna dan mengakhiri perjalanan dengan menyantap Mie Ongklok Longkrang yang lezat di pusat kota Wonosobo.

Oia..ada hati dan kenangan tertinggal disana, ada rasa belum puas saya sehingga di ketinggian 2.300 mdpl di puncak Sikunir saya mengucap syukur telah diizinkan Tuhan untuk mengecap manisnya Dieng sambil menggurat janji suatu hari saya akan kembali. Insya Allah.

@Destangreys, 2015

Rabu, 14 Oktober 2015

Kekalahan Yang Memenangkan

Greysia/Nitya meraih hasil negatif di Denmark Super Series Premiere 2015 usai takluk dari ganda Korea Lee So Hee/Chang Ye Na 13-21 14-21 di babak pertama. Torehan ini mencoreng perjalanan Greys/Nitya yang sejak Juni lalu berada di performa terbaik dengan prestasi mentereng.

Usai juara di Korea Super Series beberapa minggu lalu, Greys/Nitya memang diharapkan mampu berbicara banyak di turnamen ini tapi tak dinyana mereka tampil di luar ekpektasi publik yang besar.

Namun juga kekalahan dari ganda baru Korea yang sedang bagus performanya juga tidak mengejutkan sebenarnya, sebagai catatan Lee/Chang baru saja meraih 2 final di 2 turnamen beruntun sebelum ini (Korea Super Series dan Thailand Grand Prix Gold), ditambah Denmark yang tidak ramah bagi Greysia juga jadi beban tersendiri untuk melangkah lebih jauh. Greysia tercatat sejak 2007 hanya 2 kali lewat dari babak pertama di Denmark Open baik Super Series maupun Super Series Premiere yaitu tahun 2008 dan 2009 bersama Nitya Krishinda Maheswari dengan raihan semifinalis dan babak kedua. Sedangkan 2007, 2010, 2011 dan 2013 Greysia selalu kalah di babak pertama. Sisanya, tahun 2012 dan 2014 Greysia absen.

Selain itu, permainan mereka memang tidak bagus kemarin. Itu diakui keduanya maupun pelatih Greys/Nitya, Eng Hian seperti dikutip dari press release PBSI di badmintonindonesia.org sebagai berikut :

"Di game pertama awalnya pola kami sudah masuk di permainan mereka. Cuma ketika mereka akhirnya ngejar dengan permainan cepat, kami jadi keikut main buru-buru. Jadinya malah jadi boomerang buat kami dan mati-mati sendiri,” kata Nitya

“Hari ini mereka bola-bolanya mateng banget. Sementara kami mau cepat matiin dan nggak sabaran. Seperti kata Nitya tadi, hal tersebut jadi boomerang buat kami. Selain itu bola-bola lawan hari ini jarang mati sendiri, jauh berbeda dengan penampilan mereka di Korea kemarin,” imbuh Greysia.

“Hasil hari ini bisa dibilang kurang menggembirakan. Yang harus lebih diperhatikan adalah bagaimana pola pikir mereka di lapangan. Saat strategi yang mereka jalankan tidak berhasil, saya arahkan mereka untuk tidak panik, tapi mereka malah jadi panik. Jadi pola pikir mereka yang harus dibentuk lagi,” kata Eng Hian.

“Saat pertemuan mereka di Korea strategi berjalan sesuai rencana. Sementara lawan pasti juga kan ada evaluasi. Jadi ketika di sini strateginya tidak berhasil, Greysia/Nitya harus mengantisipasi kondisi ini. Sebaliknya dipikiran mereka malah jadi, kenapa bola susah semua, apa-apa jadi nggak bisa. Mereka harus bisa mengontrol emosi,” tambah Eng Hian lagi.

Tapi jujur, saya tidak terlalu khawatir dengan kekalahan mereka kemarin karena seusai terus berada di puncak performa, Greys/Nitya harus segera kembali menapak ke bumi. Merasakan kekalahan di awal akan membuat pikiran mereka tidak jumawa sehingga fokus latihan dan evaluasi terus dilakukan sambil mencari formula, strategi dan kekuatan baru serta mempertahankan effort yang haus kemenangan dari turnamen ke turnamen. Hal ini perlu mengingat Greys/Nitya yang sekarang adalah Greys/Nitya yang ditakuti, diwaspadai dan diinginkan kekalahannya oleh semua lawannya jadi saya rasa adakalanya Greys/Nitya harus sedikit menurunkan tensi agar deteksi kewaspadaan lawan berkurang.

Dan akhirnya, semoga kekalahan kemarin di babak pertama dari lawan yang sudah pernah dikalahkan mampu memenangkan mereka. Memenangkan hati, mental dan tekad mereka untuk berjuang lebih keras di perjalanan demi sampai dan berprestasi di Olimpiade Rio De Janeiro Brazil tahun depan.

@Destangreys, 2015

Senin, 21 September 2015

Antara Korea, Bulan September dan Greys/Nitya

Usai berikan kenangan manis lewat medali emas Asian Games tahun lalu, tahun ini Korea lagi-lagi jadi tempat bersejarah bagi pasangan ganda putri terbaik Indonesia, Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari. Bagaimana tidak, kemarin 20 September 2015 mereka akhirnya berhasil raih gelar Super Series pertama dalam karirnya usai menangi laga melawan wakil tuan rumah Chang Ye Na/Lee So Hee di partai puncak Korea Open Super Series. Uniknya dua gelar mayor itu sama-sama didapat pada bulan September. Deja vu.

Greysia/Nitya memang fenomenal sejak kembali berduet medio pertengahan 2013. Torehan gelar juara di turnamen kompetitif pertama, Thailand Grand Prix Gold 2013, jadi bukti sahih bahwa harapan bangkitnya nomor ganda putri bisa dimulai dari mereka. Dan benar saja, setahun kemudian Greysia/Nitya menjelma menjadi pasangan yang haus kemenangan. Mereka berhasil berdamai dengan masa lalu yang kelam lalu meninggalkan bersama-sama masa-masa itu dan kembali terlahir dengan mind set baru tentang kepercayaan diri dan kesuksesan. Siapa saja bisa menang, siapa saja bisa juara asal kita mau berusaha keras. Kehadiran coach Eng Hian juga jadi kunci berhasilnya Greys/Nitya.

2014, Greys/Nitya mengalami peningkatan grafik yang sangat signifikan dengan juarai Taipei Grand Prix Gold 2014 dan sabet emas Asian Games, emas yang sudah tidak singgah ke tanah air selama 36 tahun. Pemutus dahaga.

Sempat menurun di awal 2015 menyusul cederanya Nitya, mereka menemukan momentum kebangkitan di Piala Sudirman dengan tampil cukup apik walau gagal antar Indonesia ke partai puncak. Usai Piala Sudirman, Greys/Nitya mengikuti 6 turnamen dengan hanya 2 kali gagal podium yaitu di Australia Super Series dan Jepang Super Series yang harus puas terhenti di perempat final. Sementara 4 turnamen sisanya Greys/Nitya selalu mantap berdiri di podium dengan raihan 1 kali finalis di Indonesia Open Super Series Premiere 2015, 1 medali perunggu Kejuaraan Dunia 2015 dan 2 gelar juara di Taipei Grand Prix Gold 2015 serta Korea Open Super Series 2015. Impresif!

Sekedar catatan, medali perunggu kejuaraan dunia adalah medali pertama usai puasa 18 tahun di nomor ganda putri sedangkan gelar Korea Open Super Series adalah gelar Super Series pertama bagi Indonesia usai terakhir 7 tahun lalu direbut Vita Marissa/Liliyana Natsir di Istora. Pemecah rekor!

Bila menelisik partai final kemarin sebetulnya bisa dibilang sebagai partai Greys/Nitya paling emosional dari seluruh pertandingan mereka terutama laga puncak. Ada energi berlebih, ada semangat yang sangat menggelora ketika melihat mereka bermain. Walau tetap tampil fokus dan tenang, Greys/Nitya kentara sekali sedang berada dalam emosi yang kental. Greys terlihat begitu ekspresif, Nitya yang biasanya kalem malah mendapat 2 kali peringatan dari Umpire karna dianggap mengintimidasi lawan saat mendapat poin. Uncontrol. Tapi akhirnya bila melihat perjuangan dan penantian selama ini akan menjadi wajar adanya bila penampilan mereka seperti itu, mereka sadar betul ini kesempatan emas untuk wujudkan mimpi, ada keinginan besar untuk ulangi memori indah setahun silam dan kesampaian. Luar biasa!

Jelas sekali ada kelegaan yang dilepaskan, ada rasa penasaran yang tuntas dan ada kebahagiaan tak terperi. Mendamba sekian lama dan berujung manis. Kerja keras, doa dan percaya tidak akan mengkhianati. :)

Korea bulan September memang selalu indah bagimu Greys/Nitya. Selamat!

@Destangreys, 2015

Rabu, 19 Agustus 2015

Greysia/Nitya Perunggu, PR Bagi Eng Hian

Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari berhasil memenuhi target dengan menyumbang medali Perunggu di Kejuaraan Dunia 2015 minggu lalu yang dihelat di Istora Senayan Jakarta. Perunggu yang menghapus dahaga 18 tahun Indonesia tanpa medali di nomor ganda putri Kejuaraan Dunia setelah Eliza Nathanael/Zelin Resiana di tahun 1997 yang juga raih Perunggu.

Penampilan Greys/Nitya memang sedang oke-okenya, terbukti dalam 3 turnamen terakhir mereka selalu berhasil berdiri di atas podium lewat catatan 12 kemenangan dan 2 kekalahan dari 14 kesempatan bertanding dengan torehan 1 runner up (Indonesia Open Super Series Premiere - Juni 2015), 1 juara (Taipei Grand Prix Gold - Juli 2015) dan 1 semifinalis (Kejuaraan Dunia 2015 - Agustus 2015). Hasil yang membuat ganda putri satu ini memang patut dibanggakan dan diandalkan.

Bila ditilik, Greys/Nitya mengalami grafik peningkatan yang sangat pesat. Usai menyabet emas Asian Games tahun lalu, pasangan Jayaraya ini berhasil menjelma menjadi pasangan yang menakutkan dan merusak tatanan dominasi Tiongkok yang begitu kuat dalam beberapa tahun terakhir. Tercatat, hampir semua pasangan elit dunia pernah berhasil dikalahkan. Sehingga tak mengherankan bila sekarang, Greys/Nitya lah yang menjadi "Most Wanted" rival-rivalnya di setiap kejuaraan.

Jelas hal ini harus diwaspadai Greys/Nitya dan Coach Eng Hian (Pelatih Greys/Nitya di pelatnas PBSI Cipayung) mengingat pengumpulan poin jelang Olimpiade Rio De Janeiro 2016 sudah mulai dan semua pasangan pasti menargetkan untuk ikut. Walau sekarang sudah di rangking 5 dunia plus berada di pole position poin Olimpiade, Greys/Nitya tetap wajib berstrategi bila tak ingin terpeleset.

Setidaknya ada 2 hal yang saya garis bawahi untuk menjadi perhatian Koh Didi (Panggilan Coach Eng Hian) dalam meng-upgrade kemampuan Greys/Nitya sebagai berikut.

Pertama adalah mental. Yap, penguatan mental Greys/Nitya adalah prioritas utama menurut saya. Bukan, bukan karena mental pasangan ini tidak bagus. Bukan sama sekali. Karena sejujurnya Greys/Nitya sudah punya mental juara yang kuat. Mereka jarang kehilangan fokus di tengah-tengah pertandingan bahkan saat harus kehilangan game pertama. Always #COMEBACKSTRONGER kata pak Gita Wirjawan. :). Tapi yang saya maksud adalah penguatan mental atas tekanan dari eksternal (baca : publik). Kentara sekali di 2 turnamen yang digelar di negara sendiri kemarin Greys/Nitya seperti tidak bisa lepas dari ekpektasi publik Istora, mereka sulit lepas dari tekanan sebagai wakil tuan rumah. Di Indonesia Open Super Series Premiere, Greys/Nitya yang menjadi satu-satunya wakil Indonesia di final malah tampil jauh di bawah performa mereka yang gemilang seperti di babak-babak sebelumnya. Hal itu berulang di Kejuaraan Dunia, Greys/Nitya yang ditarget hanya sumbang medali dan berhasil akhirnya harus menghadapi ekpektasi besar publik untuk juara karena peluang mereka lebih besar dibanding wakil Indonesia di nomor lain tapi hasilnya lagi-lagi Greys/Nitya gagal menampilkan penampilan terbaik. Hal ini sangat berbeda bila mereka tidak dibebani ekspektasi, 2 kali di Taipei dan Incheon 2014 Greys/Nitya malah berhasil berdiri paling tinggi.

