Sabtu, 31 Januari 2015

HATTRICK HERO!!!

Tim putri Jayaraya Jakarta berhasil keluar sebagai juara Djarum Superliga 2015 usai menundukkan Renesas Jepang dengan skor 3-1. Kemenangan ini mengukuhkan Jayaraya sebagai ratunya Superliga karna berhasil mencetak hattrick juara.

Yap, Jayaraya memang juara bertahan sejak 2013 dan tahun 2015 ini belum juga ada yang mampu meruntuhkan kekuatan Ragunan Gank.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Jayaraya memulai Djarum Superliga 2015 dengan sedikit kurang mulus bahkan di beberapa pertandingan mereka harus menahan nafas hingga match terakhir untuk memastikan kemenangan. Namun di luar itu, Jayaraya memang tampil solid dan kompak di kejuaraan yang dihelat 25 Januari-1 Maret 2015 di GOR Lila Bhuana Denpasar Bali ini.

Jayaraya dengan status juara bertahan dan memasang target mempertahankan gelar memang datang dengan kekuatan menakutkan. Bagaimana tidak? Jayaraya mengontrak Ratchanok Inthanon dan Busanan Ongbumrungpan dari Thailand untuk mendampingi Bellaetrix Manuputty dan Adrianti Firdasari di nomor tunggal sementara di nomor ganda Jayaraya punya 3 pasang talenta lokal dengan label bintang pada nama Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari, Pia Zebadiah Bernadet/Rizki Amelia Pradipta dan Anggia Shitta Awanda/Della Destiara Haris.

Tapi sayangnya jelang kejuaraan dimulai, Nitya tampaknya belum pulih dari cedera dan memilih untuk tidak tampil demi bisa main di All England 2015 dalam waktu dekat. Ini membuat Jayaraya bereksperimen untuk menambal sisi ganda yang sebenarnya jadi nomor andalan meraih poin.

Hasilnya bisa ditebak, eksperimen Jayaraya tidak berjalan mulus. Di pertandingan pertama, Jayaraya hampir saja dipermalukan tim semenjana USM Blibli yang datang dengan senjata Gloria Emmanuelle Widjaja dan Debby Susanto serta dipadu dengan beberapa pemain junior. Firdasari takluk dari Fitriani, Greys/Rizki yang dicoba bermain bersama juga tak mampu menahan Debby Susanto/Ririn Amelia. Setelah itu, Busanan memperkecil kedudukan setelah kalahkan Devi Yunita Indah Sari. Di partai keempat, Anggia/Della berhadapan dengan Glo/Annisa Saufika. Di atas kertas, Anggia/Della harusnya bisa menang namun di lapangan permainan berbeda Glo/Icha membuat Anggi/Della kerepotan. Menang di game pertama, Glo/Icha terus memburu angka untuk memastikan poin kemenangan USM tapi keberuntungan memihak Jayaraya karna di 5 poin jelang game, Icha salah jatuh dan cedera sobek ligamen lutut. Retired. Angka untuk Jayaraya. Di partai terakhir, Bella memastikan kemenangan Jayaraya. Bella menang mudah atas Rina Andriani.

Setelah itu, Jayaraya nampaknya tidak ingin main-main. Di pertandingan kedua kontra Hokuto Jepang, Jayaraya turun dengan "full team" dan tidak memisahkan pasangan di ganda. Ratchanok, Busanan, Bella, Pia/Rizki dan Anggi/Della main dan hasilnya Jayaraya menang telak 5-0. Setali tiga uang di pertandingan lawan Gifu Tricky Panders Jepang, dengan skuad yang sama Jayaraya kembali menang telak 4-1 usai Ratchanok takluk dari Yip Pui Yin.

Di pertandingan terakhir, Jayaraya menantang Mutiara Cardinal Bandung. Mutiara perlu menang untuk tiket semifinal sementara Jayaraya ingin pastikan juara grup. Tak dinyana Jayaraya merubah sedikit line up dengan memasukkan Greys untuk mendampingi Anggia dan mengistirahatkan Della. Pertarungan ketat terjadi usai di luar dugaan Ratchanok kalah dari kompatriotnya Nichaon Jindapon yang membela panji Mutiara dan Busanan kalah dari Hanna Ramadini namun dua ganda Jayaraya berhasil mencuri kemenangan. Namun lapisan pemain Jayaraya yang tebal membuat mereka dengan nyaman mengunci kemenangan 3-2 lewat Bella yang tekuk Gregoria Mariska sekaligus mengirim Mutiara masuk kotak.

Dan rupanya inilah winning team Jayaraya karna Greys/Anggi mampu menjadi kartu truf bagi tim ini hingga menjadi juara. Skuad Ratchanok, Busanan, Bella, Pia/Rizki dan Greys/Anggi mengiringi langkah Jayaraya selanjutnya.

Semifinal, Jayaraya yang bentrok dengan Djarum Kudus harus ketar-ketir usai mereka tertinggal 0-2 terlebih dahulu. Sung Ji Hyun menekuk Ratchanok Inthanon dan Shendy Puspa Irawati/Jenna Gozali mengalahkan Pia/Rizki. Busanan memperpanjang nafas, menang atas Maria Febe Kusumastuti. Di partai keempat, Greys/Anggi berhadapan dengan Rosyita Eka Putri Sari/Komala Dewi.
Penampilan di luar dugaan Shendy/Jenna membuat Jayaraya agak was-was mengantisipasi kejutan yang juga bisa diberikan Rosyita/Komala apalagi Greys/Anggi relatif belum terlalu teruji permainannya walau sering "bermain" bersama. Namun rasa was-was itu mentah usai dengan tenang dan perkasa Greys/Anggi meredam pasangan Djarum tersebut dan menang 2 game langsung. Skor 2-2 membuat Jayaraya nyaman dan berbalik percaya diri, Bella yang turun di partai terakhir dengan relatif mudah melumat Intan Dwi Jayanti sekaligus membawa Jayaraya Jakarta ke final.

Di final, Jayaraya akhirnya menunjukkan taringnya. Tanpa mengubah line up, Jayaraya membungkam Renesas Jepang dengan skor 3-1. Kehilangan poin di ganda pertama usai Pia/Rizki dikalahkan Miyuki Maeda/Reika Kakiiwa, Jayaraya mendulang 3 game lainnya lewat Ratchanok, Busanan dan Greys/Anggi sekaligus menasbihkan Jayaraya Jakarta kembali keluar sebagai juara Djarum Superliga 2015, melengkapi dua gelar berturutan 2013 dan 2014. Hattrick!

Uniknya kemenangan Jayaraya di 3 final beruntun Djarum Superliga ini selalu berhadapan dengan klub asal Jepang. 2013-2014 kontra Unisys dan di 2015 kontra Renesas.

Sekali lagi, Selamat Jayaraya Jakarta Putri!!! You're great!!!

@Destangreys, 2015

Selasa, 20 Januari 2015

Mematangkan Di Balik Misi Terselubung

List daftar pemain kejuaraan All England 2015 sudah dirilis BWF dan kejutan ada di skuat Indonesia dimana pasangan spesialis ganda putri Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari turun juga di nomor ganda campuran, Greys diplot bersama Kevin Sanjaya sementara Nitya bersama Gideon Markus Fernaldi.

Bagi Greys ini adalah kali ketiga dia bermain dengan Kevin setelah tahun lalu di medio Juni dan Juli mereka pernah berpasangan tepatnya di Indonesia Super Series Premiere 2014 dan Taipei Grand Prix Gold 2014 dengan hasil lumayan baik bahkan sempat menumbangkan ganda campuran nomor 1 dunia asal Tiongkok Zhang Nan/Zhao Yunlei di Istora. Memang bermain di ganda campuran bukan hal baru bagi Greys, dia sempat berpasangan dengan Flandy Limpele, Muhammad Rijal dan Tontowi Ahmad di nomor ini sebelum fokus ke ganda putri awal tahun 2011. Berbeda dengan pasangannya, Nitya selama di pelatnas tidak pernah mencicipi bermain di ganda campuran, baru tahun inilah dia dipercaya untuk bersanding bersama penghuni baru bermuka lama, Gideon Markus Fernaldi. Yap, Gideon yang memutuskan keluar pelatnas pada 2013 akhirnya kembali dipanggil tahun ini seiring prestasinya yang melonjak bersama Markis Kido beberapa waktu ke belakang.

Keputusan Rexy cs dalam hal ini sudah barang tentu bukan keputusan yang coba-coba, ada dua hal setidaknya yang bisa jadi alasan.

Pertama adalah masalah pematangan mental dan kemampuan. Kevin/Gideon yang diplot bermain bersama di ganda putra memang butuh banyak bimbingan dari seniornya untuk mendongkrak kepercayaan diri, mengasah mental dan berlari agar mampu berbicara banyak di turnamen internasional. Bisa saja memang memecah mereka dulu lalu memasangkan dengan para senior tapi sayangnya saat ini stok ganda putra pelatnas hanya menyisakan Ahsan/Hendra yang ada di tingkat level permainan terbaik usai dipecahnya Angga/Rian sehingga memasangkan Kevin dan Gideon dengan salah satu dari Ahsan atau Hendra menjadi mustahil karna Ahsan/Hendra juga harus mengejar poin demi tampil di Olimpiade 2016 Rio De Janeiro.

Jadi memaksa Kevin/Gideon bermain rangkap adalah keputusan paling baik untuk sekarang apalagi di ganda campuran mereka dipasangkan dengan senior yang punya mental bertanding sangat baik dan segudang pengalaman internasional yang diharapkan mampu memberikan pengaruh positif pada perkembangan ganda putra masa depan Indonesia ini.

Selain itu, pemasangan Greys/Kevin dan Nitya/Gideon disinyalir adalah pencarian variasi baru menatap Piala Sudirman Mei mendatang di Dongguan, China. Indonesia memang memiliki stok ganda campuran yang melimpah dari mulai Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, Praveen Jordan/Debby Susanto, Riky Widianto/Richie Dilli Puspita hingga Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaya namun bila 2 pasangan baru di atas mampu tampil bagus dan mengejutkan bukan tidak mungkin tim pelatih akan menyiapkan mereka untuk strategi khusus dan senjata rahasia merengkuh kembali trofi yang sudah lama sangat dirindukan.

@Destangreys, 2015

Minggu, 18 Januari 2015

Karna Susu Setitik (Belum Tentu) Bagus Nila Sebelanga

Biasanya nila setitik akan merusak susu sebelanga tapi belum tentu susu yang setitik membuat nila yang sebelanga itu menjadi bagus.

Kira-kira itulah mungkin yang dirasakan Greysia Polii saat ini. Usai juara di Taipei Grand Prix Gold 2014 dan Asian Games 2014 beberapa waktu lalu, penampilannya bersama Nitya Krishinda Maheswari terbilang konsisten walau tidak pernah juara. Namun Greys/Nitya memulai tahun 2015 dengan tidak mulus, walau merengkuh babak perempat final Malaysia Grand Prix Gold 2015 pekan lalu, lawan yang mengalahkan adalah pasangan Korea non unggulan Chae Yo Jung/Kim Ji Won 13-21 18-21. Sontak hasil ini mengejutkan semua pihak karna Greys/Nitya tercatat tidak pernah kalah dari pasangan non unggulan sejak ditekuk Ma Jin/Tang Yuanting asal Tiongkok di Indonesia Super Series Premiere Juni 2014.

Entah karna Nitya belum fit usai cedera di Final Super Series Dubai 2014 bulan Desember lalu, entah menganggap enteng lawan atau entah ada faktor lain di balik kekalahan ini, entahlah yang pasti Greys/Nitya sudah mengakhiri rentetan performa apik mereka dari rentan waktu Juli-Desember. Bagi saya dan sebagian lain, Greys/Nitya memberikan nila setitik pada susu sebelanga miliknya. Rusakkah? Tergantung penilaian masing-masing.

Namun ada yang lebih miris, sebagian orang lain malah menilai kekalahan ini sebagai bentuk nila hitam lain pada belanga milik Greys/Nitya yang tidak terhapus oleh juara Taipei dan emas Asian Games. Satu akun menyebut untuk memberikan saja medali emas itu utk Misaki/Ayaka padahal jelas di partai itu Greys/Nitya membuat Misaki/Ayaka tak berkutik.

Mungkin di negara ini kita memang tak boleh kalah dan harus selalu menang, tak boleh kita hanya menang sekali-kali karna susu setitik tidak bisa mengembalikan nila yang rusak sebelanga walau susu itu sudah ditunggu 36 tahun lamanya. Mungkin!

@Destangreys, 2015

Sulitnya (Ber)-Legowo

Pilpres atau pemilu presiden 2014 di Indonesia mungkin menjadi episode pemilu langsung paling fenomenal sejak demokrasi bergulir di tahun 1998. Bagaimana tidak, pemilu yang menasbihkan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla sebagai penerus estafet pemerintahan SBY-Boediono selama 5 tahun ke depan ini terus menjadi sorotan masyarakat.

Jokowi-JK yang hanya menang tipis dari pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa ternyata membelah dua golongan, bukan hanya di kalangan elite DPR yang terbelah menjadi dua koalisi yaitu Koalisi Indonesia Hebat (KIH) pendukung Jokowi yang terdiri dari Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan, Partai Nasdem dan Partai Kebangkitan Bangsa dan Koalisi Merah Putih (KMP) yang digawangi Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Demokrat dan Partai Bulan Bintang yang mendukung Prabowo-Hatta tapi juga menjalar ke lapisan masyarakat.

Yap setelah perang panas antara KIH dan KMP yang sempat merebak di akhir tahun kemarin sejalan dengan dilantiknya presiden Jokowi agak mereda, konflik dan gesekan di masyarakat ternyata bukan ikut mereda namun malah terasa semakin kuat apalagi di media sosial. Cuitan-cuitan berisi sindiran, makian dan hujatan pada presiden Jokowi tak henti mendera dari pihak lawan namun para pendukung Jokowi tak kenal diam, serangan balik mereka lancarkan untuk membela, tak jarang twitwar pun terjadi. Hal ini jelas mengganggu stabilitas kehidupan bermasyarakat, semangat gotong royong dan keramahtamahan antar kita pun menjadi luntur.

Pertanyaannya kenapa bisa terjadi begini? Jawabannya cuma satu, karena ternyata akhir-akhir ini kita sedang mengalami krisis ke-legowo-an. Ya kita memang sulit legowo atas apa yang telah terjadi di negara ini. Semua punya pandangan masing-masing dan itu dipaksakan, ego meninggi dan semua jadi serba sok tahu. Sok paling benar dan sok paling bisa mengurus negara.

Ketidaklegowoan ini menjadi sebuah pembenaran dan alat paling ampuh untuk menyerang lawannya yang dianggap salah. Bukan hanya bagi yang anti pemerintahan Jokowi yang harus legowo, yang pro pun harusnya begitu.

Bagi yang anti pemerintahan, legowo lah kalian, masa sudah 2015 masih aja kampanye Prabowo, masa sudah 2015 masih jualan isu SARA, masih jelek-jelekin presiden dengan berita-berita yang masih simpang siur kebenarannya. Ucapan "Jokowi memang presiden tapi bukan presiden pilihan saya" adalah bentuk paling kentara dari ketidaklegowoan itu. Kritik lah presiden dengan cara membangun dan apresiasi lah bila kebijakannya pro rakyat. Sulit kah? Atau gengsi? Entahlah!

Nah bagi yang pro pemerintahan ayo legowo untuk dikritik, untuk diberi saran, jangan merasa tertekan dan merasa disalahi. Wajar karna tak ada yang sempurna. Bila salah ya akui saja dan ikutlah mengkritisi. Saya pendukung Jokowi bahkan sampai hari ini saya masih percaya beliau mampu membawa perubahan positif untuk bangsa ini tapi saya juga tidak menutup mata bahwa beliau melakukan beberapa kesalahan pengambilan keputusan. Wajar.

Jokowi setelah mencetak beberapa gol spektakuler di awal-awal pemerintahan dari mulai pemilihan menteri yang melibatkan KPK dan PPATK, kebijakan pengalihan subsidi BBM ke subsidi produktif, penenggalaman kapal asing yang mencuri ikan di perairan tanah air hingga menolak grasi terpidana hukuman mati kasus narkoba membuat dua blunder fatal yang satunya mengahsilkan gol bunuh diri dalam pemilihan Jaksa Agung dan Kapolri. Blunder pertama berbuah bunuh diri saat melantik Jaksa Agung H.M. Prasetyo yang seorang politisi partai sementara blunder kedua adalah pemilihan Komjen Budi Gunawan sebagai calon tunggal Kapolri yang akhirnya ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK karna kasus korupsi dan gratifikasi. Untungnya Jokowi menyelamatkan bola persis di garis gawangnya dengan menunda pelantikan Kapolri tersebut. Everybody happy and everybody win.

Akhirnya lewat tulisan ini saya ingin mengajak semua saudara sebangsa dan setanah air ini untuk menyudahi perpecahan yang terjadi karna yakinlah musuh paling berbahaya itu bukan datang dari pihak luar tapi dari diri kita sendiri, bukan datang dari intervensi asing tapi dari saudara sendiri. Mari legowo, bersatu, bulatkan tekad dan berjuang bersama demi Merah-Putih, demi Indonesia!!!

Ingat saudaraku, kita bukan politik yang busuk, dimana lawan tidak selamanya lawan dan kawan tidak selamanya kawan. Kita ini bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu, bahasa Indonesia! Selamanya!

#DariSeorangJokowiSide #YangInginRakyatnyaBersatu #MemajukanNegerinya

@Destangreys, 2015