Kejuaraan
Malaysia Open Premiere Super Series 2014
baru saja usai, Indonesia kembali gagal merebut gelar meskipun menempatkan satu
wakilnya di babak final atas nama Tommy Sugiarto di tunggal putra yang akhirnya
dikalahkan wakil tuan rumah sekaligus pebulutangkis nomor 1 dunia Lee Chong
Wei. Hasil ini menjadi rentetan paceklik gelar setelah di Korea Open Super Series 2014 pekan lalu Indonesia juga nihil gelar.
Penampilan
pemain-pemain Indonesia di kejuaraan berhadiah total USD 500,000 itu memang
belum terlalu meyakinkan. Dua andalan yang selalu ditargetkan juara yaitu
pasangan Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir
rontok sebelum partai puncak, Ahsan/Hendra dipukul Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin
dari Taipeh di babak kedua sementara Owi/Butet harus mengakui keunggulan musuh
bebuyutannya asal China Xu Chen/Ma Jin di semifinal.
Namun
bila ditelisik lebih dalam seharusnya Indonesia tak perlu terlalu khawatir
karena dibalik melempemnya para andalan ada asa positif dari pelapis-pelapis
mereka, Walau tidak membuat kejutan besar tapi setidaknya para junior ini
tampil mengesankan.
Ambil
contoh debutan di ganda campuran Praveen Jordan/Debby Susanto yang mampu
menembus perempat final dimana mereka sempat mengalahkan pasangan unggulan tuan
rumah Chan Peng Soon/Goh Liu Ying di babak kedua. Permainan Praveen/Debby
memang banyak dipuji, kepiawaian Debby di depan net dipadu dengan matangnya
permainan belakang Praveen berserta smes-smes kerasnya membuat pasangan ini
digadang-gadang menjadi penerus tahta kehormatan prestasi ganda campuran
Indonesia setelah Owi/Butet.
Tak
hanya di ganda campuran, ganda putri juga menerbitkan harapan kebangkitan.
Setelah Greysia Polii/Nitya Krishinda mulai stabil menembus babak perempat atau
semifinal di kejuaraan berlabel Super
Series dan Premiere Super Series,
dua calon pelapis mereka juga bermain impresif di kejuaraan itu, walau tidak
melaju lebih dari babak kedua. Anggia Shitta Awanda/Della Destiara Haris mampu memaksa
rubber finalis asal Jepang unggulan 3
Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi sebelum akhirnya menyerah 12-21 21-19 12-21.
Setali tiga uang dengan Anggia/Della, Suci Rizki Andini/Tiara Rosalia Nuraidah
juga berhasil membuat ketar-ketir sang juara asal China Bao Yixin/Tang Jinhua
lewat permainan ketat tiga set 21-18 18-21 19-21. Penampilan menjanjikan itu
akan ditopang dengan kehadiran pelatih baru dari klan Mainaky, Reony Mainaky, yang sukses
menangani ganda putri Jepang sehingga publik boleh yakin sektor ini
segera bisa bersaing dengan negara-negara kuat seperti China dan Jepang.
Namun
dari semua itu, penampilan Tommy Sugiarto dan Angga Pratama/Ryan Agung Saputro
lah yang harus diapresiasi tinggi. Setelah pensiunnya Taufik Hidayat dan
kemungkinan didepaknya Simon Santoso dari pelatnas Cipayung juga tidak
membaiknya kondisi Sony Dwi Kuncoro serta performa Dionysius Hayom Rumbaka
membuat Tommy jadi satu-satunya harapan untuk berbicara banyak di ajang
internasional. Meski kadang labil tapi Tommy di kejuaraan yang dihelat di Putra
Stadium Bukit Jalil Kualalumpur ini bermain nyaris tanpa celah, tak kehilangan
satu set pun hingga final Tommy memperagakan permainan variatif yang khas.
Rajiv Ouseph, Sho Sasaki, Srikanth K hingga Kenichi Tago merasakan keganasan
pemain berperingkat 4 dunia ini. Di babak final Tommy bertemu wakil tuan rumah
Lee Chong Wei yang sangat digdaya, head-to-head
0-8 sebelum match membuat Tommy
berada dalam tekanan tapi Tommy tetap
mampu bermain percaya diri dan mengimbangi LCW bahkan hampir menang di game
pertama namun rupanya LCW memang masih terlalu tangguh dan memenangkan
pertandingan dengan skor mencolok 19-21 9-21.
Lain
Tommy, lain pula Angga/Ryan. Pasangan ini tak diduga-duga merengkuh babak
semifinal walau akhirnya kalah nyesek
dari pasangan Malaysia Goh V Shem/Lim Khim Wah yang akhirnya keluar sebagai
juara. Sekian lama di bawah bayang-bayang Ahsan/Hendra, Angga/Ryan akhirnya
menunjukkan performa terbaiknya, perjalanan mereka ke semfinal tidak boleh
dipandang sebelah mata karena mereka menyingkirkan pasangan yang lebih diunggulkan
macam Liu Xiaolong/Qiu Zihan dari China dan Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong asal
Korea yang selalu menang dari Ahsan/Hendra sejak dipasangkan.
Dengan
hasil ini, laskar Cipayung memang harus berbenah tapi tidak usah panik karena penampilan
para pelapis itu memberikan signal terang bahwa Indonesia siap bersaing
sepanjang tahun ini untuk memperebutkan posisi terbaik di setiap kejuaraan
termasuk Piala Thomas dan Uber Mei mendatang.
*Courtesy Photo : badmintonindonesia.org





