Kamis, 28 Februari 2013

Catatan Debut Greysia/Anggia


Debut kurang menyenangkan dialami Greysia Polii/Anggia Shitta di Jerman Open Grand Prix Gold 2013, pasangan baru ini gagal melaju ke babak berikutnya setelah takluk di babak pertama dari pasangan Korea berperingkat 24 BWF Lee So He/Shin Seung Chan lewat rubber game 17-21 21-19 11-21.

Di game pertama, Lee/Shin lebih mendominasi dengan terus unggul sejak awal hingga menutup dengan kemenangan 17-21. Masuk ke game kedua, Greysia/Anggia bermain agak sabar dan meladeni permainan ulet lawan, hasilnya mereka bisa unggul 6-2 sebelum menutup interval 11-10. Keadaan berbalik usai jeda, Greysia/Anggia sempat tertekan dan kembali tertinggal 12-13 tetapi permainan sabar akhirnya mampu memaksakan game ketiga dimainkan, menang 21-19. Dua game awal ini, kejar-kejaran poin terus berlangsung hingga poin kritis. Kedua pasangan tidak bisa lebih dari dua kali mendapatkan poin beruntun.
Mampu membuka asa, pasangan senior-junior Indonesia ini malah kehilangan konsentrasi dan membuat banyak kesalahan sendiri di set penentuan sehingga pasangan Korea berada di atas angin dengan unggul cepat 2-10. Tertinggal 8 angka membuat Greysia/Anggia sulit untuk mengejar dan akhirnya harus rela menyerah 11-21. Bagi Anggi ini adalah kekalahan ketiganya dari Lee/Shin, setelah sebelumnya pernah kalah di final Kejuaraan Junior 2011 dan perempat final India Open Grand Prix Gold 2012 saat masih berpasangan dengan Shella Devi

Dilansir dari Badminton-Indonesia, Greysia/Anggia yang ditemui usai pertandingan mengungkap faktor kekalahan mereka.

Kami belum bisa menemukan irama permainan, karena ini adalah pertandingan pertama untuk kami yang baru berpasangan. Di gim pertama saya yang seharusnya bisa mengatur permainan, juga tidak dapat berbuat banyak. Di gim ketiga, Anggi juga bermain terburu-buru”, ujar Greysia.

“Pertandingan hari ini cukup ketat juga, sayang di gim ketiga saya sempat kehilangan konsentrasi. Pukulan mereka yang keras juga menjadi salah satu hal yang merepotkan kami”, tambah Anggi.

Selain faktor diatas, saya menilai bahwa stamina dan mental mereka ketika bermain rubber juga harus menjadi perhatian untuk diperbaiki. Ambil contoh Greysia Polii, salah satu playmaker terbaik ini punya rekor yang tidak baik bila harus bermain tiga game. Tercatat sepanjang 2012 hingga Januari 2013, Greysia yang saat itu berpasangan dengan Meiliana Jauhari hanya mengantongi empat kemenangan dari 12 laga yang dimainkan rubber. Kendurnya set ketiga ini biasanya ditengarai dengan berbagai hal dari mulai terburu-buru, hilang fokus hingga stamina yang sudah drop.

Jadi, bila faktor-faktor ini mampu segera diatasi oleh mereka dan tim pelatih PBSI, saya rasa pasangan potensial penuh bakat ini akan mampu berbicara banyak di nomor ganda putri. Nomor dimana Indonesia tidak punya pasangan hebat lagi setelah era Vita/Liliyana. Semoga!

Berikut hasil rubber game Greysia Polii Januari 2012 – Januari 2013 :

Kualifikasi Pre-eliminasi Uber Cup Playoff 2012 : Greysia Polii/Meiliana Jauhari vs Vivian Kah Mun Hoo/Khe Wei Woon (MAL) 21-15 18-21 21-15

R1 German Grand Prix Gold 2012 : Greysia Polii/Meiliana Jauhari vs Duanganong Aroonkesorn/Kunchala Voravichitchaikul (THA) 19-21 21-19 21-19

R2 Australia Grand Prix Gold 2012 : Greysia Polii/Meiliana Jauhari vs Luo Ying/Luo Yo (CHN) 21-15 15-21 20-22

R1 Kejuaraan Asia 2012 : Greysia Polii/Meiliana Jauhari vs Jung Kyung Eun/Kim Ha Na (KOR) 11-21 21-19 17-21

R2 India Open Superseries 2012 : Greysia Polii/Meiliana Jauhari vs Bao Yixin/Zhong Qianxing (CHN) 21-17 20-22 18-21

Perempat Final Uber Cup 2012 : Greysia Polii/Meiliana Jauhari vs Mizuki Fujii/Reika Kakiiwa (JPN) 18-21 21-15 19-21

R2 Indonesia Open Premiere Superseries 2012 : Greysia Polii/Meiliana Jauhari vs Gebby Imawan/Tiara Nuraidah (INA) 21-15 15-21 21-12

Semifinal Indonesia Open Premiere Superseries 2012 : Greysia Polii/Meiliana Jauhari vs Tian Qing/Zhao Yunlei (CHN) 16-21 21-17 19-21

Semifinal Singapore Open Superseries 2012 : Greysia Polii/Meiliana Jauhari vs Cheng Wen Hsing/Chien Yu Chin (TPE) 13-21 21-19 16-21

Penyisihan Grup Olimpiade 2012 : Greysia Polii/Meiliana Jauhari vs Leanne Choo/Renuga Veeran (AUS) 21-11 20-22 21-13

R2 Korea Open Premiere Super Series 2013 : Greysia Polii/Meiliana Jauhari vs Misaki Matsumoto/Ayaka Takahashi (JPN) 22-20 9-21 5-21

R1 Malaysia Open Super Series 2013 : Greysia Polii/Meiliana Jauhari vs Ko A Ra/Yoo Hae Won (KOR) 21-13 19-21 18-21

@Destangreys, 2013

Rabu, 27 Februari 2013

Berakhirnya Sebuah Kejayaan?

“Hidup itu bagaikan roda berputar”

Pernyataan yang mungkin disetujui semua manusia yang hidup di muka bumi ini, karena tidak bisa dipungkiri dinamika nasib memang terus berputar kadang di atas dan kadang dibawah. Yang menjadi perbedaan adalah seberapa lama nasib itu berada di puncak atau di dasar.

Berbicara soal ini, menarik bila kita mengambil salah satu contoh klub sepak bola dunia asal Spanyol yaitu FC Barcelona. Barcelona adalah cermin representasi klub dengan permainan paling menghibur dan tersukses di dunia. Kejayaan Barcelona dimulai tahun 2004 saat kembali merengkuh gelar La Liga bersama pelatih Frank Rijkaard, sejak itu Blaugrana menjelma menjadi klub yang sangat menakutkan di kancah Eropa bahkan Dunia. Bagaimana tidak? Sejak 2004 hingga 2012, klub yang bermarkas di Stadion Camp Nou ini memboyong belasan gelar bergengsi ke publik Catalan. Dari mulai La Liga (5 kali), Liga Champions (3 kali), Copa Del Rey (3 kali), Piala Super Eropa (1 kali) dan Piala Dunia Antarklub (1 kali). Selain itu, Barcelona juga banyak mencetak pemain-pemain kelas wahid seperti Puyol, Pique, Xavi, Iniesta dan sang mega bintang peraih 4 kali pemain terbaik Eropa Lionel Messi.

Barcelona dan permainan khas Tiki-Taka-nya memang fenomenal, permainan total football modern dengan kombinasi cepat atraktif dari kaki ke kaki dan akurasi umpan yang menakjubkan membuat Barcelona bermain sangat menyerang yang membuat pertahanan lawan kelabakan. Tak jarang Messi cs menggunduli lawan dengan margin gol di atas tiga. Bahkan saking hebatnya Tiki-Taka ala Barcelona banyak tim mengadopsinya termasuk timnas Spanyol yang akhirnya mampu merebut juara Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012. Salah satu teman pernah melempar jokes tentang permainan Tiki-Taka Barcelona ini dimana menurutnya El Barca hanya bisa dikalahkan oleh Tuhan. :)

Di awal musim 2012-2013, banyak orang memprediksi dominasi Barcelona nampaknya belum akan berakhir melihat penampilan impresif mereka di La Liga dan pencapaian Messi yang terus membuat rekor-rekor baru dengan gol-golnya. Tapi prediksi itu mulai luntur memasuki paruh kedua kompetisi, El Barca mulai kesulitan meladeni lawan-lawan di La Liga walau sampai pekan 25 masih mampu menjaga jarak 12 poin dengan peringkat kedua Atletico Madrid. Di Liga Champions, Barcelona dibayangi kegagalan untuk menembus babak perempat final setelah kalah 2-0 di leg pertama perdelapan final kontra AC Milan. Dan puncaknya terjadi dini hari tadi, saat Camp Nou kedatangan rival abadi Real Madrid di semifinal Copa Del Rey leg kedua. Membawa  hasil imbang 1-1 pada pertemuan pertama di Santiago Bernabeu,  Barcelona yakin mampu mengatasi Madrid dan merebut tiket final. Namun tak dinyana, Barcelona malah mati kutu dan akhirnya takluk 1-3.

Bila ditilik, barisan belakang yang mulai rapuh, lini tengah sering kehilangan kreatifitas dan lini depan yang terlalu Messi sentris menjadi faktor kenapa permainan Barcelona tidak se-‘gila’ musim-musim sebelumnya. Lihat saja contoh lini pertahanan, bagaimana sulitnya Blaugrana mencetak cleen sheet musim ini.

Apakah ini pertanda kejayaan Barcelona akan segera runtuh? Permainan Tiki-Taka menawan nan fenomenal akan segera menjadi permainan biasa dalam sepak bola dan mudah dikalahkan? Hanya waktu yang bisa menjawab namun satu hal yang pasti bahwa dalam hidup takkan pernah ada yang abadi.

Layaknya kesedihan, kebahagiaan pun akan berakhir.

“Ketika kau sentuh puncak jangan pernah lupa kau pernah jatuh terkapar, saat kau jatuh terkapar jangan pernah lupa kau akan kembali menyentuh puncak”  

@Destangreys, 2013

Jangan Pernah Takut Menjadi Sport Industry, Bulutangkis Indonesia

2009 dan 2010, mungkin bukan menjadi tahun yang terlalu menggembirakan bagi prestasi bulutangkis Indonesia. Gelar-gelar juara di kejuaraan-kejuaraan internasional yang biasanya mudah diraih bahkan menjadi langganan kini seret dan boleh dibilang menurun drastis. Tengok saja di Tunggal Putra, Indonesia hanya menyabet 2 gelar Super Series lewat Taufik Hidayat di Perancis Super Series dan Sony Dwi Kuncoro di Singapura Super Series tahun ini. Sisanya digondol Lee Chong Wei dari Malaysia dengan 5 gelar dan 3 gelar lainnya dibagi oleh pemain China yaitu Lin Dan, Chen Jin juga Chen Long.

Penurunan ini ditengarai karena sistem regenerasi pemain kita yang belum berjalan seperti yang diharapkan sehingga tumpuan meraih gelar juara masih dibebankan kepada pemain-pemain senior. Tidak hanya tunggal putra yang sangat bergantung pada Taufik Hidayat atau Sony Dwi Kuncoro sebagai ujung tombak tetapi di sektor ganda putra-pun sama, pasangan Markis Kido/Hendra Setiawan tidak memiliki pelapis sepadan untuk berbicara banyak di kejuaraan internasional.

Pemain-pemain yang diharapkan mampu menggantikan peran mereka ternyata cenderung labil dan belum matang, sebut saja Simon Santoso, Dionysius Hayom Rumbaka dan pasangan Mohammad Ahsan/Bona Septano belum menunjukkan tajinya. Walau Hayom juga Ahsan/Bona baru saja mempersembahkan gelar di India Grand Prix minggu lalu tapi itu bukan ukuran untuk bersaing tahun depan.

Namun, kemunduran ini nampaknya tidak diikuti dengan animo masyarakat. Itu tercermin dari kejuaraan-kejuaraan yang diadakan di Indonesia yang tak pernah sepi penonton, baik itu kejuaraan bertaraf internasional seperti Indonesia Open Super Series dan Indonesia Grand Prix Gold atau kejuaraan bertaraf nasional seperti Kejurnas dan Sirnas.

Euforia penonton yang tak pernah padam itu menunjukkan kalau bulutangkis memang masih menjadi harapan rakyat untuk mengharumkan nama Indonesia di kancah olahraga dunia ketika olahraga-olahraga lain belum mampu menunjukkan prestasi yang mengkilap.

Nah, berbicara tentang euforia penonton, ada pemandangan unik di setiap gelaran bulutangkis Indonesia yang mungkin tidak akan dilihat di negara-negara lain yaitu banyaknya orang yang dengan asyiknya menunggu kehadiran pemain pujaannya di depan pintu masuk khusus pemain hanya untuk sekedar meminta tanda tangan hingga berfoto bersama.

Memang, mengidolakan seseorang atas segi dan dasar apapun itu adalah hak seorang penggemar dan juga memiliki harapan serta keinginan atas idolanya tersebut adalah sebuah hal yang lumrah selama mereka ada di dalam koridor yang biasa kita sebut wajar. Tapi ada beberapa orang itu yang menarik perhatian karena mereka tidak berniat menonton pertandingan bulutangkis melainkan hanya berniat mengumpulkan tanda tangan dan foto bersama dengan pemain-pemain pujaan sehingga mereka rela bersabar dan berpanas-panasan dari pagi hingga sore bahkan malam hari untuk menunggu. Mengesankan.

Selain menarik perhatian akhirnya satu pertanyaan mengusik tentang mereka, "Mendambakankah mereka dengan prestasi pemain-pemain pujaan mereka, pedulikah mereka dengan pencapaian juara yang gilang-gemilang pemain-pemain pujaan mereka?"

Tetapi, jawaban dari pertanyaan itu menjadi tidak begitu penting kalau kita melihat bahwa sebenarnya mereka adalah bukti. Bukti akan dukungan dan apresiasi luar biasa masyarakat yang seakan sudah mengakar sangat kuat pada olahraga ini. Sehingga sesungguhnya bila kelak benar-benar menjadi Sport Industry, bulutangkis Indonesia seharusnya tidak perlu takut karena seburuk apapun prestasi dan pencapaian yang sedang dialami kita tidak akan pernah kehilangan porsi penikmat, pencinta, penggemar dan pendukung. Mungkin.

@Destangreys, 2010