Jumat, 29 Maret 2013

KAMI...


Setelah hampir setahun lebih akhirnya hari ini bisa berkumpul dengan beberapa teman perintis Kerabat Kotak Sukabumi, perkumpulan penggemar grup band Kotak yang saya dirikan 3 tahun lalu. Lumayan bisa meleburkan rindu, bukan hanya pada mereka tapi pada para personil Kotak dan "BERAKSI". Apa itu BERAKSI? BERAKSI adalah sebutan kami para Kerabat Kotak untuk menonton pertunjukan langsung Kotak.

Saya BERAKSI terakhir memang sudah sangat lama, Agustus 2011 dan itu sekaligus saya terakhir berinteraksi dengan Tantri, Chua dan Cella. Bukan saya tidak mau atau tidak berniat tetapi saya selalu tidak punya kesempatan untuk melakukan hal itu lagi karena satu dan lain hal. Kumpul tadi memang hanya kumpul-kumpul biasa namun bagi saya itu menyenangkan, cerita-cerita lama yang kembali terungkapkan, kenangan-kenangan manis dan pahit kembali terceritakan yang  membuat saya terbang ke kisaran 2-3 tahun lalu dimana saya sangat merasakan kepuasan yang luar biasa.

Kerabat Kotak Sukabumi terbentuk Maret 2010 dengan tidak sengaja. Kenapa tidak sengaja? Ya karena kami para fans Kotak bertemu satu hari di venue konser Kotak di kota Sukabumi, saat itu Kotak baru saja merilis album keduanya. Pertemuan pertama itu berlanjut ke pertemuan-pertemuan berikutnya dan akhirnya mengalir untuk meneruskan ide membangun sebuah perkumpulan bernama Kerabat Kotak Sukabumi yang belakangan disingkat KAMI. Saya yang dirasa paling tua dan senior *agak ngenes ini ngomongnya, hehe* dipercaya sebagai ketua pertama.

Saya di panggung peresmian Kerabat Kotak
Saya waktu itu langsung bergegas untuk merancang konsep organisasi seperti apa yang akan kami pakai sekaligus menyaring anggota serta membuat atribut-atribut layaknya bendera, pin dan kaos. Kerja cepat dan efektif membuat kurang dari sebulan kami sudah terbentuk sebagai perkumpulan yang solid dan lengkap. Tak lama keberuntungan menyapa saya dan KAMI, Kotak berencana membuat peresmian Kerabat-Kerabat Kotak daerah lewat sebuah konser tanggal 11 April 2010 mengingat pesatnya perkembangan fans Kotak seiring kembalinya mereka ke jajaran elit band papan atas Indonesia lewat album barunya yang bertajuk "Kotak Kedua". Lalu tanpa buang tempo KAMI bergerak menghubungi koordinator Kerabat Kotak Indonesia untuk dapat kuota peresmian dan Alhamdulillah KAMI merebut kesempatan itu. Beruntung sekali karena beberapa Kerabat daerah lainnya harus menunggu lama sekitar 1-2 tahun untuk peresmian. :). Acara peresmian itu berjalan lancar dan mulai saat itu Kerabat Kotak Sukabumi (KAMI) resmi diakui keberadaannya.

Saya meletakkan jabatan sebagai ketua dan mulai sedikit vakum di Juni 2010, saya mengambil keputusan berat ini karena ada mimpi-mimpi besar lain yang ingin segera saya kejar, ada hal-hal lain yang menjadi prioritas saya selanjutnya. Saya takut ini akan membuat saya tidak fokus di KAMI yang pada nantinya mengancam eksistensi jadi saya memutuskan untuk meneruskan tongkat estafet pada salah satu anggota yang saya anggap layak.

Orang inilah yang kelak membawa KAMI pada puncak kesuksesan selama 2 tahun ia menjabat. Saya tidak salah pilih orang, saya malah banyak tahu tentang Kotak dan seluk-beluknya dari dia, saya mengagumi sosoknya dan yang pasti dia berdedikasi tinggi. Terima kasih Sansan untuk perjuangan dan pengorbanannya selama ini. Saya bangga padamu.

Sansan sendiri lengser tahun lalu dan digantikan sosok wanita sebagai ketua ketiga hingga sekarang. Dan tadi saya mendengar kabar bahwa KAMI masih terus berjalan baik, masih melaksanakan kumpul wajib 2 minggu sekali, masih terus BERAKSI bila ada kesempatan dan rencananya akan menggelar acara ulang tahun ke-3 21 April mendatang.

KAMI feat Bang Eko, 2011
Jujur, saya agak terkejut karena agak aneh sebuah fans klub musik di Sukabumi bisa bertahan dengan keeksistensian yang nyata hingga mencapai 3 tahun padahal selama ini yang saya tahu fans musik di kota kelahiran saya sangat musim-musiman. Tapi jelas ini sangat membanggakan dan saya sangat berterima kasih kepada mereka yang masih menjaga amanah walau saya sudah tidak disana. Saya salut kepada para penerus yang masih setia menjalankan perkumpulan ini walau duri dan konak problem internal maupun eksternal silih berganti menghantam.



Dan akhirnya saya hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun Kerabat Kotak Sukabumi-ku,  semoga tetap bisa jaga kekompakan dan terus dukung karya-karya Kotak sampai kapanpun. Salam BERAKSI penuh ENERGI!!!

"Setiap aliran nada Kotak adalah alunan distorsi jiwa raga KAMI"




 










 
@Destangreys, 2013

Selasa, 26 Maret 2013

When I Was Your Man…



Saya sedang tidak mengalami rasa putus cinta, saya tidak sedang menyesali kehilangan pasangan dan saya juga sedang tidak sedang meratapi mantan yang sudah memiliki kekasih lain sementara saya masih sendiri. Tidak sama sekali. Tapi satu lagu dari Bruno Mars ini bisa membuat saya merasakannya.

Ya benar, When I Was Your Man. Lagu mellow itu berhasil menghipnotis saya dengan komposisi di dalamnya, dari mulai lirik, arransemen musik hingga cara Bruno Mars membawakannya.

Bruno sangat apik mengkombinasikan semua itu di lagu ini, bait per bait liriknya dia rangkai seperti bercerita dengan kata-kata yang familar sehingga pesannya mudah sampai, arransemen musik yang slow juga mampu menyentuh dan cara Bruno bernyanyi di lagu ini adalah kekuatan lain untuk menunjukkan bagaimana lagu ini mampu hidup.

Selain itu, tema dengan realitas cinta yang dekat dengan kita dan jalan cerita lagu yang beralur maju dan menyentuh klimaks di akhir membuat When I Was Your Man memang memberikan kesan betapa lagu ini punya daya tarik luar biasa untuk membuat galau pendengarnya bahkan bagi yang sedang tidak mengalaminya seperti saya. 

Saya terenyuh bila memasang lagu ini, selalu ada penyesalan yang dalam, kesedihan yang nyata dan kepedihan yang kuat. Bruno selalu berhasil menggiring saya ke dalam perasaannya dan soul lagu ini padahal seumur hidup saya belum pernah menyesali mantan yang telah pergi.

Dengarlah bagaimana Bruno merasakan kehampaan hidupnya usai putus di awal lagu, rasakan bagaimana penyesalannya saat dia tidak mampu memenuhi keinginan kekasihnya karena ego di separuh lagu berikutnya dan resapi bagaimana saat dia tersadar tidak ada waktu dan kesempatan lagi bahkan untuk meminta maaf di jelang akhir lagu.

Namun di akhir lagu, Bruno melakukan apa yang harusnya dilakukan seorang pria dewasa nan sejati dan inilah yang patut dicontoh oleh pria manapun di dunia ini. Mendoakan sang mantan bahagia dan berharap kekasih barunya tidak melakukan kebodohan yang sama dengan dia.

Keren dan saya suka lagu ini…

@Destangreys, 2013      


Lirik lengkap disini  


Video Bruno Mars - When I Was Your Man
 


Senin, 25 Maret 2013

Tribun Stadion...

Tribun Stadion. Ah, rindu rasanya dengan tempat yang satu ini. Jangankan untuk Sepak Bola yang terakhir saya sapa pada Piala AFF 2010 ketika Indonesia melumat Laos 6-0 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Bulutangkis yang beberapa tahun belakangan sangat akrab saja terakhir saya duduki tribunnya Juni tahun lalu di Indonesia Open Premiere Super Series.

Dan kemarin malam rindu itu terbuncahkan saat Indonesia menjamu Arab Saudi di lanjutan penyisihan grup Pra Piala Asia 2015. Yap, saya akhirnya kembali menyaksikan langsung perjuangan timnas Garuda di tribun stadion Gelora Bung Karno. Berbaur bersama ribuan suporter lain yang sama-sama mendukung serta menantikan kebangkitan Merah-Putih di kancah Sepak Bola Internasional.

Saya sesungguhnya tidak membawa ekspektasi apa-apa terhadap timnas di pertandingan kali ini, selain karena lawannya Arab Saudi yang kelasnya memang masih di atas kita, persiapan minim yang praktis hanya 5 hari menjadi kendala Garuda untuk terbang tinggi. Tetapi, kembalinya talenta-talenta terbaik setelah sekian lama dikungkung egois dualisme federasi menjadi semangat tersendiri untuk saya memutuskan mendukung langsung di tribun. Mungkin semangat ini pula yang mendorong animo penonton lain yang juga memutuskan datang ke SUGBK kemarin.

Sebagaimana kita tahu bersama, timnas memang sempat terpecah akibat kisruh internal PSSI. Segar betul di ingatan, bagaimana timnas kita dipermalukan Bahrain 10-0 atau gagalnya kita melaju ke babak semifinal Piala AFF 2012 disebabkan bukan pemain-pemain kelas satu yang turun membela panji Indonesia. Namun, cerita kelam itu sudah berakhir, timnas Indonesia sudah menjadi satu seiring damainya PSSI dan tandingannya KPSI. Sekarang, semua pemain terbaik bisa masuk timnas tanpa memperdulikan dari mana liganya yang baru akan menjadi satu mulai musim depan.

Saya tiba di kompleks GBK sekitar pukul 14.00 WIB dari Bandung, belum mengantongi tiket ditambah berita antrian panjang membuat saya agak bergegas untuk memburu tiket. Baru masuk Pintu Utama saya sudah disapa beberapa calo tiket, ehm ya calo tiket memang sudah jadi pemandangan biasa di gelaran apapun di negeri ini, sudah jadi bagian bisa dibilang. Hehe. Tadinya saya ingin langsung bertransaksi dengan mereka tetapi karena saya tidak menemui calo yang menawarkan kategori 1 jadi saya memutuskan ke loket dan ternyata saya beruntung karena tiket kategori 1  masih tersedia, hanya kategori 2 dan 3 yang sudah ludes terjual.

Kejadian unik sempat terjadi saat saya berjalan beriringan dengan kelompok suporter yang juga sedang mencari tiket, entah bagaimana awalnya tetapi kami akhirnya saling sapa dan ngobrol. Dan akhirnya saya tahu mereka adalah The Jakmania lalu di tengah-tengah obrolan saya ‘keceplosan’ bilang dari Bandung. Setelah itu saya baru sadar telah melakukan blunder besar mengingat perseteruan mengakar antara Viking dengan The Jakmania. Hal itu yang membuat saya sempat ketakutan dan bersiap mengambil langkah seribu tetapi apa yang saya takutkan tidak terjadi, para The Jakmania ini malah merangkul saya dan mengucapkan kata “Demi timnas mari kesampingkan dulu perseteruan Viking dan The Jak”.

Inilah yang saya suka dari suporter timnas Garuda, ketika sudah satu dukungan dan ber-jersey Merah-Putih, tidak ada lagi Orange, Biru, Ijo, Ungu atau warna-warna lain, tidak ada lagi idealisme kecintaan klub yang fanatik, semuanya bersatu membaur untuk satu Indonesia.

Setelah dapat tiket, waktu baru menunjukkan pukul 15.00 WIB atau 4 jam sebelum kick-off. Terlalu lama untuk menunggu di dalam SUGBK jadi saya memilih ‘ngadem’ di salah satu mall di dekat kompleks Senayan.

Setelah puas ‘ngadem’, saya keluar mall tersebut sekitar pukul 18.00 WIB namun yang terjadi di luar benar-benar di luar prediksi. Hujan besar disertai angin cukup kencang. Jarak antara mall tersebut dengan pintu masuk SUGBK memang hanya 500 meter tetapi dengan kondisi seperti ini jelas menghambat langkah saya. Agak lama mematung, saya pun memakai jaket lalu bergerak memaksakan diri berhujan-hujanan, beruntung saya menemukan ojek dan tanpa pikir panjang menggunakan jasa angkutan tersebut.

Pukul 18.30 WIB saya berhasil masuk melalui pintu 2, penonton sudah padat dan ramai. Ada kejadian lucu sich saat saya akan masuk ke tribun. Jadi, saat masuk tanpa saya sadari di belakang saya adalah para pendukung Arab Saudi juga akan masuk. Setelah melalui pemeriksaan tiket saya sempat ditahan tim keamanan di muka pintu tribun. Saya diminta untuk tidak masuk ke tribun tersebut bersama pendukung Arab Saudi lainnya karena tribun sudah penuh dengan suporter Indonesia. Saya yang masih memakai jaket langsung memprotes tindakan tersebut, saya bilang saya orang Indonesia sambil membuka jaket dan menunjukkan kaos timnas yang saya pakai. Tim keamanan tersebut akhirnya memperbolehkan saya masuk seraya meminta maaf, “Maaf mas, ta kira koordinator pendukung Arab. Abis masuknya bareng”. Waduh..ya kali muka saya ada Arab-Arabnya pak, kata saya dalam hati. :)

Saat masuk, ada perasaan bangga dan bergetar melihat pemandangan ini, pemandangan puluhan ribu manusia bernyanyi, bersorak dan berteriak “Indonesia..Indonesia”. Saya sentuh tribun dengan penuh rasa kagum, saya kuasai diri dan tanpa ragu mulai ikut bernyanyi, bersorak dan berteriak “Indonesia..Indonesia”. Luar biasa.

Nyanyian Garuda Di Dadaku,  teriakan “Indonesia..Indonesia”, seruan “Indonesia Indonesia kita harus menang” dan gerakan wave dari sisi tribun ke sisi tribun lainnya menjadi suguhan tak henti dari awal hingga akhir laga. Suguhan yang membakar semangat para punggawa timnas selama 90 menit berlaga di lapangan. Namun dari semua momen itu, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya menjadi momen yang benar-benar membuat saya merinding dan mengharu-biru.

Satu hal yang agak menggelitik adalah banyaknya spanduk bertuliskan slogan-slogan pendukung klub Eropa yang disatukan dengan Indonesia atau Garuda, seperti Milanisti Indonesia yang membentang Forza Indonesia dengan latar Merah-Hitam khas AC Milan, atau rival sekota Milan yaitu Inter dengan Forza Grande Indonesia dibentangkan para Internisti Indonesia dan yang paling dekat dengan saya adalah spanduk milik Liverpudlian Indonesia yang memasang slogan legendaris Garuda, You’ll Never Walk Alone. Keren!

Fanatisme pendukung Indonesia memang tidak sepenuhnya menjadi positif, itu terlihat dari 3 tindakan kurang dewasa oknum suporter kita tadi malam. Dimulai dari aksi bakar kembang api di awal laga yang membuat pandangan beberapa sudut tribun terhalang asap, lemparan botol minuman plastik ke arah pendukung Arab Saudi di jeda pertandingan hingga yang paling parah menurut saya adalah tidak respek nya penonton saat lagu kebangsaan Arab Saudi berkumandang, hampir setiap sudut tribun bising bahkan terdengar sorakan “huuuu....” yang membuat saya cukup meringis. Inilah hal yang harus segera diperbaiki dan dirubah, kebiasaan-kebiasaan yang sebenarnya sepele tapi akan sangat berharga bila bisa dihilangkan.

Di pertandingan semalam, tribun SUGBK memang hanya bergoyang hebat sekali saat menyambut gol Boaz Solossa dan bahkan harus memekik kecewa usai gawang Kurnia Meiga jebol 2 kali oleh Yahia Sulaeman dan Yousef Mansour Al Salem tetapi nyanyian riuh, seruan semangat dan teriakan dukungan tanpa lelah kami berikan bahkan hingga usai pertandingan dan berlanjut menghambur ke luar lapangan.

Inilah esensi lain mendukung langsung timnas di stadion, kami bukan hanya sekedar menonton Sepak Bola, bukan hanya sekedar menang atau kalah tapi bagaimana menyatukan suara bersama puluhan ribu suporter lain untuk menjadi pembakar semangat. Ada kepuasan tersendiri dari setiap nyanyian, seruan dan teriakan yang saya lontarkan selama 90 menit, kepuasan yang tidak akan kita dapat bila hanya menonton di televisi.

Memang kalau ditanya spot mana yang paling asyik untuk menonton Sepak Bola, jawabnya pasti televisi karna percayalah tidak ada satu spot tribun dimanapun di stadion yang akan memberikan gambaran utuh sebuah pertandingan tapi walau begitu saya tetap akan kembali ke kesana ketika ada kesempatan. Sekedar menuntaskan hasrat mendukung atau menjadikan satu  bukti kontribusi untuk rasa seorang nasionalis yang cinta tanah air. Tidak sabar!

@Destangreys, 2013 

Rabu, 20 Maret 2013

Tak Ingin Memberi Judul Disini…

23 tahun hidup di Bumi
Bernafas dengan Oksigen
Merasakan hangat sinar mentari pagi
Takjub akan warna ufuk senja

23 tahun menjejak aksi
Berikat dengan atmosfer
Memeluk dingin optimis mimpi
Buta akan merah hitam ketenaran

Kamu masih tetap satu dan satu-satunya
Kamu pesona
Kamu hebat
Kamu luar biasa

Kamu masih tetap satu dan satu-satunya
Kamu diam
Kamu acuh
Kamu tak peduli

Aku disini
Menunggu
Diam dan
Jatuh cinta

Aku disini
Menanti
Setia dan
Rindu

Tidak ada yang salah
Apalagi dipersalahkan oleh itu
Karna pada akhirnya
Kita semua akan bahagia karenanya

“Mencintai layaknya mengerti, tidak harus selalu bisa diganti dengan Di”
 
@Destangreys, 2013

Satu Indonesia…

Prahara itupun berakhir sudah! Kongres Luar Biasa 19 Maret 2013 adalah ujung dari kisruh sepak bola nasional yang sudah menggelinding besar bak bola salju sejak terpilihnya Djohar Arifin Husin sebagai ketua umum. Dualisme kepemimpinan sudah tidak ada lagi, PSSI tandingan bernama KPSI itu akhirnya bubar dan anggotanya termasuk sang pendiri La Nyalla kembali ke pelukan satu PSSI.

Digelar di Hotel Borobudur, Kongres Luar Biasa diwarnai sedikit ricuh dan walk out nya 6 anggota Exco namun hal itu tidak mempengaruhi hasil keputusan yang mufakat dan bisa dibilang bulat. Penyatuan liga dan ditunjuknya La Nyalla sebagai wakil ketua umum menurut saya merupakan salah dua keputusan yang menjadi win-win solution. Selain itu, kita juga patut bersyukur atas penetapan AFC dan FIFA yang mengesahkan KLB tersebut sekaligus menghindari Indonesia dari sanksi berat yang selama ini membayang-bayangi.

Keputusan berani malah hadir usai KLB, PSSI dengan mengejutkan kembali mengganti pelatih timnas untuk persiapan menghadapi Arab Saudi di lanjutan Pra Piala Asia 2015 akhir pekan nanti. Tidak tanggung-tanggung, PSSI memanggil dua nama pelatih kenamaan Rahmad Darmawan dan Jacksen F Tiago untuk berduet mengantikan Luis Manuel Blanco yang digeser posisinya ke Direktur Teknik. Kebijakan Blanco yang mencoret 14 pemain berkualitas padahal mereka belum genap sehari latihan ditambah belum juga begitu mengenal karakter sepak bola Indonesia ditengarai membuat PSSI akhirnya mengambil langkah itu.

Berat memang tugas coach RD dan Jacksen dengan waktu efektif hanya sekitar 4 hari untuk mempersiapkan timnas secara maksimal tetapi optimisme tetap harus didengungkan mengingat dua pelatih ini hafal betul karakter pemain-pemain kita apalagi beberapanya adalah anak asuh mereka di klub.    
 
Ok, kembali ke permasalahan awal. Disini, saya tak ingin membuka luka lama jadi saya memutuskan untuk tidak flash back apa yang awalnya terjadi sehingga sepak bola nasional bisa seperti ini, saya juga tidak terlalu mengikuti perkembangan perpecahan tersebut jadi tidak bisa mengurai berapa banyak kejadian, berapa banyak drama dan emosi yang hadir setiap episodenya tapi yang saya tahu banyak kongres yang dilalui tanpa menghasilkan keputusan yang membawa dampak baik bagi persepakbolaan kita sebelum KLB 19 Maret ini.

Saya hanya ingin berterima kasih kepada semua pihak yang concern akan penyelamatan sepak bola Indonesia. Terima kasih Menpora beserta jajarannya telah menjadi mediator yang luar biasa dan berjanji akan terus mengawal proses ini hingga benar-benar kondusif. Terima kasih pada Djohar cs, La Nyalla cs, Sekjen PSSI, anggota Exco dan semua pengprov yang mau duduk satu meja, yang mau mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama nan besar. Terima kasih masyarakat Indonesia yang terus berdoa dan percaya akan kebangkitan sepak bola nasional.

Rindu akan timnas dengan taburan talenta-talenta terbaik mungkin akan terbuncahkan akhir pekan ini namun rindu akan sebuah gelar juara masih akan menjadi penantian yang sesungguhnya tidak perlu terlalu lama bila mulai sekarang kita bahu membahu mambangun, menjaga dan memelihara sepak bola positif, damai dan kondusif lewat SATU LIGA, SATU TIMNAS, SATU PSSI demi SATU INDONESIA!

@Destangreys, 2013           

Senin, 18 Maret 2013

Senin...

Hari ini saya kembali bertemu dengan hari Senin, hari yang menurut sebagian orang adalah hari yang berat tapi bwt saya hari Senin adalah hari penting dimana dia akan menentukan hari-hari saya berikutnya.

Gini maksudnya, Senin tuch bwt saya selalu jadi momentum start mood, semangat dan efektifitas kegiatan selama seminggu ke depan jadi kalau di Senin itu momentum saya bagus maka dipastikan hari-hari berikutnya mood dan semangat saya juga akan bagus. Kayak hari ini contohnya, mungkin karena momentum saya lagi nanjak jadi saya bisa akhirnya nulis sepagi ini, hari Senin pula. Sumpah, seumur-umur baru kali ini. :)

Intinya, seberat apapun, semalas apapun dan sebenci apapun saya sama hari Senin saya harus berusaha keras menemukan ritme terbaik untuk mood, semangat dan efektifitas kerja yang berkelanjutan Senin-Minggu.  

BISA!!!   

@Destangreys, 2013