Rabu, 13 Maret 2013

Membentuk Kedewasaan Dari Supporter

Menjadi supporter olahraga terutama sepak bola adalah hal yang sangat menyenangkan bagi saya. Saya menikmati setiap sensasinya, saya menghirup semangatnya dan saya merasakan kemegahannya. Ada satu kepuasan tersendiri saat melihat jagoan saya menang atau bahkan kalah sekalipun. 

Saya adalah fans berat Manchester United dan minggu lalu ketika mereka kalah dari Real Madrid di Liga Champions Eropa dan diimbangi Chelsea 2-2 di perempat final Piala FA padahal sudah unggul 2-0 di babak pertama membuat saya mengalami tekanan, ejekan dan cemoohan dari aliansi AJM (Asal Jangan Manchester Utd). Sudah menjadi tipikal bila “Setan Merah” kalah para AJM itu akan melakukan “bullying” pada kami, baik yang hanya menyindir atau benar-benar frontal mengajak perang. AJM ini bukan hanya terdiri dari fans-fans klub BPL pesaing MU tetapi juga fans klub dari Italia dan Spanyol. Istilah AJM sendiri saya dapat dari buku “Berani Mengubah” karya Pandji Pragiwaksono. :)

Menyebalkan memang mendapat hal-hal seperti itu tetapi saya merasa “bullying” mereka adalah suatu hal yang positif untuk perkembangan saya sebagai seorang supporter. Dulu, saya selalu balas mengejek siapapun yang menghina MU namun akhir-akhir ini saya tidak pernah melakukannya, mampu sportif dan respek ternyata lebih baik. Saya juga pernah menangis tersedu karena MU kalah oleh Porto di perempat final Liga Champions 2003/2004, setelah itu saya tidak pernah lagi menangis semenyakitkan apapun MU kalah paling hanya kecewa. Selain itu, Saya pernah sangat marah ketika Chelsea begitu digdaya di tahun 2005/2006 tetapi musim lalu ketika Manchester City mengambil “hak” kami di pekan terakhir saya ternyata bisa santai-santai saja.

Ambil contoh lain, bagi Milanisti semalam mungkin menjadi malam yang sangat pahit, terlalu pahit untuk menelannya bulat-bulat. Bagaimana tidak? Membawa keunggulan 2-0 dari San Siro 2 minggu lalu, Milan dipermak Barcelona 4 gol tanpa balas di Camp Nou sekaligus menyingkirkan Rossonerri dari gelaran Liga Champions Eropa. Kecewa pasti cuma saya yakin Milanisti sejati takkan banyak terpengaruh dan siap kembali mendukung tim kesayangannya di laga musim tersisa karena sebenarnya Milan pernah merasakan kekalahan lebih sakit di final Liga Champions 2004/2005 kontra Liverpool. Saat itu, Milan yang sudah unggul 3-0 sejak turun minum malah berhasil disamakan dan direbut kemenangannya lewat drama adu penalti oleh Liverpool.

Inilah yang disebut permainan, menang dramatis atau kalah ngenes peluangnya sama besar bila sudah di lapangan dan harus siap diterima para supporter. Resiko yang menjadi daya tarik tontonan sepak bola sekaligus hal yang menjadikan seorang supporter dewasa. Yap, sepak bola dengan pembiasaan-pembiasaannya, kejutan-kejutannya, drama-drama yang mengiringinya juga cemoohan-cemoohan dari supporter lain membuat seorang akan tumbuh lebih kuat dan tangguh.

Masalahnya terletak pada bagaimana menjadikan kepribadian yang kuat dan tangguh yang  dibentuk dari hasil menjadi supporter itu tetap mengarah ke hal-hal positif khususnya supporter di Indonesia. Tidak jadi fans buta nan fanatik yang rela melakukan apa saja demi klub favoritnya. Perseteruan Jak Mania dengan Viking atau Aremania dengan Bonekmania yang tak kunjung usai adalah bukti sahih sulitnya menjadikan supporter sebagai bagian dari sepak bola yang positif. Kekuatan dan ketangguhan mereka belum didasari sikap dewasa yang penuh toleransi dan empati. Wajar sich, jangankan di sepak bola, di kehidupan sehari-haripun kita ini memang masih sulit untuk berempati dan bertoleransi kepada orang lain terutama pada mereka yang berbeda pendapat dengan kita.

Bergeser dari sepak bola, saya juga adalah penggemar Greysia Polii sejak 5 tahun lalu. Tau Greysia Polii? Pasti taulah yah, dia adalah atlet ganda putri Indonesia. Dari saya ngefans atau bahkan sebelum saya ngefans, dara Manado ini memang belum pernah mempersembahkan gelar bergengsi untuk Indonesia tapi entah kenapa saya tetap menyukainya. Saya suka semangatnya, saya suka permainan cantiknya, saya suka pembawaannya di luar lapangan dan saya suka cara dia bertahan dalam kesulitan lalu keluar menyerang menyongsong kemudahan. Namun ekspektasi yang besar terhadapnya membuat dia kadang tertekan dan itu berimbas pada saya sebagai penggemar dan puncaknya di Olimpiade London 2012 lalu saat dia bersama pasangannya didiskualifikasi setelah dituduh bermain “sabun”. Tak ayal, ejekan dan caci maki menghiasi timeline Twitter dia dan saya.

Setelah hal itu, apa yang saya lakukan? Meninggalkannya? Tentu tidak. Bukan sesuatu yang bijak saya rasa untuk berhenti “mencintainya” saat dia sedang terpuruk walau dalam hati saya juga kecewa. Mungkin kalau kejadiannya terjadi 7-8 tahun lalu baru saya akan meninggalkannya. Hehe. Sampai sekarang saya masih selalu support dia dan akan terus support bahkan ketika publik mulai gerah menanti prestasinya seperti hari ini. 

Semua yang saya jabarkan di atas membuktikan bahwa menjadi supporter bisa membuat kita berkembang ke arah yang lebih baik, setidaknya bagi saya. Saya bisa lebih tolerir dan empati pada semua supporter lain tanpa mengurangi adrenalin dan kenikmatan saya sebagai penggemar MU. Saya bisa belajar bagaimana menanggapi mereka dengan tanpa emosi, saya belajar mengendalikan amarah dan saya belajar bagaimana tidak membalas kelakuan mereka ketika tim mereka kalah karena saya tau bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu saat tim favorit saya kalah. :)

Pilihannya sekarang tergantung kepada diri kita masing-masing karena kedewasaan juga merupakan suatu pilihan toch? 

Namun yang pasti, esensi dari sebuah permainan sebenarnya bukan hanya menang atau kalah tapi menjunjung tinggi sportivitas, respek, toleransi dan empati.

“Jangan pernah bersorak saat kami menang, bila tak mampu mendukung saat kami kalah”

@Destangreys, 2013

1 komentar:

  1. Casino Bonus No Deposit Bonus 2021 | Best Casino Bonuses for
    Casino Bonus No Deposit Bonus Order jordan 15 retro now 2021. This page is updated daily. We also recommend casinos offering 사이트 추천 no deposit bonus offers to air jordan 12 shoes Outlet new players. You Air Jordan 6 Retro can start 토토 사이트

    BalasHapus