Selasa, 23 April 2013

Not Arrogant, Just Better

Mimpi besar itu akhirnya terwujud, penantian dan perjalanan panjang akhirnya usai. Yap, Manchester United berhasil merengkuh gelar juara Liga Inggris ke 20 sepanjang sejarah perhelatan, gelar yang sempat ditunda kedatangannya musim lalu setelah Manchester City mencurinya di pekan terakhir.

Manchester United memastikan diri sebagai “King of England” setelah menaklukkan Aston Villa dini hari tadi di Old Trafford dengan skor meyakinkan 3-0, gol diborong striker asal Belanda Robin Van Persie. Dengan sisa 4 laga, poin pasukan Sir Alex Ferguson mustahil dikejar karena sudah menyentuh 84. Berbeda 16 poin dengan Manchester City  di peringkat kedua yang baru mengumpulkan 68 poin dan menyimpan 5 laga untuk dimainkan.

Musim ini memang bisa dikatakan sebagai musim yang fantastis bagi MU, memulai start dengan kekalahan 1-0 oleh Everton di Goodison Park lalu badai cedera yang silih berganti menghantam barisan bek tengah membuat MU banyak sekali kebobolan di awal musim. Beruntung hadirnya RvP yang langsung nyetel membuat “Setan Merah” tetap garang di kotak penalti lawan sehingga bisa terus berada di trek perebutan titel. Musim ini MU juga punya sebutan sebagai “Raja Comeback”, tercatat 9 kali mereka menang setelah tertinggal lebih dahulu dan setengahnya terjadi di paruh pertama musim. Yang paling saya ingat adalah saat comeback di Villa Park, tertinggal 2 gol, RvP cs bangkit dan berhasil menyarangkan 3 gol lewat Javier “Chicharito” Hernandez dan bunuh diri bek Aston Villa Robert Vlaar. 

Tapi tak selamanya saat tertinggal MU mampu membalikkan keadaan, contohnya saat menjamu Tottenham Hotspurs atau tandang ke Norwich, MU tertinggal dan akhirnya tumbang. Namun kekalahan tipis 1-0 atas Norwich di laga away pekan ke 12 pada 17 November 2012 itu menjadi momentum kebangkitan sekaligus pertanda baik karena praktis setelahnya “Setan Merah” tidak tersentuh kekalahan dalam 18 pertandingan liga, 16 menang dan 2 imbang. Di periode itu pula MU sukses merebut peringkat pertama tanpa tergeser hingga memastikan titel ke-20 di pekan ke 34.

Stabilitas MU di sepanjang ¾ musim lalu ditambah inkonsistensi pesaing terkuat mereka Manchester City membuat Sir Alex Ferguson dan timnya mampu memenuhi ambisi dalam waktu cukup singkat, hanya 8 bulan. Selain itu, kedalaman skuat yang hampir 1 kualitas membuat Fergie leluasa meracik dan merotasi pemain sesuai kebutuhan. Lihat saja daftar pencetak gol yang mencapai 25 pemain berbeda, koleksi tertinggi dari klub manapun atau lihat berapa variasi duet dua bek tengah sepanjang musim ini yang diturunkan Fergie. Sering sekali berubah-ubah antara Vidic, Ferdinand, Smalling, Jones dan Evans. Lini tengah setali tiga uang, Carrick mungkin jadi harga mati tapi yang lain rutin diganti. Cleverley, Anderson, Kagawa, Giggs hingga Rooney pernah mengisi pos tersebut. Di lini depan, RvP nyaman dilapis Chica dan Welbeck.

Tanpa mengecilkan pemain lain, Giggs, Rooney, Rafael dan Carrick menurut saya bermain sangat fantastis sepanjang musim ini tapi Phil Jones dan Robin Van Persie layak dikedepankan menjadi pahlawan pembeda yang luar biasa di permainan menawan Manchester United. Performa kedua pemain ini saya rasa sangat melebihi ekspektasi. 

Phil Jones, baru berusia 21 tahun namun bakat hebatnya sudah sangat terlihat dan menjadikannya sebagai pilar penting tim sejak musim lalu. Intercept, tackle, membaca serangan lawan, duel udara dan kecepatannya sangat mengagumkan walau agak rentan cedera tak membuat penampilannya menurun. Jones tetap dipercaya mengisi 3 pos secara bergantian dari mulai bek tengah, bek kanan hingga gelandang bertahan fasih dia mainkan. Very-very versatlie player! 

Lain Jones, lain pula Robin Van Persie. Striker Belanda yang ditransfer dari Arsenal musim panas lalu adalah seorang predator gawang lawan, 30 gol di musim terakhirnya berkostum The Gunners menjadi bukti sahih betapa berbahayanya seorang RvP. Saat memutuskan bergabung ke Old Trafford, pengamat dan pendukung Arsenal banyak yang menyangsikan Robin akan sukses dan meraih gelar bersama MU seperti apa yang ia bilang sebagai alasan hijrah ke rival abadi tim yang membesarkan namanya itu. Tapi RvP membuktikan dengan caranya, langsung in dengan permainan MU lalu membungkam nada-nada sumbang dengan gol-golnya. Mencetak debut gol di pekan kedua kontra Fulham lewat tendangan volley first time yang aduhai, RvP melanjutkannya dengan hattrick ke gawang Southampton sepekan berselang. Setelah itu, keran gol pemain Belanda 29 tahun terus mengalir deras hingga memimpin daftar top skor sementara. Sempat berhenti di angka 19 selama hampir 2 bulan atau 5 pertandingan liga di Februari-April, Robin kembali dengan torehan luar biasa yaitu 5 gol dalam 3 laga terakhir “Setan Merah” termasuk hattrick semalam yang mengantarkan gelar ke-20 kembali ke Old Trafford  sekaligus menjadi gelar pertama baginya selama berikprah di EPL. RvP juga berpeluang memboyong gelar top skor, saat ini dia telah mengemas 24 gol yang dikuntit penyerang Liverpool Luiz Suarez dengan 23 gol. Mimpi yang jadi kenyataan, RvP!! Class!!

2012/2013 masih menyisakan 4 pertandingan bagi MU dan Sir Alex Ferguson sudah menyampaikan akan tetap menampilkan tim terbaik demi sebuah pematahan rekor poin tertinggi di akhir musim nanti, saat ini rekor tersebut dipegang Chelsea dengan 95 poin pada musim 2004/2005. Bila mampu sapu bersih kemenangan, total 96 poin akan dibukukan. Tapi persaingan sudah usai dan sekarang saatnya sedikit merenggangkan nafas sebelum kembali fokus dan bekerja keras menyambut musim baru.

Semoga nanti Trofi EPL ke 21, Piala FA yang sudah lama tak menyapa dan “Si Kuping Besar” Liga Champions dapat menjadi godaan motivasi dan spirit tambahan pasukan Sir Alex Ferguson yang diklaim lebih baik dari era Class’92 ini untuk lagi dan lagi mewujudkan “The Impossible Dreams”.

Campione, Campione!!! T20PHY!!! BEL20VE!!!

Glory Glory Manchester United!!!

@Destangreys, 2013

Senin, 22 April 2013

Taufik Hidayat Arena

Setelah diresmikan, Sabtu kemarin adalah pertama kali saya mengunjungi GOR Bulutangkis milik Taufik Hidayat, Taufik Hidayat Arena (TH Arena). Dulu, sebelum resmi dibuka saya beberapa kali datang untuk melihat-lihat dan mengadakan event kecil. Sejak awal saya terkesima dengan bangunan ini, megah dan menggetarkan.

Terletak di Jalan PKP No 8 Kiwi Raya Kelapa Dua Wetan Ciracas, Cibubur, Jakarta Timur, TH Arena berdiri agung sebagai salah satu GOR Bulutangkis bertaraf internasional. Selain 8 lapangan Bulutangkis bertribun, TH Arena dilengkapi dengan 1 lapangan futsal, 1 lapangan basket, ruang fitness, kafetaria, kamar asrama, merchandise room dan museum memoribilia Taufik Hidayat. Selain itu TH Arena juga memiliki areal parkir yang luas. Semuanya ditata sedemikian indah sehingga pengunjung akan merasa nyaman dan kerasan bila berlatih atau hanya sekedar bermain disini. Yang harus diketahui dari TH Arena adalah bahwa GOR ini disewakan untuk umum atau dengan kata lain siapa saja boleh menyewa dan main disini, tidak khusus untuk atlet atau para profesional.

Saya suka desain TH Arena, dari segi sportnya kena, artistiknya juga dapet dan penempatan “ruang utama” yaitu lapangan Bulutangkis di lantai 2 adalah masterpiece tata ruang yang maksimal karena dengan begini pengunjung yang hanya ingin melihat-lihat merchandise atau museum tidak perlu mengganggu yang sedang berlatih atau bermain.

TH Arena diharapkan mampu merangsang minat masyarakat untuk terus melestarikan dan mencintai Bulutangkis yang kental akan kebanggaan prestasi. Dan semoga dari TH Arena inilah lahir bibit-bibit baru atlet Bulutangkis potensial yang mampu meneruskan tongkat estafet perjuangan Taufik Hidayat untuk Merah-Putih.


TH Arena adalah wujud representasi sang maestro Taufik Hidayat yang tersohor seantero dunia, TH Arena adalah bukti totalitas pria flamboyan Taufik Hidayat untuk Bulutangkis yang sudah membesarkan namanya, TH Arena adalah sosok pengabdian legenda hidup Taufik Hidayat untuk negeri Indonesia yang sangat dicintainya. Massive Respect for Taufik!

“The sound from the strings is great. Every shot feels so strong and powerfull”. Taufik Hidayat 

"Winning or losing is a dynamic process of being a world class champion. Winning is an attitude and keeping is is a commitment”. Taufik Hidayat






























 






























@Destangreys, 2013

The Baby Alien…

Kemarin, banyak sekali berita mengejutkan dari dunia olahraga. Dari mulai pemukulan wasit oleh pemain Persiwa di laga melawan PBR dalam lanjutan Indonesia Super League, revansnya Satria Muda dari Garuda Bandung di seri NBL Surabaya, kesalahan strategi Ferrari sehingga 2 pembalapnya gagal podium di GP Bahrain, berjayanya Djokovic atas Nadal di Monte Carlo, tumbangnya City oleh Spurs yang membuat United hanya butuh satu kemenangan untuk merengkuh gelar ke-20 Liga Inggris hingga cerita Suarez yang menjadi sosok pahlawan kontorversial di laga Liverpool kontra Chelsea yang berakhir imbang 2-2.

Tapi dari semua itu, satu hal dari MotoGP sangat mengusik perasaan saya. Ya, MotoGP seri Austin, Texas, Amerika Serikat dini hari tadi menjadi saksi sejarah baru lahirnya juara termuda kelas MotoGP sepanjang sejarah perhelatan ajang balap motor paling bergengsi di planet biru. Marc Marquez, rider Repsol Honda yang baru musim ini naik kelas menorehkan tinta emas setelah finis terdepan di seri kedua pada usia 20 tahun 63 hari, memecahkan rekor Freddie Spencer (20 tahun 196 hari) saat menang di GP Belgia tahun 1982.

Performa rider kebangsaan Spanyol ini memang menakjubkan sejak masih di Moto2 musim lalu lewat raihan gelar juara dunia sebelum akhirnya memutuskan naik kelas. Bersaing ketat dengan Pol Espargaro hingga penghujung musim, Marquez berhasil menunjukkan dialah yang terbaik. Sepanjang musim itu, seri Valencia adalah yang paling fenomenal dimana Marquez harus memulai lomba dari posisi paling bontot akibat hukuman yang diterimanya menyusul manuver berbahaya di sesi latihan bebas tapi tak dinyana The Baby Alien (julukan Marquez, red) mampu finis terdepan, melibas 30 pembalap di depannya. Luar biasa!

Naik ke kelas tertinggi tak membuat Marquez gugup dan minder, dia langsung tebar pesona di seri pertama Qatar 2 minggu lalu, podium 3 sukses diraih Marquez melewati rekan setim Dani Pedrosa yang harus puas di posisi 4. Sebenarnya Marquez bisa saja meraih podium kedua andai mampu memenangi duel sengit kontra Valentino Rossi.

Kejutan pria kelahiran 17 Februari 1993 berlanjut di sirkuit Austin dan ini yang paling mencengangkan, Marquez sukses merebut pole position dan menyempurnakannya menjadi juara setelah kembali mempecundangi rekan setim Dani Pedrosa dengan gap waktu hingga 1 second lebih padahal Pedrosa  sempat mengkudeta posisi pertama selama beberapa lap.
 
Puja-puji sontak menghampiri Marquez dan publik mulai mensejajarkan dia dengan legenda hidup sekaligus idolanya Valentino Rossi bahkan ada yang bilang Marquez lebih baik dari The Doctor. Semua itu jelas masih butuh proses dan waktu untuk membuktikan, jalan masih panjang karna karir Marquez baru dimulai di kasta tertinggi namun asal tetap bekerja keras dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, bakat besar Marquez akan semakin berkembang dan menjadi the next Valentino Rossi bukanlah suatu yang mustahil.

Fantastic The Baby Alien…!!!

@Destangreys, 2013 

Modernisasi…

Setelah Sepak Bola memutuskan untuk mulai menggunakan teknologi garis gawang mulai musim depan dan akan di uji coba pada saat Piala Konfederasi 2013, kebahagiaan saya bertambah ketika Bulutangkis juga akan menerapkan teknologi baru yaitu Line Calls. Teknologi yang mengadopsi dari Hawk Eye milik Tennis akan segera di uji coba di Piala Sudirman Mei nanti dan mulai diberlakukan saat kejuaraan Indonesia Open Premiere Super Series bulan Juni.

Line calls ini adalah teknologi yang akan memperlihatkan shuttlecock masuk atau keluar, sesuatu yang sering memicu perdebatan dalam sebuah pertandingan di sistem sekarang yang masih menggunakan mata manusia sebagai pengambil keputusannya. Tak jarang keputusan itu salah dan merugikan pemain lalu berujung pada protes keras atau bahkan kericuhan. Walau mungkin akan mengurangi intenstitas greget dari sebuah pertandingan tetapi teknologi ini diyakini membuat pertandingan menjadi adil dan tidak akan ada lagi pihak yang merasa dirugikan. 
Greysia Polii saat menahan pelatihnya yang protes keras

Berbeda dengan Sepak Bola yang masih memiliki offside, pelanggaran atau hand ball untuk diperdebatkan sebagai ‘budaya’ sebuah kompetisi setelah teknologi garis gawang diterapkan nanti, Bulutangkis dengan teknologi Line Calls nya praktis akan mengikis ‘budaya’ itu karena tidak ada hal lagi untuk diperdebatkan namun itu tidak serta-merta mengurangi serunya menikmati pertandingan Bulutangkis malah menurut saya akan menjadi tambah seru.

Kenapa? Karena nantinya semua pemain merasa semua keputusan adil dan tidak akan mempengaruhi mental bertanding sehingga pemain bisa mengeluarkan semua kemampuannya tanpa terbebani keputusan-keputusan kontroversial mengenai masuk atau keluarnya bola.

Lin Dan saat emosi di final Korea Open 2008
Ingat kejadian Lin Dan di final Korea Open tahun 2008? Melawan tunggal tuan rumah Lee Hyun Il, Lin Dan merasa dicurangi linesman yang beberapa kali membuat keputusan kontroversial yang akhirnya membuat dia harus takluk saat itu, saking emosinya Lin Dan hampir saja walk out dan membanting raketnya hingga hancur. Selain itu, ada beberapa kejadian lagi terutama di Korea yang mengindikasikan kecurangan-kecurangan serupa. Dari sinilah BWF berangkat untuk menerapkan sistem teknologi seperti ini supaya kejadian itu bisa diminimalisasi selain juga sebagai tuntutan modernisasi olahraga.

Saya berharap teknologi ini berjalan efektif dan mampu berkembang secara sempurna demi perbaikan kualitas pertandingan dan agar bulutangkis tetap bisa digemari serta bersaing dengan olahraga-olahraga lain yang sudah sedemikian canggih.

 

“My game is fairplay”

@Destangreys, 2013 

Selasa, 16 April 2013

#FindingSrimulat


Saya menyukai Srimulat tapi bukan sebagai penggemar nomor satu, mungkin nomor dua setelah Warkop DKI. Tapi saya selalu terkesan dengan gaya lawakan-lawakannya, khas dan menghibur walau terkadang absurd dan kasar. Lalu, ketika mendengar cerita Srimulat akan kembali diangkat ke layar lebar otomatis saya langsung memasukkan itu ke dalam list film wajib ditonton saya. Keinginan saya semakin kuat ketika melihat daftar pemain yang mengisinya, ada nama-nama seperti Reza Rahadian, Rianti Cartwright, Mamiek Prakoso, Gogon, Kabul (Tessy), dan banyak lagi pelawak-pelawak senior Srimulat lainnya.

Setelah rilis pada 11 April 2013, Sabtu kemarin akhirnya saya bisa menonton film yang berjudul Finding Srimulat dan disutradarai oleh Charles Ghozali ini. Dan keputusan saya tidak salah, film ini sangat menghibur dan membuat saya terbahak selain itu juga menyampaikan banyak pesan kehidupan untuk kita terutama kami para generasi muda.

Kisah dimulai saat Adi (Reza Rahadian) harus menerima keadaan saat EO tempat dia bekerja harus gulung tikar karena investor menarik diri tiba-tiba saat akan deal untuk sebuah acara besar, rupanya hal ini terjadi karena Solim (Fauzi Baadila) yang merupakan teman sekantor Adi mencuri konsep acara besar tersebut dan menjualnya pada EO lain. Padahal saat itu Adi sedang membangun rumah tangga bersama Astrid (Rianti Cartwright) dan sedang membutuhkan banyak dana jelang kelahiran putra pertamanya. Keadaan itu membuat Adi agak terpuruk tetapi memutuskan untuk tidak memberi tahu pada Astrid.

Di saat genting, Adi tanpa sengaja  bertemu dengan Kadir yang sekarang diceritakan menekuni usaha rumah makan Soto setelah vakumnya Srimulat dan Adi yang memang sangat menggemari Srimulat sejak kecil tiba-tiba mempunyai ide brilian yaitu mementaskan kembali Srimulat. Tak buang tempo, Adi langsung menghampiri Kadir dan mencoba membujuk Kadir untuk menghidupkan kembali Srimulat, awalnya Kadir bergeming tapi akhirnya luluh dan menerima ajakan Adi. Dan Kadir jugalah yang membantu Adi bertemu dengan pentolan-pentolan Srimulat lainnya macam Tessy, Nunung, Mamiek, Gogon bahkan hingga Djujuk yang tinggal di Solo.

Ide Adi untuk mementaskan kembali Srimulat disambut baik oleh anggota-anggotanya dan akhirnya Solo atau Stasiun Balapan tepatnya dipilih menjadi tempat pentas pertama mereka. Srimulat dan Adi sukses besar saat pertunjukan itu, tak ayal beritanya menyebar seantero negeri. Srimulat mulai kembali terdengar gaungnya dan berimbas positif karena ada salah satu penggemar mereka yang siap menjadi penyandang dana. Adi yang mendengar kabar itu langsung meretas rencana baru yaitu memboyong kembali Srimulat untuk mentas di Jakarta apalagi tak lama Icha (Nadila Ernesta) teman Adi menyusul ke Solo untuk membantu.

Disinilah drama mulai memuncak. Dari mulai Icha yang ternyata diam-diam mencintai Adi, keasyikan Adi hingga agak melupakan Astrid sampai meninggalnya sang penyandang dana sebelum uang dicairkan padahal Adi sudah membayar DP gedung, alat dan lain-lain untuk pementasan di Jakarta menggunakan uang tabungan pribadi yang sejatinya akan digunakan untuk persalinan Astrid.

Lalu, apakah yang terjadi selanjutnya? Berhasilkah Adi mementaskan Srimulat di Jakarta? Bisakah Srimulat bangkit lagi? Mampukah Adi mengembalikan ekonomi keluarganya yang terpuruk? Mari segera tonton filmnya di bioskop-bioskop kesayangan kalian. Hehe.

Finding Srimulat sebenarnya bukan film komedi walau tagline-nya “Selamatkan Indonesia dengan Tawa”, ini film yang meaningful menurut saya. Banyak pesan-pesan yang bisa diserap dari menonton film ini.

Keberanian bermimpi dan mewujudkannya jelas sangat kental pada sosok Adi dan ini yang harus bisa kita contoh sementara Astrid mengajarkan tentang sebuah cinta yang tulus, kepercayaan pada pasangan dan kesabaran menanti.

Sedangkan dari sisi global, Finding Srimulat menebar pesan bagaimana seharusnya kita memperlakukan dan melestarikan budaya juga bagaimana sebuah kerja keras akan menghasilkan sesuatu yang besar apalagi bila diikuti dengan keyakinan. Mengingat memori-memori masa jaya memang sangat indah apalagi bisa mengulanginya dan Srimulat sebagai budaya memang sudah seharusnya untuk mengulang masa-masa itu sekarang lewat generasi-generasi muda yang mau peduli. Ayo bangun, bangkit Srimulat!

Di samping itu, Finding Srimulat juga mengajarkan kita akan tanggung jawab, kesederhanaan, toleransi dan empati pada sesama. Saat scene penyandang dana meninggal hal ini akan sangat terasa. Ego dan emosi harus bisa dikendalikan dengan menghargai orang lain. Saya mengharu biru saat mendengar dialog Mamiek di scene itu yang saya simpulkan menjadi seperti ini :

“Srimulat itu ada untuk menghibur orang, tidak peduli apa yang sedang dirasakan Srimulat harus bisa bikin orang tertawa dan bahagia. Tapi Srimulat harus bisa empati ke orang lain, tidak boleh memaksakan kehendak atau tertawa ketika orang lain bersedih.”

Terakhir, film luar biasa ini mengingatkan pada kita untuk tidak melupakan keluarga sesibuk apapun  kita bekerja, sekalipun pekerjaan itu nantinya untuk keluarga juga karena tempat pulang kita yang paling nyaman dan hangat hanyalah keluarga.

Finding Srimulat, keren!

“Ide bisa dicuri tapi kreativitas dan semangat tidak pernah bisa”. Adi, Finding Srimulat.

Semua orang punya mimpi tapi tidak semua orang bisa mewujudkannya”. Adi, Finding Srimulat.

“Di balik setiap pria sukses pasti ada wanita yang gelisah”. Djujuk, Finding Srimulat

“Kamu bilang ini untuk kita tapi selama ini kamu kerja sendiri, kita itu ada kamu dan ada aku”. Astrid, Finding Srimulat

@Destangreys, 2013

Selasa, 09 April 2013

Australia : Neraka Para Nomor Satu

Kejuaraan Bulutangkis tahunan Australia Grand Prix Gold 2013 memang sudah berakhir hari Minggu lalu, Indonesia berhasil keluar sebagai juara umum dengan raihan 3 gelar masing-masing dari nomor ganda putri yang dipersembahkan Vita Marissa/Aprilsasi Putri Lejarsar Variella, ganda campuran Irfan Fadhilah/Weni Anggraini dan ganda putra Angga Pratama/Ryan Agung Saputra. Bahkan di nomor ganda putra tercipta All Indonesian Final ketika Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan juga berhasil menembus partai puncak. Sementara 2 gelar lain digondol Sayaka Takahashi asal Jepang (tunggal putri) dan Tian Houwei asal China (tunggal putra). 

Di balik kesuksesan Indonesia itu terselip cerita menggelitik sepanjang kejuaraan yang dihelat di Sydney Convention & Exhibition Centre ini, dimana tidak ada satupun unggulan pertama yang mampu juara bahkan semuanya rontok sebelum partai pamungkas. Pia Zebadiah/Rizki Amelia dari ganda putri menjadi unggulan 1 yang harus angkat koper duluan setelah kalah dari pasangan Korea Ko A Ra/Yoo Hae Woon pada partai pembuka lalu disusul tumbangnya unggulan satu tunggal putri Lindaweni Fanetri oleh Suo Di asal China di perempat final. Dan ternyata perempat final benar-benar menjadi neraka bagi unggulan pertama, Koo Kien Keat/Tan Boon Hong yang hadir sebagai nomor wahid ganda putra juga harus berlutut di babak ini usai dijungkalkan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, terakhir Markis Kido/Pia Zebadiah dari ganda campuran harus rela mengakhiri langkah dan memberikan tiket semifinal pada pasangan junior China Yuchen Liu/Huang Dongping. 

Dengan hasil tersebut, unggulan 1 hanya tinggal menyisakan Dato’ Malaysia Lee Chong Wei di babak semifinal yang diprediksi akan mudah melenggang ke partai final karena hanya menghadapi Tian Houwei tapi nampaknya Australia bukan tempat bagus bagi sang unggulan nomor satu, secara mengejutkan Lee Chong Wei kalah dari tunggal junior tersebut lewat pertarungan ketat 3 set yang menguras stamina dan adrenalin. Hal ini sontak menjadi buah bibir penikmat bulutangkis di jejaring sosial, banyak yang berpendapat tidak perlu lagi China mengandalkan seorang Lin Dan untuk meruntuhkan Dato’ tapi cukup pemain junior dengan semangat dan kengototan luar biasa. Sekedar informasi, ini adalah kekalahan kedua Lee Chong Wei dari tunggal China dalam rentang waktu hanya sebulan, sebelumnya LCW dikalahkan Chen Long di final All England Maret lalu. 

Bila berbicara tentang ketidakramahan Australia kepada unggulan pertama memang ada fakta unik bahwa sejak 2010 kejuaraan ini hanya memberikan 3 gelar pada sang pemilik top seed. Jadi dalam satu tahun praktis cuma 1 juara dan 2013 menjadi momen terburuk dimana tak ada juara untuk unggulan pertama. 

Tahun 2010 menjadi awal angkernya Australia bagi pemegang peringkat teratas. Masih berstatus kejuaraan Grand Prix, Nguyen Mien Tinh dari tunggal putra menjadi satu-satunya unggulan pertama yang masuk final dan akhirnya juara sementara Megumi Taruno (tunggal putri), Henry Tam/Donna Haliday (ganda campuran), Gan Teik Chai/Tan Bin Shen (ganda putra), dan Misaki Matsumoto/Ayaka Takahashi (ganda putri) gagal sampai ke babak final. Mereka masing-masing kalah di babak kedua, semifinal dan perempat final. 

Bergeser ke 2011, giliran unggulan utama tunggal putri yang merengkuh gelar juara lewat nama Liu Xin asal China. Top seed lainnya rontok sebelum partai puncak. Mizuki Fujii/Reika Kakiiwa wakil ganda putri Jepang hanya sampai perempat final, setali tiga uang dengan Boonsak Ponsana di tunggal putra. Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam ganda campuran Thailand kalah di semifinal begitu juga unggulan pertama ganda putra Hirokatsu Hashimoto/Noriyasu Hirata dari Jepang. 

2012 mungkin bisa jadi pengecualian karena 3 unggulan pertama mundur sebelum kejuaraan berlangsung, mereka adalah Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (ganda campuran), Li Xuerui (tunggal putri) dan Mohammad Ahsan/Bona Septano (ganda putra) namun lagi-lagi Australia hanya memberi 1 gelar juara pada pemain ungggulan utama yaitu Chen Jin sedangkan Miyuki Maeda/Satoko Suetsuna sang unggulan pertama ganda putri Jepang mentok di semifinal. 

Tahun depan, Australia Open akan naik kelas menjadi Super Series sehingga menarik menanti apakah “kutukan” bagi unggulan pertama masih akan terus melekat di negara benua yang terkenal dengan hewan lucu macam Kangguru dan Koala ini. 

@Destangreys, 2013

Senin, 08 April 2013

Bebas yang Bablas....


Kejadian ini nyata tadi malam. Saya sedang asyik berselancar dunia maya di warnet langganan dekat tempat kost daerah Antapani, Bandung. Sudah agak lama sebelum dua sejoli masuk dan ikut surfing juga di warnet tersebut.

Warnet bergaya lesehan ini memiliki sekat antar komputer yang memang cukup tinggi tapi masih cukup terbuka untuk saling melihat dan saya berada di salah satu ruang dimana ada 4 tempat dengan 2 slot komputer yang berhadap-hadapan. Nah..dua sejoli tadi mengambil tempat yang berseberangan dengan saya, tidak pas berhadapan tapi di sebelahnya atau agak di pojok.

15 menit awal memang tidak terjadi apa-apa tapi masuk 15 menit berikutnya, saya menangkap gerak-gerik aneh dan janggal dari sepasang kekasih tersebut. Setelah ditelisik baru ketahuan apa yang mereka sedang kerjakan *ngertilah yach kalian apa yang saya maksud, hehe*. Gila lho, di tempat umum yang sebenarnya tidak terlalu privat mereka berani melakukan itu. Tidak sampai terlalu ekstrim memang, hanya sekedar French kiss dan petting namun tetap saja bisa dibilang nekat. Saya tidak terlalu ngeh seumuran berapa mereka tapi seklias seperti masih anak sekolah, SMA mungkin.

Saya mengerti di usia yang masih dalam fase pubertas hasrat itu memang sangat besar dan petting juga sekarang sudah dianggap bukan suatu yang tabu tetapi apakah tidak ada tempat lain untuk melakukan hal itu?

Saya bukan iseng, saya hanya miris dan sedih melihatnya. Inikah cerminan generasi penerus bangsa Indonesia? Beginikah wajah pemuda-pemudi kita yang menjadi tumpuan bangkitnya Merah-Putih di masa depan? Sudah sebebas itukah negara ini sehingga kita sudah tidak memperdulikan norma dan budaya yang dulu sangat agung dan luhur? Kontaminasi kebiasaan negara barat sudah begitu hebatkah sampai membuat kita lupa akan adat-istiadat yang dulu sangat kuat mengikat dan sakral?

Tidak saya pungkiri, saya juga memang bukan orang suci yang dalam memadu kasih tidak pernah menyelipi bumbu-bumbu seperti itu tapi saya selalu tahu tempat untuk melakukannya karena memang sebenarnya selain orang lain risih lihatnya, saya juga risih kalau lagi “begitu” dilihatin orang. Hehe.

Nah..kalau yang di tempat umum dan masih cuek diliatin orang berarti kemungkinannya dua, obsesi jadi bintang porno atau memang sudah degradasi moral. Kalian yang mana? :P

Jadi sekarang yu sama-sama kita perbaiki diri masing-masing, jaga sikap dan kembalikan perilaku sesuai norma-norma yang berlaku agar budaya ketimuran yang luhur dan sakral ini tetap jadi identitas bangsa Indonesia yang besar, yang bebas tapi tidak perlu kebablasan.

Sulit tapi bisa!

@Destangreys, 2013

Kamis, 04 April 2013

Berani...

Setelah sekian lama akhirnya dia buka suara di media tentang kejadian itu. Kejadian yang sebetulnya menghancurkan karir dan reputasi dia. Uniknya dia bicara bukan untuk media lokal melainkan media asing. Mungkin ditodong dan memang sedang di luar negeri pula jadi mau tidak mau mengiyakan, saya juga tidak tahu. Hehe.

Yang saya tahu dan seingat saya, sejauh ini dia memang lebih memilih bungkam dan mengelak membicarakan hal itu terutama pada media. Baru hari ini dia berani mengungkapkan pendapat dan apa yang sebenarnya terjadi saat itu, tidak blak-blakan tapi cukup gamblang dan jelas dia sudah mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban-jawaban lugas nan meyakinkan yang barangkali sudah lama ia persiapkan.

Tidak mudah untuk membuka luka lama yang sangat pahit, sulit mengingat kejadian-kejadian yang amat memalukan dunia tapi dia mampu melewatinya. Saya kagum akan mental hebatnya ini.

Namun saya menyayangkan sebagian isi dari hasil tulisan wawancaranya, si media terkesan negatif dan provokatif apalagi sampai mengaitkan pencapaian dia sekarang dengan kejadian itu. Kesal tapi ya sudahlah karna mungkin sekarang orang yang sudah salah akan tetap dianggap salah. Entahlah!

Senin, 01 April 2013

#Madre

Setelah Rectoverso, satu lagi novel Dewi ‘Dee’ Lestari kembali diangkat ke layar lebar yaitu Madre. Film yang disutradarai Benni Setiawan dan mengusung Vino G. Bastian, Laura Basuki sebagai pemeran utama serta didukung aktor kawakan Didi Petet ini mulai rilis 28 Maret 2013 lalu oleh Mizan Productions.

Semalam saya berkesempatan menonton dan lagi-lagi saya tercengang dan berdecak kagum, Madre seperti karya-karya ‘Dee’ lain yang berangkat dari hal sederhana namun menjadi kompleks dan menarik. Saya tidak mengerti apa yang ada di pikiran ‘Dee’, bagaimana bisa dia menulis sebuah novel idenya hanya dari sebuah adonan biang roti tapi bisa menjadi rumit dan menebarkan banyak cerita cinta dan pengharapan. Sungguh tidak terkejar memang daya imaji dari seorang ‘Dee’. Film Madre sendiri tidak banyak mengutip kata-kata indah juga tidak terlalu menguras emosi tetapi film ini punya filosofi yang sangat dalam dan mengajarkan banyak pelajaran tentang hidup.   

Bersetting di kawasan Braga, Bandung dan pantai di Bali, Madre berawal ketika seorang surfer dan adventurer bernama Tan Sen (Vino G. Bastian) mendapatkan warisan dari kakeknya Tan Sie Gie berupa adonan biang roti bernama Madre. Madre inilah yang membuat toko roti Tan Sie Gie “Tan De Baker” sangat terkenal di tahun 60-an di Bandung. Madre sendiri berasal dari bahasa Spanyol yang bermakna Ibu.

“Tan De Baker” mengalami kemunduran dan akhirnya tutup 10 tahun ke belakang tapi Tan Sie Gie percaya keturunan langsung dirinya akan kembali membangkitkan toko roti tersebut sehingga sebelum meninggal dia menitipkan “Tan De Baker" beserta dapur serta kulkas kuno berisi Madre yang tergembok rapat pada Hadi (Didi Petet). Kunci gembok kulkas tersebut akhirnya diwariskan pada Tan Sen.

Awalnya, Tan Sen akan menjual Madre pada Mei (Laura Basuki), pengusaha roti besar “Fairy Breed” yang terobsesi dengan Madre tetapi akhirnya diurungkan karena Hadi dan pegawai-pegawai setia “Tan De Baker” tidak setuju lalu menentang keinginan Tan Sen tersebut. Tan Sen akhirnya kembali ke Bali, menikmati kebebasan dan melanjutkan hobinya menaklukkan ombak tertinggi.

Di Bali, kebebasannya sedikit terusik ketika Mei tiba-tiba hadir disana dan menantang Tan Sen untuk pulang ke Bandung dan menaklukkan kota besar dengan Madre seperti dia menaklukkan ombak dengan selancarnya. Tan Sen memang balik ke Bandung tapi bukan sepenuhnya untuk Madre melainkan untuk Mei yang membuatnya jatuh cinta sejak pertama kali bertemu.

Sejak saat itu, Tan Sen dibantu Mei yang mewakili “Fairy Breed” dan Hadi beserta beberapa orang pegawai setia “Tan De Baker” sejak tahun 60-an mencoba menghidupkan “Tan De Baker” lagi dan hasilnya mengesankan. Dalam waktu singkat “Tan De Baker” memperoleh orderan yang banyak dan semakin besar. Tapi disinilah konflik mulai meruncing, “Fairy Breed” ingin mengindustrialisasikan "Tan De Baker” untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang tidak akan mungkin tercapai bila terus-menerus mengandalkan tenaga manual apalagi pegawai-pegawai seperti Hadi dan lainnya sudah memasuki usia tua.

Jelas keinginan itu ditolak Tan Sen karena baginya Madre dan “Tan De Baker” harus tetap dibuat dan diisi oleh keturunan Tan Sie Gie, bukan oleh mesin atau keturunan lain. Selain itu, Madre sudah seperti ibunya sendiri jadi tidak mungkin untuk dijual. Kekecewaan Tan Sen pada “Fairy Breed” bertambah saat tahu ternyata Mei akan segera melangsungkan pernikahan dengan rekan kerjanya sendiri bernama James.



Lalu, bagaimana Tan Sen menghadapinya? Bagaimana nasib Madre selanjutnya? Mari tonton filmnya di bioskop-bioskop kesayangan anda. :D

Anyway, Madre mengajarkan banyak hal pada saya, Madre mengajarkan bahwa kita harus selalu melestarikan budaya, menghargai sejarah dan memegang warisan yang telah ditinggalkan pendahulu kita. Madre juga mengajarkan kesetiaan dan penantian akan sebuah kebangkitan yang harus selalu dipercaya.

Madre sangat menunjukkan kita harus selalu berkejaran dengan perkembangan zaman, inovasi dan terobosan harus selalu diterapkan bila tak ingin jatuh tergerus. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok, sejarah hidup kita sangat mungkin berubah dalam hitungan jam dan itu semua pilihan yang harus siap kita hadapi.

Madre adalah contoh kecil tentang hal kecil yang mampu menghidupi banyak kehidupan orang, Madre adalah contoh kecil tentang hal kecil yang mampu menebarkan banyak cinta yang tak lekang dimakan waktu.

Madre pun menyampaikan pesan yang mengatakan tidak ada pria sukses tanpa cinta seorang wanita, kenyataan yang sering para pria seperti saya sangkal tapi sebenarnya alam pun tak mampu menyangkal kenyataan itu. :D

Terakhir yang dapat kita petik dari film ini adalah kemanapun kita pergi, sejauh apapun, suatu hari kita akan pulang ke rumah yang kita sayangi dan menyayangi kita. Walau semua harus berubah tapi rumah tidak akan berubah.

“Semua hal harus dilakukan secara manusiawi” (Tan Sen, Madre)


“Cinta itu harus pelan-pelan asal jangan lambat, tangkap selagi sempat sebelum menyesal seperti saya” (Hadi, Madre)

“Hidup itu harus ada tanggung jawab, harus ada tantangan, harus ada keseimbangan agar kita tidak jatuh ke salah satu sisi” (Mei, Madre)

Salam dari Madre, sang adonan biang roti.

@Destangreys, 2013