Rabu, 13 Januari 2016

ExploreIndonesia #IndonesiaBagus : Menguak Sisi Lain Wisata Yogyakarta

Di tulisan terakhir saya tentang Yogyakarta yang juga jadi kunjungan terakhir saya kesana, saya menumpahkan keresahan saya tentang bagaimana Yogyakarta yang agak "berubah" dan membuat agak tidak nyaman jadi saat kantor saya menawarkan paket wisata ke Yogyakarta akhir minggu lalu saya sebetulnya sempat ada rasa enggan. Tulisan itu bisa dibaca disini.

Tapi saya langsung berubah pikiran ketika tahu objek wisata yang akan dikunjungi, alih-alih wisata keluarga seperti Prambanan, Keraton atau Malioboro, wisata kali ini menawarkan paket semi adventure di sekitaran Yogyakarta. Pantai Indrayanti, explore Goa Pindul dan Lava Tour Merapi siap disambangi. Tanpa pikir panjang, ia adalah jawaban paling tepat.

Jumat 8 Januari 2016, pukul 20.00 WIB, saya bertolak menuju satu dari dua daerah istimewa di Indonesia menggunakan bus. Total lebih dari 40 orang ikut dalam tur ini. Perjalanan malam menggunakan bus adalah perjalanan mengasyikan sekaligus menegangkan, menerabas jalur selatan yang cukup ramai bus yang saya tumpangi cekatan dalam meliuk-meliuk dan menyusul apa saja yang ada di depannnya sehingga tak heran pukul 05.30 WIB esok paginya saya dan rombongan sudah tiba di daerah Sleman yang merupakan pintu masuk Yogyakarta dari arah barat.

Usai beristirahat sejenak termasuk mandi dan sarapan, pukul 08.00 WIB saya dan rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Pantai Indrayanti di daerah Gunung Kidul jadi destinasi pertama saya di perjalanan kali ini. Memerlukan waktu hingga 3 jam untuk menggapai salah satu pantai yang sedang hits ini. Walau lama tapi jangan harap bisa tidur lelap, medan menanjak, sempit, berkelok dan curam akan membuat adrenalin terpacu apalagi saya menggunakan bus yang besar dan panjang bahkan beberapa kali hampir bersenggolan dengan mobil yang datang dari arah sebaliknya namun berkat sang supir yang walaupun berperawakan kecil namun sangat piawai di balik kemudi membuat semua bisa terlewati dengan manis. Selain itu, jangan harap melihat pemandangan pesisir pantai dan laut sepanjang perjalanan ke tempat ini karena kenyataannya perkebunan dan perbukitan yang akan menemani.

Kawasan pantai Gunung Kidul memang tersembunyi, berada di balik bukit membuat keberadaannya terlambat terdeteksi sehingga baru beberapa tahun ke belakang kawasan ini booming. Ada puluhan pantai yang dapat di explore dengan primadona yang paling mempesonanya adalah pantai Indrayanti. Selain pemandangan eksotis dan indah, di kawasan ini spot snorkeling dan surfing juga tersedia sehingga sangat cocok menjadi alternatif lain menikmati deburan ombak dan putihnya pasir pantai di laut selatan.

Usai puas menikmati pantai, saya dan rombongan melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Goa Pindul.

Goa Pindul terletak di Desa Bejiharjo Kecamatan Karangmojo Kabupaten Gunungkidul, atau sekitar 7 km ke arah utara Kota Wonosari. Goa Pindul diresmikan pada tahun 2010 yang menawarkan sensasi lain menyusuri Goa. Biasanya Goa bisa kita susuri dengan trekking namun Goa Pindul yang dialiri  aliran sungai tenang bawah tanah membuat Goa Pindul harus disusuri menggunakan ban dalam yang dimodifikasi. Istilah kerennya adalah cave tubing. Di Goa yang punya panjang 350 meter ini kita akan menikmati fenomena-fenomena alam yang menakjubkan, kumpulan stalaktit dan stalakmit yang masih aktif, batu penuh cerita dan legenda serta rumah ribuan kelelawar membuat cave tubing selama 45 menit menjadi terasa sangat singkat.

Selesai di Goa Pindul, saya bergerak sekitar 1 km untuk menjajal tantangan berikutnya, body rafting Sungai Oyo. Ekspektasi saya sangat besar disini tapi ternyata levelnya belum mencapai Citumang atau Green Canyon di Pangandaran yang pernah saya lihat. Hanya 1 jeram dan lompat dari tebing setinggi 10 meter yang benar-benar menguji nyali. Walau kecewa tapi cukup seru.

Keesokan harinya, kecewa saya akhirnya terobati. Lava tour di gunung Merapi adalah alasannya. Yap, usai erupsi besar pada 2006 dan 2010 gunung Merapi menawarkan objek wisata baru berupa semi adventure menggunakan mobil Jip atau motor Trail. Saya dan rombongan memilih menggunakan jip-jip lawas namun tetap terlihat garang. Di tur ini kita diajak berkeliling desa-desa dan daerah-daerah yang terkena imbas erupsi. Medan yang terjal, curam dan berbatu ditambah kelihaian para guide sekaligus driver di atas Land Cruise dan Wilis membuat adrenalin benar-benar terpacu. Tapi ternyata bukan hanya adrenalin yang akan dipacu di Lava Tour ini tapi juga 3 pos yang disambangi berhasil mengusik sanubari.

Pos pertama adalah Museum Sisa Hartaku, disini kita akan melihat rumah yang sudah setengahnya hancur lengkap dengan foto-foto, bekas pakaian, tulang belulang hewan dan barang lain yang rusak dihantam lava dan awan panas erupsi Merapi. Disini saya merasakan haru yang sangat dalam dan hampir menangis, mencoba mereka-reka saat bencana itu datang dan meluluhlantakan semua yang dipunya.

Berlanjut ke pos kedua, saya tiba di Batu Alien, disebut Batu Alien karena ada sebuah batu yang amat besar berbentuk seperti muka Alien terlempar saat erupsi lalu teronggok di sisi aliran Kaligendol. Aliran Kaligendol sendiri penuh dengan pasir sisa lava yang mengalir. 3 tahun terakhir sisa-sisa pasir ini sudah dikeruk tapi tetap saja belum habis.

Di pos terakhir atau pos 3 saya mengunjungi sebuah bunker di kawasan Kaliadem, bunker yang sempat memakan korban jiwa saat Merapi erupsi tahun 2006 ini segaris dengan desa dimana juru kunci Merapi paling terkenal Alm Mbah Marijan tinggal. Sedianya bunker ini disiapkan bagi kondisi darurat untuk menghindari luncuran awan panas tapi saat Erupsi 2006 di kawasan Kaliadem tidak hanya luncuran awan panas alias wedhus gembel yang menghantam tapi juga guguran lava pijar sehingga bunker tidak mampu menahan panas yang datang. Naasnya, saat itu ada 2 relawan yang sedang berlindung. 3 hari pasca kejadian, 2 relawan malang tersebut baru bisa dievakuasi. Saat dievakuasi kondisi bunker sudah porak-poranda dan suhu di dalamnya masih berkisar 80-120 derajat celsius. Saya memberanikan diri masuk ke dalam bunker, kondisi bunker yang gelap membuat saya merinding dan terenyuh, ada aura sedih yang pekat, ada derita yang kentara dan ada rasa ganjil menghias.

Dari sini saya kembali merasa diingatkan, kalau Tuhan dan alam bisa sangat dahsyat menghancurkan sesuatu. Jadi tugas kita adalah menjaga hubungan baik dengan keduanya.

Dan sebelum saya menutup tulisan ini, saya ingin mengucapkan selamat kepada Putra Mahkota Prabu Paku Alam IX yaitu Kanjeng Bendoro Pangeran Haryo (KBPH) Prabu Suryodilogo yang dinobatkan sebagai Prabu Alam X dengan kirab jumenengan hari Kamis 7 Januari 2016 lalu. Selanjutnya Prabu Alam X akan mengisi kekosongan wakil gubernur DIY usai wafatnya sang ayahanda. Berita ini saya ketahui di spanduk-spanduk yang menghias Yogyakarta kemarin.

Yogya istimewa!

"Perjalanan ini mungkin sekarang tidak berkesan tapi esok lusa bisa jadi lebih indah dari mentari terbit di pagi hari, cerita ini mungkin sekarang tidak menarik tapi akan jadi kenangan yang tak terlupakan yang bisa kita bagi pada anak cucu kita kelak". -Mang Ohim Richard dengan beberapa penambahan dan perubahan, tour guide sepanjang perjalanan-

@Destangreys, 2016

NB : Ingin merasakan apa yang saya ceritakan? Segera hubungi Sam's Tour, CP : Samsi, 089656369783. Sam's Tour, solusi bagi anda yang doyan jalan-jalan. #pesansponsor