Minggu, 24 Juli 2016

Olimpade Rio : Momentum Kembalikan Tradisi Dan Ciptakan Sejarah

Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brazil tinggal menghitung hari. Acara pembukaan akan dihelat 5 Agustus 2016 dan berakhir pada 21 Agustus 2016. Terlepas dari banyak permasalahan internal di negara penyelenggara dari mulai kesiapan infrastruktur hingga penyebaran virus Zika tetapi pesta olahraga terakbar sejagad ini tetap layak ditunggu.

Kiprah persaingan ribuan atlet dari seluruh penjuru dunia demi sekeping medali untuk negara akan terpampang di ajang bertajuk Live Your Passion ini termasuk juga dari Indonesia. 28 atlet Merah-Putih yang sudah dikukuhkan sekaligus dilepas Pak Jokowi minggu lalu akan berangkat hari Rabu, 27 Juli 2016 menuju Brazil. 28 atlet itu berasal dari 7 cabang olahraga, Bulutangkis, Dayung, Panahan, Atletik, Renang, Balap Sepeda dan Angkat Besi.

Jumlah atlet ini meningkat dibanding Olimpiade London 2012 walaupun jumlah cabang olahraga yang diikuti berkurang. Saat itu Indonesia hanya mengirim 22 atlet tapi dari 8 cabang olahraga dengan torehan 1 perak dan 1 perunggu dari Angkat Besi.

Torehan inilah yang ingin dilebihi kontingen Indonesia di negeri Samba apalagi tradisi emas sejak Olimpiade Barcelona 1992 terhenti karena gagal totalnya genk PBSI tunjukkan taji. Selain itu, menambah koleksi medali Olimpiade yang sekarang berada di angka 27 menjadi motivasi lain para atlet.

Walau gagal total di London 2012, Indonesia nyatanya masih mengandalkan Bulutangkis untuk meraih medali emas. Ini tak lepas dari prestasi Bulutangkis yang kembali moncer usai Gita Wirjawan mengambil alih tampuk kepempinan dan mempulangan Rexy Mainaky cs ke Cipayung. Program jangka panjang dengan target terbesar mengembalikan tradisi emas di Olimpade Rio semakin terlihat nyata. Gelar demi gelar mulai hadir sebagai pelecut kepercayaan diri sebelum Rio tiba, sesuatu yang tidak terjadi jelang London. Dan setidaknya 10 peluru yang dikirim sekarang lebih rasional untuk mendulang medali dibanding 4 tahun silam saat diisi 9 peluru.

Namun dengan begitu bukan berarti jalan Tommy, Linda, Ahsan/Hendra, Owi/Butet, Jordan/Debby dan Greys/Nitya akan mudah. Tetap butuh perjuangan ekstra keras dan semangat pantang menyerah tapi kalau dilihat dari apa yang sudah mereka lakukan dan usahakan selama ini peluang itu besar adanya.

Harapan dan beban terbesar memang ada di cabang Bulutangkis tapi kita tidak boleh menutup mata untuk cabang lain. Peluang mereka juga sama besarnya untuk mempersembahkan medali untuk Indonesia dan menciptakan sejarah baru.

Maria Londa di cabang Atletik nomor Lompat Jauh contohnya. Emas Asian Games 2014 di Incheon menjadi modal penting untuk melakukan sesuatu yang lebih besar. Atletik yang selama ini belum pernah sumbang medali bisa jadi pecah telur tahun ini lewat dara 25 tahun ini.

Atau mungkin Riau Ega Agata Salsabila, Muhammad Hanif, Hendra Wijaya dan Ika Yuliana Rochmawati di cabang panahan mampu membuat sejarah baru dengan torehan medali emas sehingga film "3 Srikandi" garapan Iman Brotoseno yang mengangkat cerita tentang bagaimana semangat Lilies Handayani, Nurfitriyana Saiman dan Kusuma Wardhani di tim Panahan saat putri mendulang medali perak, medali pertama Indonesia di Olimpiade Seoul 1988 yang akan tayang Agustus nanti bisa ada sekuelnya.

Selain Atletik dan Panahan, Angkat Besi pun berpeluang untuk mengubah 3 Perak dan 2 Perunggunya menjadi kumandang Indonesia Raya di edisi ini mengingat Eko Yuli Triawan dan Triyatno sang penyumbang medali di London kembali hadir di Rio bersama para suksesornya Deni, M Hasbi dan I Ketut Ariana serta penerus peraih 2 perak Olimpiade Sydney 2000 dan Athena 2004, Lisa Rumbewas, Sri Wahyuni dan Dewi Safitri.

Dan akhirnya semoga semua atlet kita nantinya bisa maksimal memberikan penampilan terbaik demi kebanggaan negara apalagi motivasi dipastikan bertambah lewat terobosan Chief de Mission, Raja Sapta Oktohari, yang memberi bonus awal untuk atlet yang lolos Olimpiade via kualifikasi dan menyiapkan tiket pesawat kelas bisnis ke Brazil. Wow!

Kalau sudah begini, jadi berapa medali, Indonesia?

@Destangreys, 2016

Senin, 11 Juli 2016

Memahami Cristiano Ronaldo

Cristiano Ronaldo Dos Santos Aveiro atau dikenal dengan Cristiano Ronaldo baru saja menambah koleksinya dengan trofi Piala Eropa bersama Portugal usai kalahkan tuan rumah Perancis dengan skor tipis 1-0 lewat babak perpanjangan waktu.

Tambahan gelar ini melengkapi sederet prestasi mentereng CR7 (Julukan Cristiano Ronaldo) yang sudah dia raih di level individu maupun klub sekaligus menjadi gelar pertama untuk tim nasionalnya. Walau begitu, nada sinis nan nyinyir masih saja belum mau pergi menghampiri Ronaldo. Yap, Ronaldo dianggap terlalu arogan dan angkuh untuk seorang pesepakbola dengan ban kapten melingkar di lengan. Di Piala Eropa ini kentara sekali bagaimana Ronaldo begitu dominan bagi pemain Portugal lainnya, tidak ada yang berani padanya.

Tapi benarkah Ronaldo searogan itu? Jawabannya bisa ya bisa tidak, tergantung dari persepektif mana dilihatnya tapi bagi saya Ronaldo memang arogan tapi itu alamiah karna obsesinya yang selalu ingin jadi yang terbaik dan jadi pemenang. Justru karna sifat itulah akhirnya Ronaldo menorehkan tinta emas untuk dirinya, untuk klubnya dan untuk Portugal. Saya yakin bila tidak bersikap seperti itu, kemampuannya tidak akan keluar secara maksimal. Ronaldo adalah tipe orang yang harus selalu diberi "panggung" untuk memperlihatkan bakatnya, banyak kan orang dengan kecenderungan seperti itu?

Jadi wajar menurut saya, dia uring-uringan saat tidak bisa mencetak gol, kesal dan marah pada teman 1 timnya yang tidak bisa membagi bola dengannya, mengkritik tim lawan, menangis saat kalah atau cedera di laga penting seperti semalam di final dan lain sebagainya.

Tapi dibalik itu semua, Ronaldo adalah seorang ksatria, dia adalah sosok yang besar hati dan sadar betul tidak perlu mengecilkan orang lain untuk menjadi orang besar. Sikapnya pada Modric dan Bale jadi contoh bagaimana Ronaldo sebetulnya punya hati yang tulus. Belum lagi bila melihat cara dia menyemangati rekan-rekan di Portugal di saat genting. Joao Moutinho saat adu penalti kontra Polandia atau saat dia meyakini Eder akan mencetak gol kemenangan di final juga saat bagaimana dia dengan sangat heroik berteriak-teriak bak pelatih di pinggir lapangan sambil menahan rasa sakit.

Di luar lapangan, kisah kedermawanan dan kepedulian sosial Ronaldo bahkan lebih luar biasa. Ramah terhadap fans, rajin mengunjungi anak-anak dengan keterbatasan dan tak segan berbagi dengan sesama membuat kritik tajam tentang arogan dan keangkuhannya menjadi amat tidak pas.

Menurut saya lho ini.

Dan sebagai pribadi yang tidak mau membanding-bandingkan siapa dengan siapa, dalam hal ini Ronaldo dengan Messi, saya beranggapan yang mencintai Messi tidak membenci Ronaldo pun begitu sebaliknya. Mereka hanya tidak atau belum memahami saja.

Viva Ronaldo!

@Destangreys, 2016

Sejauh Doa dan Usaha

Ada banyak kejadian menarik di jagat Sepakbola tahun ini, 2 yang paling fenomenal adalah juaranya Leicester City di kancah Liga Inggris dan Portugal yang berhasil menggondol gelar Piala Eropa.

Tidak ada yang menyangka memang, 2 tim yang tidak pernah diperhitungkan, underdog, kuda hitam atau apapun itu namanya malah mampu berdiri di podium paling atas sebuah turnamen.

2 hal ini berhasil membawa kenangan saya ke tahun 2014 silam saat ganda puteri Indonesia Greysia/Nitya berhasil meraih medali emas Bulutangkis Asian Games di Korea yang sudah 36 tahun tidak pernah singgah. Padahal sebelumnya tidak ada yang mewaspadai Greysia/Nitya, mereka kalah saing dibanding ganda2 Tiongkok, Jepang dan Korea.

Lalu apa sih kunci sukses 3 tim yang bisa dibilang semenjana ini sehingga akhirnya mampu menjungkalkan logika dan memutarbalikkan ekspektasi publik dengan meraih pencapaian yang fantastis? 

Jawabnya setidaknya ada 4 faktor kesamaan yang mereka lakukan untuk sebuah gelar juara : Keyakinan, Kemampuan, Fokus dan Keberuntungan.

Ya, keyakinan adalah modal penting bagi sebuah tim untuk meraih kemenangan. Keyakinan pada pelatih, pada rekan setim, pada diri sendiri dan pastinya pada Tuhan. Lihatlah bagaimana solidnya Leicester musim ini karena ada koneksi keyakinan satu dengan lainnya, Ranieri berhasil menyatukan tim menjadi amat menakutkan karna adanya keyakinan pada Vardy, Mahrez, Huth, Kante, Kasper dkk untuk berbuat sesuatu yang lebih. Tidak berbeda jauh dengan Portugal, tim yang selalu dicap sebagai One Man Team karna terlalu bergantung pada sang kapten Cristiano Ronaldo berhasil menunjukkan kerjasama tim yang baik dalam permainan kolektif ketika Ronaldo tidak dalam performa terbaik. Bahkan di final Piala Eropa kemarin Ronaldo hanya bermain 25 menit karena cedera dan Portugal masih bisa juara. Sementara Greysia/Nitya usai meraih emas Asian Games secara terang-terangan mengungkapkan bahwa keyakinan pada Tuhan, pelatih dan partner adalah kunci sukses mereka.

Setelah keyakinan, kemampuan jadi menu penting untuk menjadi juara. Kemampuan yang mereka punya memang diremehkan tapi berbekal keyakinan tadi dan terus mengasahnya niscaya akan ada jawaban yang tak pernah terduga. Leicester dengan perubahan keseimbangan lini yang luar biasa, Portugal dengan gaya bermain sabar nan pragmatis yang mematikan dan agresifnya Greysia/Nitya adalah hasil dari kemampuan mereka yang dimaksimalkan.

Faktor ketiga adalah fokus. Fokus untuk meraih kemenangan demi kemenangan juga penting. Leicester yang selalu punya daya juang selama semusim penuh adalah bukti mereka fokus dari minggu ke minggu tanpa berpikir dulu untuk juara, itu pula yang dilakukan Greysia/Nitya. Portugal bahkan lebih kentara fokusnya, bagaimana cara mereka mempraktekkan strategi pelatih dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya begitu smooth, begitu baik, tanda fokus mereka terjaga. Bahkan ketika harus bermain lebih dari 90 menit, Portugal tidak terganggu fokusnya.

Dan yang terakhir adalah keberuntungan. Terlalu naif bagi saya untuk tidak memasukkan faktor ini ke dalam kunci sukses Leicester, Portugal dan Greysia/Nitya karna di setiap permainan keberuntungan adalah hal mutlak. Andai Spurs tidak kalah di saat Leicester hanya bermain imbang di pekan 36, andai tidak ada peringkat 3 terbaik di Piala Eropa, andai tendangan Giroud di final tidak mengenai tiang, andai match point 16-20 di game ketiga dari pasangan Taipei tidak berbalik jadi 22-20 untuk Greysia/Nitya, mungkin 3 cerita heroik mereka tidak akan pernah ada. Keberuntungan? Ada!

Oia..saya lupa memasukkan 1 hal lain dari 3 cerita bak dongeng Leicester, Portugal dan Greysia/Nitya tadi. Hal itu adalah doa dan dzalim dari publik. Ketika dapat 1 saja lebih banyak maka gelar juara akan tiba. Leicester juara karna dapat doa yang lebih banyak dari publik sementara Ronaldo dan Portugalnya serta Greysia/Nitya dapat dzalim yang lebih banyak berupa sindiran, cacian dan diremehkan sebelum akhirnya juara. Ya setidaknya itu yang muncul di Timeline Twitter dan Path juga beranda Facebook saya. Hehe.

Ya kita memang tidak pernah tahu masa depan akan bekerja seperti apa tapi kita tahu jarak kita dengan juara hanya sejauh doa dan usaha.

@Destangreys, 2016