Selasa, 28 Juni 2016

CI : Bukan Sekedar Komedi

Sebagai seorang yang sedang gemar menonton film dalam beberapa tahun terakhir, saya mulai bisa memilah-milah mana film yang bagus, kurang bagus, penuh makna atau hanya sekedar menghibur.

Tapi kalau ditanya sepanjang tahun 2016 yang sudah berjalan kurang lebih 6 bulan ini, film mana yang menurut saya terbaik agak sulit juga menentukannya namun rasanya saya tidak bisa tidak memasukkan Central Intelligence ke jajaran film terbaik. Ya film yang masih nongol di beberapa bioskop Indonesia ini memang tidak se-booming film-film lain yang viral dan menyedot banyak penonton.

Banyak alasan kenapa film yang sebenarnya sangat bagus ini tidak meledak-ledak amat gaungnya. Pertama, mungkin karna ini bukan film Superhero, bukan juga sekuel yang bikin penasaran dan pemerannya pun tidak sepopuler Chris Evans, Robert Downey Jr, Jennifer Lawrence atau Leonardo Di Caprio. 2 Pemeran utama film ini hanyalah seorang mantan pegulat Smackdown bernama Dwayne The Rock Johnson yang pindah jalur menjadi aktor dan seorang komika yang lebih banyak dikenal dari Stand Up Comedy nya yang khas, Kevin Hart.

Lalu menjadi aneh kenapa saya akhirnya bisa memasukkan film bergenre action komedi ini ke jajaran terbaik, jawabannya adalah film ini ternyata bukan hanya tentang komedi dan action bahkan pesan yang disampaikan terlalu serius untuk disebut komedi. Film ini berkisah tentang Tommy Weirdich (Dwayne Johnson) yang menjadi korban bully saat SMA akhirnya malah berhasil menjadi orang penting di masa depan dan mengganti nama menjadi Bob Stones sementara Calvin Jorney (Kevin Hart) adalah seorang bintang sekolah yang mendapat predikat terbaik dan diramal bakal sukses usai lulus malah gagal mencapai ekspektasi dengan menjadi akuntan yang mandek karirnya. Pertemuan mereka 20 tahun setelah lulus via Facebook menjadi awal mula petualangan menegangkan mereka untuk menyelamatkan dunia.

Petualangan-petualangan itulah yang menjadi kekuatan film ini dimana pesan tentang hubungan suami-istri, pertemanan, persahabatan, kenangan dan kepercayaan dikemas secara apik yang dekat dengan kehidupan kita selain komedi yang segar dan lucu.

Dan akhirnya pesan paling ngena dari film ini adalah kita bisa belajar bagaimana seorang korban pembullyan melepas trauma masa lalu yang kelam dan menjadikan itu sebagai kekuatannya dalam menyongsong kehidupan yang lebih baik karna hal terpenting dari pembullyan adalah bangkit, keluar lalu pembuktian setelahnya.

Central Intelligence : MUST WATCH!!!

@Destangreys, 2016

Jumat, 03 Juni 2016

You Are Not Alone, Lets #COMEBACKSTRONGER

Saya tiba saat Istora sedang luruh, Greysia/Nitya baru saja dikalahkan wakil Malaysia Vivian/Woon 2 game langsung 17-21 19-21 di babak kedua Indonesia Open Premiere Super Series 2016. Menggunakan kaos kebanggaan Greysians warna hitam, saya melangkah cepat sambil melirik linimasa Twitter yang tiba-tiba berubah menjadi ajang bully, hate speech, umpatan, cacian dan makian akan performa Greysia/Nitya. Menjadi percuma bila saya melakukan pembelaan bila sedang begini, apapun akan jadi salah walau itu fakta jadi saya memutuskan untuk menikmati saja cuitan haters ini sambil me-ritwit beberapa komen-komen positif dan dengan sedikit nakal memprovokasi mereka dengan cuitan : "Haters day on" 

Langkah saya akhirnya terhenti di depan food court, bertemu dengan para #Greysians dan keluarga dari Greysia termasuk mama dan kakak kandungnya. Sambil menikmati makan siang yang terlambat bersama, kami mulai berbincang, dari mulai pertandingan Greysia/Nitya hingga suatu yang tidak ada hubungannya dengan bulutangkis semua dibahas hingga tandas penuh canda tawa dan kehangatan.

Hal ini membawa saya ke romansa setahun silam saat saya dan #Greysians berbaur dengan keluarga besar Greysia berhore-hore ria mendukung Greysia/Nitya di tempat yang sama yang akhirnya berbuah menjadi prestasi sebagai finalis Indonesia Open Premiere Super Series 2015 dan medali perunggu Kejuaraan Dunia 2015. Tidak ada bedanya walau cerita berbeda.

Dan akhirnya saya sadar satu hal bahwa kami, saya dan #Greysians, sudah dianggap seperti saudara bagi Greysia dan keluarga sehingga sudah seharusnya juga kami berdiri tegak sejajar dengan mereka di garda terdepan mendukung dalam kondisi apapun. Bukan yang datang saat menang, lalu pergi saat kalah. Bukan yang menoleh saat sukses lalu berpaling saat jatuh. Dan bukan yang bersorak saat juara lalu hilang saat gagal.

Karna tidak ada juara yang memenangi pertandingan sendirian seperti kata Charles Xavier di serial X-Men terbaru, "You'll never win because you are alone and I am not."

Tapi terlepas dari semua itu memang tidak ada kekalahan yang mengenakan termasuk untuk seorang Greysia. Aura sedih kental sekali saat saya menemuinya di depan media room beberapa jam usai pertandingan. Gurat kecewa dan sesal terpancar sekali dari raut mukanya, saya pun urung mengajaknya berbincang. Hanya lambaian tangan yang akhirnya memisahkan kami. Pikiran dan hati saya sudah tahu isyarat itu, let her alone for a while.

Baru saja pikiran itu terbit di benak, Greysia message saya untuk ke Hotel Century malamnya sambil mengantar titipan temannya yang ada di saya.

Setengah 11 malam saya tiba di hotel Century, ternyata Greysia sedang late dinner bersama 2 keluarganya. Saya pun akhirnya hanya sebentar,  hanya 10 menit mungkin. Tapi 10 menit itu menjadi yang sangat berharga sepanjang hari kemarin. Kenapa? Karna apa yang saya lihat di media room sirna seketika. Greysia sudah kembali dengan tawa cerianya, sudah kembali dengan semangatnya yang khas. Canda sempat terekam bersama pelatihnya Eng Hian yang tiba-tiba hadir. Ini membuat saya lega, berarti kekalahan itu tidak mempengaruhi mentalnya secara signifikan. Kecewa tidak berlarut dan pemulihan cedera adalah fokus dia sekarang mengingat setidaknya masih ada 2 turnamen yang harus diikuti sebelum ke Rio Agustus nanti.

#COMEBACKSTRONGER Greysia, we love you. 