Sepakbola di jelang awal musim dan jeda musim dingin merupakan salah satu periode yang menyedot perhatian publik. Aktivitas lalu lintas jual-beli pemain jadi alasannya. Dan setiap tahun pasti ada kabar mengejutkan tentang kepindahan pemain atau pelatih yang mencengangkan dunia.
Tak terkecuali tahun ini, usai gelaran Piala Dunia bulan Juni-Juli lalu klub-klub Eropa langsung bergerilya mengincar pemain berkualitas guna menambah kekuatan skuatnya.
Di awal pembukaan jendela transfer, publik mengalihkan pandangan pada beberapa tim besar Eropa karna melakukan pembelian yang cukup fenomenal. Di Premiere League sebut saja Arsenal yang memboyong Alexis Sanchez dari Barcelona dan Mathieu Debuchy dari Newcastle atau Chelsea yang mendaratkan Diego Costa (Atletico Madrid) dan Cesc Fabregas (Barcelona). Namun Liverpool menjadi klub tersibuk Liga Inggris di awal masa transfer, tercatat Adam Lallana, Rickie Lambert (Southampton), Alberto Moreno (Sevilla), Manquillo (Atletico Madrid) hingga yang paling baru Mario Balotelli (AC Milan) bergabung dengan tim asuhan Brendan Rodgers ini.
Persaingan 2 rival sejati di Liga Spanyol pun tak kalah panas di bursa transfer. El Barca setelah membeli kiper Marc Ter-Stegen, bek eks Arsenal Thomas Vermaelen dan gelandang Ivan Rakitic, tanpa disangka klub Catalan itu berhasil mendatangkan si bengal El Pistolero Luis Suarez dari Liverpool dengan mahar 75 juta pound atau sekitar 1,48 Triliun Rupiah. Tak mau kalah Real Madrid juga melakukan pembelian fantastis untuk menyempurnakan Los Galaticos-nya. Tak tanggung-tanggung, Madrid menggelontorkan dana sangat besar untuk mengikat 3 bintang piala dunia Brazil 2014, mereka adalah kiper ciamik Kosta Rika Keylor Navas, sang jenderal lapangan tengah Jerman Toni Kroos dan top skor asal Kolombia James Rodriguez. Belum puas, Los Blancos juga meminjam striker MU Javier "Chicharito" Hernandez di detik-detik terakhir waktu transfer.
Di saat deadline transfer semakin dekat dan kejutan seperti tidak akan ada lagi, tiba-tiba publik tersedot perhatiannya kepada raksasa Inggris yang sedang terluka Manchester United. Sempat adem ayem dalam perburuan bintang, MU dan arsitek barunya Louis Van Gaal terlihat begitu gencar di akhir periode. Kepanikan seperti terlihat di gerak-geriknya.
MU sebetulnya sudah merekrut 2 pemain di awal-awal masa jabatan LVG, bek kiri Luke Shaw dari Southampton dan Ander Herrera dari Athletic Bilbao. Setelah itu praktis MU pasif di bursa walau sempat dikaitkan dengan beberapa nama tenar seperti Arturo Vidal dan Edinson Cavani. Penampilan impresif selama pra-musim jadi alasan "Setan Merah" untuk tidak ngoyo mendatangkan pemain baru lagi.
Tapi kebijakan itu menguap seiring perjalanan musim dimulai, MU tampil bagai klub semenjana dengan tidak pernah menang dari 3 pekan Liga Inggris, 1 kali kalah dan 2 imbang juga harus tersingkir memalukan dari Piala Liga usai ditekuk 4 gol tanpa balas dari tim divisi 3 MK Dons di babak kedua. Sadar akan ada yang salah dan besarnya ekspektasi fans pada dirinya untuk mengembalikan kejayaan juga tidak ingin seperti David Moyes tahun lalu yang dipecat karena membawa MU terpuruk yang diawali dengan pasif membeli pemain, LVG langsung memaksa manajemen untuk mendatangkan pemain baru lagi. Hasilnya, 4 pemain berkualitas wahid merapat ke Old Trafford. Angel Di Maria, Marcos Rojo, Daley Blind dan Radamel Falcao. Khusus Di Maria MU harus menebus dengan dana 60 Juta Pounds atau sekitar 1,16 Triliun Rupiah dari Real Madrid yang menasbihkan dia sebagai pemain termahal Liga Inggris sementara El Tigre (julukan Falcao) dipinjam MU semusim dari AS Monaco dengan dana yang tidak kecil, 6 Juta Pounds.
Di satu sisi, hal ini patut disyukuri mengingat sekarang MU punya skuat yang cukup mengerikan dan kompetitif untuk kembali ke big four bahkan untuk menjuarai Liga Inggris sekalipun. Namun di sisi lain kebijakan mendatangkan banyak pemain bintang bertentangan dengan tradisi klub. MU selama ini memang dikenal sebagai pencetak pemain-pemain potensial menjadi bintang bukan sebagai pembeli pemain bintang. Cristiano Ronaldo dan Wayne Rooney adalah contohnya. Ditambah lagi dengan banyaknya pemain asli binaan klub yang terbuang karna kedatangan pemain-pemain bintabg tersebut. Musim ini saja ada Danny Welbeck yang dilego ke Arsenal dan Tom Cleverley yang dipinjamkan ke Aston Villa juga beberapa nama potensial lainnya.
Kalau sudah begini, menarik rasanya menanti sejauh mana skuat "instan" ala LVG ini mampu berprestasi dan apakah cara baru ini akan dipakai di musim-musim berikutnya atau hanya musim ini saja sebagai jalan pintas mengembalikan kejayaan sebelum menata era baru dengan cara lama yang bertradisi.
Meneer?
@Destangreys, 2014