Senin, 25 Maret 2013

Tribun Stadion...

Tribun Stadion. Ah, rindu rasanya dengan tempat yang satu ini. Jangankan untuk Sepak Bola yang terakhir saya sapa pada Piala AFF 2010 ketika Indonesia melumat Laos 6-0 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Bulutangkis yang beberapa tahun belakangan sangat akrab saja terakhir saya duduki tribunnya Juni tahun lalu di Indonesia Open Premiere Super Series.

Dan kemarin malam rindu itu terbuncahkan saat Indonesia menjamu Arab Saudi di lanjutan penyisihan grup Pra Piala Asia 2015. Yap, saya akhirnya kembali menyaksikan langsung perjuangan timnas Garuda di tribun stadion Gelora Bung Karno. Berbaur bersama ribuan suporter lain yang sama-sama mendukung serta menantikan kebangkitan Merah-Putih di kancah Sepak Bola Internasional.

Saya sesungguhnya tidak membawa ekspektasi apa-apa terhadap timnas di pertandingan kali ini, selain karena lawannya Arab Saudi yang kelasnya memang masih di atas kita, persiapan minim yang praktis hanya 5 hari menjadi kendala Garuda untuk terbang tinggi. Tetapi, kembalinya talenta-talenta terbaik setelah sekian lama dikungkung egois dualisme federasi menjadi semangat tersendiri untuk saya memutuskan mendukung langsung di tribun. Mungkin semangat ini pula yang mendorong animo penonton lain yang juga memutuskan datang ke SUGBK kemarin.

Sebagaimana kita tahu bersama, timnas memang sempat terpecah akibat kisruh internal PSSI. Segar betul di ingatan, bagaimana timnas kita dipermalukan Bahrain 10-0 atau gagalnya kita melaju ke babak semifinal Piala AFF 2012 disebabkan bukan pemain-pemain kelas satu yang turun membela panji Indonesia. Namun, cerita kelam itu sudah berakhir, timnas Indonesia sudah menjadi satu seiring damainya PSSI dan tandingannya KPSI. Sekarang, semua pemain terbaik bisa masuk timnas tanpa memperdulikan dari mana liganya yang baru akan menjadi satu mulai musim depan.

Saya tiba di kompleks GBK sekitar pukul 14.00 WIB dari Bandung, belum mengantongi tiket ditambah berita antrian panjang membuat saya agak bergegas untuk memburu tiket. Baru masuk Pintu Utama saya sudah disapa beberapa calo tiket, ehm ya calo tiket memang sudah jadi pemandangan biasa di gelaran apapun di negeri ini, sudah jadi bagian bisa dibilang. Hehe. Tadinya saya ingin langsung bertransaksi dengan mereka tetapi karena saya tidak menemui calo yang menawarkan kategori 1 jadi saya memutuskan ke loket dan ternyata saya beruntung karena tiket kategori 1  masih tersedia, hanya kategori 2 dan 3 yang sudah ludes terjual.

Kejadian unik sempat terjadi saat saya berjalan beriringan dengan kelompok suporter yang juga sedang mencari tiket, entah bagaimana awalnya tetapi kami akhirnya saling sapa dan ngobrol. Dan akhirnya saya tahu mereka adalah The Jakmania lalu di tengah-tengah obrolan saya ‘keceplosan’ bilang dari Bandung. Setelah itu saya baru sadar telah melakukan blunder besar mengingat perseteruan mengakar antara Viking dengan The Jakmania. Hal itu yang membuat saya sempat ketakutan dan bersiap mengambil langkah seribu tetapi apa yang saya takutkan tidak terjadi, para The Jakmania ini malah merangkul saya dan mengucapkan kata “Demi timnas mari kesampingkan dulu perseteruan Viking dan The Jak”.

Inilah yang saya suka dari suporter timnas Garuda, ketika sudah satu dukungan dan ber-jersey Merah-Putih, tidak ada lagi Orange, Biru, Ijo, Ungu atau warna-warna lain, tidak ada lagi idealisme kecintaan klub yang fanatik, semuanya bersatu membaur untuk satu Indonesia.

Setelah dapat tiket, waktu baru menunjukkan pukul 15.00 WIB atau 4 jam sebelum kick-off. Terlalu lama untuk menunggu di dalam SUGBK jadi saya memilih ‘ngadem’ di salah satu mall di dekat kompleks Senayan.

Setelah puas ‘ngadem’, saya keluar mall tersebut sekitar pukul 18.00 WIB namun yang terjadi di luar benar-benar di luar prediksi. Hujan besar disertai angin cukup kencang. Jarak antara mall tersebut dengan pintu masuk SUGBK memang hanya 500 meter tetapi dengan kondisi seperti ini jelas menghambat langkah saya. Agak lama mematung, saya pun memakai jaket lalu bergerak memaksakan diri berhujan-hujanan, beruntung saya menemukan ojek dan tanpa pikir panjang menggunakan jasa angkutan tersebut.

Pukul 18.30 WIB saya berhasil masuk melalui pintu 2, penonton sudah padat dan ramai. Ada kejadian lucu sich saat saya akan masuk ke tribun. Jadi, saat masuk tanpa saya sadari di belakang saya adalah para pendukung Arab Saudi juga akan masuk. Setelah melalui pemeriksaan tiket saya sempat ditahan tim keamanan di muka pintu tribun. Saya diminta untuk tidak masuk ke tribun tersebut bersama pendukung Arab Saudi lainnya karena tribun sudah penuh dengan suporter Indonesia. Saya yang masih memakai jaket langsung memprotes tindakan tersebut, saya bilang saya orang Indonesia sambil membuka jaket dan menunjukkan kaos timnas yang saya pakai. Tim keamanan tersebut akhirnya memperbolehkan saya masuk seraya meminta maaf, “Maaf mas, ta kira koordinator pendukung Arab. Abis masuknya bareng”. Waduh..ya kali muka saya ada Arab-Arabnya pak, kata saya dalam hati. :)

Saat masuk, ada perasaan bangga dan bergetar melihat pemandangan ini, pemandangan puluhan ribu manusia bernyanyi, bersorak dan berteriak “Indonesia..Indonesia”. Saya sentuh tribun dengan penuh rasa kagum, saya kuasai diri dan tanpa ragu mulai ikut bernyanyi, bersorak dan berteriak “Indonesia..Indonesia”. Luar biasa.

Nyanyian Garuda Di Dadaku,  teriakan “Indonesia..Indonesia”, seruan “Indonesia Indonesia kita harus menang” dan gerakan wave dari sisi tribun ke sisi tribun lainnya menjadi suguhan tak henti dari awal hingga akhir laga. Suguhan yang membakar semangat para punggawa timnas selama 90 menit berlaga di lapangan. Namun dari semua momen itu, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya menjadi momen yang benar-benar membuat saya merinding dan mengharu-biru.

Satu hal yang agak menggelitik adalah banyaknya spanduk bertuliskan slogan-slogan pendukung klub Eropa yang disatukan dengan Indonesia atau Garuda, seperti Milanisti Indonesia yang membentang Forza Indonesia dengan latar Merah-Hitam khas AC Milan, atau rival sekota Milan yaitu Inter dengan Forza Grande Indonesia dibentangkan para Internisti Indonesia dan yang paling dekat dengan saya adalah spanduk milik Liverpudlian Indonesia yang memasang slogan legendaris Garuda, You’ll Never Walk Alone. Keren!

Fanatisme pendukung Indonesia memang tidak sepenuhnya menjadi positif, itu terlihat dari 3 tindakan kurang dewasa oknum suporter kita tadi malam. Dimulai dari aksi bakar kembang api di awal laga yang membuat pandangan beberapa sudut tribun terhalang asap, lemparan botol minuman plastik ke arah pendukung Arab Saudi di jeda pertandingan hingga yang paling parah menurut saya adalah tidak respek nya penonton saat lagu kebangsaan Arab Saudi berkumandang, hampir setiap sudut tribun bising bahkan terdengar sorakan “huuuu....” yang membuat saya cukup meringis. Inilah hal yang harus segera diperbaiki dan dirubah, kebiasaan-kebiasaan yang sebenarnya sepele tapi akan sangat berharga bila bisa dihilangkan.

Di pertandingan semalam, tribun SUGBK memang hanya bergoyang hebat sekali saat menyambut gol Boaz Solossa dan bahkan harus memekik kecewa usai gawang Kurnia Meiga jebol 2 kali oleh Yahia Sulaeman dan Yousef Mansour Al Salem tetapi nyanyian riuh, seruan semangat dan teriakan dukungan tanpa lelah kami berikan bahkan hingga usai pertandingan dan berlanjut menghambur ke luar lapangan.

Inilah esensi lain mendukung langsung timnas di stadion, kami bukan hanya sekedar menonton Sepak Bola, bukan hanya sekedar menang atau kalah tapi bagaimana menyatukan suara bersama puluhan ribu suporter lain untuk menjadi pembakar semangat. Ada kepuasan tersendiri dari setiap nyanyian, seruan dan teriakan yang saya lontarkan selama 90 menit, kepuasan yang tidak akan kita dapat bila hanya menonton di televisi.

Memang kalau ditanya spot mana yang paling asyik untuk menonton Sepak Bola, jawabnya pasti televisi karna percayalah tidak ada satu spot tribun dimanapun di stadion yang akan memberikan gambaran utuh sebuah pertandingan tapi walau begitu saya tetap akan kembali ke kesana ketika ada kesempatan. Sekedar menuntaskan hasrat mendukung atau menjadikan satu  bukti kontribusi untuk rasa seorang nasionalis yang cinta tanah air. Tidak sabar!

@Destangreys, 2013 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar