Gelaran Yonex Sunrise Indonesia Grand Prix Gold 2013 baru saja usai hari minggu
lalu. Bertempat di GOR Amongraga (Baca : Amongrogo) di pinggiran kota gudeg
Jogjakarta, kejuaraan internasional kelas dua ini menasbihkan Indonesia sebagai
juara umum dengan meraih 3 gelar di tunggal putra, ganda putra dan ganda
campuran sedangkan di nomor tunggal putri dan ganda putri direbut China.
Indonesia yang turun dengan
hampir kekuatan penuh baik junior maupun senior memang dominan sejak awal
turnamen bahkan saat menyentuh babak semifinal, Indonesia menempatkan 14 wakil
dimana 8 diantaranya menghasilkan All
Indonesian Semifinal di nomor
tunggal dan ganda putra. Sayangnya, di final Indonesia akhirnya hanya menambah
1 all Indonesian Final lewat ganda
campuran sedangkan tunggal putri yang juga berpotensi, gagal setelah Maria Febe
dan Aprilia Yuswandari takluk oleh dua pemain muda China Xue Yao dan Suo Di.
Sementara satu-satunya wakil ganda putri Vita/Variella juga gagal menembus
partai puncak setelah ditaklukkan Luo/Luo dari China.
Partai final memang menjadi agak
kurang menarik setelah terjadi 3 all
Indonesian Final dan 2 all China
Final, Owi/Butet vs Praveen/Vita (ganda campuran), Ryan/Angga vs Ronald/Selvanus
(ganda putra), Simon vs Hayom (tunggal putra), Xue Yao vs Suo Di (tunggal
putri), Huang/Jia vs Luo/Luo (ganda putri).
Dari partai-partai tersebut, kejutan terjadi saat Praveen/Vita berhasil keluar sebagai juara mengalahkan Owi/Butet yang notabene juara bertahan sekaligus juara dunia 2013. Pantas memang bila menilik perjalanan mereka sejak babak pertama dan sepanjang tahun ini, Praveen/Vita terus tampil konsisten dan berkembang meyakinkan. Vita Marissa benar-benar menjadi senior sekaligus mentor tepat bagi Praveen Jordan yang masih muda tapi punya bakat luar biasa.
“Saya senang bisa membawa Jordan sampai ke titik ini. Nanti, saya akan persembahkan Jordan untuk Indonesia.” ucap Vita seusai laga final.
Perhatian juga harus kita berikan pada nomor ganda putra khususnya pada nama Ronald Alexander/Selvanus Geh. Walau kalah di final oleh Ryan/Angga tapi performa bagus ditunjukkan pasangan muda ini. Menembus babak final dengan mengalahkan juara dunia Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan di perempat final merupakan kejutan manis bagi pencinta Bulutangkis Indonesia. Harapan mampu disematkan pada Ronald/Selvanus untuk menjadi back up sempurna bagi Ahsan/Hendra dan Ryan/Angga.
Tunggal putri juga menorehkan prestasi yang lumayan, walau tidak bisa sampai ke final tapi setidaknya Maria Febe dan Aprilia Yuswandari mampu menembus semifinal. Maria Febe bahkan menampilkan permainan yang cukup apik sejak awal turnamen dengan mengalahkan Gu Juan dan Febby Angguni yang sedang bagus-bagusnya.
Performa melempem justru ada di nomor ganda putri, Pia/Rizki, Gebby/Tiara dan Greys/Nitya semuanya rontok sebelum babak semifinal. Hanya pasangan non pelatnas Vita/Variella yang merengkuh babak semifinal. Namun begitu asa muncul melihat debut pasangan baru Anggi/Della yang melenggang hingga perempat final, penampilan mereka cukup menjanjikan dan terlihat sudah padu walau baru pertama kali dipasangkan. Selanjutnya, ujian Anggi/Della akan berlanjut di London Grand Prix Gold 2013 minggu ini.
Dari semua nomor itu, perhatian berlebih nampaknya pantas diberikan di nomor tunggal putra. Di semifinal 4 tunggal terbaik Indonesia yang menghuni pelatnas Tommy Sugiarto, Dionysius Hayom Rumbaka, Sony Dwi Kuncoro dan Simon Santoso bersanding merebutkan titel juara. Dan akhirnya Simon Santoso lah yang keluar sebagai yang terbaik dengan mengalahkan Tommy di semifinal lalu Hayom di partai puncak sekaligus menasbihkan dia masih mampu bersaing dengan pemain lainnya. Seperti diketahui, usai menjuarai Indonesia Premiere Super Series 2012 Simon Santoso mengalami cedera panjang di akhir tahun tersebut sehingga membuat performanya menurun drastis. Saat come back pun Simon beberapa kali tidak memuaskan, selalu kalah di babak pertama atau kedua sehingga banyak pihak menyebutkan Simon telah habis. Namun di kejuaraan ini, Simon membuktikan dirinya masih ada dengan menampilkan permainan terbaik yang berujung gelar juara. Walau hanya berlabel Grand Prix Gold tapi juara disini dipercaya mampu meningkatkan kepercayaan diri Simon yang sebenarnya masih bisa jadi andalan Indonesia untuk menatap kejuaraan-kejuaraan selanjutnya.
Yonex Sunrise Indonesia Grand Prix Gold 2013 hanya menyisakan catatan kecil yang agak miris yaitu antusiasme warga yang minim terhadap gelaran ini. Entah kurang promosi atau jarak yang lumayan jauh dari pusat kota membuat GOR Amongraga sepi pengunjung. Rata-rata hanya 1000 orang per hari dari kapasitas 4500 orang yang menyaksikan langsung bahkan hingga menyentuh babak semifinal dan final jumlah penonton tak kunjung meningkat. Padahal panitia sudah berusaha untuk membuat kejuaraan ini ramai seperti menyediakan harga tiket yang relatif murah, mengadakan program beli 2 dapat 1 hingga menghadirkan hampir seluruh pemain top Indonesia termasuk 2 juara dunia Owi/Butet dan Ahsan/Hendra namun tetap tidak mampu menyedot perhatian publik.
Tapi terlepas dari kurangnya apresiasi untuk kejuaraan ini, Indonesia mampu keluar sebagai juara umum dengan menyabet 3 gelar adalah sebuah kebanggaan sekaligus membuktikan Bulutangkis kita sudah dan terus menerus berada di trek yang tepat. Trek penuh prestasi yang terbaik.
Dari partai-partai tersebut, kejutan terjadi saat Praveen/Vita berhasil keluar sebagai juara mengalahkan Owi/Butet yang notabene juara bertahan sekaligus juara dunia 2013. Pantas memang bila menilik perjalanan mereka sejak babak pertama dan sepanjang tahun ini, Praveen/Vita terus tampil konsisten dan berkembang meyakinkan. Vita Marissa benar-benar menjadi senior sekaligus mentor tepat bagi Praveen Jordan yang masih muda tapi punya bakat luar biasa.
“Saya senang bisa membawa Jordan sampai ke titik ini. Nanti, saya akan persembahkan Jordan untuk Indonesia.” ucap Vita seusai laga final.
Perhatian juga harus kita berikan pada nomor ganda putra khususnya pada nama Ronald Alexander/Selvanus Geh. Walau kalah di final oleh Ryan/Angga tapi performa bagus ditunjukkan pasangan muda ini. Menembus babak final dengan mengalahkan juara dunia Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan di perempat final merupakan kejutan manis bagi pencinta Bulutangkis Indonesia. Harapan mampu disematkan pada Ronald/Selvanus untuk menjadi back up sempurna bagi Ahsan/Hendra dan Ryan/Angga.
Tunggal putri juga menorehkan prestasi yang lumayan, walau tidak bisa sampai ke final tapi setidaknya Maria Febe dan Aprilia Yuswandari mampu menembus semifinal. Maria Febe bahkan menampilkan permainan yang cukup apik sejak awal turnamen dengan mengalahkan Gu Juan dan Febby Angguni yang sedang bagus-bagusnya.
Performa melempem justru ada di nomor ganda putri, Pia/Rizki, Gebby/Tiara dan Greys/Nitya semuanya rontok sebelum babak semifinal. Hanya pasangan non pelatnas Vita/Variella yang merengkuh babak semifinal. Namun begitu asa muncul melihat debut pasangan baru Anggi/Della yang melenggang hingga perempat final, penampilan mereka cukup menjanjikan dan terlihat sudah padu walau baru pertama kali dipasangkan. Selanjutnya, ujian Anggi/Della akan berlanjut di London Grand Prix Gold 2013 minggu ini.
Dari semua nomor itu, perhatian berlebih nampaknya pantas diberikan di nomor tunggal putra. Di semifinal 4 tunggal terbaik Indonesia yang menghuni pelatnas Tommy Sugiarto, Dionysius Hayom Rumbaka, Sony Dwi Kuncoro dan Simon Santoso bersanding merebutkan titel juara. Dan akhirnya Simon Santoso lah yang keluar sebagai yang terbaik dengan mengalahkan Tommy di semifinal lalu Hayom di partai puncak sekaligus menasbihkan dia masih mampu bersaing dengan pemain lainnya. Seperti diketahui, usai menjuarai Indonesia Premiere Super Series 2012 Simon Santoso mengalami cedera panjang di akhir tahun tersebut sehingga membuat performanya menurun drastis. Saat come back pun Simon beberapa kali tidak memuaskan, selalu kalah di babak pertama atau kedua sehingga banyak pihak menyebutkan Simon telah habis. Namun di kejuaraan ini, Simon membuktikan dirinya masih ada dengan menampilkan permainan terbaik yang berujung gelar juara. Walau hanya berlabel Grand Prix Gold tapi juara disini dipercaya mampu meningkatkan kepercayaan diri Simon yang sebenarnya masih bisa jadi andalan Indonesia untuk menatap kejuaraan-kejuaraan selanjutnya.
Yonex Sunrise Indonesia Grand Prix Gold 2013 hanya menyisakan catatan kecil yang agak miris yaitu antusiasme warga yang minim terhadap gelaran ini. Entah kurang promosi atau jarak yang lumayan jauh dari pusat kota membuat GOR Amongraga sepi pengunjung. Rata-rata hanya 1000 orang per hari dari kapasitas 4500 orang yang menyaksikan langsung bahkan hingga menyentuh babak semifinal dan final jumlah penonton tak kunjung meningkat. Padahal panitia sudah berusaha untuk membuat kejuaraan ini ramai seperti menyediakan harga tiket yang relatif murah, mengadakan program beli 2 dapat 1 hingga menghadirkan hampir seluruh pemain top Indonesia termasuk 2 juara dunia Owi/Butet dan Ahsan/Hendra namun tetap tidak mampu menyedot perhatian publik.
Tapi terlepas dari kurangnya apresiasi untuk kejuaraan ini, Indonesia mampu keluar sebagai juara umum dengan menyabet 3 gelar adalah sebuah kebanggaan sekaligus membuktikan Bulutangkis kita sudah dan terus menerus berada di trek yang tepat. Trek penuh prestasi yang terbaik.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar