Minggu, 09 November 2014

Lee Chong Wei, Doping Dan Pelajarannya...

Sebulan lalu, pecinta Bulutangkis di seantero dunia tercengang mendengar kabar menggemparkan dari BAM (Federasi Bulutangkis Malaysia) yang mengabarkan salah satu pebulutangkis terbaik mereka (belakangan diketahui adalah Lee Chong Wei) tidak lulus tes acak doping yang diadakan Badan Anti Doping Dunia atau WADA (World Anti-Doping Agency).

WADA mengkonfirmasi bahwa pebulutangkis tunggal putra nomor satu dunia itu "mengkonsumsi" zat Dexamethasone yang masuk dalam kategori terlarang karena dipercaya dapat meningkatkan performa dsn euforia atlet saat bertanding. Hal ini jelas merupakan kejutan besar mengingat LCW adalah seorang yang dikenal santun, membumi dan sportif sehingga wajar pada akhirnya banyak opini publik mengungkap ketidakpercayaan bahwa juara Indonesia Terbuka 5 kali ini sengaja doping.

Setelah gagal di sample A, LCW mengajukan untuk mengambil sample B tapi tak dinyana tes kedua ini juga masih mengindikasikan bahwa dalam tubuhnya terkandung zat tersebut.

Hasil ini membuat LCW saat ini berada di posisi yang sulit, menarik menanti pembelaan seperti apa yang akan dibeberkan saat sidang kasus nanti dan apakah pembelaan itu akan diterima sehingga amnesti diberikan tapi tidak elok rasanya bila kita berspekulasi apa yang akan terjadi ke depan seperti apa hukuman atau berapa lama skorsing yang dijatuhkan sementara LCW masih bernafsu tampil di Olimpiade 2016 Rio De Janiero.

Alangkah baiknya kita menanti bagaimana kronologis zat terlarang itu bisa masuk ke tubuh atlet seperti LCW, disengaja atau tidak, diketahui yang bersangkutan atau tidak, siapa yang lalai patut untuk diungkap karena pada dasarnya menjauhi doping yang menjadi musuh utama olahraga dengan semangat sportivitasnya adalah bukan tugas dan tanggung jawab atlet semata melainkan pelatih, tim dokter dan federasi dimana atlet tersebut bernaung.

Perlu diingat bahwa WADA selalu meng-update zat-zat terlarang dan itu tentunya harus jadi perhatian khusus federasi dan langsung mensosialisasikan pada jajarannya karena tidak jarang atlet tersandung doping karena mereka tidak paham ada kandungan terlarang pada apa yang dia pakai atau konsumsi bukan karena mereka sengaja. Saya pernah membaca ada atlet yang positif doping hanya karena di obat tetes matanya terkandung zat yang masuk kategori doping. Miris.

Alasan lain kenapa doping harus menjadi concern semua pihak adalah kasus Lee Yong Dae dan Kim Ki Jung di awal 2014 lalu. Masih segar di ingatan bagaimana dua bintang Bulutangkis asal Korea Selatan ini diskors larangan bertanding selama setahun walau akhirnya menjadi hanya 4 bulan hanya karena Federasi Bulutangkis Korea lalai melaporkan keberadaan dua atlet ini saat sidak inspektur anti-doping di Korea selain itu LYD dan KKJ sudah alpa 3 kali di 2013 dalam proses administrasi doping ini.

Akhirnya, saya hanya berharap kisah manis LCW yang begitu indah tidak harus ditutup dengan pil pahit seperti kisah Zhou Mi di 2010 dan marilah untuk lebih aware pada semua hal yang bisa merusak nilai-nilai luhur olahraga terutama doping. RESPECT!

@Destangreys, 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar