Saya tak pernah menyangka bisa
secepat ini menjejakan kaki di Bali walau pada kenyataannya Bali memang masuk
pada list destinasi agenda traveling saya. Mungkin kalau tidak ada
Superliga Badminton di GOR Lila Bhuana Denpasar kemarin, saya hari ini belum
bisa menulis cerita ketakjuban saya pada pulau Dewata ini.
Tidak bohong memang apa kata
orang tentang pulau yang satu ini, dari utara ke selatan hingga timur ke barat,
Bali menawarkan sebuah manifestasi bentang alam yang memesona. Pantai, Danau
dan Gunung saling menunggu untuk disapa oleh mata yang melirik pana dan mulut
yang menggumam kagum. Tak ada satupun tempat di Bali yang tidak memikat hati saya
untuk mengambil gambar atau hanya sekedar menikmati mahakarya Tuhan ini.
Entahlah, Tuhan mungkin sedang jatuh cinta saat menghadirkan pulau kecil
bernama Bali itu di tengah-tengah indahnya gugusan kepulauan Indonesia seakan
ingin menasbihkan bahwa “surga” itu ada.
Selain itu, Bali juga menawarkan
keramahan yang khas, kebudayaan kuat peninggalan leluhur dan ketaatan pada
keyakinannya. Orang Bali memang terkenal sangat ramah dan setidaknya itu yang
saya rasakan selama disana, saya yang merupakan wisatawan benar-benar diperlakukan
bak tamu oleh para pribumi bahkan saya tak pernah merasakan senyaman ini di
tempat-tempat lain di Indonesia. Kebudayaan juga jadi daya pikat Bali yang selalu
dirindukan, lihat dan resapilah tari-tariannya, upacara-upacaranya,
ritual-ritualnya yang penuh pemaknaan yang dalam dimana semua itu tak terlepas
dari penghambaan yang taat pada keyakinannya. Masyarakat Bali yang mayoritas
pemeluk agama Hindu memang tidak bisa dipisahkan dengan penyembahan pada
Trimurti (Siwa, Brahma dan Wishnu), ketiga Dewa yang menjadi pusat gravitasi
hidup mereka. Tempat ibadah yang bernama Pura selalu ada di setiap rumah dan
Pura besar di setiap desa membuat peribadatan mereka selalu terasa sakral dan
khusyu. Sesajen di setiap sendi kehidupan selalu ada setiap hari sebagai bentuk
rasa syukur mereka terhadap Dewa yang sudah memberikan kesejahteraan. Hindu
Bali mengenal Tuhan Yang Maha Esa (Sang Hyang Widi) tapi manusia tidak bisa
berdoa langsung kepada Tuhan tapi harus melalui perantara Dewa-Dewa karena
manusia dianggap kotor. Masyarakat Bali percaya Pura-Pura besar di pinggir laut seperti
di Tanah Lot dan Uluwatu adalah penyanggah agar laut tidak marah dan bila masih
terus taat beribadah pada Tuhan maka tidak akan ada bencana di pulau Dewata ini.
Filosofi yang menggetarkan batin saya.
Bali adalah sinergi sempurna antara
keeksotisan alam, keindahan budaya dan keteguhan iman!
Baliku Indah!
 |
| Sang Hyang Widhi (Paling atas) |
 |
| Pura Buseh Desa Batuan |
|
|
|
|
 |
| Tanah Lot |
 |
| Sesajen |
@Destangreys, 2015