Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari berhasil memenuhi target dengan menyumbang medali Perunggu di Kejuaraan Dunia 2015 minggu lalu yang dihelat di Istora Senayan Jakarta. Perunggu yang menghapus dahaga 18 tahun Indonesia tanpa medali di nomor ganda putri Kejuaraan Dunia setelah Eliza Nathanael/Zelin Resiana di tahun 1997 yang juga raih Perunggu.
Penampilan Greys/Nitya memang sedang oke-okenya, terbukti dalam 3 turnamen terakhir mereka selalu berhasil berdiri di atas podium lewat catatan 12 kemenangan dan 2 kekalahan dari 14 kesempatan bertanding dengan torehan 1 runner up (Indonesia Open Super Series Premiere - Juni 2015), 1 juara (Taipei Grand Prix Gold - Juli 2015) dan 1 semifinalis (Kejuaraan Dunia 2015 - Agustus 2015). Hasil yang membuat ganda putri satu ini memang patut dibanggakan dan diandalkan.
Bila ditilik, Greys/Nitya mengalami grafik peningkatan yang sangat pesat. Usai menyabet emas Asian Games tahun lalu, pasangan Jayaraya ini berhasil menjelma menjadi pasangan yang menakutkan dan merusak tatanan dominasi Tiongkok yang begitu kuat dalam beberapa tahun terakhir. Tercatat, hampir semua pasangan elit dunia pernah berhasil dikalahkan. Sehingga tak mengherankan bila sekarang, Greys/Nitya lah yang menjadi "Most Wanted" rival-rivalnya di setiap kejuaraan.
Jelas hal ini harus diwaspadai Greys/Nitya dan Coach Eng Hian (Pelatih Greys/Nitya di pelatnas PBSI Cipayung) mengingat pengumpulan poin jelang Olimpiade Rio De Janeiro 2016 sudah mulai dan semua pasangan pasti menargetkan untuk ikut. Walau sekarang sudah di rangking 5 dunia plus berada di pole position poin Olimpiade, Greys/Nitya tetap wajib berstrategi bila tak ingin terpeleset.
Setidaknya ada 2 hal yang saya garis bawahi untuk menjadi perhatian Koh Didi (Panggilan Coach Eng Hian) dalam meng-upgrade kemampuan Greys/Nitya sebagai berikut.
Pertama adalah mental. Yap, penguatan mental Greys/Nitya adalah prioritas utama menurut saya. Bukan, bukan karena mental pasangan ini tidak bagus. Bukan sama sekali. Karena sejujurnya Greys/Nitya sudah punya mental juara yang kuat. Mereka jarang kehilangan fokus di tengah-tengah pertandingan bahkan saat harus kehilangan game pertama. Always #COMEBACKSTRONGER kata pak Gita Wirjawan. :). Tapi yang saya maksud adalah penguatan mental atas tekanan dari eksternal (baca : publik). Kentara sekali di 2 turnamen yang digelar di negara sendiri kemarin Greys/Nitya seperti tidak bisa lepas dari ekpektasi publik Istora, mereka sulit lepas dari tekanan sebagai wakil tuan rumah. Di Indonesia Open Super Series Premiere, Greys/Nitya yang menjadi satu-satunya wakil Indonesia di final malah tampil jauh di bawah performa mereka yang gemilang seperti di babak-babak sebelumnya. Hal itu berulang di Kejuaraan Dunia, Greys/Nitya yang ditarget hanya sumbang medali dan berhasil akhirnya harus menghadapi ekpektasi besar publik untuk juara karena peluang mereka lebih besar dibanding wakil Indonesia di nomor lain tapi hasilnya lagi-lagi Greys/Nitya gagal menampilkan penampilan terbaik. Hal ini sangat berbeda bila mereka tidak dibebani ekspektasi, 2 kali di Taipei dan Incheon 2014 Greys/Nitya malah berhasil berdiri paling tinggi.
Hal lain adalah memperkaya strategi Greys/Nitya. Menurut saya, Greys/Nitya masih kerap kesulitan bila menghadapi lawan yang punya pola menyerang intens, smes powerfull dan kecepatan. Jangankan Tang Jinhua/Tian Qing/Zhao Yunlei, Greys/Nitya saja sempat kerepotan melawan Lim Yin Loo/Meng Yean Lee dari Malaysia yang punya kecepatan dan smes keras. Strategi melawan ganda-ganda seperti inilah yang harus mulai dipelajari lebih dalam dan wacana Rexy Mainaky meregulerkan Greys/Nitya untuk bermain rangkap adalah sebuah ide brilian untuk mengatasi masalah ini. IMO.
Dan apabila itu bisa segera dibenahi, saya yakin Greys/Nitya tidak akan kesulitan untuk berangkat ke Rio tahun depan dan pulang membawa medali. Emas? We hope so!
@Destangreys, 2015