Kota Birmingham, Inggris akan riuh sepanjang
pekan ini menyusul kembali digelarnya salah satu turnamen Bulutangkis tertua di
dunia, All England pada 05-10 Maret
2013. Pebulutangkis-pebulutangkis kelas dunia dipastikan turun berlaga di turnamen
berlabel Premiere Super Series ini.
Bila berbicara All England 2013, satu nama pasangan ganda campuran pasti menjadi
topik hangat bagi penikmat, penggemar dan pencinta Bulutangkis tanah air. Yap,
siapa lagi kalau bukan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Setelah meraih gelar
juara tahun lalu yang menjadi gelar pertama Indonesia di nomor ganda campuran
sejak 1979, Owi/Butet (sapaan akrab mereka, red) kembali menjadi tumpuan untuk
meraih podium tertinggi sekaligus memprtahankan gelar.
Tapi mari kita kesampingkan dulu hal itu
karena ada beberapa hal lain yang patut dicermati di All England kali ini. Taufik Hidayat contohnya, legenda hidup
Bulutangkis ini telah meraih hampir seluruh gelar bergengsi termasuk Juara
Dunia 2005 dan emas Olimpiade Athena 2004 namun tidak untuk All England yang dimana gelar juara belum pernah masuk ke dalam lemari prestasinya sepanjang karir. Dan tahun ini
adalah All England terakhir Taufik
Hidayat setelah dia mengumumkan akan gantung raket di penghujung 2013. Mampukah pria elegan asal Bandung menuntaskan rasa penasaran itu? Patut dinanti walau sebenarnya dia mengaku tidak terlalu berambisi untuk mendapatkan gelar juara.
Menarik juga mengamati kiprah pasangan muda di
ganda putra yang dikirim PBSI ke turnamen ini seperti Ryan Agung Saputra/Angga
Pratama dan Ricky Karanda Suwardi/Muhammad Ulinnuha. Tidak dibebani target tapi
diharapkan mampu memberikan kejutan.
Di ganda putri, pasangan Pia/Rizky sangat
dinanti penampilannya. Grafik positif yang terus menanjak sejak tahun lalu dan
sekarang sudah menembus peringkat 12 BWF membuat ekspektasi publik cukup besar
bagi pasangan ini. Selain itu, pasangan anyar Greysia/Anggia yang minggu lalu
takluk di babak pertama Jerman Open Grand
Prix Gold 2013 diharapkan tampil lebih baik lagi.
Beban berat bukan hanya milik
Tontowi/Liliyana saja, Mohamad Ahsan/Hendra Setiawan yang menunjukkan performa
apik saat meraih gelar juara di Malaysia Super
Series bulan Januari lalu juga akhirnya dibebani target sama yaitu podium
tertinggi. Melihat kemampuan yang dimiliki dan ditopang dengan semakin padunya
permainan dirasa cukup untuk bekal mereka menjadi yang terbaik.
Sejatinya, All England ini bisa dijadikan start
awal penilaian kinerja pengurus-pengurus baru PBSI yang sekarang dinakhodai
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan. Publik memang sedang menanti hasil positif
seiring kembalinya Rexy Mainaky, Ricky Subagja dan Susi Susanti ke kepengurusan
yang diyakini akan mampu mendongkrak prestasi Bulutangkis Indonesia.
Peluang
Jalan terbuka lebar bagi Tontowi/Liliyana
untuk mempertahankan gelar. Berdasarkan drawing yang dirilis BWF, Owi/Butet
yang hadir sebagai unggulan 2 berada di pool bawah dan mendapat calon-calon
lawan yang relatif mudah. Di atas kertas Owi/Butet kemungkinan baru bertemu lawan
sepadan di semifinal yaitu Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam, itupun
bila ganda terbaik Thailand unggulan 6 mampu melewati unggulan 4 Denmark Joachim
Fischer Nielsen/Christinna Pedersen. Tapi siapa tahu Riky Widianto/Puspita
Richi Dili atau Markis Kido/Pia Zebadiah Bernadeth yang juga tergabung di pool
bawah mampu membuat kejutan dengan menumbangkan 2 pasangan itu. Nasib kurang
baik justru dialami Muhammad Rijal/Debby Susanto juga Fran Kurniawan/Shendy
Puspa Irawati yang berada di pool atas bersama duo China Xu Chen/Ma Jin (1) dan
Zhang Nan/Zhao Yunlei (5) serta Peng Song Chan/Liu Ying Goh asal Malaysia yang
menempati unggulan 3.
Drawing ‘mudah’ Owi/Butet
ternyata tidak diikuti Mohamad Ahsan/Hendra Setiawan, jalan terjal harus mereka
lewati menuju tangga juara. Berada di pool atas, Ahsan/Hendra sudah harus
bertemu ganda baru China Chai Biao/Zhang Nan di pertandingan pertama, lepas
dari itu di perempat final pasangan ini dinanti unggulan 3 Korea Selatan Ko
Sung Hyun/Lee Yong Dae dan di semifinal Ahsan/Hendra kemungkinan ditantang
peraih emas Olimpiade London 2012 Cai Yun/Fu Haifeng atau unggulan pertama
Denmark Mathias Boe/Carsten Mogensen.
Setali tiga uang di tunggal putri. Lindaweni
Fanetri yang performanya paling stabil di antara tunggal putri Indonesia
lainnya harus langsung bentrok dengan Wang Yihan di partai pembuka sedangkan
Aprilla Yuswandari ditantang unggulan 4 asal Jerman Juliane Schenk. Sementara
Bellaetrix Manuputi yang memulai turnamen dari babak kualifikasi sudah ditunggu Mitani Minatsu dari Jepang bila
lolos.
Menerbitkan harapan di ganda putri juga
nampaknya sulit, 2 ganda andalan Indonesia Pia Zebadiah Bernadeth/Rizki Amelia
Pradipta dan Anneke Feinya Agustine/Nitya Krishinda Maheswari mendapat drawing yang kurang menyenangkan.
Pia/Rizki diapit Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi dan Ma Jin/Tang Jinhua
sedangkan Anneke/Nitya berada 1 pool dengan Wang Xiaoli/Yu Yang. Yang layak ditunggu
adalah penampilan kedua Greysia/Anggia setelah debut yang cukup meyakinkan
pekan lalu walau gagal memetik kemenangan.
Pindah ke sektor tunggal putra, belum comeback nya Lin Dan seharusnya menjadi keuntungan
tersendiri bagi Taufik Hidayat untuk meraih gelar juara pertamanya tapi sayang drawing kurang
menguntungkan membuat peluang itu kembali berat, Taufik harus langsung bertemu
Sho Sasaki di babak pertama. Kalau menang, kemungkinan Hu Yun lalu Du Pengyu
sudah menanti di babak kedua dan perempat final. Tidak berhenti sampai disitu,
bila sama-sama tembus semifinal Taufik akan bentrok dengan sang sahabat
unggulan 1 asal Malaysia Lee Chong Wei. Sedikit asa malah ada di pundak Sony
Dwi Kuncoro, walau berada di pool bawah bersama Chen Jin dan Chen Long tetapi
performanya yang terus meningkat plus peringkatnya yang sudah menembus 5 besar
dunia diyakini akan membuat Sony tampil di luar batas normal.
Jadi berapa gelar yang akan diraih Indonesia
di All England edisi ke 103 ini?
@Destangreys, 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar