Sedang ditunggu debutnya bersama Anggia Shitta pasangan
barunya, Greysia Polii membawa kabar lain untuk masyarakat Indonesia. Dia termasuk
1 dari 8 pebulutangkis yang dirilis BWF pada 12 Februari 2013 lalu sebagai
kandidat untuk pemilihan Komisi Atlet Bulutangkis.
Ya, setelah didirikan BWF pada 2008, Komisi Atlet Bulutangkis
kembali menggelar pemilihan sebagai bentuk regenerasi dan keberlangsungannya. Komisi
Atlet ini berfungsi sebagai jembatan antara atlet dengan dewan BWF untuk
menyampaikan apirasi dan ide-ide untuk kemajuan Bulutangkis dunia. Ketua Komisi
Atlet mempunyai suara penuh dari Dewan dan wajib memberikan saran-saran relevan
terhadap kebijakan BWF.
8 pebulutangkis
dipilih sebagai kandidat yaitu Greysia Polii (INA), Cai Yun (CHN), Hans-Kristian
Vittinghus, Imogen Bankier (SCO), Koo Kien Keat (MAS), Kaveh Mehrabi (IRI),
Wang Xin (CHN) dan Yuhan Tan (BEL). Ke-8 pebulutangkis ini akan memperebutkan 3
kursi melalui voting sesama atlet. Suara terbanyak atlet putra dan putri
otomatis akan langsung menghuni 2 kursi sedangkan 1 kursi sisa akan diisi atlet
yang memiliki suara terbanyak selanjutnya, putra atau putri.
Atlet yang memiliki hak suara adalah atlet yang
berpartisipasi dalam turnamen Jerman Open
Grand Prix Gold atau All England 2013
atau berada di 150 peringkat BWF untuk pemain tunggal atau 95 peringkat BWF
untuk pemain ganda.
Voting tersebut akan dilaksanakan dua sesi yaitu pada babak
kualifikasi dan babak pertama Jerman Open
Grand Prix Gold 26-27 Februari 2013 lalu babak kualifikasi dan babak
pertama All England 5-6 Maret 2013.
Proses voting ini nantinya akan sedikit unik dimana pemain mempunyai 1 hak
suara tapi harus memilih 3 nama kandidat, 1 nama putra, 1 nama putri dan 1 nama
either gender. Bila tidak mengikuti
peraturan tersebut maka suara akan dinyatakan tidak sah.
Kembali ke Greysia Polii sebagai kandidat, banyak orang
menanyakan keputusan BWF memasukkan namanya karena prestasi dia di lapangan
tidak terlalu mentereng dan baru saja terlibat kasus skandal di Olimpiade 2012
yang mencoreng muka Bulutangkis dunia. Tetapi, berkaitan dengan hal ini mari
kita berpikir dengan bijak. Komisi Atlet ini fungsinya jelas yaitu jembatan
aspirasi dan saran atlet pada BWF jadi prestasi di lapangan menjadi tidak
begitu penting sebagai syarat utama, yang terpenting adalah mempunyai skill
komunikasi yang baik dan berani berbicara, Greysia Polii jelas punya nilai plus
itu, bahasa Inggrisnya di atas rata-rata dan dia tidak sungkan untuk berbicara
menyampaikan pendapat. Greysia Polii juga dikenal aktif bergaul dan dekat
dengan atlet-atlet dari Negara lain seperti Jepang, Thailand hingga Denmark. Ingat
juga Greysia Polii adalah Fairplay Player
Perancis Open 2009 dan Duta Solibad Indonesia 2 tahun belakangan. Mungkin
itulah yang menjadi dasar BWF memasukkan namanya sebagai kandidat pemilihan
Komisi Atlet.
Kalau BWF saja tidak masalah, kenapa kita orang Indonesia malah
mempermasalahkannya? Ironi!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar