Kamis, 30 Oktober 2014

Yogyakarta, Lain Dulu Lain Sekarang. #ExploreIndonesia #IndonesiaBagus

Sabtu, 25 Oktober 2014 pukul 06.40, saya menjejakkan kaki di Stasiun Gambir Jakarta. Lalu-lalang penumpang, pengantar hingga porter diselingi decitan roda kereta yang menyapa rel semarak meramaikan aktivitas stasiun pagi itu. Sebuah pemandangan yang membangkitkan semangat untuk segera menjelajah.

Stasiun Gambir berdiri kokoh di samping Tugu Monas, menjadi salah satu landmark kota Jakarta dan gerbang utama selamat datang di Ibukota bagi para pendatang yang menggunakan kereta api selain Stasiun Pasar Senen dan Jatinegara tentu saja. Gambir adalah primadona bagi penikmat kereta api khusunya kelas eksekutif, tak ayal kepadatan selalu terjadi jelang akhir pekan atau hari raya.

PT KAI selaku penanggung jawab tunggal perkeretapian memang sudah bertransformasi sejak dibesut Ignasius Jonan (sekarang Menteri Perhubungan di Kabinet Kerja Jokowi-JK), perbaikan sistem, infrastruktur, dan pelayanan dilakukan maksimal sehingga tak heran bila wajah moda transportasi massal ini berubah total menjadi jauh lebih baik. Dulu, kereta api di cap sebagai alat transportasi kumuh, rawan kejahatan dan urakan namun sekarang mampu terlihat elegan, mempesona dan bersih. Tengok saja bagaimana PT KAI serius membenahi infrastrukturnya, kereta antar kota antar provinsi yang disulap menggunakan pendingin ruangan apapun kelasnya dan membongkar pemukiman-pemukiman liar di bantaran rel yang bisa menghambat perjalanan kereta jelas adalah bukti nyata, belum lagi asap rokok yang haram di sekitaran stasiun dan kereta juga jadi senjata andalan PT KAI untuk menarik minat masyarakat. Selain itu, penerapan online booking yang terintegrasi dengan cara pembayaran via ATM atau Payment Point memudahkan para pengguna layanan kereta api untuk mendapatkan tiket tanpa perlu datang dan antri di loket sehingga kepadatan dan praktek percaloan bisa diminimalisir bahkan dihilangkan.

Setelah mencetak tiket (Di beberapa stasiun besar sudah ada layanan cetak tiket mandiri, jadi tidak perlu antri di loket), saya memutuskan untuk sarapan dahulu di sebuah restoran cepat saji maklum kereta yang akan saya tumpangi baru akan berangkat pukul 08.15. Setelah perut terisi, pukul 08.00 saya bergegas naik ke lantai atas untuk masuk ke kereta dengan membeli setengah lusin donat terlebih dahulu untuk bekal perjalanan kurang lebih 8 jam yang akan saya arungi.

Tak lama, KA Eksekutif Argo Dwipangga jurusan Jakarta-Solo hadir menyapa. Inilah rangkaian KA yang akan membawa saya pada tempat tujuan, Yogyakarta. Yap, Yogyakarta menjadi pilihan saya untuk menghabiskan weekend terakhir bulan Oktober kemarin. Bagi saya, kunjungan ini adalah kunjungan ketiga setelah tahun lalu dan tahun 2005.

Yogyakarta memang selalu menjadi tempat yang mempesona bagi siapa saja yang pernah menginjak tanahnya dan rindu untuk kembali ke sana pasti membuncah di dada, seperti apa yang dibilang Katon Bagaskara bersama bandnya Kla Project di lirik "Namun kotamu hadirkan senyum abadi, izinkan aku untuk slalu pulang lagi..." pada lagu lawas sepanjang masa berjudul Yogyakarta yang fenomenal.

Hal itu, berlaku juga bagi saya, setelah kunjungan di 2005 yang bisa dibilang komplet karena hampir seluruh objek wisata Yogya saya kunjungi dari mulai Malioboro, Kotagede, Candi Prambanan, Keraton dan Alun-Alun hingga ke Candi Borobudur di Magelang, saya merasa amat rindu dengan kota Gudeg ini dan kesempatan untuk kembali menikmati Yogya ada tahun lalu tapi sayang kerinduan itu tidak terobati walau saya sebenarnya menapak kesana. Selain waktu yang sempit, kejuaraan Bulutangkis level Internasional yang dihelat disana membuat saya hanya terkonsentrasi menonton. Namun kata orang kalau sudah jodoh takkan lari kemana, tepat setahun berselang kesempatan ke Yogya hadir lagi dan saya bertekad tahun ini harus bernostalgia dengan apa yang saya darmakan di 2005.

Yogyakarta, lain dulu lain sekarang. Yogyakarta sekarang sudah berubah menjadi kawasan gemerlap terutama di pusat kota. Perkembangan pesat dan amat modern sungguh terasa dibanding tahun 2005 namun begitu ada beberapa hal yang belum hilang dari Yogya seperti makanan enak yang murah atau oleh-oleh berupa cemilan dan pakaian berharga miring masih bisa kita rasakan. Keramahan orang-orang Yogya pun masih seperti dulu, hangat dan tulus, tak berkurang sedikit jua. Satu contoh bagaimana keramahan mereka adalah saat saya baru pulang dari Malioboro menuju penginapan di daerah Kaliurang menggunakan taksi, tiba-tiba sebuah sepeda motor menabrak spion Taksi hingga miring. Normalnya, di kota besar yang penuh tekanan, hal ini bisa menjadi pemicu kericuhan yang berujung debat kusir atau bahkan pertumpahan darah. Tapi di Yogya adalah anomali, walau sudah di komporin teman-teman untuk mengejar motor tersebut, sang supir taksi tenang-tenang saja dan dengan penuh keseriusan berbicara "disini nda ada kejar-kejaran, yang ada 3S, salam senyum saja". Pesan damai itu membuat darah saya berdesir dan langsung terenyuh, tercenung seraya mengamini pendapat yang mengatakan sesungguhnya orang Indonesia itu sangat ramah.

Tapi Yogyakarta bukan tidak terpengaruh hal negatif arus jaman, tuntutan ekonomi yang makin tinggi sementara pendapatan yang pas-pasan membuat beberapa orang disana "terpaksa" memanfaatkan ketidaktahuan pendatang untuk melakukan modus untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak ya walau masih dalam batasan wajar.

Ada dua profesi setidaknya yang saya amati sering melakukan modus ini, pertama adalah tukang becak yang mengimingi akan mengantar ke pusat oleh-oleh dan batik hanya dengan uang 5000 rupiah bolak-balik. Malioboro adalah tempat berkumpul tukang becak seperti ini. Bila kita menerima rayuan mereka maka segera naiklah tapi jangan berharap anda akan diantar ke pusat oleh-oleh yang besar yang anda ingini, mereka akan antar ke pusat oleh-oleh yang mereka mau saja. Sebenarnya tak masalah, toh harganya bersaing tak terlalu jauh. Masalah akan terjadi kalau kita tidak membeli oleh-oleh di toko tersebut atau keukeuh minta diantarkan pada toko yang anda ingini. Percaya pada saya, mereka pada akhirnya akan mengalah dan mengantar anda ke tempat yang anda mau tapi di saat turun nanti tukang becak ini akan meminta tambahan bayaran atau menurunkan anda jauh dari saat anda naik tadi.

Profesi kedua adalah supir taksi! Ketidakadaan angkutan kota dan jumlah Trans Jogja yang terbatas membuat armada taksi di Yogyakarta menjamur baik yang resmi maupun liar. Disinilah letak masalahnya, para supir taksi banyak yang enggan menggunakan argo resmi dan meminta persetujuan harga yang lebih tinggi sebelum naik dengan berbagai alasan, macet atau harus jalan memutar. Sejujurnya bila alasan yang dikemukakan bisa dipertanggungjawabkan saya akan mengerti tapi kebanyakan alasan itu hanya menjadi alasan. Tak ada macet atau jalan memutar bila sudah deal harga. Kalau ditanya, supir taksi ini pasti akan menjawab sekenanya atau mengalihkan pembicaraan. Jadi buat teman-teman yang ingin atau akan pergi ke Yogya berwaspadalah dengan modus-modus semacam ini.

Namun terlepas dari semua itu, Yogyakarta tetap masih nyaman untuk dikunjungi. Keindahan panorama alam, pesona warisan cagar budaya masa lampau dan kehangatan masyarakatnya membuat Yogyakarta selalu jadi destinasi wajib nan indah yang diidamkan bagi siapa saja yang ingin menjelajah Indonesia.

Jogja keren!

@Destangreys, 2014

*NB : Kalau boleh saran, Yogyakarta harus lebih concern pada perbaikan sistem transportasi terutama infrastruktur dan armada termasuk perluasan bandara Internasional Adi Sucipto yang menurut saya kecil banget. :)

Senin, 20 Oktober 2014

Greysia Polii (Part 2)

Akhir 2012, usai kejadian Olimpiade London beberapa teman menanyakan pada saya dengan pertanyaan berbeda namun maknanya sama.

"Kenapa masih Greysia Polii?"

"Apa sih yang loe liat dari atlet ga berprestasi kayak dia? Mana bikin malu negara lagi"

"Loe ga niat ganti idola?"

Saya cuma tersenyum dan menghela nafas dan memilih untuk tidak menjelaskan. Biarkan saja waktu yang menjawab itu gumam saya dalam hati. Dan saya rasa inilah waktunya untuk menjawab semua itu.

Bagi sebagian orang, mungkin mengidolai atlet karena atlet tersebut penuh dengan prestasi dan gelar juara tapi saat mengidolai Greys saya tidak berangkat dari sana melainkan berangkat dari sikapnya yang ramah, unik, lucu tapi bisa tampil serius di lapangan. Lalu entah sudah jalan Tuhan atau bagaimana saya secara sangat beruntung bisa kenal secara personal dengan dia, keluarganya dan beberapa teman dekatnya.

Hal ini membuat gelar juara GPG, SS, SSP atau sekeping medali emas kejuaraan bergengsi menjadi hanya sebuah kado tambahan untuk saya karena tanpa itu Greys sudah memberikan dan mengajarkan banyak hal baik pada saya. Saya tahu persis Greys manusia biasa yang punya banyak kekurangan dan kesalahan, saya merasakan itu namun daripada memikirkannya lebih bijak saya membagi hal-hal baik walau kecil yang sempat saya kail dari seorang Greysia Polii, siapa tahu bisa menginspirasi.

Mari kita ambil contoh kecil, kejadiannya baru dan masih amat melekat di benak saya. Saat penjemputan di Bandara usai meraih emas di Asian Games kemarin, saya mencoba membantu untuk mendorong trolley berisi koper dan tas raketnya tapi dengan sigap Greys melarangnya, dia tidak mau merepotkan orang lain. Ah..how nice she is?

Sekarang tanya teman-teman #Greysians yang kemarin ikut #GreysiansMeetGreysia, tanyakan bagaimana dia begitu ramah dan cair membaur dengan fans-fansnya. Greys juga tidak segan bertanya dan bercanda.

Greys adalah tipe orang yang tidak suka berbagi kegalauan dan kesedihan. Dia tipe motivator ulung, lihat saja apa yang dia twit di Twitter, dia post di Instagram, semua tak ada yang bernada sedih. Semua tentang kebahagiaan, tentang penyemangat dan tentang how to enjoy and live your life. Kalau sempet ngobrol secara langsung, kalian juga bakal dapet hal yang sama dari dia. :)

Masih kurang? Baiklah, Greys pernah menegur saya karna saya merespons keras seseorang yang jelek-jelekkin dia. Dia dengan santai bilang "Udah diemin, kalau kamu ladenin kamu sama aja". Saya tidak habis pikir, bagaimana seseorang bisa santai menanggapi berita miring dirinya dan malah melarang orang yang membelanya tapi kalau ditelaah benar juga sih. Anjing mengonggong kafilah berlalu. Sejak saat itu saya lebih kalem tapi sejujurnya ingin sekali bilang "EAT THAT" pada sejumlah haters yang sampai saat ini masih lekat di benak tapi ntar malah kena omel sang juara lagi. Hehe. Ya sudahlah.

Rendah hati adalah suatu cerminan lain dari Greys, ini ga usah diceritain lah ya, banyak banget contohnya soalnya. Selalu seperti itu ya kak Ge. ;)

Saya selalu yakin kalau kita mewujudkan mimpi orang lain maka mimpi kita bisa terwujud dan kalau boleh berasumsi, Greys sudah mewujudkan mimpi saya dan #Greysians sehingga mimpinya terwujud tapi ini hanya asumsi saya lho ya karna faktanya mimpi Greys terwujud karena kerja keras dan doa yang terus menerus. :)

Tidak banyak orang tahu bahwa misi saya mendirikan #Greysians salah satunya adalah ingin mempertemukan para fans setia Greys dengan idolanya dan momen #GreysiansMeetGreysia bulan Juli lalu semoga terulang lagi. Semoga. #jadingarep

Dan akhirnya saya ingin mengucapkan terima kasih banyak pada Greysia Polii yang sudah banyak sekali memberikan motivasi, inspirasi dan kebahagiaan-kebahagiaan selama ini.

#SalamHormatGreysiansNomorSatu :)

@Destangreys, 2014

Minggu, 19 Oktober 2014

Greysia Polii (Part 1)

Saat saya memulai tulisan ini, saya tidak tahu bagaimana memulainya dan tidak tahu bagaimana nanti akhirnya tapi yang saya tahu saya membiarkan hati saya merangkai kata per kata, kalimat per kalimat yang mungkin akan banyak bercerita tentang hal yang tidak banyak diketahui atau juga mungkin tidak. Entahlah.

Hingar bingar medali emas pertama Asian Games 2014 untuk Indonesia dari cabang Bulutangkis yang hadir dari ganda putri Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari masih sering mengusik kalbu saya, mengguncang ruang-ruang di pikiran dan membuyarkan lamunan padahal sudah hampir sebulan lewat. Saya masih sering tersenyum bila ingatan me-rewind saat smash Greys membentur net dan melayang masuk ke area Misaki/Ayaka di partai final itu, saya masih suka merinding bila tiba-tiba terngiang komentator televisi saat itu memekik "Here we this..." dan tak jarang terharu biru mengingat bagaimana pelukan Greys/Nitya pada pelatih Eng Hian. Ada yang salah nampaknya pada diri saya? Bisa jadi! Tapi inilah kenyataannya.

Baiklah, sebelum meneruskan apa yang saya rasakan mari kita flashback dulu ke bulan April 2008 saat Istora Senayan Jakarta menghelat kejuaraan bergengsi Bulutangkis beregu bernama Piala Thomas Uber. Ada satu nama melejit dari srikandi kita, dia adalah Greysia Polii. Bukan hanya karena penampilan impresif bersama duet pasangan Jo Novita yang membawa Indonesia menjadi runner up melainkan juga tingkah polah unik nan nyentrik selama kejuaraan itu. Melakukan Victory Lap memakai topi panjang ala pesulap dan bendera Merah-Putih yang ia jadikan jubah layaknya Superman membuat wanita ini sungguh lucu dan menggemaskan sehingga wajar bila pada akhirnya Greys (sapaan akrab Greysia Polii) sekonyong-konyong menjadi amat terkenal. Saat itu mengidolai Greys memang sesuatu yang sangat mudah bagi siapapun termasuk saya, paras ayu, imut dan chubby namun tetap mampu tampil gahar di lapangan merupakan kombinasi pas menjadikan Greys idola. Bedanya yang lain mungkin cuma ngarep ketemu dan kenal kalau saya obsesi dan usaha maksimal untuk mewujudkan pertemuan dan perkenalan. Hahaha.

Popularitas yang meroket itu membuat Greys menjadi sasaran tembak untuk ekspektasi masyarakat akan sebuah prestasi, harapan-harapan besar mulai disematkan padanya walau saat itu masih menjadi pelapis Vita/Liliyana. Penampilan impresif di Piala Uber dan "kecelakaan" menjadi terkenal akhirnya membuat Greys mau tidak mau harus berani mengemban tugas tersebut.

Hari berganti, bulan merangkak dan tahun berlalu, ternyata harapan publik akan lahirnya gelar juara dari seorang Greys masih jauh panggang dari api. Disinilah semua cobaan itu dimulai, jalan terjal sebagai atlet mulai dirasanya lagi. Lagi? Ia lagi karna sebelumnya Greys pernah merasakan sulitnya mengejar mimpi juara, dari mulai faktor ekonomi hingga cedera lutut yang menghantuinya. Tapi kali ini berbeda, saya yakin dan percaya cobaan ini lah yang membuat dia semakin dewasa dari waktu ke waktu dan membuat mentalnya semakin kuat, cobaan bernama tekanan publik.

Sejujurnya prestasi Greys tidak buruk-buruk amat sejak 2008 hingga jelang Olimpiade 2012 London walau hanya memberikan riak-riak kecil pada cengkraman China dan Korea di nomor ganda putri tanpa gelar namun cukup sebenarnya untuk memberikan harapan prestasi. Menembus 10 besar dunia dalam rentang waktu tidak lebih dari setahun bersama Nitya Krishinda Maheswari dengan catatan Final Singapura Super Series 2009 setelah sempat mengalahkan ganda nomor satu dunia saat itu Chin Eui Hui/Wong Pei Tty asal Malaysia atau semifinalis Perancis Super Series 2009 ditambah dengan penghargaan Fair Play Player lalu menembus big five bersama Meiliana Jauhari lewat raihan final Indonesia GPG 2010 dan Macau GPG 2010 menjadi prestasi tersendiri bagi Greys tapi itu semua belum cukup bagi pecinta Bulutangkis tanah air. Kritik-kritik serba komentar-komentar mulai akrab di telinganya, dari mulai yang membangun, bernada miring sampai yang jelas-jelas ngajak berantem. Fans yang dulu memuja mulai meninggalkannya, menggores perih dengan perkataan yang amat tak pantas. Miris!

Awal September 2011, Greys bersama Meiliana hampir saja membungkam opini publik. Tampil trengginas di Taipei GPG 2011 Greys/Mei melenggang hingga babak final dan sudah unggul di game pertama dan bahkan game kedua sebelum tragedi itu datang, Greys salah jatuh saat akan mengembalikan shuttlecock yang membuat bahunya cedera. Cedera parah. Kemenangan akhirnya harus diberikan pada lawannya. Inilah awal petaka bertubi yang menimpa dara kelahiran 11 Agustus 1987 itu.

Cedera bahu Greys ternyata lebih parah dari apa yang dibayangkan, operasi dan istirahat panjang adalah keharusan. Dilema! Karena Greys/Mei harus mengejar poin untuk sampai ke London dan diharapkan bisa menjadi andalan di Sea Games 2011 Jakarta. Greys/Mei memaksa tampil di Jepang Super Series 2 minggu usai kejadian, walau hanya sampai babak kedua tapi nampaknya cukup untuk mengamankan poin Olimpiade, Greys juga menggunakan tangan kiri saat bermain. Suatu hal yg tak lazim dan patutnya diapresiasi tapi tetap saja nada sumbang itu bertebaran. Absen di Indonesia GPG dan Sea Games 2011 untuk beristirahat total lalu memulai kembali persaingan di akhir November merupakan hal yang mengejutkan mengingat bahu Greys yang rentan dan belum direkomendasikan untuk come back namun ambisi untuk tampil di pesta olahraga terbesar membuat Greys harus ambil resiko itu. Dan satu hal yang tidak banyak diketahui publik adalah bahwa bahu Greys tidak akan bisa sembuh total, sakit dan nyeri masih sering kambuh bahkan sampai hari ini. "Sudah tak apa dan proses penyembuhan berjalan baik terapi juga lancar", itu yang dikatakan Greys pada saya usai simulasi TUC 2012 yang di-"tebengkan" di Axiata Cup 2012 Tennis Indoor. Greys memang tidak mau berbagi tentang kesakitannya padahal saya tahu persis bahunya sakit yang berpengaruh pada performanya. Greys sangat sadar hal itu dan ketika saya mendengar kabar jauh-jauh hari setelahnya bahwa dia sebenarnya sudah merencanakan untuk gantung raket usai Olimpiade andai berprestasi bagus saya sungguh terkejut. Ya kabar ini memang belum terkonfirmasi olehnya tapi masuk akal juga. Bayangkan bagaimana beratnya bila harus bertanding melawan musuh dengan tekanan publik yang tinggi sementara kita tidak bisa tampil maksimal karna bahu tidak bisa berkompromi. Sungguh tak nyaman rasanya.

Greys/Mei akhirnya melangkah ke London 2012 dengan percaya diri tapi lagi-lagi tragedi pahit menimpa keduanya, bersama 3 pebulutangkis lain asal Korea dan China mereka dituduh berbuat tidak sportif dan harus rela didiskualifikasi dari turnamen. Sontak berita ini memukul wajah Bulutangkis Indonesia dan dunia apalagi Indonesia juga merusak sejarah dengan pulang tanpa medali emas Olimpiade Bulutangkis. Greys/Mei menjadi sorotan tajam dan sasaran empuk caci dan maki masyarakat karena dirasa sudah membuat malu negara. Saat itu Greys/Mei seperti 2 orang pesakitan yang harus dihakimi. Semua mencibir, semua mengutuk dan semua meninggalkan. Berat rasanya cobaan itu bagi keduanya.

Tak heran saat kembali ke Indonesia, Greys/Mei sulit sekali untuk ditemui terutama oleh media tapi saya bersyukur bisa jadi orang pertama di luar keluarga dan temannya yang bisa bertemu usai tragedi itu.

11 Agustus 2012, tepat ulang tahun Greys saya bertandang ke rumahnya, tidak sama sekali bermaksud untuk bertemu hanya ingin menitipkan kue ulang tahun dan beberapa kado untuk memberikan dorongan moril pada Greys namun Oma Evie, Ibunda Greys, menahan saya untuk pulang dan memberikan harapan untuk bertemu. Kebetulan Greys sedang keluar dan saya disuruh menunggu. Saya tahu Greys waktu itu belum siap bertemu orang lain termasuk saya dan ada sedikit friksi antara dia dan Oma di telepon. Jujur saya tidak enak hati dan memutuskan untuk pamit saja tapi lagi-lagi Oma melarang. Saya bergumam, "Betapa baik Oma yang satu ini, andai saja bisa jadi mertua". Hehehe.

Pertemuan itu pun terjadi dan kesan pertama yang saya tangkap adalah ada satu kilatan matanya yang masih menunjukkan kekecewaan, gurat mukanya menampakkan beban berat yang ia pikul, down dan hampir putus asa mungkin. Tapi dia memilih untuk tidak membagi itu, dia lebih memilih menanyakan fansnya lalu menyampaikan apa yang akan dia lakukan ke depan. Dia akan kembali dengan semakin termotivasi ungkapnya.

Di perjalanan pulang saya merenung dan meyakini bahwa keputusan saya untuk terus mendukungnya tak pernah salah, saya percaya dia akan kembali dan cepat atau lambat akan membuktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin termasuk gelar juara.

Dan akhirnya setelah 2 tahun, melalui segala macam rintangan dan tantangan, gelar juara bergengsi itu pun direngkuhnya. Medali emas Asian Games 2014 menjadi pelengkap 2 gelar Grand Prix Gold, Thailand 2013 dan Taipei 2014 koleksinya dalam membangun kembali reputasi serta upaya kebangkitan usai masa-masa suram itu berlalu.

Greysia Polii adalah prototype sempurna postulat hukum alam berjalan dan janji Tuhan berlaku saat dimana kesuksesan akan lahir dari kerja keras yang tak pernah kendur, semangat keyakinan yang pantang menyerah dan doa yang tak pernah putus.

Ada banyak tawa, suka, duka dan air mata, tak terhitung keringat mengucur dan darah menetes, penantian yang penuh proses panjang. Tersandung, tegak lagi. Terjatuh, bangun lagi. Tenggelam, berlayar lagi. Terpuruk, bangkit lagi. Hingga wajar adanya bila saya yang menyaksikan hal itu selama 6 tahun lamanya ikut terisak dan berkaca-kaca saat dia ada di podium tertinggi dan Indonesia Raya berkumandang.

Bangga!!!

@Destangreys, 2014