Hal lain adalah memperkaya strategi Greys/Nitya. Menurut saya, Greys/Nitya masih kerap kesulitan bila menghadapi lawan yang punya pola menyerang intens, smes powerfull dan kecepatan. Jangankan Tang Jinhua/Tian Qing/Zhao Yunlei, Greys/Nitya saja sempat kerepotan melawan Lim Yin Loo/Meng Yean Lee dari Malaysia yang punya kecepatan dan smes keras. Strategi melawan ganda-ganda seperti inilah yang harus mulai dipelajari lebih dalam dan wacana Rexy Mainaky meregulerkan Greys/Nitya untuk bermain rangkap adalah sebuah ide brilian untuk mengatasi masalah ini. IMO.

Dan apabila itu bisa segera dibenahi, saya yakin Greys/Nitya tidak akan kesulitan untuk berangkat ke Rio tahun depan dan pulang membawa medali. Emas? We hope so!

@Destangreys, 2015


Senin, 27 Juli 2015

Ujian Sesungguhnya Greysia/Nitya!

Sejak kembali dipasangkan pada 2013, tak disangka Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari mampu menjelma menjadi pasangan ganda putri yang menakutkan dan berhasil menancapkan kuku di tengah-tengah gempuran persaingan ganda Tiongkok dan Jepang serta Korea. Raihan peringkat 5 dunia dengan torehan gelar juara Thailand Grand Prix Gold 2013, juara Taipei Grand Prix Gold 2014, Medali Emas Asian Games Incheon Korea 2014, runner up Indonesia Open Premiere Super Series 2015 dan juara Taipei Grand Prix Gold 2015 adalah bukti sahih betapa pasangan Indonesia ini tidak lagi bisa dipandang sebelah mata.

Sempat mengalami pasang-surut tapi Greysia/Nitya bisa dibilang stabil dan konsisten di setiap turnamen yang mereka ikuti dengan hampir selalu menembus babak perempat bahkan beberapa semifinal bisa dicicipi. Puncak kegemilangan memang saat meraih emas di Asian Games tahun lalu tapi bila dicermati, penampilan Greys/Nitya lebih meyakinkan di 2 bulan terakhir ini. Meraih podium runner up Super Series Premiere dan podium juara Grand Prix Gold sekaligus pertahankan gelar tahun lalu dalam 2 turnamen beruntun mencerminkan konsisten pasangan ini semakin terjaga. Dibanding tahun lalu pun, sekarang Greys/Nitya bermain lebih apik dan dewasa, kepercayaan, komunikasi serta kemistri semakin terbangun baik. Pertahanan rapat plus counter attack dahsyat masih jadi andalan utama tapi tahun ini senjata Greys/Nitya bertambah yaitu rotation play. Yaps, rotation play sangat fasih dimainkan Greys/Nitya di beberapa pertandingan terakhirnya, Nitya sudah tidak canggung main depan net dan Greysia sudah tidak segan melepas smes-smes keras yang tak jarang berbuah poin.

Dan kekuatan serta konsistensi Greysia/Nitya akan benar-benar diuji di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2 minggu lagi atau tepatnya pada tanggal 10-16 Agustus 2015 di Istora Senayan, Jakarta. Kenangan sebulan silam di tempat yang sama plus dukungan publik Istora yang "angker" jelas jadi nilai plus Greysia/Nitya apalagi kepercayaan diri mereka sedang naik usai juara di Taipei namun kewaspadaan tingkat paling tinggi harus tetap dijaga mengingat beberapa lawan-lawan yang akan dihadapi dipastikan punya misi balas dendam di kejuaraan ini.

Yap, aroma balas dendam memang sangat menyengat di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2015 sektor ganda putri usai drawing yang baru saja dilakukan BWF dan PBSI hari ini. Greysia/Nitya yang menempati unggulan 7, berpeluang bertemu Shizuka Matsuo/Mami Naito di babak ketiga. Matsuo/Naito baru saja dikalahkan Greysia/Nitya di babak perempat final Taipei Grand Prix Gold 2015. Lalu di perempat final, Greysia/Nitya akan bertemu pasangan nomor 1 dunia asal Jepang Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi. Dari semua lawan, Misaki/Ayaka inilah yang harus paling diwaspadai Greysia/Nitya karena usai kalah di semifinal Taipei Grand Prix Gold 2015 kemarin, Misaki/Ayaka langsung amat berhasrat dan bernafsu untuk membalas kekalahan. Bila lolos, di babak semifinal Greysia/Nitya kemungkinan besar akan menghadapi ganda Tiongkok. Pilihannya antara Tian Qing/Zhao Yunlei atau Wang Xiaoli/Yu Yang. Mari sejenak berandai, andai yang jadi lawan Greysia/Nitya nanti Wang/Yu, dipastikan aroma balas dendam masih berlanjut karena setali tiga uang dengan Matsuo/Naito dan Misaki/Ayaka, Yu Yang juga mengalami kekalahan di pertandingan terakhir melawan Greysia/Nitya, tepatnya di semifinal Indonesia Open Super Series Premiere 2015 lewat drama rubber game 22-20 21-13 21-14. Tapi saat itu Yu Yang tidak berpasangan dengan Wang Xiaoli melainkan dengan Zhong Qianxin. Tak berhenti sampai disitu, bila skenario takdir nanti menuliskan di final Greysia/Nitya harus menghadapi antara Luo Ying/Luo Yu atau Christinna Pedersen/Kamilla Ryterr Juhl maka dipastikan misi balas dendam berlanjut ke partai puncak. Luo/Luo pasti penasaran usai kesabaran Greysia/Nitya selalu merusak ritme permainan mereka dan harus rela kalah di 2 pertemuan terakhir sementara Pedersen/Juhl bahkan belum pernah menang dalam 4 pertemuan mereka.

Selain misi balas dendam lawan, Greysia/Nitya juga patut mewaspadai kembalinya Tian Qing/Zhao Yunlei ke peta persaingan berburu gelar. Pasangan ini memang sudah lama tidak bermain bersama namun bukan berarti Greysia/Nitya boleh anggap remeh pasangan peraih emas Olimpiade London 2012 ini karena usai dipecah, penampilan Zhao Yunlei bersama kekasihnya Zhang Nan di sektor ganda campuran makin moncer sementara Tian Qing pun sedang impresif-impresifnya bersama pasangan barunya, Tang Jinhua, dengan koleksi runner up Australia Super Series 2015 dan juara Indonesia Open Super Series Premiere di 2 turnamen awal. Jadi tidak mustahil kalau Tian/Zhao lah yang akan menahan laju Greysia/Nitya ke tangga juara.

Sejujurnya Greysia/Nitya punya catatan mentereng dalam statistik, setidaknya dari 8 unggulan tertera. Mereka adalah 1 dari hanya 3 pasangan yang pernah mengalahkan semua unggulan teratas itu, 2 pasangan lain adalah Tian Qing/Zhao Yunlei dan Wang Xiaoli/Yu Yang. Di samping itu, usai Indonesia Open Super Series Premiere 2015, Greysia/Nitya sudah masuk intensif latihan persiapan Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2015 jadi bisa dibilang persiapan mereka maksimal setidaknya untuk sekedar perburuan medali atau bahkan gelar juara.

Greysia/Nitya adalah oasis dalam kemarau, pelita dalam harap dan harapan dalam penantian. Semoga Indonesia Raya berkumandang di Istora tanggal 16 Agustus nanti dari gelar pasangan ini untuk ganda putri negeri. Amin!

@Destangreys, 2015

Sabtu, 25 Juli 2015

Sempurna Harusnya Hanya Milik Tuhan (Atau Andra and The Backbone)

Setelah 4 bulan karam, akhirnya saya mencoba post lagi tulisan tentang apa yang saya rasakan. Selamat menikmati!

#sapudebu
#bersihinsaranglabalaba
#ngepelblog

Beberapa lama kemudian,

Mulai ya? Haha.

Ok, seminggu lalu tepatnya Senin, 20 Juli 2015 saya menyempatkan diri menjemput juara bertahan Taipei Grand Prix Gold 2014 dan 2015 Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari di bandara internasional Soekarno-Hatta. Ya, hanya sekedar warm welcome dan mengucapkan selamat atas pencapaian yang telah mereka capai.

Greysia secara khusus meluangkan waktu pada saya (dan 2 orang teman) untuk berbincang sebentar tapi hasil dari perbincangan itu malah membuat saya jadi sedikit miris, terenyuh dan sedih karena ada satu jawaban Greys yang harusnya tidak pernah terucap.

Saya : "Abis ini libur dulu kak?"
Greys : "Ia ni soalnya asrama juga blm ada siapa siapa, belum mulai latihan"
Saya : "Wah Senin depan baru masuk ya kak?"
Greys : "Haha enggalah, ngapain? Ntar dibully lagi!"

Dan kamipun tertawa lepas.

"Ntar dibully lagi", sebuah kalimat yang enteng dan Greys pun berkata sambil tertawa tapi saya merasa ada makna yang dalam dari kalimat itu. Makna yang harusnya disadari para haters sebagai sebuah pesan bahwa apa yang mereka katakan bisa menjadi beban bagi para pejuang dan pahlawan masa kini Indonesia.

Sebagai fans Greysia sejak 7 tahun lalu saya mengerti bahwa travelling adalah hobi Greys dan kalau ditarik ke belakang haters memang suka sekali mempermasalahkan hal ini. Jadi kalau saya sudah terbiasa dan mungkin Greys juga tapi apakah pantas bila kalian haters mempermasalahkan sesuatu yang sudah menjadi hak mereka para atlet? Mempermasalahkan sesuatu yang sudah menjadi kebutuhan mereka? Mempermasalahkan liburan? Pantaskah?

Saya suka bingung pada haters yang suka mem-bully liburan-liburan atlet, padahal mereka tidak pernah tahu bagaimana atlet menjalani porsi latihan, menggarap semua program menyiksa, menjalani hari-hari berat dari seminggu ke seminggu lainnya. Latihan fisik, latihan drill dan sebagainya sungguh sangat menguras tenaga dan mental, belum lagi saat turnamen yang penuh pressure sehingga harusnya wajar bila ada beberapa hari free mereka memanfaatkan untuk liburan.

Saya mengerti, sebagai atlet mereka harus memberikan 100 bahkan 1000 persen dirinya untuk memberikan prestasi dan mengharumkan nama Indonesia tapi ingat atlet juga manusia, bukan robot yang kuat dan tidak punya rasa lelah, sehingga memerlukan waktu untuk sekedar memulihkan jiwa dan pikiran. Percayalah, usai liburan mereka akan kembali pada trek yang sesuai dengan semangat, fokus dan mental yang baik untuk kembali meraih impian menjadi juara. Percayalah!

Dan pada akhirnya saya hanya mengajak para haters untuk bertobat mengurusi hal-hal yang menjadi hak mereka, kurang-kurangin lah nyinyir hal-hal remeh temeh karena itu malah membuat kalian terlihat makin tidak berguna. Lebih baik beri saran dan kritik membangun dengan kata-kata yang mungkin pahit tapi tetap sopan dan bermakna. Oia..satu lagi, jauhkan ekpektasi sempurna pada mereka karena sesungguhnya sempurna itu hanya milik Tuhan (atau Andra and The Backbone)

Ciao!

@Destangreys, 2015

Minggu, 22 Maret 2015

Greysia Polii : The Powerpuff Girl



“Greysia Polii mengibaratkan atlit perempuan seperti tokoh kartun anak-anak perempuan superhero, Powerpuff girl, yang tangguh meski masih berusia dini. Ia menunjukkan karakter ini dalam kegigihannya meraih kemenangan sejak usia 5 tahun. Hasilnya, sebuah medali emas untuk Indonesia pada Asian Games 2014 yang telah dinanti selama lebih dari tiga dekade.”

Meski telihat garang di lapangan, dan pembawaan yang sedikit tomboy, tidak sulit ternyata untuk menonjolkan sisi feminim seorang Greysia Polii, atlet nasional ganda putri Bulutangkis. Dengan sedikit sentuhan makeup, ia dengan cepat bertransformasi layaknya seorang bintang televisi. Ia juga tidak tampak canggung melakukan berbagai pose di depan kamera. Sesekali ia meminta kakak, ibunya, atau salah satu rekan atlet untuk memotretnya ketika sedang bergaya di depan kamera fotografer yang tak lama setelah itu langsung ia unggah ke akun media sosialnya.

Greysia cukup serius mengelola media sosialnya, terutama di Instagram dan Twitter. Baginya itu menjadi salah satu cara untuk lebih dikenal masyarakat. “Era kami saat ini berbeda sekali dengan era Susi Susanti. Tidak ada orang Indonesia yang tidak mengenalnya, atau setidaknya mengenal namanya”, ungka Greysia saat ditemui awal Desember lalu di pusat pelatihan nasonal Bulutangkis, Cipayung, Jakarta. Greysia mengakui bahwa atlet tidak lagi menjadi tokoh favorit masyarakat, selain karena mungkin prestasi yang menurun, perhatian media yang semakin kurang, namun juga karena saat ini masyarakat memiliki lebih banyak pilihan hiburan dibanding dulu. “Atlet sekarang tidak bisa hanya mengandalkan prestasi di lapangan. Jika ingin dikenal lebih luas, kami harus rajin juga ‘memperkenalkan’ diri ke publik. Salah satunya adalah dengan media sosial,” ungkapnya.

Selain, mengunggah berbagai macam foto, Greysia cukup rajin mengunggah berbagai quote inspiratif serta mempromosikan kostum olahraga. Saat ini, Greysia sudah memiliki lebih dari 16.000 followers di akun Instagram dan lebih dari 80 ribu di Twitter. Dengan kemenangannya baru-baru ini di ajang Asian Games, bisa saja ia akan menjadi Susi Susanti era baru yang akan dikenal seluruh masyarakat Indonesia.

Marie Claire (MC) : Anda bersama pasangan bermain anda, Nitya Krishinda Maheswari, baru saja memenangkan medali emas bagi Bulutangkis ganda putri Indonesia di ajang Asian Games yang terakhir kali diraih 36 tahun lalu. Bagaimana rasanya mencapai terobosan seperti itu?
Greysia Polii (GP) : Ini adalah breakthrough untuk kami. Perjuangan, kerja keras, mimpi-mimpi yang rasanya satu persatu mulai tercapai. Sejak era Susi Susanti, jarang ada pemain putri yang berprestasi lagi. Kemenangan ini ibarat tembok batu yang jika kita beri air terus menerus, akan hancur juga. Di situ ada air mata, tantangan, perjuangan yang saya lakukan dari kecil. Agak susah sebetulnya diungkapkan dengan kata-kata

MC : Apa yang anda lakukan untuk merayakannya waktu itu?
GP : (Sambil tertawa) Dengan minum Soju! Di sela pertandingan, di tempat kami menginap. Liliyana Natsir sempat berkata pada seluruh atlet perempuan yang ikut pada Asian Games, bahwa jika ada yang meraih medali emas, maka kami semua akan minum Soju bersama-sama. Jadi ketika akhirnya saya dan Nitya bisa memenangkan emas, kami semua minum Soju.

MC : Menjadi seorang atlet pasti sangat menantang dan butuh pengorbanan yang sangat besar dalam banyak hal. Apa yang membuat anda bertahan dan maju terus?
GP : Ini adalah mimpi saya sejak kecil. Tidak mudah untuk give up terhadap mimpi-mimpi tersebut dengan pengorbanan yang telah saya lakukan. Yang kedua adalah keluarga saya. Mereka juga telah banyak berkorban dalam perjalanan saya sebagai atlet karena mereka yakin dan percaya saya bisa.

MC : Berbicara tentang give-up, dulu anda sempat hampir menyerah dan memutuskan untuk pensiun dari dunia Bulutangkis?
GP : Ya, itu terjadi di tahun 2012, ketika saya dan partner didiskualifikasi pada ajang Olimpiade London. Olimpiade adalah mimpi besar seorang atlet dan untuk lolos masuk Olimpiade kami harus berjuang bertahun-tahun. Momen saya didiskualifikasi tersebut rasanya adalah puncak emosi saya. Saya mengingat berbagai cedera yang saya alami, perasaan selalu kalah. Pemikiran itulah yang membuat saya berpikir, apa sebaiknya saya berhenti saja dan membangun sesuatu yang lain.

MC : Tapi ternyata anda tetap di Bulutangkis dan malah meraih emas.
GP : Setelah Olimpiade itu saya dilarang ikut bertanding selama sekitar 4 bulan, sehingga saya memiliki banyak waktu untuk berdiskusi dengan orang-orang terdekat saya. Mereka semua mendorong saya untuk lanjut dan membuat target lagi. Meninggalkan Bulutangkis yang sudah saya jalani sejak usia 5 tahun bukanlah hal yang mudah. Dan kepercayaan orang lain terhadap saya juga membuat saya percaya diri. Saya juga banyak bermeditasi, berdoa dan berpikir. Saya mengingat-ingat masa berat yang saya lalui, latihan sampai menangis. Tidak mungkin kan semua itu saya sia-siakan.

MC : Apa saja hal-hal yang biasanya membuat seorang atlet tangguh seperti anda menangis?
GP : Banyak hal, terutama ketika melawan rasa sakit fisik. Misalnya meskipun sedang cedera tangan, saya tetap harus latihan setiap hari. Itu rasanya sakit sekali. Belum lagi tekanan lain, yang membuat saya berpikir, ‘aduh udah ngga kuat’. Ini yang kadang mengundang perasaan sentimentil keluar.

MC : Anda mulai bermain Bulutangkis sejak usia 5 tahun. Bagaimana ceritanya waktu itu bisa terjun ke dunia Bulutangkis?
GP : Dulu waktu masih tinggal di Manado, banyak orang yang bermain Bulutangkis sore-sore di depan rumah saya sehingga akhirnya saya ikutan bermain. Ternyata menurut Mama, saya memiliki bakat yang menonjol di usia sedini itu. Kebetulan salah satu tante saya adalah pemain Uber Cup tahun ‘60an, jadi memang mungkin itu sudah bakat dalam keluarga juga. Melihat bakat saya terus berkembang, Mama mengusulkan saya bergabung dengan klub Jayaraya di Jakarta. Jadi kami pun pindah ke Jakarta saat saya berusia 8 tahun dan pada usia 15 tahun saya bergabung dengan Pelatnas.

MC  : Bagaimana menjalani disiplin tinggi sebagai atlet dari usia yang sangat dini?
GP : Pastinya berat. Malam hari saya jarang misalnya ada kesempatan untuk menonton TV karena Mama menyuruh saya tidur awal agar besoknya bisa bangun pukul 5 pagi untuk latihan sebelum berangkat sekolah. Ketika masuk Pelatnas, disiplin lebih ketat lagi dengan jam latihan lebih panjang yang ditambah sekolah malam.

MC : Masa remaja anda berbeda dari kebanyakan teman sebaya. Ada tidak persasaan iri atau godaan untuk memiliki kehidupan seperti mereka juga?
GP : Jangankan dulu, sampai sekarang saya masih merasakan itu. Awalnya agak susah juga untuk menyesuaikan waktu dengan teman-teman saya yang bukan atlet karena waktu saya yang sangat ketat. Misalnya peraturan di Pelatnas mengharuskan kami pulang sebelum jam 9 malam, sehingga ketika keluar malam, tiap sebentar saja akan lirik jam. Tapi pada akhirnya mereka sendiri yang menyesuaikan dengan jadwal saya.

MC : Bagaimana dengan kehidupan percintaan? Masih ada waktu untuk pacar?
GP :  (Sambil tersenyum dan diam sesaat) Hmm..harus dijawab ini ya? Ya ada sih, dan dia juga yang harus menyesuaikan waktu dengan jadwal saya.

MC : Dengan pola kehidupan disipilin dan pengorbanan yang anda lakukan untuk menjalani karier sebagai atlet. Apakah anda memandang diri anda berbeda dari perempuan-perempuan lain?
GP : Salah satu kriteria yang wajib dimiliki seorang atlet pastinya harus tangguh, baik perempuan atau laki-laki. Kami kuat karena memang sudah ditempa sejak kecil untuk menghadapi berbagai masalah yang harus kami hadapi dan selesaikan sendiri. Kami juga tidak bisa cengeng atau manja dan dengan mengadu pada orang tua. Kami ibaratnya karakter di Powerpuff Girl, berlatih keras dari kecil, dituntut dewasa sebelum waktunya, dan memikul tanggung jawab untuk membela negara karena kami juga adalah aset bangsa. Setiap atlet harus merasakan itu, memiliki kelebihan yang harus kami pertanggungjawabkan.

MC : Atlet bukanlah karier yang lama, dan banyak atlet yang setelah pensiun tidak memiliki masa depan yang pasti. Bagaimana dengan rencana anda?
GP : Target saya di sini hingga tahun 2016. Saya sudah memiliki beberapa rencana yang ingin saya lakukan nanti. Di negara kita belum ada program pensiun khusus untuk atlet nasional yang diterapkan di beberapa negara, jadi semuanya memang tergantung pada masing-masing atlet. Saya sendiri memutuskan untuk kuliah mempelajari Alutansi Perpajakan dengan beasiswa kerjasama PBSI dan Universitas Triskati. Itu merupakan pilihan satu-satunya yang bisa saya ambil sesuai dengan kesibukan saya sebagai atlet. Saya bersikeras untuk kuliah karena saya ingin tetap punya wawasan yang luas. Selama ini ada paradigma bahwa atlet tidak harus berpendidikan tinggi. Tapi saya ingin mengubah itu dengan menjadi atlet yang berprestasi tapi tetap berpendidikan.

MC : Lalu target anda untuk 2015 ini?
GP :  Saat ini saya menempati posisi 8 dunia, jadi tahun depan tentunya ingin naik peringkat

MC : Jadi nomor 1 dunia?
GP :  (Tertawa) Saya akan berusaha yang terbaik!

*Sumber : Majalah Marie Claire Indonesia edisi Januari 2015























@Destangreys, 2015

Sabtu, 21 Maret 2015

Jangan Remehkan Wanita!

Saya baru saja menghabiskan weekend dengan 2 film. Yang pertama adalah "The Interview", film kontroversial yang tidak jadi tayang karna disinyalir dapat memperburuk hubungan Amerika dengan Korea Utara.

Ya film yang mengangkat tentang pimpinan negara komunis bernama Kim Jong Un itu memang sarat propaganda walau menurut saya film ini menyajikan banyak komedi yang lucu dan segar. Nyeleneh tapi asyik.

Namun bukan film itu yang membuat saya terhenyak melainkan film kedua berjudul "Gone Girl". Bagaimana tidak? Film yang dibintangi Ben Afleck dan Rosamund Pike ini mengangkat tema dinamika pernikahan yang dekat dengan kita tapi dibalut dengan suatu hal yang tidak biasa. Balas dendam, kekerasan, drama dan sandiwara disajikan penuh misteri selama hampir 2,5 jam. Jadi bersiaplah untuk berpikir, mencerna dan memilih berada di sisi mana anda di film ini. Ya walau ending-nya berasa kurang adil bagi saya tapi "Gone Girl" memberikan banyak pesan tersirat penuh makna.

Jadi intinya bagi para pria, bila sudah menikah jalankan lah bagianmu, ambil dan lakukan terus-menerus, jangan bohongi dan sakiti istrimu dan setialah karna kita tidak tahu apa yang bisa istrimu lakukan padamu. Di dalam kelemahannya bisa saja terpendam jiwa psikopatis yang akan menamatkanmu apalagi bila istrimu pintar dan perfeksionis. Hati-hati.

Bukan menakut-nakuti ya, ini cuma pesan yang ada di film "Gone Girl" yang saya ambil. Ga percaya? Nonton aja sendiri. ;)

@Destangreys, 2015

Senin, 09 Maret 2015

Hitam Putih Carolina Marin

#ComeBackStronger. Sebuah hashtag yang akrab di caption Instagram Greysia Polii ini sengaja saya pinjam untuk disematkan pada gadis 21 tahun asal Huelva, Andalucia, Spanyol bernama Carolina Marin.

Ungkapan itu sangat tepat memang bila melihat kiprahnya di All England beberapa hari usai mengalami malam yang tidak mengenakan di final Jerman Grand Prix Gold. Seperti kita ketahui, Caro mendapat 2 kartu merah dari umpire di final kontra Sung Ji Hyun itu karna dianggap mengganggu konsentrasi lawan dengan teriak "berlebihan" di setiap poin, mengulur waktu dan tidak segera mengembalikan shuttlecock ke lawan. Sontak hal ini membuat mental Caro down bahkan sempat terlihat bulir air mata di pelupuknya. Pertandingan yang tadinya seimbang menjadi berat sebelah, Caro kehilangan fokus bertanding dan akhirnya menyerah.

Hal itu ditengarai akan mengganggu persiapan Caro menjelang All England beberapa hari kemudian tapi tak disangka, Caro malah bangkit dengan cepat lalu tampil impresif dan rengkuh gelar juara tunggal putri pertamanya di kejuaraan berlabel Premiere Super Series. Hadir sebagai unggulan ke 6, Caro melibas semua lawan dari mulai Chloe Magee, Porntip Buranaprasertsuk, Sung Ji Hyun, Tai Tzu Ying hingga Saina Nehwal. Luar biasa.

Bila sudah begini, terlepas dari semua kontroversi yang dia buat, harus kita akui bahwa Carolina Marin adalah pemain dengan talenta hebat dan mental baja. Keinginan kuatnya untuk juara Bulutangkis membuat apapun caranya dia jalani tak peduli apa rintangannya, apa halangannya, dia takkan menyerah.

Sekarang piala All England sudah bersanding dengan titel Juara Eropa dan Juara Dunia tapi masih menarik menanti apa lagi yang akan menghias lemari tropi gadis kelahiran 15 Juni 1993 ini ke depannya?

Ladies and Gentleman, The Phenomenom, Carolina Marin.

@Destangreys, 2015

Minggu, 08 Maret 2015

Panggungnya Para Rising Star Indonesia!

Kejuaraan Bulutangkis paling bergengsi All England tahun 2015 sudah rampung digelar semalam. Negeri Tiongkok masih berjaya dengan 3 gelar di nomor ganda campuran, tunggal putra dan ganda putri sementara 2 nomor lain mendarat di dataran Eropa, tunggal putri oleh Spanyol dan ganda putra oleh Denmark.

Indonesia sendiri harus puas dengan 1 gelar runner up setelah tahun lalu menyabet 2 gelar juara. Namun Indonesia tidak perlu kecewa berlarut-larut akan hal itu karna bila berkaca pada penampilan keseluruhan, wakil kita banyak yang menorehkan cerita indah masing-masing. Bahkan dua Rising Star asal Indonesia bahkan menjadi buah bibir banyak orang setelah tanpa diduga mampu berbicara banyak di edisi ke 105 ini.

Kevin Sanjaya Sukamuljo menjadi lakon pertama suksesnya para Rising Star Indonesia. Bermain di ganda campuran bersama peraih emas Asian Games 2014, Greysia Polii, Kevin berhasil melaju hingga babak kedua usai merangkak dari kualifikasi. Hasil ini mengulang sukses mereka di Indonesia Open Premiere Super Series tahun lalu. Tak hanya itu ternyata kemilau Kevin berlanjut di ganda putra bersama Gideon Markus Fernaldi alias Sinyo. Biasanya pasangan yang baru dipasangkan dan langsung turun di kejuaraan kompetitif macam All England pasti ada rasa gentar dan tak pede namun itu tak berlaku bagi keduanya, Sinyo yang matang bersama Markis Kido dengan satu titel Super Series di Perancis 2013 dan Kevin yang mengecap manis mengalahkan pasangan nomor 1 dunia Zhang Nan/Zhao Yunlei bersama Greysia Polii menjadikan 2 anak muda ini bermain lepas dan penuh semangat. Permainan atraktif mengandalkan kecepatan, kelihaian dan smash keras membuat Kevin/Sinyo tiba di perempat final dan akhirnya tumbang di tangan ganda Denmark Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding. Sekedar catatan lho ini adalah All England pertama bagi The Flying Kevin (julukan Kevin).

Tapi rising star Indonesia paling bersinar  bukan milik Kevin/Sinyo melainkan milik Praveen Jordan/Debby Susanto yang cemerlang di langit Barclaycard Arena di kota Birmingham. Melahap drilling di pelatnas seminggu sebelumnya yang dipimpin langsung Rexy Mainaky hingga lelah tak berdaya, Praveen/Debby langsung merasakan efeknya di kejuaraan seketat All England. Bagaimana tidak, di babak pertama atau hari kedua penyelenggaraan, Praveen/Debby yang tahun lalu tak lolos kualifikasi mengguncang jagat Bulutangkis dengan secara mengejutkan menjungkalkan satu dari Fantastic Four ganda campuran Xu Chen/Ma Jin dengan 2 game langsung dalam waktu hanya 40 menit. Kegemilangan Praveen/Debby bahkan berlanjut hingga babak semifinal sebelum kalah dari Zhang Nan/Zhao Yunlei dan memupus asa mewujudkan All Indonesian Final.

Praveen menjadi bahan pembicaraan selepas permainan menawannya bahkan Imogen Bankier sempat berkicau via akun Twiter-nya kalau Praveen adalah pemilik smash terkeras yang pernah dia temukan.

"@ImogenBankier Jordan Praveen = biggest smash I've ever faced I think...."

Kejutan ini melanjutkan apa yang dilakukan pasangan baru ganda putri Rosyita/Della yang menembus final Jerman Grand Prix Gold 2015 seminggu sebelumnya dan selanjutnya semoga pencapaian ini bisa jadi motivasi mereka untuk lebih giat berlatih dan fokus pada prestasi.

Sementara bagi masyarakat pencinta Bulutangkis, hasil ini bagai sebuah signal penting bahwa regenerasi mulai berjalan dengan lancar dan menunjukkan hasil positif. Pasangan-pasangan muda ini siap jadi tumpuan harapan Indonesia menyongsong 2-3 tahun ke depan saat senior-seniornya mulai kehilangan performa terbaik seiring meningginya usia.

Jadi, mari meledak dan berpijar teranglah dengan prestasi bintang-bintang muda Indonesia! Tunjukkan dan raih juara! BISA!

@Destangreys, 2015

Berhenti Juara Tapi Tak Berhenti Bangga!

Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir adalah fenomena bagi Bulutangkis Indonesia bahkan dunia. Paceklik gelar di turnamen Bulutangkis paling bergengsi All England sejak 2003, Owi/Butet (Panggilan akrab Tontowi/Liliyana, red) menghapus dahaga itu usai meraih kemenangan di partai final atas pasangan Denmark Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl 21-17 dan 21-19. Gelar ini juga sekaligus mengakhiri nihil gelar Indonesia di nomor ganda campuran selama hampir 33 tahun.

Ternyata, kejutan Owi/Butet di All England tidak berhenti di tahun itu. National Indoor Arena di kota Birmingham tempat berlangsungnya kejuaraan menjadi saksi bisu berjayanya Owi/Butet di 2 tahun berikutnya. Dengan lawan yang sama yaitu Zhang Nan/Zhao Yunlei asal China, Owi/Butet mengukir rekor three-peat alias hattrick alias juara 3 kali beruntun di salah satu kejuaraan tertua di benua biru pada tahun 2013 dan 2014.

Memasuki bulan Maret tahun 2015, All England kembali dihelat dan publik menanti sejauh mana sang juara bertahan akan melaju apalagi Owi/Butet membidik rekor baru yaitu juara 4 kali beruntun atau quattrick. Dan trek kesana ternyata sukses dilalui Owi/Butet dengan cukup mulus. Dari awal babak hingga babak final, mereka hanya kehilangan satu game saat berhadapan dengan wakil tuan rumah Chris Adcock/Gabriella Adcock di babak perempat final, selebihnya pasangan nomor 4 dunia menang straight bahkan dari ganda Denmark Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen yang biasanya selalu merepotkan.

Di final Owi/Butet kembali berhadapan dengan lawan yang sama, peraih emas Olimpiade London 2012 asal China Zhang Nan/Zhao Yunlei yang notabene juga adalah lawan yang mereka kalahkan di 2 tahun sebelumnya untuk rengkuh gelar juara.

Minggu siang atau malam di Indonesia, 8 Maret 2015 partai final digelar, harapan membumbung tinggi namun tak dinyana memori indah tidak terulang, Owi/Butet harus mengakui keunggulan pasangan China 10-21 10-21 dan harus merelakan gelarnya direbut sang rival lewar permainan tanpa cela, set play sangat baik, penyerangan agresif dan pertahanan sempurna.

Hasil ini memang mengecewakan apalagi gagalnya Owi/Butet pertahankan juara berarti juga Indonesia harus puas tanpa gelar tapi hal itu bukan berarti kebanggaan pada mereka ikut dilunturkan. Torehan 4 kali final beruntun, dengan 3 kali juara dan 1 runner up adalah prestasi luar biasa yang tak mudah diulang oleh siapapun. Perjuangan Owi/Butet harus diapresiasi setinggi-tingginya seraya berharap mereka akan kembali lebih kuat dan lebih baik menghadapi kejuaraan-kejuaraan penting tahun ini jelang Olimpiade Rio De Janeiro Brazil tahun depan.

*Oia..btw Owi/Butet tadi kalah bukan hanya karna lawan main lebih bagus tapi lebih karna National Indoor Arena Stadium sekarang namanya berubah jadi Barclaycard Arena. Hilang deh hokinya. Hehe. :P

@Destangreys, 2015

*Just joke

Rabu, 04 Maret 2015

Belajar Menghargai!

Minggu lalu, beberapa saat sebelum pertandingan babak pertama kompetisi Jerman Grand Prix Gold 2015, berita duka datang dari satu atlet Indonesia, Berry Anggriawan, pasangan dari Rian Agung Saputro di ganda putra ini kehilangan ayahanda tercinta untuk selama-lamanya. Ayahanda Berry meninggal dunia di Indonesia sementara Berry  sedang bersiap di Jerman.

Situasi ini sontak menjadi begitu berat bagi Berry. Tim pelatih dan pengurus PBSI pun menyerahkan keputusan pada Berry sendiri untuk memutuskan lanjut atau mundur di kejuaraan dan pulang ke Indonesia. Memang dispensasi bisa diberikan pada kondisi force majeure seperti itu.

Tapi tak dinyana, Berry memutuskan tetap melanjutkan pertandingan dengan konsekuensi tidak menatap sang ayahanda untuk terakhir kalinya dan mengantar ke peristirahatannya. Sebuah hal yang tidak biasa tapi luar biasa.

Berry bersama Rian memang terhenti di babak perempat final tapi pengorbanannya bernilai gelar juara dan harus diapresiasi setinggi-tingginya. Perjuangan mengharumkan nama bangsa yang menjadi cita-citanya dengan harus mengorbankan banyak hal termasuk hal seberat itu pantas disebut pahlawan sejati. Yakin bahwa Ayahandanya pun akan tersenyum nun jauh disana melihat kegigihan anandanya itu.

Berry adalah satu dari banyak contoh atlet-atlet Indonesia yang rela "berdarah-darah" demi Merah-Putih, yang rela "berpeluh-peluh" demi Ibu Pertiwi.

Jadi bagi saya menghargai mereka itu nomor satu, masalah prestasi atau menang kalah jadi bagian belakang sebagai hasil dan rezeki Tuhan. Toh tak ada orang yang mau kalah kan? :)

Sehingga tak pantas dan tak berhak rupanya untuk mencaci, memaki, mencibir dan menjatuhkan mereka usai memahami apa yang mereka korbankan selama hidupnya untuk menjadi pejuang-pejuang olahraga Indonesia sementara kita hanya disini menonton dan mengomentari seenak udel tanpa memberika kontribusi apa-apa. ;)

@Destangreys, 2015

Senin, 09 Februari 2015

#ExploreIndonesia #IndonesiaBagus : Untukmu Baliku!



Saya,
Terpesona gemerlap Kuta
Terperangah indah Kintamani
Terkesiap sejuk Ubud
Terperanjat megah Tanah Lot

Saya,
Terlena eksotis Uluwatu
Terbuai pesona Pandawa
Terpukau unik Gianyar
Terlarut kasih Bali

Ijinkan saya kembali suatu hari nanti 
Untuk bercengkrama bersama
Untuk berkencan lebih lama
Agar kau tau betapa indahnya dirimu  

Baliku!








 





 













































@Destangreys, 2015