Senin, 10 November 2014

Kota Kembang Berbunga, Jawa Barat Bersuka, Wilujeng Persib!

19 tahun penantian itupun berakhir manis. Semua kesabaran, ketabahan, keikhlasan, kekesalan dan air mata terbayar lunas saat Ahmad Jufriyanto sukses melaksanakan tugas sebagai eksekutor kelima dengan melesakkan gol ke gawang Dede Sulaiman setelah sebelumnya I Made Wirawan memblok tendangan Nelson Allom. Persib 5, Persipura 3 dalam adu tendangan 12 pas. Juara!

Ya malam itu, Jumat, 7 November 2014, pekikan kemenangan yang mengharu biru diiringi dentuman kembang api meledak di langit kota Bandung dan hampir semua kota di Jawa Barat juga 8000 orang Bobotoh yang hadir di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang tempat dimana Persib Bandung memastikan diri menjadi kampiun Liga Super Indonesia 2014. Gegap gempita dan euforia tumpah berantakan bersama perasaan lega para pemain, pelatih, official dan manajer menambah emosi sangat terasa campur aduk.

Sebagai warga Jawa Barat, saya tahu persis bagaimana orang Bandung dan Jawa Barat mengartikan Persib. Persib bukan hanya sebuah klub sepak bola idola, bukan hanya sekedar sebuah tontonan dan dukungan wajib bila bertanding tapi Persib adalah harga diri orang Bandung, orang Jawa Barat, Persib adalah budaya, Persib adalah kultur, Persib adalah tempat pengabdian dan Persib adalah jiwa raga serta aliran darah.

Jadi tak heran bila keberhasilan Persib mengembalikan supremasi tertinggi kr tanah Pasundan disambut dengan penuh suka cita dan perayaan yang megah. Lautan biru menjadi ucapan selamat datang pada pahlawan-pahlawan Pangeran Biru dilanjut pesta rakyat dan arak-arakan di kota Bandung kemarin dan akan segera menyusul arak-arakan ke kota-kota di Jawa Barat lainnya, bonus besar pun siap mengucur bagi Firman Utina cs. Kota Bandung dan Jawa Barat sudah barang tentu akan makin bergairah usai kemenangan ini. Teriakan "Bandung Juara" yang didengungkan Walikota Bandung bapak Ridwan Kamil aka Kang Emil salah satunya sudah diwujudkan Persib.

Kesabaran Pak Umuh, kehati-hatian Djajang Nurjaman dipadu dengan kesigapan Made, kekuatan Vujovic-Jupe, kedisplinan Supardi-Toni, ketangguhan Hariono, keuletan Taufik disempurnakan ketenangan Firman dengan kecepatan Ridwan, Tantan, Atep, kejelian Konate dan kengototan Ferdinand serta kespartanan Bobotoh membuat Persib memang pantas juara musim ini.

HATUR NUHUN PERSIB!

JAYALAH!

@Destangreys, 2014

Minggu, 09 November 2014

Lee Chong Wei, Doping Dan Pelajarannya...

Sebulan lalu, pecinta Bulutangkis di seantero dunia tercengang mendengar kabar menggemparkan dari BAM (Federasi Bulutangkis Malaysia) yang mengabarkan salah satu pebulutangkis terbaik mereka (belakangan diketahui adalah Lee Chong Wei) tidak lulus tes acak doping yang diadakan Badan Anti Doping Dunia atau WADA (World Anti-Doping Agency).

WADA mengkonfirmasi bahwa pebulutangkis tunggal putra nomor satu dunia itu "mengkonsumsi" zat Dexamethasone yang masuk dalam kategori terlarang karena dipercaya dapat meningkatkan performa dsn euforia atlet saat bertanding. Hal ini jelas merupakan kejutan besar mengingat LCW adalah seorang yang dikenal santun, membumi dan sportif sehingga wajar pada akhirnya banyak opini publik mengungkap ketidakpercayaan bahwa juara Indonesia Terbuka 5 kali ini sengaja doping.

Setelah gagal di sample A, LCW mengajukan untuk mengambil sample B tapi tak dinyana tes kedua ini juga masih mengindikasikan bahwa dalam tubuhnya terkandung zat tersebut.

Hasil ini membuat LCW saat ini berada di posisi yang sulit, menarik menanti pembelaan seperti apa yang akan dibeberkan saat sidang kasus nanti dan apakah pembelaan itu akan diterima sehingga amnesti diberikan tapi tidak elok rasanya bila kita berspekulasi apa yang akan terjadi ke depan seperti apa hukuman atau berapa lama skorsing yang dijatuhkan sementara LCW masih bernafsu tampil di Olimpiade 2016 Rio De Janiero.

Alangkah baiknya kita menanti bagaimana kronologis zat terlarang itu bisa masuk ke tubuh atlet seperti LCW, disengaja atau tidak, diketahui yang bersangkutan atau tidak, siapa yang lalai patut untuk diungkap karena pada dasarnya menjauhi doping yang menjadi musuh utama olahraga dengan semangat sportivitasnya adalah bukan tugas dan tanggung jawab atlet semata melainkan pelatih, tim dokter dan federasi dimana atlet tersebut bernaung.

Perlu diingat bahwa WADA selalu meng-update zat-zat terlarang dan itu tentunya harus jadi perhatian khusus federasi dan langsung mensosialisasikan pada jajarannya karena tidak jarang atlet tersandung doping karena mereka tidak paham ada kandungan terlarang pada apa yang dia pakai atau konsumsi bukan karena mereka sengaja. Saya pernah membaca ada atlet yang positif doping hanya karena di obat tetes matanya terkandung zat yang masuk kategori doping. Miris.

Alasan lain kenapa doping harus menjadi concern semua pihak adalah kasus Lee Yong Dae dan Kim Ki Jung di awal 2014 lalu. Masih segar di ingatan bagaimana dua bintang Bulutangkis asal Korea Selatan ini diskors larangan bertanding selama setahun walau akhirnya menjadi hanya 4 bulan hanya karena Federasi Bulutangkis Korea lalai melaporkan keberadaan dua atlet ini saat sidak inspektur anti-doping di Korea selain itu LYD dan KKJ sudah alpa 3 kali di 2013 dalam proses administrasi doping ini.

Akhirnya, saya hanya berharap kisah manis LCW yang begitu indah tidak harus ditutup dengan pil pahit seperti kisah Zhou Mi di 2010 dan marilah untuk lebih aware pada semua hal yang bisa merusak nilai-nilai luhur olahraga terutama doping. RESPECT!

@Destangreys, 2014