Rabu, 03 September 2014

(meng) Hilang (kan) Tradisi "Setan Merah"

Sepakbola di jelang awal musim dan jeda musim dingin merupakan salah satu periode yang menyedot perhatian publik. Aktivitas lalu lintas jual-beli pemain jadi alasannya. Dan setiap tahun pasti ada kabar mengejutkan tentang kepindahan pemain atau pelatih yang mencengangkan dunia.

Tak terkecuali tahun ini, usai gelaran Piala Dunia bulan Juni-Juli lalu klub-klub Eropa langsung bergerilya mengincar pemain berkualitas guna menambah kekuatan skuatnya.

Di awal pembukaan jendela transfer, publik mengalihkan pandangan pada beberapa tim besar Eropa karna melakukan pembelian yang cukup fenomenal. Di Premiere League sebut saja Arsenal yang memboyong Alexis Sanchez dari Barcelona dan Mathieu Debuchy dari Newcastle atau Chelsea yang mendaratkan Diego Costa (Atletico Madrid) dan Cesc Fabregas (Barcelona). Namun Liverpool menjadi klub tersibuk Liga Inggris di awal masa transfer, tercatat Adam Lallana, Rickie Lambert (Southampton), Alberto Moreno (Sevilla), Manquillo (Atletico Madrid) hingga yang paling baru Mario Balotelli (AC Milan) bergabung dengan tim asuhan Brendan Rodgers ini.

Persaingan 2 rival sejati di Liga Spanyol pun tak kalah panas di bursa transfer. El Barca setelah membeli kiper Marc Ter-Stegen, bek eks Arsenal Thomas Vermaelen dan gelandang Ivan Rakitic, tanpa disangka klub Catalan itu berhasil mendatangkan si bengal El Pistolero Luis Suarez dari Liverpool dengan mahar 75 juta pound atau sekitar 1,48 Triliun Rupiah. Tak mau kalah Real Madrid juga melakukan pembelian fantastis untuk menyempurnakan Los Galaticos-nya. Tak tanggung-tanggung, Madrid menggelontorkan dana sangat besar untuk mengikat 3 bintang piala dunia Brazil 2014, mereka adalah kiper ciamik Kosta Rika Keylor Navas, sang jenderal lapangan tengah Jerman Toni Kroos dan top skor asal Kolombia James Rodriguez. Belum puas, Los Blancos juga meminjam striker MU Javier "Chicharito" Hernandez di detik-detik terakhir waktu transfer.

Di saat deadline transfer semakin dekat dan kejutan seperti tidak akan ada lagi, tiba-tiba publik tersedot perhatiannya kepada raksasa Inggris yang sedang terluka Manchester United. Sempat adem ayem dalam perburuan bintang, MU dan arsitek barunya Louis Van Gaal terlihat begitu gencar di akhir periode. Kepanikan seperti terlihat di gerak-geriknya.

MU sebetulnya sudah merekrut 2 pemain di awal-awal masa jabatan LVG, bek kiri Luke Shaw dari Southampton dan Ander Herrera dari Athletic Bilbao. Setelah itu praktis MU pasif di bursa walau sempat dikaitkan dengan beberapa nama tenar seperti Arturo Vidal dan Edinson Cavani. Penampilan impresif selama pra-musim jadi alasan "Setan Merah" untuk tidak ngoyo mendatangkan pemain baru lagi.

Tapi kebijakan itu menguap seiring perjalanan musim dimulai, MU tampil bagai klub semenjana dengan tidak pernah menang dari 3 pekan Liga Inggris, 1 kali kalah dan 2 imbang juga harus tersingkir memalukan dari Piala Liga usai ditekuk 4 gol tanpa balas dari tim divisi 3 MK Dons di babak kedua. Sadar akan ada yang salah dan besarnya ekspektasi fans pada dirinya untuk mengembalikan kejayaan juga tidak ingin seperti David Moyes tahun lalu yang dipecat karena membawa MU terpuruk yang diawali dengan pasif membeli pemain, LVG langsung memaksa manajemen untuk mendatangkan pemain baru lagi. Hasilnya, 4 pemain berkualitas wahid merapat ke Old Trafford. Angel Di Maria, Marcos Rojo, Daley Blind dan Radamel Falcao. Khusus Di Maria MU harus menebus dengan dana 60 Juta Pounds atau sekitar 1,16 Triliun Rupiah dari Real Madrid yang menasbihkan dia sebagai pemain termahal Liga Inggris sementara El Tigre (julukan Falcao) dipinjam MU semusim dari AS Monaco dengan dana yang tidak kecil, 6 Juta Pounds.

Di satu sisi, hal ini patut disyukuri mengingat sekarang MU punya skuat yang cukup mengerikan dan kompetitif untuk kembali ke big four bahkan untuk menjuarai Liga Inggris sekalipun. Namun di sisi lain kebijakan mendatangkan banyak pemain bintang bertentangan dengan tradisi klub. MU selama ini memang dikenal sebagai pencetak pemain-pemain potensial menjadi bintang bukan sebagai pembeli pemain bintang. Cristiano Ronaldo dan Wayne Rooney adalah contohnya. Ditambah lagi dengan banyaknya pemain asli binaan klub yang terbuang karna kedatangan pemain-pemain bintabg tersebut. Musim ini saja ada Danny Welbeck yang dilego ke Arsenal dan Tom Cleverley yang dipinjamkan ke Aston Villa juga beberapa nama potensial lainnya.

Kalau sudah begini, menarik rasanya menanti sejauh mana skuat "instan" ala LVG ini mampu berprestasi dan apakah cara baru ini akan dipakai di musim-musim berikutnya atau hanya musim ini saja sebagai jalan pintas mengembalikan kejayaan sebelum menata era baru dengan cara lama yang bertradisi.

Meneer?

@Destangreys, 2014

Senin, 01 September 2014

Cerita Dari Kopenhagen!


Gelaran Kejuaran Dunia Bulutangkis 2014 baru saja rampung malam tadi. 5 juara baru dari 5 nomor berhasil berdiri di podium tertinggi Ballerup Super Arena Kopenhagen Denmark tempat berlangsungnya turnamen bintang 5 BWF itu.

Kejutan demi kejutan memang terjadi selama hampir seminggu penyelenggaraan, tengok saja daftar juara, praktis hanya nomor ganda campuran yang sesuai prediksi dimana unggulan 1 Zhang Nan/Zhao Yunlei berhasil merengkuh gelar juara usai menaklukkan Xu Chen/Ma Jin, selebihnya para juara adalah non unggulan 1.

Kita mulai dari ganda putri, partai puncak terjadi all Chinese final antara Tian Qing/Zhao Yunlei melawan Wang Xiaoli/Yu Yang yang masing-masing hanya menduduki unggulan 5 dan 4. Selain keunggulan peringkat, Wang/Yu yang lebih difavoritkan juga unggul dalam rekor pertemuan yang mencapai angka 9-3 namun tak dinyana Tian Qing/Zhao Yunlei mampu keluar sebagai juara usai menang 21-19 21-15. Bagi Wang/Yu ini adalah kekalahan kedua berturut di partai puncak setelah di Taipeh GPG 2014 bulan Juli lalu juga tumbang dari pasangan Indonesia Greysia/Nitya. Bila bertanya kemana unggulan 1, 2 dan 3 ganda putri, jawabannya mereka semua rontok sebelum babak perempat final dihelat. Unggulan 1 China Bao Yixin/Tang Jinhua bertekuk lutut di babak kedua dari Anggia Shitta/Della Destiara yang mewakili ganda ketiga Indonesia sementara Ayaka Takahashi/Misaki Matsutomo asal Jepang yang merupakan unggulan 3 dan Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl unggulan 2 tuan rumah dipaksa angkat koper di babak ketiga oleh pasangan muda Korea Lee So Hee/Shin Seung Chan dan pasangan Indonesia Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari.

Beralih ke ganda putra. Absennya Ahsan/Hendra di kejuaraan ini membuat Lee Yong dae/Yoo Yeon Seong seperti melangkah sendirian di bursa calon juara dan peluang itu bak cerita David vs Goliath hingga final saat LYD/YYS tak menemukan kesulitan berarti menapak babak demi babak sebelum akhirnya cerita berubah horror di satu langkah lagi menuju gelar saat LYD/YYS harus rela menelan pil pahit ditikung koleganya sendiri Shin Baek Choel/Ko Sung Hyun dengan pertandingan dramatis 3 game 22-20 21-23 21-18. LYD/YYS yang begitu perkasa di beberapa kejuaraan SS dan SSP terakhir malah gagal juara di turnamen sepenting Kejuaraan Dunia, bukan kalah oleh musuh bebuyutan tapi oleh teman sendiri. Sakitnya dua kali mungkln apalagi bagi LYD yang pernah berpasangan dengan Ko Sung Hyun dan gagal total. Olahraga memang bisa sangat mengerikan kadang-kadang.

Tapi cerita paling pilu hadir di nomor tunggal putra dan tunggal putri melalui unggulan 1 nya. Yap, Lee Chong Wei dan Li Xuerui punya cerita sama di Kejuaraan Dunia tahun ini, sama-sama kembali gagal juara padahal sudah berada di partai puncak. Lee Chong Wei, Dato’ Malaysia yang sangat mendambakan gelar ini akhirnya harus kembali mengubur ambisinya usai ditekuk unggulan dua Tiongkok Chen Long setelah tahun lalu LCW juga tunduk atas Lin Dan yang notabene senior Chen Long. Menyakitkan memang di saat usia yang tidak lagi muda, LCW lagi-lagi gagal mewujudkan satu dari dua gelar yang belum didapatnya (Selain belum juara di Kejuraan Dunia, LCW juga belum pernah juara di Olimpiade) padahal peluang besar ada di depan mata menyusul tidak hadirnya lawan mengerikan, batu sandungan yang tidak bisa ditangkal kekuatannya oleh LCW, si Alien yang hampir sempurna Lin Dan.

Setali tiga uang dengan Lee Chong Wei, Li Xuerui yang tahun lalu dikalahkan anak ajaib Thailand Ratchanok Intanon, tahun ini berambisi besar menebus kesalahannya namun ketidakberuntungan mengganjal pebulutangkis peraih emas Olimpiade London 2012 itu sehingga harus kembali rela menjadi runner-up usai dipecundangi anak muda kemarin sore asal Spanyol, Carolina Marin. History is made!
 
Ada keunikan dari gelar tunggal putri di Kejuaraan Dunia sejak tahun lalu, dimana Intanon yang juara di 2013 dan Marin yang juara di 2014 sama-sama mengalahkan Sindhu di semifinal dan Li Xuerui di final sebelum akhirnya memastikan diri sebagai kampiun. Kebetulan!

Bila membicarakan kejuaraan Bulutangkis apalagi sekelas Kejuaraan Dunia, kurang sreg rasanya kalau tidak menilik performa arjuna-arjuna dan srikandi-srikandi Indonesia yang berlaga. Absennya Ahsan/Hendra dan Owi/Butet yang tahun lalu mempersembahkan gelar juara membuat Indonesia realistis tapi bukan berarti tanpa target yang jelas.

Nomor ganda putri dan tunggal putra jelas paling membanggakan dan memenuhi ekspektasi. Walau gagal medali, ganda putri menjadi sorotan nilai plus usai mengirim wakil terbanyak bagi Merah Putih di babak perempat final dengan 2 wakil melalui nama Greysia Polii/Nitya Krishinda dan Anggia Shitta/Della Destiara. Yang menjadi sangat memukau adalah kedua pasangan ini mampu memulangkan unggulan 1 dan unggulan 2 dengan straight set.

Beralih ke tunggal putra, Tommy Sugiarto yang melangkah sendirian karena gagal berangkatnya Simon Santoso membuat beban terasa sangat berat namun Tommy menjawab target semifinal dengan mulus bahkan mungkin bisa menapak final andai tidak cedera paha di tengah-tengah laga kontra Chen Long.

Ganda campuran dan ganda putra nampak pincang tanpa ujung tombak andalan, Indonesia hanya menyisakan Praveen/Debby dan Angga/Rian di perempat final, itupun akhirnya kandas. Namun penampilan Praveen/Debby di perempat final patut diacungi jempol, melawan satu dari Fantastic Four yang berstatus tuan rumah, Praveen/Debby mampu memberikan tekanan dengan mengajak Joachim Fischer/Christinna Pedersen bermain rubber game.
Sementara di tunggal putri, tidak ada kejutan berarti dari pebulutangkis-pebulutangkis kita. Bella dan Linda habis di babak-babak awal.

Hasil ini memang kurang menggembirakan apalagi bila indikatornya adalah capaian tahun lalu namun progress manis beberapa pemain harus tetap diapresiasi agar terus meningkat positif. PBSI harus lebih jeli mengolah persiapan sebelum ajang bergengsi lain tiba dalam waktu dekat, Asian Games Incheon 2014

@Destangreys, 2014