Minggu, 19 Oktober 2014

Greysia Polii (Part 1)

Saat saya memulai tulisan ini, saya tidak tahu bagaimana memulainya dan tidak tahu bagaimana nanti akhirnya tapi yang saya tahu saya membiarkan hati saya merangkai kata per kata, kalimat per kalimat yang mungkin akan banyak bercerita tentang hal yang tidak banyak diketahui atau juga mungkin tidak. Entahlah.

Hingar bingar medali emas pertama Asian Games 2014 untuk Indonesia dari cabang Bulutangkis yang hadir dari ganda putri Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari masih sering mengusik kalbu saya, mengguncang ruang-ruang di pikiran dan membuyarkan lamunan padahal sudah hampir sebulan lewat. Saya masih sering tersenyum bila ingatan me-rewind saat smash Greys membentur net dan melayang masuk ke area Misaki/Ayaka di partai final itu, saya masih suka merinding bila tiba-tiba terngiang komentator televisi saat itu memekik "Here we this..." dan tak jarang terharu biru mengingat bagaimana pelukan Greys/Nitya pada pelatih Eng Hian. Ada yang salah nampaknya pada diri saya? Bisa jadi! Tapi inilah kenyataannya.

Baiklah, sebelum meneruskan apa yang saya rasakan mari kita flashback dulu ke bulan April 2008 saat Istora Senayan Jakarta menghelat kejuaraan bergengsi Bulutangkis beregu bernama Piala Thomas Uber. Ada satu nama melejit dari srikandi kita, dia adalah Greysia Polii. Bukan hanya karena penampilan impresif bersama duet pasangan Jo Novita yang membawa Indonesia menjadi runner up melainkan juga tingkah polah unik nan nyentrik selama kejuaraan itu. Melakukan Victory Lap memakai topi panjang ala pesulap dan bendera Merah-Putih yang ia jadikan jubah layaknya Superman membuat wanita ini sungguh lucu dan menggemaskan sehingga wajar bila pada akhirnya Greys (sapaan akrab Greysia Polii) sekonyong-konyong menjadi amat terkenal. Saat itu mengidolai Greys memang sesuatu yang sangat mudah bagi siapapun termasuk saya, paras ayu, imut dan chubby namun tetap mampu tampil gahar di lapangan merupakan kombinasi pas menjadikan Greys idola. Bedanya yang lain mungkin cuma ngarep ketemu dan kenal kalau saya obsesi dan usaha maksimal untuk mewujudkan pertemuan dan perkenalan. Hahaha.

Popularitas yang meroket itu membuat Greys menjadi sasaran tembak untuk ekspektasi masyarakat akan sebuah prestasi, harapan-harapan besar mulai disematkan padanya walau saat itu masih menjadi pelapis Vita/Liliyana. Penampilan impresif di Piala Uber dan "kecelakaan" menjadi terkenal akhirnya membuat Greys mau tidak mau harus berani mengemban tugas tersebut.

Hari berganti, bulan merangkak dan tahun berlalu, ternyata harapan publik akan lahirnya gelar juara dari seorang Greys masih jauh panggang dari api. Disinilah semua cobaan itu dimulai, jalan terjal sebagai atlet mulai dirasanya lagi. Lagi? Ia lagi karna sebelumnya Greys pernah merasakan sulitnya mengejar mimpi juara, dari mulai faktor ekonomi hingga cedera lutut yang menghantuinya. Tapi kali ini berbeda, saya yakin dan percaya cobaan ini lah yang membuat dia semakin dewasa dari waktu ke waktu dan membuat mentalnya semakin kuat, cobaan bernama tekanan publik.

Sejujurnya prestasi Greys tidak buruk-buruk amat sejak 2008 hingga jelang Olimpiade 2012 London walau hanya memberikan riak-riak kecil pada cengkraman China dan Korea di nomor ganda putri tanpa gelar namun cukup sebenarnya untuk memberikan harapan prestasi. Menembus 10 besar dunia dalam rentang waktu tidak lebih dari setahun bersama Nitya Krishinda Maheswari dengan catatan Final Singapura Super Series 2009 setelah sempat mengalahkan ganda nomor satu dunia saat itu Chin Eui Hui/Wong Pei Tty asal Malaysia atau semifinalis Perancis Super Series 2009 ditambah dengan penghargaan Fair Play Player lalu menembus big five bersama Meiliana Jauhari lewat raihan final Indonesia GPG 2010 dan Macau GPG 2010 menjadi prestasi tersendiri bagi Greys tapi itu semua belum cukup bagi pecinta Bulutangkis tanah air. Kritik-kritik serba komentar-komentar mulai akrab di telinganya, dari mulai yang membangun, bernada miring sampai yang jelas-jelas ngajak berantem. Fans yang dulu memuja mulai meninggalkannya, menggores perih dengan perkataan yang amat tak pantas. Miris!

Awal September 2011, Greys bersama Meiliana hampir saja membungkam opini publik. Tampil trengginas di Taipei GPG 2011 Greys/Mei melenggang hingga babak final dan sudah unggul di game pertama dan bahkan game kedua sebelum tragedi itu datang, Greys salah jatuh saat akan mengembalikan shuttlecock yang membuat bahunya cedera. Cedera parah. Kemenangan akhirnya harus diberikan pada lawannya. Inilah awal petaka bertubi yang menimpa dara kelahiran 11 Agustus 1987 itu.

Cedera bahu Greys ternyata lebih parah dari apa yang dibayangkan, operasi dan istirahat panjang adalah keharusan. Dilema! Karena Greys/Mei harus mengejar poin untuk sampai ke London dan diharapkan bisa menjadi andalan di Sea Games 2011 Jakarta. Greys/Mei memaksa tampil di Jepang Super Series 2 minggu usai kejadian, walau hanya sampai babak kedua tapi nampaknya cukup untuk mengamankan poin Olimpiade, Greys juga menggunakan tangan kiri saat bermain. Suatu hal yg tak lazim dan patutnya diapresiasi tapi tetap saja nada sumbang itu bertebaran. Absen di Indonesia GPG dan Sea Games 2011 untuk beristirahat total lalu memulai kembali persaingan di akhir November merupakan hal yang mengejutkan mengingat bahu Greys yang rentan dan belum direkomendasikan untuk come back namun ambisi untuk tampil di pesta olahraga terbesar membuat Greys harus ambil resiko itu. Dan satu hal yang tidak banyak diketahui publik adalah bahwa bahu Greys tidak akan bisa sembuh total, sakit dan nyeri masih sering kambuh bahkan sampai hari ini. "Sudah tak apa dan proses penyembuhan berjalan baik terapi juga lancar", itu yang dikatakan Greys pada saya usai simulasi TUC 2012 yang di-"tebengkan" di Axiata Cup 2012 Tennis Indoor. Greys memang tidak mau berbagi tentang kesakitannya padahal saya tahu persis bahunya sakit yang berpengaruh pada performanya. Greys sangat sadar hal itu dan ketika saya mendengar kabar jauh-jauh hari setelahnya bahwa dia sebenarnya sudah merencanakan untuk gantung raket usai Olimpiade andai berprestasi bagus saya sungguh terkejut. Ya kabar ini memang belum terkonfirmasi olehnya tapi masuk akal juga. Bayangkan bagaimana beratnya bila harus bertanding melawan musuh dengan tekanan publik yang tinggi sementara kita tidak bisa tampil maksimal karna bahu tidak bisa berkompromi. Sungguh tak nyaman rasanya.

Greys/Mei akhirnya melangkah ke London 2012 dengan percaya diri tapi lagi-lagi tragedi pahit menimpa keduanya, bersama 3 pebulutangkis lain asal Korea dan China mereka dituduh berbuat tidak sportif dan harus rela didiskualifikasi dari turnamen. Sontak berita ini memukul wajah Bulutangkis Indonesia dan dunia apalagi Indonesia juga merusak sejarah dengan pulang tanpa medali emas Olimpiade Bulutangkis. Greys/Mei menjadi sorotan tajam dan sasaran empuk caci dan maki masyarakat karena dirasa sudah membuat malu negara. Saat itu Greys/Mei seperti 2 orang pesakitan yang harus dihakimi. Semua mencibir, semua mengutuk dan semua meninggalkan. Berat rasanya cobaan itu bagi keduanya.

Tak heran saat kembali ke Indonesia, Greys/Mei sulit sekali untuk ditemui terutama oleh media tapi saya bersyukur bisa jadi orang pertama di luar keluarga dan temannya yang bisa bertemu usai tragedi itu.

11 Agustus 2012, tepat ulang tahun Greys saya bertandang ke rumahnya, tidak sama sekali bermaksud untuk bertemu hanya ingin menitipkan kue ulang tahun dan beberapa kado untuk memberikan dorongan moril pada Greys namun Oma Evie, Ibunda Greys, menahan saya untuk pulang dan memberikan harapan untuk bertemu. Kebetulan Greys sedang keluar dan saya disuruh menunggu. Saya tahu Greys waktu itu belum siap bertemu orang lain termasuk saya dan ada sedikit friksi antara dia dan Oma di telepon. Jujur saya tidak enak hati dan memutuskan untuk pamit saja tapi lagi-lagi Oma melarang. Saya bergumam, "Betapa baik Oma yang satu ini, andai saja bisa jadi mertua". Hehehe.

Pertemuan itu pun terjadi dan kesan pertama yang saya tangkap adalah ada satu kilatan matanya yang masih menunjukkan kekecewaan, gurat mukanya menampakkan beban berat yang ia pikul, down dan hampir putus asa mungkin. Tapi dia memilih untuk tidak membagi itu, dia lebih memilih menanyakan fansnya lalu menyampaikan apa yang akan dia lakukan ke depan. Dia akan kembali dengan semakin termotivasi ungkapnya.

Di perjalanan pulang saya merenung dan meyakini bahwa keputusan saya untuk terus mendukungnya tak pernah salah, saya percaya dia akan kembali dan cepat atau lambat akan membuktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin termasuk gelar juara.

Dan akhirnya setelah 2 tahun, melalui segala macam rintangan dan tantangan, gelar juara bergengsi itu pun direngkuhnya. Medali emas Asian Games 2014 menjadi pelengkap 2 gelar Grand Prix Gold, Thailand 2013 dan Taipei 2014 koleksinya dalam membangun kembali reputasi serta upaya kebangkitan usai masa-masa suram itu berlalu.

Greysia Polii adalah prototype sempurna postulat hukum alam berjalan dan janji Tuhan berlaku saat dimana kesuksesan akan lahir dari kerja keras yang tak pernah kendur, semangat keyakinan yang pantang menyerah dan doa yang tak pernah putus.

Ada banyak tawa, suka, duka dan air mata, tak terhitung keringat mengucur dan darah menetes, penantian yang penuh proses panjang. Tersandung, tegak lagi. Terjatuh, bangun lagi. Tenggelam, berlayar lagi. Terpuruk, bangkit lagi. Hingga wajar adanya bila saya yang menyaksikan hal itu selama 6 tahun lamanya ikut terisak dan berkaca-kaca saat dia ada di podium tertinggi dan Indonesia Raya berkumandang.

Bangga!!!

@Destangreys, 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar