Setelah Rectoverso, satu lagi novel Dewi ‘Dee’ Lestari kembali diangkat ke layar lebar yaitu Madre. Film yang disutradarai Benni Setiawan dan mengusung Vino G. Bastian, Laura Basuki sebagai pemeran utama serta didukung aktor kawakan Didi Petet ini mulai rilis 28 Maret 2013 lalu oleh Mizan Productions.
Semalam saya berkesempatan menonton dan lagi-lagi saya tercengang dan berdecak kagum, Madre seperti karya-karya ‘Dee’ lain yang berangkat dari hal sederhana namun menjadi kompleks dan menarik. Saya tidak mengerti apa yang ada di pikiran ‘Dee’, bagaimana bisa dia menulis sebuah novel idenya hanya dari sebuah adonan biang roti tapi bisa menjadi rumit dan menebarkan banyak cerita cinta dan pengharapan. Sungguh tidak terkejar memang daya imaji dari seorang ‘Dee’. Film Madre sendiri tidak banyak mengutip kata-kata indah juga tidak terlalu menguras emosi tetapi film ini punya filosofi yang sangat dalam dan mengajarkan banyak pelajaran tentang hidup.
Bersetting di kawasan Braga, Bandung dan pantai di Bali, Madre berawal ketika seorang surfer dan adventurer bernama Tan Sen (Vino G. Bastian) mendapatkan warisan dari kakeknya Tan Sie Gie berupa adonan biang roti bernama Madre. Madre inilah yang membuat toko roti Tan Sie Gie “Tan De Baker” sangat terkenal di tahun 60-an di Bandung. Madre sendiri berasal dari bahasa Spanyol yang bermakna Ibu.
“Tan De Baker” mengalami kemunduran dan akhirnya tutup 10 tahun ke belakang tapi Tan Sie Gie percaya keturunan langsung dirinya akan kembali membangkitkan toko roti tersebut sehingga sebelum meninggal dia menitipkan “Tan De Baker" beserta dapur serta kulkas kuno berisi Madre yang tergembok rapat pada Hadi (Didi Petet). Kunci gembok kulkas tersebut akhirnya diwariskan pada Tan Sen.
Awalnya, Tan Sen akan menjual Madre pada Mei (Laura Basuki), pengusaha roti besar “Fairy Breed” yang terobsesi dengan Madre tetapi akhirnya diurungkan karena Hadi dan pegawai-pegawai setia “Tan De Baker” tidak setuju lalu menentang keinginan Tan Sen tersebut. Tan Sen akhirnya kembali ke Bali, menikmati kebebasan dan melanjutkan hobinya menaklukkan ombak tertinggi.
Di Bali, kebebasannya sedikit terusik ketika Mei tiba-tiba hadir disana dan menantang Tan Sen untuk pulang ke Bandung dan menaklukkan kota besar dengan Madre seperti dia menaklukkan ombak dengan selancarnya. Tan Sen memang balik ke Bandung tapi bukan sepenuhnya untuk Madre melainkan untuk Mei yang membuatnya jatuh cinta sejak pertama kali bertemu.
Sejak saat itu, Tan Sen dibantu Mei yang mewakili “Fairy Breed” dan Hadi beserta beberapa orang pegawai setia “Tan De Baker” sejak tahun 60-an mencoba menghidupkan “Tan De Baker” lagi dan hasilnya mengesankan. Dalam waktu singkat “Tan De Baker” memperoleh orderan yang banyak dan semakin besar. Tapi disinilah konflik mulai meruncing, “Fairy Breed” ingin mengindustrialisasikan "Tan De Baker” untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang tidak akan mungkin tercapai bila terus-menerus mengandalkan tenaga manual apalagi pegawai-pegawai seperti Hadi dan lainnya sudah memasuki usia tua.
Jelas keinginan itu ditolak Tan Sen karena baginya Madre dan “Tan De Baker” harus tetap dibuat dan diisi oleh keturunan Tan Sie Gie, bukan oleh mesin atau keturunan lain. Selain itu, Madre sudah seperti ibunya sendiri jadi tidak mungkin untuk dijual. Kekecewaan Tan Sen pada “Fairy Breed” bertambah saat tahu ternyata Mei akan segera melangsungkan pernikahan dengan rekan kerjanya sendiri bernama James.
Lalu, bagaimana Tan Sen menghadapinya? Bagaimana nasib Madre selanjutnya? Mari tonton filmnya di bioskop-bioskop kesayangan anda. :D
Anyway, Madre mengajarkan banyak hal pada saya, Madre mengajarkan bahwa kita harus selalu melestarikan budaya, menghargai sejarah dan memegang warisan yang telah ditinggalkan pendahulu kita. Madre juga mengajarkan kesetiaan dan penantian akan sebuah kebangkitan yang harus selalu dipercaya.
Madre sangat menunjukkan kita harus selalu berkejaran dengan perkembangan zaman, inovasi dan terobosan harus selalu diterapkan bila tak ingin jatuh tergerus. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok, sejarah hidup kita sangat mungkin berubah dalam hitungan jam dan itu semua pilihan yang harus siap kita hadapi.
Madre adalah contoh kecil tentang hal kecil yang mampu menghidupi banyak kehidupan orang, Madre adalah contoh kecil tentang hal kecil yang mampu menebarkan banyak cinta yang tak lekang dimakan waktu.Madre pun menyampaikan pesan yang mengatakan tidak ada pria sukses tanpa cinta seorang wanita, kenyataan yang sering para pria seperti saya sangkal tapi sebenarnya alam pun tak mampu menyangkal kenyataan itu. :D
Terakhir yang dapat kita petik dari film ini adalah kemanapun kita pergi, sejauh apapun, suatu hari kita akan pulang ke rumah yang kita sayangi dan menyayangi kita. Walau semua harus berubah tapi rumah tidak akan berubah.
“Semua hal harus dilakukan secara manusiawi” (Tan Sen, Madre)
“Cinta itu harus pelan-pelan asal jangan lambat, tangkap selagi sempat sebelum menyesal seperti saya” (Hadi, Madre)
“Hidup itu harus ada tanggung jawab, harus ada tantangan, harus ada keseimbangan agar kita tidak jatuh ke salah satu sisi” (Mei, Madre)
Salam dari Madre, sang adonan biang roti.
@Destangreys, 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar