Sabtu, 25 Oktober 2014 pukul 06.40, saya menjejakkan kaki di Stasiun Gambir Jakarta. Lalu-lalang penumpang, pengantar hingga porter diselingi decitan roda kereta yang menyapa rel semarak meramaikan aktivitas stasiun pagi itu. Sebuah pemandangan yang membangkitkan semangat untuk segera menjelajah.
Stasiun Gambir berdiri kokoh di samping Tugu Monas, menjadi salah satu landmark kota Jakarta dan gerbang utama selamat datang di Ibukota bagi para pendatang yang menggunakan kereta api selain Stasiun Pasar Senen dan Jatinegara tentu saja. Gambir adalah primadona bagi penikmat kereta api khusunya kelas eksekutif, tak ayal kepadatan selalu terjadi jelang akhir pekan atau hari raya.
PT KAI selaku penanggung jawab tunggal perkeretapian memang sudah bertransformasi sejak dibesut Ignasius Jonan (sekarang Menteri Perhubungan di Kabinet Kerja Jokowi-JK), perbaikan sistem, infrastruktur, dan pelayanan dilakukan maksimal sehingga tak heran bila wajah moda transportasi massal ini berubah total menjadi jauh lebih baik. Dulu, kereta api di cap sebagai alat transportasi kumuh, rawan kejahatan dan urakan namun sekarang mampu terlihat elegan, mempesona dan bersih. Tengok saja bagaimana PT KAI serius membenahi infrastrukturnya, kereta antar kota antar provinsi yang disulap menggunakan pendingin ruangan apapun kelasnya dan membongkar pemukiman-pemukiman liar di bantaran rel yang bisa menghambat perjalanan kereta jelas adalah bukti nyata, belum lagi asap rokok yang haram di sekitaran stasiun dan kereta juga jadi senjata andalan PT KAI untuk menarik minat masyarakat. Selain itu, penerapan online booking yang terintegrasi dengan cara pembayaran via ATM atau Payment Point memudahkan para pengguna layanan kereta api untuk mendapatkan tiket tanpa perlu datang dan antri di loket sehingga kepadatan dan praktek percaloan bisa diminimalisir bahkan dihilangkan.
Setelah mencetak tiket (Di beberapa stasiun besar sudah ada layanan cetak tiket mandiri, jadi tidak perlu antri di loket), saya memutuskan untuk sarapan dahulu di sebuah restoran cepat saji maklum kereta yang akan saya tumpangi baru akan berangkat pukul 08.15. Setelah perut terisi, pukul 08.00 saya bergegas naik ke lantai atas untuk masuk ke kereta dengan membeli setengah lusin donat terlebih dahulu untuk bekal perjalanan kurang lebih 8 jam yang akan saya arungi.
Tak lama, KA Eksekutif Argo Dwipangga jurusan Jakarta-Solo hadir menyapa. Inilah rangkaian KA yang akan membawa saya pada tempat tujuan, Yogyakarta. Yap, Yogyakarta menjadi pilihan saya untuk menghabiskan weekend terakhir bulan Oktober kemarin. Bagi saya, kunjungan ini adalah kunjungan ketiga setelah tahun lalu dan tahun 2005.
Yogyakarta memang selalu menjadi tempat yang mempesona bagi siapa saja yang pernah menginjak tanahnya dan rindu untuk kembali ke sana pasti membuncah di dada, seperti apa yang dibilang Katon Bagaskara bersama bandnya Kla Project di lirik "Namun kotamu hadirkan senyum abadi, izinkan aku untuk slalu pulang lagi..." pada lagu lawas sepanjang masa berjudul Yogyakarta yang fenomenal.
Hal itu, berlaku juga bagi saya, setelah kunjungan di 2005 yang bisa dibilang komplet karena hampir seluruh objek wisata Yogya saya kunjungi dari mulai Malioboro, Kotagede, Candi Prambanan, Keraton dan Alun-Alun hingga ke Candi Borobudur di Magelang, saya merasa amat rindu dengan kota Gudeg ini dan kesempatan untuk kembali menikmati Yogya ada tahun lalu tapi sayang kerinduan itu tidak terobati walau saya sebenarnya menapak kesana. Selain waktu yang sempit, kejuaraan Bulutangkis level Internasional yang dihelat disana membuat saya hanya terkonsentrasi menonton. Namun kata orang kalau sudah jodoh takkan lari kemana, tepat setahun berselang kesempatan ke Yogya hadir lagi dan saya bertekad tahun ini harus bernostalgia dengan apa yang saya darmakan di 2005.
Yogyakarta, lain dulu lain sekarang. Yogyakarta sekarang sudah berubah menjadi kawasan gemerlap terutama di pusat kota. Perkembangan pesat dan amat modern sungguh terasa dibanding tahun 2005 namun begitu ada beberapa hal yang belum hilang dari Yogya seperti makanan enak yang murah atau oleh-oleh berupa cemilan dan pakaian berharga miring masih bisa kita rasakan. Keramahan orang-orang Yogya pun masih seperti dulu, hangat dan tulus, tak berkurang sedikit jua. Satu contoh bagaimana keramahan mereka adalah saat saya baru pulang dari Malioboro menuju penginapan di daerah Kaliurang menggunakan taksi, tiba-tiba sebuah sepeda motor menabrak spion Taksi hingga miring. Normalnya, di kota besar yang penuh tekanan, hal ini bisa menjadi pemicu kericuhan yang berujung debat kusir atau bahkan pertumpahan darah. Tapi di Yogya adalah anomali, walau sudah di komporin teman-teman untuk mengejar motor tersebut, sang supir taksi tenang-tenang saja dan dengan penuh keseriusan berbicara "disini nda ada kejar-kejaran, yang ada 3S, salam senyum saja". Pesan damai itu membuat darah saya berdesir dan langsung terenyuh, tercenung seraya mengamini pendapat yang mengatakan sesungguhnya orang Indonesia itu sangat ramah.
Tapi Yogyakarta bukan tidak terpengaruh hal negatif arus jaman, tuntutan ekonomi yang makin tinggi sementara pendapatan yang pas-pasan membuat beberapa orang disana "terpaksa" memanfaatkan ketidaktahuan pendatang untuk melakukan modus untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak ya walau masih dalam batasan wajar.
Ada dua profesi setidaknya yang saya amati sering melakukan modus ini, pertama adalah tukang becak yang mengimingi akan mengantar ke pusat oleh-oleh dan batik hanya dengan uang 5000 rupiah bolak-balik. Malioboro adalah tempat berkumpul tukang becak seperti ini. Bila kita menerima rayuan mereka maka segera naiklah tapi jangan berharap anda akan diantar ke pusat oleh-oleh yang besar yang anda ingini, mereka akan antar ke pusat oleh-oleh yang mereka mau saja. Sebenarnya tak masalah, toh harganya bersaing tak terlalu jauh. Masalah akan terjadi kalau kita tidak membeli oleh-oleh di toko tersebut atau keukeuh minta diantarkan pada toko yang anda ingini. Percaya pada saya, mereka pada akhirnya akan mengalah dan mengantar anda ke tempat yang anda mau tapi di saat turun nanti tukang becak ini akan meminta tambahan bayaran atau menurunkan anda jauh dari saat anda naik tadi.
Profesi kedua adalah supir taksi! Ketidakadaan angkutan kota dan jumlah Trans Jogja yang terbatas membuat armada taksi di Yogyakarta menjamur baik yang resmi maupun liar. Disinilah letak masalahnya, para supir taksi banyak yang enggan menggunakan argo resmi dan meminta persetujuan harga yang lebih tinggi sebelum naik dengan berbagai alasan, macet atau harus jalan memutar. Sejujurnya bila alasan yang dikemukakan bisa dipertanggungjawabkan saya akan mengerti tapi kebanyakan alasan itu hanya menjadi alasan. Tak ada macet atau jalan memutar bila sudah deal harga. Kalau ditanya, supir taksi ini pasti akan menjawab sekenanya atau mengalihkan pembicaraan. Jadi buat teman-teman yang ingin atau akan pergi ke Yogya berwaspadalah dengan modus-modus semacam ini.
Namun terlepas dari semua itu, Yogyakarta tetap masih nyaman untuk dikunjungi. Keindahan panorama alam, pesona warisan cagar budaya masa lampau dan kehangatan masyarakatnya membuat Yogyakarta selalu jadi destinasi wajib nan indah yang diidamkan bagi siapa saja yang ingin menjelajah Indonesia.
Jogja keren!
@Destangreys, 2014
*NB : Kalau boleh saran, Yogyakarta harus lebih concern pada perbaikan sistem transportasi terutama infrastruktur dan armada termasuk perluasan bandara Internasional Adi Sucipto yang menurut saya kecil banget. :)