Djarum Indonesia Open Super Series Premiere 2013 (DIO2013) adalah
Indonesia Open edisi ke-6 secara berturut saya
hadir di Istora sebagai saksi perjuangan atlet-atlet berjibaku merebut
titel juara. Sejak 2008 tak pernah absen, saya sudah hafal betul karakter
kejuaraan ini seperti apa dari mulai pagelaran, venue hingga penonton dan
atlet-atletnya.
Namun ada perbedaan mencolok dari
gelaran tahun ini, DIO2013 benar-benar memberikan banyak cerita mengesankan yang
tak terlupakan. Nah..berangkat dari situlah saya memutuskan untuk
menceritakannya disini agar kelak suatu hari bila saya lupa kejadian-kejadian
itu saya bisa mengingatnya saat membaca tulisan ini. Hehe. Selain juga untuk
berbagi pada pembaca setia blog saya. Ceileh.
Cerita dimulai saat mengajukan
cuti 3 hari dari tanggal 12 hingga 14 Juni sejak sebulan sebelumnya dan
Pimpinan saya mengizinkan. Aman. Tapi ujian pertama datang di akhir bulan Mei,
kebijakan cabang untuk tidak cuti selama bulan Juni membuat saya agak panik dan
berusaha untuk tetap mendapat cuti. Setelah berdiskusi sana-sini akhirnya saya
tetap diperbolehkan cuti dengan syarat tetap bisa dihubungi selama cuti. Aman
lagi. Belum lama menghela nafas, tanggal 3 Juni 2013 ujian datang lagi, mutasi
mendadak ke Sumedang dari Bandung per tanggal 10 Juni 2013 membuat saya
terkejut dan rencana #NgIstora terancam
benar-benar gagal. Tapi Tuhan memang sedang baik pada saya saat itu, mutasi
saya diundur hingga tanggal 17 Juni dan saya tetap bisa enjoy dengan DIO dan tidak perlu ribet meminta cuti pada Pimpinan
baru.
Istora, here I come! :)
Rabu pagi, 12 Juni pukul 09.00 WIB. Saya
bergegas berangkat ke Jakarta, rasa excited
dan tidak sabar terus menggelayuti diri saya, selalu ada perasaan ini setiap
mau nonton DIO dari tahun ke tahun. Melesat dengan travel sebelum Tol Dalam
Kota pukul 11.00 WIB menghambat pertemuan saya dengan DIO yang sudah saling
merindukan, hehe. Macetnya keterlaluan dan saya harus bersabar hingga 1,5 jam
untuk tiba di Istora. Tapi kekesalan itu langsung terbayar ketika saya mulai
memasuki pelataran parkir, kemegahan dan keanggunan DIO membuat saya terkesima
dan berdecak kagum lalu melupakan kekesalan-kekesalan selama perjalanan pun
kemumetan-kemumetan yang mendera sebelum berangkat. Ada kepuasan dan kenyamanan
tersendiri, ada daya tarik magis tersendiri dan ada rasa bahagia yang
berlebihan saat itu. Saya merasa disinilah seharusnya tempat saya, rumah saya.
Tak lama, saya langsung menghubungi kakak-kakak
dari #TimHore untuk bertemu dan sekedar
ngobrol. Saya yang sengaja membawakan oleh-oleh khas Bandung untuk mereka
akhirnya berkumpul di depan Media Room, ngampar alias lesehan. Kebetulan
saat itu tidak ada pemain Indonesia yang sedang bertanding. Kami asyik ngobrol
dan ber-hahahihi. Saya yang menurut mereka adalah “adik kesayangan” akhirnya
diberikan nasi kotak sebagai barter telah membawa oleh-oleh dari Bandung. :D
Oia..#TimHore ini adalah sekumpulan kakak-kakak pewarta media cetak
maupun online yang selalu bersama ketika ada event atau kejuaraan bulutangkis, nasional maupun internasional.
Sebagian dari mereka, saya kenal baik dan menjadi mentor saya sejak setahun
lalu bahkan salah satunya sudah saya kenal sejak tahun 2008. Kak Femi, Kak
Wina, Mbak Wid, Bang Ega dan Boss Smes adalah beberapanya. Berkumpul bersama
mereka bukan hanya membuat saya tahu lebih banyak tentang bulutangkis tapi juga
membuat saya selalu terpingkal-pingkal mendengar kocaknya pengalaman liputan
mereka. Hope will join with you later!
Setelah kumpul-kumpul manis
dengan #TimHore, saya bertemu dengan keluarganya kak #Greys, ya kak Greysia
Polii yang saya maksud. Dan *jreng-jreng* 2 tiket VIP langsung digenggam. Hari
itu memang sedang digelar babak 1 hari kedua yang mempertandingkan nomor ganda
putra, tunggal putra dan ganda putri. Kak #Greys yang berpasangan dengan Nitya
Krishinda harus bentrok dengan lawan kuat dari Denmark yang menempati unggulan
3 Christina Pedersen/Kamilla Ryther Juhl.
Saat memutuskan berpisah dengan
keluarganya dan menonton sendiri di VIP, masuk lewat pintu utama di A1, venue
Istora benar-benar disulap elegan. Minim pencahayaan lampu bahkan cenderung
gelap menghadirkan tribun Istora yang terasa lebih “sangar” dan “menakutkan”,
lampu yang hanya disorotkan pada 3 court menjadikan arena benar-benar sebagai “Central of View”.
Cukup lama saya di dalam sebelum
keluar untuk menjemput teman yang akan nonton bareng sekitar pukul 17.00 WIB. Eh..di
luar ketemu Maria Selena, itu lho Putri Indonesia 2011 yang juga atlet basket
membela klub Surabaya Fever. Sosoknya sekarang cukup eksis di layar kaca, ia
datang dalam rangka memeriahkan DIO2013 sebagai tamu undangan.
Kembali ke A1 setengah jam
kemudian, saya sempat menyaksikan beberapa pertandingan dan akhirnya pindah ke
B5 yang lebih jelas memantau lapangan 2 tempat dimana Greys/Nitya akan
bertanding. Pukul 20.00 WIB, partai yang dinanti-nanti itu pun dimulai, molor
1,5 jam dari jadwal yang ditetapkan.
Malam itu, Gryes/Nitya tampil heroik, mereka menang dengan 3 set yang
menguras adrenalin dan stamina. Menegangkan sekaligus mendebarkan. Dukungan
ribuan penonton Istora menjadi penyemangat Greys/Nitya juga peneror lawan yang
ampuh. Saya saking senangnya juga sempat melakukan selebrasi intimidasi di
depan pendukung Pedersen/Juhl yang duduk di belakang saya.
Di balik kegembiraan menangnya
Greys/Nitya, terselip penyesalan yang cukup perih bagi saya. Jadi, setelah match Greys/Nitya saya memutuskan untuk
pulang padahal di lapangan 1 sedang bertanding Taufik Hidayat melawan tunggal
India. Saya kira Taufik bakal menang sehingga besoknya masih bisa melihat
penampilan dia di kejuaraan terakhir sebelum pensiun tapi tak dinyana Taufik
menyerah dan harus menghentikan langkahnya. Pertandingan itu menjadi
pertandingan terakhir Taufik Hidayat sebagai atlet profesional.
Sebagai pengagum Taufik Hidayat,
tidak menyaksikan partai terakhirnya adalah sebuah penyesalan dan penyesalan
itu bertambah ketika saya juga tidak bisa menghadiri “Retirement Speech” Taufik di Istora saat babak final. Sekarang
entah kapan lagi saya bisa melihat dia mengayun-ayunkan raket dengan
pukulan-pukulan ajaib di lapangan namun walau begitu Taufik Hidayat tetaplah
seorang maestro bulutangkis dengan semua tinta emas dedikasi dan prestasi untuk
Indonesia, bagi saya dia pantas disematkan menjadi legenda hidup bulutangkis
Indonesia. Proud of you Aa!
*bersambung
@Destangreys, 2013










