Kamis, 03 Oktober 2013

#NgAmongRogo : Bertabur Gelar Yang Minim Apresiasi!



Gelaran Yonex Sunrise Indonesia Grand Prix Gold 2013 baru saja usai hari minggu lalu. Bertempat di GOR Amongraga (Baca : Amongrogo) di pinggiran kota gudeg Jogjakarta, kejuaraan internasional kelas dua ini menasbihkan Indonesia sebagai juara umum dengan meraih 3 gelar di tunggal putra, ganda putra dan ganda campuran sedangkan di nomor tunggal putri dan ganda putri direbut China.

Indonesia yang turun dengan hampir kekuatan penuh baik junior maupun senior memang dominan sejak awal turnamen bahkan saat menyentuh babak semifinal, Indonesia menempatkan 14 wakil dimana 8 diantaranya menghasilkan All Indonesian Semifinal  di nomor tunggal dan ganda putra. Sayangnya, di final Indonesia akhirnya hanya menambah 1 all Indonesian Final lewat ganda campuran sedangkan tunggal putri yang juga berpotensi, gagal setelah Maria Febe dan Aprilia Yuswandari takluk oleh dua pemain muda China Xue Yao dan Suo Di. Sementara satu-satunya wakil ganda putri Vita/Variella juga gagal menembus partai puncak setelah ditaklukkan Luo/Luo dari China.

Partai final memang menjadi agak kurang menarik setelah terjadi 3 all Indonesian Final dan 2 all China Final, Owi/Butet vs Praveen/Vita (ganda campuran), Ryan/Angga vs Ronald/Selvanus (ganda putra), Simon vs Hayom (tunggal putra), Xue Yao vs Suo Di (tunggal putri), Huang/Jia vs Luo/Luo (ganda putri).

Dari partai-partai tersebut, kejutan terjadi saat Praveen/Vita berhasil keluar sebagai juara mengalahkan Owi/Butet yang notabene juara bertahan sekaligus juara dunia 2013. Pantas memang bila menilik perjalanan mereka sejak babak pertama dan sepanjang tahun ini, Praveen/Vita terus tampil konsisten dan berkembang meyakinkan. Vita Marissa benar-benar menjadi senior sekaligus mentor tepat bagi Praveen Jordan yang masih muda tapi punya bakat luar biasa.

“Saya senang bisa membawa Jordan sampai ke titik ini. Nanti, saya akan persembahkan Jordan untuk Indonesia.” ucap Vita seusai laga final.

Perhatian juga harus kita berikan pada nomor ganda putra khususnya pada nama Ronald Alexander/Selvanus Geh. Walau kalah di final oleh Ryan/Angga tapi performa bagus ditunjukkan pasangan muda ini. Menembus babak final dengan mengalahkan juara dunia Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan di perempat final merupakan kejutan manis bagi pencinta Bulutangkis Indonesia. Harapan mampu disematkan pada Ronald/Selvanus untuk menjadi back up sempurna bagi Ahsan/Hendra dan Ryan/Angga.

Tunggal putri juga menorehkan prestasi yang lumayan, walau tidak bisa sampai ke final tapi setidaknya Maria Febe dan Aprilia Yuswandari mampu menembus semifinal. Maria Febe bahkan menampilkan permainan yang cukup apik sejak awal turnamen dengan mengalahkan Gu Juan dan Febby Angguni yang sedang bagus-bagusnya.

Performa melempem justru ada di nomor ganda putri, Pia/Rizki, Gebby/Tiara dan Greys/Nitya semuanya rontok sebelum babak semifinal. Hanya pasangan non pelatnas Vita/Variella yang merengkuh babak semifinal. Namun begitu asa muncul melihat debut pasangan baru Anggi/Della yang melenggang hingga perempat final, penampilan mereka cukup menjanjikan dan terlihat sudah padu walau baru pertama kali dipasangkan. Selanjutnya, ujian Anggi/Della akan berlanjut di London Grand Prix Gold 2013 minggu ini.

Dari semua nomor itu, perhatian berlebih nampaknya pantas diberikan di nomor tunggal putra. Di semifinal 4 tunggal terbaik Indonesia yang menghuni pelatnas Tommy Sugiarto, Dionysius Hayom Rumbaka, Sony Dwi Kuncoro dan Simon Santoso bersanding merebutkan titel juara. Dan akhirnya Simon Santoso lah yang keluar sebagai yang terbaik dengan mengalahkan Tommy di semifinal lalu Hayom di partai puncak sekaligus menasbihkan dia masih mampu bersaing dengan pemain lainnya. Seperti diketahui, usai menjuarai Indonesia Premiere Super Series 2012 Simon Santoso mengalami cedera panjang di akhir tahun tersebut sehingga membuat performanya menurun drastis. Saat come back pun Simon beberapa kali tidak memuaskan, selalu kalah di babak pertama atau kedua sehingga banyak pihak menyebutkan Simon telah habis. Namun di kejuaraan ini, Simon membuktikan dirinya masih ada dengan menampilkan permainan terbaik yang berujung gelar juara. Walau hanya berlabel Grand Prix Gold tapi juara disini dipercaya mampu meningkatkan kepercayaan diri Simon yang sebenarnya masih bisa jadi andalan Indonesia untuk menatap kejuaraan-kejuaraan selanjutnya.

Yonex Sunrise Indonesia Grand Prix Gold 2013 hanya menyisakan catatan kecil yang agak miris yaitu antusiasme warga yang minim terhadap gelaran ini. Entah kurang promosi atau jarak yang lumayan jauh dari pusat kota membuat GOR Amongraga sepi pengunjung. Rata-rata hanya 1000 orang per hari dari kapasitas 4500 orang yang menyaksikan langsung bahkan hingga menyentuh babak semifinal dan final jumlah penonton tak kunjung meningkat. Padahal panitia sudah berusaha untuk membuat kejuaraan ini ramai seperti menyediakan harga tiket yang relatif murah, mengadakan program beli 2 dapat 1 hingga menghadirkan hampir seluruh pemain top Indonesia termasuk 2 juara dunia Owi/Butet dan Ahsan/Hendra namun tetap tidak mampu menyedot perhatian publik.

Tapi terlepas dari kurangnya apresiasi untuk kejuaraan ini, Indonesia mampu keluar sebagai juara umum dengan menyabet 3 gelar adalah sebuah kebanggaan sekaligus membuktikan Bulutangkis kita sudah dan terus menerus berada di trek yang tepat. Trek penuh prestasi yang terbaik.

 @Destangreys, 2013














Selasa, 01 Oktober 2013

Jogja, 28-29 Sept 13

Manusia hanya bisa merencanakan tapi apa yang terjadi tetap kuasa semesta yang diamini Tuhan. Sebaik apapun rencana bila putaran semesta menghendaki buruk, niscaya kita takkan pernah bisa menentangnya.

Jogja, minggu lalu jadi salsh satu contohnya. Berangkat dengan keinginan dan rencana tersusun rapi untuk menghadirkan senyum-senyum kebahagiaan lalu menikmati liburan dengan penuh cinta malah berbanding 180 derajat terbalik pada kenyataanya. Perih, pahit dan penuh air mata akhirnya hingga membuat kegalauan akut yang membuat hidup berasa tak berguna saja.

Emosi terburai, amarah memuncak dan kekesalan terberai sesaat melumpuhkan akal sehat sehingga memaki siapa saja yang merasa pantas disalahkan. Alam semesta, takdir, jalan hidup, dia dan tak luput diri sendiri. Mengutuki apa yang terjadi lalu mencoba berlari mengelak.

Tidak berguna sebenarnya luapan-luapan itu ketika sedetik kemudian sadar bahwa apa yang terjadi adalah kehendak-Nya dan Tuhan selalu punya skenario dan cerita-cerita indah untuk hidup kita. Setelah ini akan ada kebahagiaan-kebahagiaan lagi walau kita tak tahu seberapa badai besar kan bertahan tapi kita tahu badai pasti berhenti lalu akan ada pelangi setelahnya.

Maka terimalah jalan takdirmu dengan lapang hati dan keikhlasan, senadir dan segetir apapun itu karna percayalah Tuhan tidak akan membawa kita sejauh ini hanya untuk meninggalkan kita. Semua yang dia berikan adalah anugerah dan pelajaran untuk sebuah pengalaman hidup yang fantastik mengejutkan ke depan. Bersyukurlah!

@Destangreys, 2013

Tanpa Pamrih!

Pernahkah melihat teman, rival atau sainganmu diberikan tugas oleh orang tapi akhirnya kamu terjebak di dalamnya dan mau tak mau harus ikut menyelesaikan tugas itu?

Lalu akhirnya, kamu yang berhasil menuntaskannya dengan keberhasilan gemilang sedangkan teman, rival atau sainganmu itu tidak berkutik dan gagal. Maukah kamu menyerahkan kemenangan itu? Memberi tahu pada sang pemberi tugas bahwa teman, rival atau sainganmu yang melakukan semua sehingga dialah yang berhembuskan puja-puji, bermandikan kebanggaan? Maukah? Relakah?

Mungkin hal itu hanya ada di ending film The Percy Jackson : Sea Of Monster saja. :)

@Destangreys, 2013

Berhenti dan Cukup!

Setiap petualangan pasti akan menemukan titik akhir, setiap perjalanan akan menemukan jalan pulang dan setiap pencarian pasti akan ada sebuah temuan.

Dan semua itu nampaknya sudah saya temukan ketika melewati ini. Sebuah tempat dimana saya tenang, aman, damai dan nyaman, tempat dimana saya tak ingin lagi bertualang, berjalan dan mencari. Saya puas dengan ini semua dan saya bahagia walau semesta mungkin menolaknya tapi aku ingin berhenti lalu mengucap cukup!

@Destangreys, 2013