Rabu, 30 April 2014

Berbahagialah...

"Bebas memilih selama sesuai dengan pilihan yang ada"

Sebuah kalimat dari sebuah iklan provider ini memang agak mengusik benak saya sejak lama. Bukan apa-apa tapi karena saya selama hidup ini sering kali mengalami hal seperti ini.

Sebagai seorang manusia, bebas memilih dan mengambil keputusan dalam sebuah masalah atau persoalan adalah hak asasi namun pada kenyataannya kebebasan memilih kita itu kadang dibatasi atau bahkan ditentukan oleh pilihan-pilihan orang lain sehingga apa yang kita putuskan bukanlah yang benar-benar kita inginkan. Kadang keputusan itu malah membuat kita tidak nyaman dan terpaksa menjalaninya.

Tidak menyenangkan memang namun bukan berarti kita harus bersedih tentang itu. Tetap berbahagialah dengan keputusan yang diambil seburuk apapun itu, cobalah jalani dengan ikhlas dan sepenuh hati karna Tuhan selalu penuh dengan kejutan manis di setiap langkah hidup kita.

Berbahagialah...

@Destangreys, 2014

Sabtu, 26 April 2014

Giggs, MU dan Debutnya

Ryan Joseph Giggs, lebih dari 23 tahun yang lalu atau 2 Maret 1991 tepatnya saat dia melakukan debut untuk Manchester United sebagai pemain pengganti melawan Everton. Walau kalah 0-2 tapi penampilan itu
menandai perjalanan panjang karir Giggs yang penuh dengan kegemilangan.

Dan malam tadi, pria berkebangsaan Wales itu memulai babak baru dalam hidupnya. Dia berdiri di pinggir lapangan, berjas dan berdasi serta berteriak memberikan instruksi kepada skuat Manchester United. Ya, Giggs baru saja menjalani debut sebagai manajer Setan Merah yang baru menggantikan David Moyes yang didepak Selasa lalu. Debut di Old Trafford melawan Norwich City yang mungkin kembali menjadi momen yang takkan dia lupa dari banyak momen yang dia torehkan disini.

Bagaimana tidak, di debutnya ini Giggs mampu memberikan kemenangan manis 4 gol tanpa balas lewat Rooney dan Mata yang masing-masing mencetak 2 gol. Selain itu, Giggs juga berhasil mengembalikan gairah bermain, fighting spirit dan permainan menghibur khas MU yang tidak kentara kalau tidak boleh disebut hilang selama era David Moyes.

Giggs memang pantas berbahagia karna selain debut memukau, dia ternyata mampu mengemban tugas berat ini, dia juga mampu memunculkan kembali ruh permainan MU dengan sentuhan-sentuhan cepat plus one-touch-passnya dalam polesan kurang dari seminggu.

Dalam pemilihan komposisi pemain Giggs juga terbilang sukses walau agak terlalu berani. Lihat saja, siapa yang menyangka Giggs akan menurunkan old twin tower Ferdinand dan Vidic di jantung pertahanan atau Tom Cleverley yang dipasang menemani Carrick namun "taruhan" Giggs nyatanya berbuah positif. Norwich kesulitan menembus lini belakang MU berkat kesolidan Ferdy-Vida dan lini tengah menjadi cukup seimbang dengan hadirnya Clev. Poros Jones-Valencia yang dipilih caretaker 40 tahun mengisi pos  kanan pun menjadi demikian ampuh merusak sisi kiri Norwich. Giggs pun jeli dalam strategi pergantian pemain, Juan Mata jadi contoh sahihnya. Pemain mungil asal Spanyol ini baru masuk di babak kedua menggantikan Danny Welbeck dan tak dinyana Mata menyumbang 2 gol bagi MU.

Pertanyaannya mampukah Giggs yang dibantu beberapa temannya dari alumni class of 92 seperti Phill Neville, Nicky Butt dan Paul Scholes menampilkan MU terus konsisten seperti ini seperti yang selalu dilakukan "ayah" mereka dahulu, Sir Alex Ferguson. Semoga!

Good luck Welsh Wizard!

@Destangreys, 2014

Selasa, 22 April 2014

#ByeDavidMoyes

51 pertandingan hanya meraup 27 kemenangan, 9 kekalahan dan sisanya imbang, terpuruk di posisi 7 klasemen EPL, gagal berlaga di Liga Champions musim depan setelah tak pernah absen sejak 1995 dan serentetan hasil buruk lainnya membuat manajemen Manchester United akhirnya menyerah, mereka secara resmi memberhentikan David Moyes sebagai manajer klub hari ini.

Ya, pria Skotlandia yang digadang-gadang mampu meneruskan kejayaan MU usai era Sir Alex Ferguson ini memang dianggap gagal memenuhi ekspektasi besar klub dan para fans, dia harus menelan pil pahit bahkan saat musim pertamanya belum usai dari kontrak 6 tahun yang ditandatanganinya.

Sejak awal musim, pelatih berjuluk The Choosen One ini memang diragukan bisa membawa Setan Merah tetap berjaya. Tengok saja hasil pra musim yang tidak meyakinkan dan itu berlanjut di 4 kompetisi resmi yang diikuti dimana MU begitu labil permainannya sehingga terasa sangat sulit untuk meraih kemenangan bahkan dari klub-klub semenjana. Old Trafford pun yang di masa SAF dikenal sebagai stadion yang angker ternyata kehilangan magis di tangan Moyes, tercatat 6 kali MU kalah di kandang. Selain itu Moyes juga hanya membawa 1 kemenangan dari total 8 laga melawan tim big five EPL musim ini yaitu saat menundukkan Arsenal 1-0 di kandang.

Namun walau begitu, sebenarnya Moyes bukan tanpa prestasi menukangi klub tersukses di Inggris Raya ini. Moyes sempat mempersembahkan 1 gelar Community Shield di awal musim, memberikan tiket perempat final Liga Champions dan dia juga hadir sebagai salah satu aktor mendaratnya playmaker handal asal Spanyol Juan Mata dari Chelsea ke Theatre Of Dreams. Dan yang paling fenomenal mungkin adalah saat Moyes mengenalkan pada dunia pemain berbakat yang siap menjadi idola asal Belgia, Adnan Januzaj.

Jadi, sejatinya Moyes adalah manajer yang bagus dan punya kapabilitas menarik hanya mungkin dia belum mampu menangani tim sekelas Manchester United, belum mampu mentransformasi strategi yang pas di dalam maupun luar lapangan dan mungkin apa yang saya sampaikan di akun Twitter beberapa bulan lalu ada benarnya bahwa Moyes belum cukup berwibawa untuk mengasuh pemain-pemain MU dibanding SAF yang sudah seperti ayah, Moyes masih sungkan memaki pemain-pemain MU bila bermain buruk dibanding SAF dengan hair dryer-nya sehingga berimbas pada tidak ada motivasi membakar dalam permainan? Entahlah!

Well, selamat melanjutkan karir David Moyes, terima kasih untuk semua perjuangan dan kerja keras. Suatu hari kamu mungkin akan kembali di saat sudah benar-benar matang dan siap untuk memberi gelar melanjutkan tradisi kejayaan Manchester United. Who knows?

#ByeDavidMoyes

@Destangreys, 2014

Selasa, 15 April 2014

Riky/Richi, Suci/Tiara dan Berry/Ricky



Selain Juaranya Simon Santoso, ada yang menarik dari penampilan beberapa pemain Indonesia yang berlaga di ajang Singapura Super Series 2014 kemarin. Dan itu harusnya menjadi catatan positif bagi PBSI jelang turnamen-turnamen berikutnya wabil khusus turnamen-turnamen yang menjadi target utama juara.

Apresiasi pertama patut diberikan kepada ganda campuran Riky Widianto/Richi Dili Puspita. Sekian lama berada di bayang-bayang Owi/Butet dan Rijal/Debby lalu sekarang mulai disaingi Jordan/Debby akhirnya Riky/Richi menemukan harinya. Mereka tidak disangka mampu melewati hadangan-hadangan lawan berat sebelum akhirnya menembus babak puncak yang menciptakan all Indonesian final melawan sang senior Owi/Butet. Walau gagal menang namun prestasi Riky/Richi boleh dibilang ciamik karna setelah menang WO atas Xu Chen/Ma Jin di perempat final, Riky/Richi melibas unggulan tiga asal korea Ko Sung Hyun/Kim Ha Na dengan skor 20-22 21-17 21-16 di semifinal. Agresifitas serangan dan defense rapat menjadi senjata ampuh mereka berdua.

Setali tiga uang dengan Riky/Richi  Suci Rizki Andini/Tiara Rosalia Nuraidah yang selama ini belum menjawab ekspektasi publik yang berharap banyak pada mereka perlahan mulai terlihat perkembangannya. Terhenti di perempat final memang namun perjuangan pasangan “CLBK” ini patut diacungi jempol. Suci/Tiara mampu membuat repot unggulan tiga Jepang Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi lewat pertandingan 91 menit yang menguras stamina dan adrenalin sebelum kalah “nyesek” 29-30 21-18 20-22.

Dan yang terakhir yang harus diberi cukup apresiasi adalah Berry Angriawan/Ricky Karanda Suwardi yang tak disangka mampu mengalahkan seniornya Angga Pratama/Ryan Agung Saputra di babak kedua.


Lalu, setelah ini harapannya adalah mereka terus berkembang lebih baik dan lebih baik lagi agar skuat gemuk di pelatnas PBSI ini menjadi sangat menjanjikan dan mumpuni sehingga tumpuan bisa disebar kepada semua pemain, tidak bergantung pada satu atau dua sosok sentral yang selama ini menjadi masalah bagi Indonesia. 

@Destangreys, 2014

*courtesy photo : badmintonindonesia.org

Lanjutkan, Monk!






 Superb, Simon!

Itulah kata-kata yang pas menggambarkan perjalanan pebulutangkis putra Indonesia Simon Santoso di turnamen Singapura Super Series yang baru selesai kemarin. Bagaimana tidak, Imonk (panggilan akrab Simon) berhasil menjuarai kejuaraan berhadiah total USD 300.000 itu dengan sangat elegan dan terasa special bagi publik Bulutangkis tanah air. Karna selain harus merangkak dari babak kualifikasi, Simon juga di luar dugaan berhasil menjungkalkan pebulutangkis nomor 1 dunia asal Malaysia Lee Chong Wei di partai puncak dengan skor meyakinkan 21-15 21-10.

Hasil ini sangat mengejutkan mengingat Simon memang mengalami penurunan prestasi usai juara di Indonesia Premiere Super Series 2012 silam akibat cedera dan sakit yang berulang. Walau sempat juara di Indonesia Grand Prix Gold 2013 September lalu Simon belum menunjukkan penampilan konsisten bahkan dia akhirnya memutuskan untuk pergi dari pelatnas PBSI bulan Januari 2014 karena merasa gagal memenuhi target semifinal di Korea Super Series dan Malaysia Premiere Super Series yang dibebankan. 

Setelah keluar dari Cipayung genk, Simon memang berhasrat mengembalikan bentuk permainan terbaiknya dan tak butuh waktu lama karena dia mampu langsung membuktikan dengan 2 gelar beruntun yaitu di Malaysia Grand Prix Gold dan Singapura Super Series sekaligus menohok pemikiran banyak pihak yang berpikir pemain kelahiran Tegal ini sudah habis.

Di 2 turnamen itu, Simon bermain menggila seperti sedang trance bahkan di Singapura tercatat Simon hanya kehilangan 1 set dari total 7 pertandingan yang ia lakoni yaitu dari Du Pengyu di babak semifinal. Selebihnya Simon memporak-porandakan lawan dengan straight set termasuk saat membuat LCW pontang-panting tak tentu arah mengembalikan serangan-serangan Simon lewat netting-netting cantik nan aduhai dan smash-smash keras nan mematikan.

Kebangkitan Simon di 2 turnamen ini seperti melanjutkan fenomena pemain-pemain ex pelatnas yang malah bersinar usai “cabut” dari Cipayung. Selain Simon, tercatat Vita Marissa, Markis Kido, Pia Zebadiah Bernadeth, Rizki Amelia Pradipta dan Gideon Markus Fernaldi yang mengkilap setelah keluar dari pelatnas bahkan 4 nama terakhir disebutkan diajak untuk mengikuti seleksi tim Thomas dan Uber Cup yang dihelat Mei mendatang. Faktor motivasi berlebihkah atau ada faktor lain?

Tapi apapun, kemenangan ini bagi Simon adalah momen tepat mengembalikan kepercayaan dirinya untuk kembali ke performa maksimal sekaligus “kode” bahwa dia siap bersaing untuk satu tempat di skuat Thomas Cup 2014 sementara bagi publik Indonesia kemenangan ini bisa bermakna bahwa peluang membawa Piala Thomas kembali ke pangkuan ibu pertiwi akan semakin besar. Mudah-mudahan.

A Boy Is Back! Lanjutkan Monk!

@Destangreys, 2014 

*courtesy photo : badmintonindonesia.org