Senin, 04 Maret 2013

Indonesia dan All England 2013


Kota Birmingham, Inggris akan riuh sepanjang pekan ini menyusul kembali digelarnya salah satu turnamen Bulutangkis tertua di dunia, All England pada 05-10 Maret 2013. Pebulutangkis-pebulutangkis kelas dunia dipastikan turun berlaga di turnamen berlabel Premiere Super Series ini.

Bila berbicara All England 2013, satu nama pasangan ganda campuran pasti menjadi topik hangat bagi penikmat, penggemar dan pencinta Bulutangkis tanah air. Yap, siapa lagi kalau bukan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Setelah meraih gelar juara tahun lalu yang menjadi gelar pertama Indonesia di nomor ganda campuran sejak 1979, Owi/Butet (sapaan akrab mereka, red) kembali menjadi tumpuan untuk meraih podium tertinggi sekaligus memprtahankan gelar.

Tapi mari kita kesampingkan dulu hal itu karena ada beberapa hal lain yang patut dicermati di All England kali ini. Taufik Hidayat contohnya, legenda hidup Bulutangkis ini telah meraih hampir seluruh gelar bergengsi termasuk Juara Dunia 2005 dan emas Olimpiade Athena 2004 namun tidak untuk All England yang dimana gelar juara belum pernah masuk ke dalam lemari prestasinya sepanjang karir. Dan tahun ini adalah All England terakhir Taufik Hidayat setelah dia mengumumkan akan gantung raket di penghujung 2013. Mampukah pria elegan asal Bandung menuntaskan rasa penasaran itu? Patut dinanti walau sebenarnya dia mengaku tidak terlalu berambisi untuk mendapatkan gelar juara.

Menarik juga mengamati kiprah pasangan muda di ganda putra yang dikirim PBSI ke turnamen ini seperti Ryan Agung Saputra/Angga Pratama dan Ricky Karanda Suwardi/Muhammad Ulinnuha. Tidak dibebani target tapi diharapkan mampu memberikan kejutan.


Di ganda putri, pasangan Pia/Rizky sangat dinanti penampilannya. Grafik positif yang terus menanjak sejak tahun lalu dan sekarang sudah menembus peringkat 12 BWF membuat ekspektasi publik cukup besar bagi pasangan ini. Selain itu, pasangan anyar Greysia/Anggia yang minggu lalu takluk di babak pertama Jerman Open Grand Prix Gold 2013 diharapkan tampil lebih baik lagi.

Beban berat bukan hanya milik Tontowi/Liliyana saja, Mohamad Ahsan/Hendra Setiawan yang menunjukkan performa apik saat meraih gelar juara di Malaysia Super Series bulan Januari lalu juga akhirnya dibebani target sama yaitu podium tertinggi. Melihat kemampuan yang dimiliki dan ditopang dengan semakin padunya permainan dirasa cukup untuk bekal mereka menjadi yang terbaik.   

Sejatinya, All England ini bisa dijadikan start awal penilaian kinerja pengurus-pengurus baru PBSI yang sekarang dinakhodai Menteri Perdagangan Gita Wirjawan. Publik memang sedang menanti hasil positif seiring kembalinya Rexy Mainaky, Ricky Subagja dan Susi Susanti ke kepengurusan yang diyakini akan mampu mendongkrak prestasi Bulutangkis Indonesia.

Peluang

Jalan terbuka lebar bagi Tontowi/Liliyana untuk mempertahankan gelar. Berdasarkan drawing yang dirilis BWF, Owi/Butet yang hadir sebagai unggulan 2 berada di pool bawah dan mendapat calon-calon lawan yang relatif mudah. Di atas kertas Owi/Butet kemungkinan baru bertemu lawan sepadan di semifinal yaitu Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam, itupun bila ganda terbaik Thailand unggulan 6 mampu melewati unggulan 4 Denmark Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen. Tapi siapa tahu Riky Widianto/Puspita Richi Dili atau Markis Kido/Pia Zebadiah Bernadeth yang juga tergabung di pool bawah mampu membuat kejutan dengan menumbangkan 2 pasangan itu. Nasib kurang baik justru dialami Muhammad Rijal/Debby Susanto juga Fran Kurniawan/Shendy Puspa Irawati yang berada di pool atas bersama duo China Xu Chen/Ma Jin (1) dan Zhang Nan/Zhao Yunlei (5) serta Peng Song Chan/Liu Ying Goh asal Malaysia yang menempati unggulan 3. 

Drawing ‘mudah’ Owi/Butet ternyata tidak diikuti Mohamad Ahsan/Hendra Setiawan, jalan terjal harus mereka lewati menuju tangga juara. Berada di pool atas, Ahsan/Hendra sudah harus bertemu ganda baru China Chai Biao/Zhang Nan di pertandingan pertama, lepas dari itu di perempat final pasangan ini dinanti unggulan 3 Korea Selatan Ko Sung Hyun/Lee Yong Dae dan di semifinal Ahsan/Hendra kemungkinan ditantang peraih emas Olimpiade London 2012 Cai Yun/Fu Haifeng atau unggulan pertama Denmark Mathias Boe/Carsten Mogensen.

Setali tiga uang di tunggal putri. Lindaweni Fanetri yang performanya paling stabil di antara tunggal putri Indonesia lainnya harus langsung bentrok dengan Wang Yihan di partai pembuka sedangkan Aprilla Yuswandari ditantang unggulan 4 asal Jerman Juliane Schenk. Sementara Bellaetrix Manuputi yang memulai turnamen dari babak kualifikasi  sudah ditunggu Mitani Minatsu dari Jepang bila lolos.

Menerbitkan harapan di ganda putri juga nampaknya sulit, 2 ganda andalan Indonesia Pia Zebadiah Bernadeth/Rizki Amelia Pradipta dan Anneke Feinya Agustine/Nitya Krishinda Maheswari mendapat drawing yang kurang menyenangkan. Pia/Rizki diapit Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi dan Ma Jin/Tang Jinhua sedangkan Anneke/Nitya berada 1 pool dengan Wang Xiaoli/Yu Yang. Yang layak ditunggu adalah penampilan kedua Greysia/Anggia setelah debut yang cukup meyakinkan pekan lalu walau gagal memetik kemenangan.

Pindah ke sektor tunggal putra, belum comeback nya Lin Dan seharusnya menjadi keuntungan tersendiri bagi Taufik Hidayat untuk meraih gelar juara pertamanya tapi sayang drawing kurang menguntungkan membuat peluang itu kembali berat, Taufik harus langsung bertemu Sho Sasaki di babak pertama. Kalau menang, kemungkinan Hu Yun lalu Du Pengyu sudah menanti di babak kedua dan perempat final. Tidak berhenti sampai disitu, bila sama-sama tembus semifinal Taufik akan bentrok dengan sang sahabat unggulan 1 asal Malaysia Lee Chong Wei. Sedikit asa malah ada di pundak Sony Dwi Kuncoro, walau berada di pool bawah bersama Chen Jin dan Chen Long tetapi performanya yang terus meningkat plus peringkatnya yang sudah menembus 5 besar dunia diyakini akan membuat Sony tampil di luar batas normal.

Jadi berapa gelar yang akan diraih Indonesia di All England edisi ke 103 ini?

@Destangreys, 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar