Senin, 10 November 2014

Kota Kembang Berbunga, Jawa Barat Bersuka, Wilujeng Persib!

19 tahun penantian itupun berakhir manis. Semua kesabaran, ketabahan, keikhlasan, kekesalan dan air mata terbayar lunas saat Ahmad Jufriyanto sukses melaksanakan tugas sebagai eksekutor kelima dengan melesakkan gol ke gawang Dede Sulaiman setelah sebelumnya I Made Wirawan memblok tendangan Nelson Allom. Persib 5, Persipura 3 dalam adu tendangan 12 pas. Juara!

Ya malam itu, Jumat, 7 November 2014, pekikan kemenangan yang mengharu biru diiringi dentuman kembang api meledak di langit kota Bandung dan hampir semua kota di Jawa Barat juga 8000 orang Bobotoh yang hadir di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang tempat dimana Persib Bandung memastikan diri menjadi kampiun Liga Super Indonesia 2014. Gegap gempita dan euforia tumpah berantakan bersama perasaan lega para pemain, pelatih, official dan manajer menambah emosi sangat terasa campur aduk.

Sebagai warga Jawa Barat, saya tahu persis bagaimana orang Bandung dan Jawa Barat mengartikan Persib. Persib bukan hanya sebuah klub sepak bola idola, bukan hanya sekedar sebuah tontonan dan dukungan wajib bila bertanding tapi Persib adalah harga diri orang Bandung, orang Jawa Barat, Persib adalah budaya, Persib adalah kultur, Persib adalah tempat pengabdian dan Persib adalah jiwa raga serta aliran darah.

Jadi tak heran bila keberhasilan Persib mengembalikan supremasi tertinggi kr tanah Pasundan disambut dengan penuh suka cita dan perayaan yang megah. Lautan biru menjadi ucapan selamat datang pada pahlawan-pahlawan Pangeran Biru dilanjut pesta rakyat dan arak-arakan di kota Bandung kemarin dan akan segera menyusul arak-arakan ke kota-kota di Jawa Barat lainnya, bonus besar pun siap mengucur bagi Firman Utina cs. Kota Bandung dan Jawa Barat sudah barang tentu akan makin bergairah usai kemenangan ini. Teriakan "Bandung Juara" yang didengungkan Walikota Bandung bapak Ridwan Kamil aka Kang Emil salah satunya sudah diwujudkan Persib.

Kesabaran Pak Umuh, kehati-hatian Djajang Nurjaman dipadu dengan kesigapan Made, kekuatan Vujovic-Jupe, kedisplinan Supardi-Toni, ketangguhan Hariono, keuletan Taufik disempurnakan ketenangan Firman dengan kecepatan Ridwan, Tantan, Atep, kejelian Konate dan kengototan Ferdinand serta kespartanan Bobotoh membuat Persib memang pantas juara musim ini.

HATUR NUHUN PERSIB!

JAYALAH!

@Destangreys, 2014

Minggu, 09 November 2014

Lee Chong Wei, Doping Dan Pelajarannya...

Sebulan lalu, pecinta Bulutangkis di seantero dunia tercengang mendengar kabar menggemparkan dari BAM (Federasi Bulutangkis Malaysia) yang mengabarkan salah satu pebulutangkis terbaik mereka (belakangan diketahui adalah Lee Chong Wei) tidak lulus tes acak doping yang diadakan Badan Anti Doping Dunia atau WADA (World Anti-Doping Agency).

WADA mengkonfirmasi bahwa pebulutangkis tunggal putra nomor satu dunia itu "mengkonsumsi" zat Dexamethasone yang masuk dalam kategori terlarang karena dipercaya dapat meningkatkan performa dsn euforia atlet saat bertanding. Hal ini jelas merupakan kejutan besar mengingat LCW adalah seorang yang dikenal santun, membumi dan sportif sehingga wajar pada akhirnya banyak opini publik mengungkap ketidakpercayaan bahwa juara Indonesia Terbuka 5 kali ini sengaja doping.

Setelah gagal di sample A, LCW mengajukan untuk mengambil sample B tapi tak dinyana tes kedua ini juga masih mengindikasikan bahwa dalam tubuhnya terkandung zat tersebut.

Hasil ini membuat LCW saat ini berada di posisi yang sulit, menarik menanti pembelaan seperti apa yang akan dibeberkan saat sidang kasus nanti dan apakah pembelaan itu akan diterima sehingga amnesti diberikan tapi tidak elok rasanya bila kita berspekulasi apa yang akan terjadi ke depan seperti apa hukuman atau berapa lama skorsing yang dijatuhkan sementara LCW masih bernafsu tampil di Olimpiade 2016 Rio De Janiero.

Alangkah baiknya kita menanti bagaimana kronologis zat terlarang itu bisa masuk ke tubuh atlet seperti LCW, disengaja atau tidak, diketahui yang bersangkutan atau tidak, siapa yang lalai patut untuk diungkap karena pada dasarnya menjauhi doping yang menjadi musuh utama olahraga dengan semangat sportivitasnya adalah bukan tugas dan tanggung jawab atlet semata melainkan pelatih, tim dokter dan federasi dimana atlet tersebut bernaung.

Perlu diingat bahwa WADA selalu meng-update zat-zat terlarang dan itu tentunya harus jadi perhatian khusus federasi dan langsung mensosialisasikan pada jajarannya karena tidak jarang atlet tersandung doping karena mereka tidak paham ada kandungan terlarang pada apa yang dia pakai atau konsumsi bukan karena mereka sengaja. Saya pernah membaca ada atlet yang positif doping hanya karena di obat tetes matanya terkandung zat yang masuk kategori doping. Miris.

Alasan lain kenapa doping harus menjadi concern semua pihak adalah kasus Lee Yong Dae dan Kim Ki Jung di awal 2014 lalu. Masih segar di ingatan bagaimana dua bintang Bulutangkis asal Korea Selatan ini diskors larangan bertanding selama setahun walau akhirnya menjadi hanya 4 bulan hanya karena Federasi Bulutangkis Korea lalai melaporkan keberadaan dua atlet ini saat sidak inspektur anti-doping di Korea selain itu LYD dan KKJ sudah alpa 3 kali di 2013 dalam proses administrasi doping ini.

Akhirnya, saya hanya berharap kisah manis LCW yang begitu indah tidak harus ditutup dengan pil pahit seperti kisah Zhou Mi di 2010 dan marilah untuk lebih aware pada semua hal yang bisa merusak nilai-nilai luhur olahraga terutama doping. RESPECT!

@Destangreys, 2014

Kamis, 30 Oktober 2014

Yogyakarta, Lain Dulu Lain Sekarang. #ExploreIndonesia #IndonesiaBagus

Sabtu, 25 Oktober 2014 pukul 06.40, saya menjejakkan kaki di Stasiun Gambir Jakarta. Lalu-lalang penumpang, pengantar hingga porter diselingi decitan roda kereta yang menyapa rel semarak meramaikan aktivitas stasiun pagi itu. Sebuah pemandangan yang membangkitkan semangat untuk segera menjelajah.

Stasiun Gambir berdiri kokoh di samping Tugu Monas, menjadi salah satu landmark kota Jakarta dan gerbang utama selamat datang di Ibukota bagi para pendatang yang menggunakan kereta api selain Stasiun Pasar Senen dan Jatinegara tentu saja. Gambir adalah primadona bagi penikmat kereta api khusunya kelas eksekutif, tak ayal kepadatan selalu terjadi jelang akhir pekan atau hari raya.

PT KAI selaku penanggung jawab tunggal perkeretapian memang sudah bertransformasi sejak dibesut Ignasius Jonan (sekarang Menteri Perhubungan di Kabinet Kerja Jokowi-JK), perbaikan sistem, infrastruktur, dan pelayanan dilakukan maksimal sehingga tak heran bila wajah moda transportasi massal ini berubah total menjadi jauh lebih baik. Dulu, kereta api di cap sebagai alat transportasi kumuh, rawan kejahatan dan urakan namun sekarang mampu terlihat elegan, mempesona dan bersih. Tengok saja bagaimana PT KAI serius membenahi infrastrukturnya, kereta antar kota antar provinsi yang disulap menggunakan pendingin ruangan apapun kelasnya dan membongkar pemukiman-pemukiman liar di bantaran rel yang bisa menghambat perjalanan kereta jelas adalah bukti nyata, belum lagi asap rokok yang haram di sekitaran stasiun dan kereta juga jadi senjata andalan PT KAI untuk menarik minat masyarakat. Selain itu, penerapan online booking yang terintegrasi dengan cara pembayaran via ATM atau Payment Point memudahkan para pengguna layanan kereta api untuk mendapatkan tiket tanpa perlu datang dan antri di loket sehingga kepadatan dan praktek percaloan bisa diminimalisir bahkan dihilangkan.

Setelah mencetak tiket (Di beberapa stasiun besar sudah ada layanan cetak tiket mandiri, jadi tidak perlu antri di loket), saya memutuskan untuk sarapan dahulu di sebuah restoran cepat saji maklum kereta yang akan saya tumpangi baru akan berangkat pukul 08.15. Setelah perut terisi, pukul 08.00 saya bergegas naik ke lantai atas untuk masuk ke kereta dengan membeli setengah lusin donat terlebih dahulu untuk bekal perjalanan kurang lebih 8 jam yang akan saya arungi.

Tak lama, KA Eksekutif Argo Dwipangga jurusan Jakarta-Solo hadir menyapa. Inilah rangkaian KA yang akan membawa saya pada tempat tujuan, Yogyakarta. Yap, Yogyakarta menjadi pilihan saya untuk menghabiskan weekend terakhir bulan Oktober kemarin. Bagi saya, kunjungan ini adalah kunjungan ketiga setelah tahun lalu dan tahun 2005.

Yogyakarta memang selalu menjadi tempat yang mempesona bagi siapa saja yang pernah menginjak tanahnya dan rindu untuk kembali ke sana pasti membuncah di dada, seperti apa yang dibilang Katon Bagaskara bersama bandnya Kla Project di lirik "Namun kotamu hadirkan senyum abadi, izinkan aku untuk slalu pulang lagi..." pada lagu lawas sepanjang masa berjudul Yogyakarta yang fenomenal.

Hal itu, berlaku juga bagi saya, setelah kunjungan di 2005 yang bisa dibilang komplet karena hampir seluruh objek wisata Yogya saya kunjungi dari mulai Malioboro, Kotagede, Candi Prambanan, Keraton dan Alun-Alun hingga ke Candi Borobudur di Magelang, saya merasa amat rindu dengan kota Gudeg ini dan kesempatan untuk kembali menikmati Yogya ada tahun lalu tapi sayang kerinduan itu tidak terobati walau saya sebenarnya menapak kesana. Selain waktu yang sempit, kejuaraan Bulutangkis level Internasional yang dihelat disana membuat saya hanya terkonsentrasi menonton. Namun kata orang kalau sudah jodoh takkan lari kemana, tepat setahun berselang kesempatan ke Yogya hadir lagi dan saya bertekad tahun ini harus bernostalgia dengan apa yang saya darmakan di 2005.

Yogyakarta, lain dulu lain sekarang. Yogyakarta sekarang sudah berubah menjadi kawasan gemerlap terutama di pusat kota. Perkembangan pesat dan amat modern sungguh terasa dibanding tahun 2005 namun begitu ada beberapa hal yang belum hilang dari Yogya seperti makanan enak yang murah atau oleh-oleh berupa cemilan dan pakaian berharga miring masih bisa kita rasakan. Keramahan orang-orang Yogya pun masih seperti dulu, hangat dan tulus, tak berkurang sedikit jua. Satu contoh bagaimana keramahan mereka adalah saat saya baru pulang dari Malioboro menuju penginapan di daerah Kaliurang menggunakan taksi, tiba-tiba sebuah sepeda motor menabrak spion Taksi hingga miring. Normalnya, di kota besar yang penuh tekanan, hal ini bisa menjadi pemicu kericuhan yang berujung debat kusir atau bahkan pertumpahan darah. Tapi di Yogya adalah anomali, walau sudah di komporin teman-teman untuk mengejar motor tersebut, sang supir taksi tenang-tenang saja dan dengan penuh keseriusan berbicara "disini nda ada kejar-kejaran, yang ada 3S, salam senyum saja". Pesan damai itu membuat darah saya berdesir dan langsung terenyuh, tercenung seraya mengamini pendapat yang mengatakan sesungguhnya orang Indonesia itu sangat ramah.

Tapi Yogyakarta bukan tidak terpengaruh hal negatif arus jaman, tuntutan ekonomi yang makin tinggi sementara pendapatan yang pas-pasan membuat beberapa orang disana "terpaksa" memanfaatkan ketidaktahuan pendatang untuk melakukan modus untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak ya walau masih dalam batasan wajar.

Ada dua profesi setidaknya yang saya amati sering melakukan modus ini, pertama adalah tukang becak yang mengimingi akan mengantar ke pusat oleh-oleh dan batik hanya dengan uang 5000 rupiah bolak-balik. Malioboro adalah tempat berkumpul tukang becak seperti ini. Bila kita menerima rayuan mereka maka segera naiklah tapi jangan berharap anda akan diantar ke pusat oleh-oleh yang besar yang anda ingini, mereka akan antar ke pusat oleh-oleh yang mereka mau saja. Sebenarnya tak masalah, toh harganya bersaing tak terlalu jauh. Masalah akan terjadi kalau kita tidak membeli oleh-oleh di toko tersebut atau keukeuh minta diantarkan pada toko yang anda ingini. Percaya pada saya, mereka pada akhirnya akan mengalah dan mengantar anda ke tempat yang anda mau tapi di saat turun nanti tukang becak ini akan meminta tambahan bayaran atau menurunkan anda jauh dari saat anda naik tadi.

Profesi kedua adalah supir taksi! Ketidakadaan angkutan kota dan jumlah Trans Jogja yang terbatas membuat armada taksi di Yogyakarta menjamur baik yang resmi maupun liar. Disinilah letak masalahnya, para supir taksi banyak yang enggan menggunakan argo resmi dan meminta persetujuan harga yang lebih tinggi sebelum naik dengan berbagai alasan, macet atau harus jalan memutar. Sejujurnya bila alasan yang dikemukakan bisa dipertanggungjawabkan saya akan mengerti tapi kebanyakan alasan itu hanya menjadi alasan. Tak ada macet atau jalan memutar bila sudah deal harga. Kalau ditanya, supir taksi ini pasti akan menjawab sekenanya atau mengalihkan pembicaraan. Jadi buat teman-teman yang ingin atau akan pergi ke Yogya berwaspadalah dengan modus-modus semacam ini.

Namun terlepas dari semua itu, Yogyakarta tetap masih nyaman untuk dikunjungi. Keindahan panorama alam, pesona warisan cagar budaya masa lampau dan kehangatan masyarakatnya membuat Yogyakarta selalu jadi destinasi wajib nan indah yang diidamkan bagi siapa saja yang ingin menjelajah Indonesia.

Jogja keren!

@Destangreys, 2014

*NB : Kalau boleh saran, Yogyakarta harus lebih concern pada perbaikan sistem transportasi terutama infrastruktur dan armada termasuk perluasan bandara Internasional Adi Sucipto yang menurut saya kecil banget. :)

Senin, 20 Oktober 2014

Greysia Polii (Part 2)

Akhir 2012, usai kejadian Olimpiade London beberapa teman menanyakan pada saya dengan pertanyaan berbeda namun maknanya sama.

"Kenapa masih Greysia Polii?"

"Apa sih yang loe liat dari atlet ga berprestasi kayak dia? Mana bikin malu negara lagi"

"Loe ga niat ganti idola?"

Saya cuma tersenyum dan menghela nafas dan memilih untuk tidak menjelaskan. Biarkan saja waktu yang menjawab itu gumam saya dalam hati. Dan saya rasa inilah waktunya untuk menjawab semua itu.

Bagi sebagian orang, mungkin mengidolai atlet karena atlet tersebut penuh dengan prestasi dan gelar juara tapi saat mengidolai Greys saya tidak berangkat dari sana melainkan berangkat dari sikapnya yang ramah, unik, lucu tapi bisa tampil serius di lapangan. Lalu entah sudah jalan Tuhan atau bagaimana saya secara sangat beruntung bisa kenal secara personal dengan dia, keluarganya dan beberapa teman dekatnya.

Hal ini membuat gelar juara GPG, SS, SSP atau sekeping medali emas kejuaraan bergengsi menjadi hanya sebuah kado tambahan untuk saya karena tanpa itu Greys sudah memberikan dan mengajarkan banyak hal baik pada saya. Saya tahu persis Greys manusia biasa yang punya banyak kekurangan dan kesalahan, saya merasakan itu namun daripada memikirkannya lebih bijak saya membagi hal-hal baik walau kecil yang sempat saya kail dari seorang Greysia Polii, siapa tahu bisa menginspirasi.

Mari kita ambil contoh kecil, kejadiannya baru dan masih amat melekat di benak saya. Saat penjemputan di Bandara usai meraih emas di Asian Games kemarin, saya mencoba membantu untuk mendorong trolley berisi koper dan tas raketnya tapi dengan sigap Greys melarangnya, dia tidak mau merepotkan orang lain. Ah..how nice she is?

Sekarang tanya teman-teman #Greysians yang kemarin ikut #GreysiansMeetGreysia, tanyakan bagaimana dia begitu ramah dan cair membaur dengan fans-fansnya. Greys juga tidak segan bertanya dan bercanda.

Greys adalah tipe orang yang tidak suka berbagi kegalauan dan kesedihan. Dia tipe motivator ulung, lihat saja apa yang dia twit di Twitter, dia post di Instagram, semua tak ada yang bernada sedih. Semua tentang kebahagiaan, tentang penyemangat dan tentang how to enjoy and live your life. Kalau sempet ngobrol secara langsung, kalian juga bakal dapet hal yang sama dari dia. :)

Masih kurang? Baiklah, Greys pernah menegur saya karna saya merespons keras seseorang yang jelek-jelekkin dia. Dia dengan santai bilang "Udah diemin, kalau kamu ladenin kamu sama aja". Saya tidak habis pikir, bagaimana seseorang bisa santai menanggapi berita miring dirinya dan malah melarang orang yang membelanya tapi kalau ditelaah benar juga sih. Anjing mengonggong kafilah berlalu. Sejak saat itu saya lebih kalem tapi sejujurnya ingin sekali bilang "EAT THAT" pada sejumlah haters yang sampai saat ini masih lekat di benak tapi ntar malah kena omel sang juara lagi. Hehe. Ya sudahlah.

Rendah hati adalah suatu cerminan lain dari Greys, ini ga usah diceritain lah ya, banyak banget contohnya soalnya. Selalu seperti itu ya kak Ge. ;)

Saya selalu yakin kalau kita mewujudkan mimpi orang lain maka mimpi kita bisa terwujud dan kalau boleh berasumsi, Greys sudah mewujudkan mimpi saya dan #Greysians sehingga mimpinya terwujud tapi ini hanya asumsi saya lho ya karna faktanya mimpi Greys terwujud karena kerja keras dan doa yang terus menerus. :)

Tidak banyak orang tahu bahwa misi saya mendirikan #Greysians salah satunya adalah ingin mempertemukan para fans setia Greys dengan idolanya dan momen #GreysiansMeetGreysia bulan Juli lalu semoga terulang lagi. Semoga. #jadingarep

Dan akhirnya saya ingin mengucapkan terima kasih banyak pada Greysia Polii yang sudah banyak sekali memberikan motivasi, inspirasi dan kebahagiaan-kebahagiaan selama ini.

#SalamHormatGreysiansNomorSatu :)

@Destangreys, 2014

Minggu, 19 Oktober 2014

Greysia Polii (Part 1)

Saat saya memulai tulisan ini, saya tidak tahu bagaimana memulainya dan tidak tahu bagaimana nanti akhirnya tapi yang saya tahu saya membiarkan hati saya merangkai kata per kata, kalimat per kalimat yang mungkin akan banyak bercerita tentang hal yang tidak banyak diketahui atau juga mungkin tidak. Entahlah.

Hingar bingar medali emas pertama Asian Games 2014 untuk Indonesia dari cabang Bulutangkis yang hadir dari ganda putri Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari masih sering mengusik kalbu saya, mengguncang ruang-ruang di pikiran dan membuyarkan lamunan padahal sudah hampir sebulan lewat. Saya masih sering tersenyum bila ingatan me-rewind saat smash Greys membentur net dan melayang masuk ke area Misaki/Ayaka di partai final itu, saya masih suka merinding bila tiba-tiba terngiang komentator televisi saat itu memekik "Here we this..." dan tak jarang terharu biru mengingat bagaimana pelukan Greys/Nitya pada pelatih Eng Hian. Ada yang salah nampaknya pada diri saya? Bisa jadi! Tapi inilah kenyataannya.

Baiklah, sebelum meneruskan apa yang saya rasakan mari kita flashback dulu ke bulan April 2008 saat Istora Senayan Jakarta menghelat kejuaraan bergengsi Bulutangkis beregu bernama Piala Thomas Uber. Ada satu nama melejit dari srikandi kita, dia adalah Greysia Polii. Bukan hanya karena penampilan impresif bersama duet pasangan Jo Novita yang membawa Indonesia menjadi runner up melainkan juga tingkah polah unik nan nyentrik selama kejuaraan itu. Melakukan Victory Lap memakai topi panjang ala pesulap dan bendera Merah-Putih yang ia jadikan jubah layaknya Superman membuat wanita ini sungguh lucu dan menggemaskan sehingga wajar bila pada akhirnya Greys (sapaan akrab Greysia Polii) sekonyong-konyong menjadi amat terkenal. Saat itu mengidolai Greys memang sesuatu yang sangat mudah bagi siapapun termasuk saya, paras ayu, imut dan chubby namun tetap mampu tampil gahar di lapangan merupakan kombinasi pas menjadikan Greys idola. Bedanya yang lain mungkin cuma ngarep ketemu dan kenal kalau saya obsesi dan usaha maksimal untuk mewujudkan pertemuan dan perkenalan. Hahaha.

Popularitas yang meroket itu membuat Greys menjadi sasaran tembak untuk ekspektasi masyarakat akan sebuah prestasi, harapan-harapan besar mulai disematkan padanya walau saat itu masih menjadi pelapis Vita/Liliyana. Penampilan impresif di Piala Uber dan "kecelakaan" menjadi terkenal akhirnya membuat Greys mau tidak mau harus berani mengemban tugas tersebut.

Hari berganti, bulan merangkak dan tahun berlalu, ternyata harapan publik akan lahirnya gelar juara dari seorang Greys masih jauh panggang dari api. Disinilah semua cobaan itu dimulai, jalan terjal sebagai atlet mulai dirasanya lagi. Lagi? Ia lagi karna sebelumnya Greys pernah merasakan sulitnya mengejar mimpi juara, dari mulai faktor ekonomi hingga cedera lutut yang menghantuinya. Tapi kali ini berbeda, saya yakin dan percaya cobaan ini lah yang membuat dia semakin dewasa dari waktu ke waktu dan membuat mentalnya semakin kuat, cobaan bernama tekanan publik.

Sejujurnya prestasi Greys tidak buruk-buruk amat sejak 2008 hingga jelang Olimpiade 2012 London walau hanya memberikan riak-riak kecil pada cengkraman China dan Korea di nomor ganda putri tanpa gelar namun cukup sebenarnya untuk memberikan harapan prestasi. Menembus 10 besar dunia dalam rentang waktu tidak lebih dari setahun bersama Nitya Krishinda Maheswari dengan catatan Final Singapura Super Series 2009 setelah sempat mengalahkan ganda nomor satu dunia saat itu Chin Eui Hui/Wong Pei Tty asal Malaysia atau semifinalis Perancis Super Series 2009 ditambah dengan penghargaan Fair Play Player lalu menembus big five bersama Meiliana Jauhari lewat raihan final Indonesia GPG 2010 dan Macau GPG 2010 menjadi prestasi tersendiri bagi Greys tapi itu semua belum cukup bagi pecinta Bulutangkis tanah air. Kritik-kritik serba komentar-komentar mulai akrab di telinganya, dari mulai yang membangun, bernada miring sampai yang jelas-jelas ngajak berantem. Fans yang dulu memuja mulai meninggalkannya, menggores perih dengan perkataan yang amat tak pantas. Miris!

Awal September 2011, Greys bersama Meiliana hampir saja membungkam opini publik. Tampil trengginas di Taipei GPG 2011 Greys/Mei melenggang hingga babak final dan sudah unggul di game pertama dan bahkan game kedua sebelum tragedi itu datang, Greys salah jatuh saat akan mengembalikan shuttlecock yang membuat bahunya cedera. Cedera parah. Kemenangan akhirnya harus diberikan pada lawannya. Inilah awal petaka bertubi yang menimpa dara kelahiran 11 Agustus 1987 itu.

Cedera bahu Greys ternyata lebih parah dari apa yang dibayangkan, operasi dan istirahat panjang adalah keharusan. Dilema! Karena Greys/Mei harus mengejar poin untuk sampai ke London dan diharapkan bisa menjadi andalan di Sea Games 2011 Jakarta. Greys/Mei memaksa tampil di Jepang Super Series 2 minggu usai kejadian, walau hanya sampai babak kedua tapi nampaknya cukup untuk mengamankan poin Olimpiade, Greys juga menggunakan tangan kiri saat bermain. Suatu hal yg tak lazim dan patutnya diapresiasi tapi tetap saja nada sumbang itu bertebaran. Absen di Indonesia GPG dan Sea Games 2011 untuk beristirahat total lalu memulai kembali persaingan di akhir November merupakan hal yang mengejutkan mengingat bahu Greys yang rentan dan belum direkomendasikan untuk come back namun ambisi untuk tampil di pesta olahraga terbesar membuat Greys harus ambil resiko itu. Dan satu hal yang tidak banyak diketahui publik adalah bahwa bahu Greys tidak akan bisa sembuh total, sakit dan nyeri masih sering kambuh bahkan sampai hari ini. "Sudah tak apa dan proses penyembuhan berjalan baik terapi juga lancar", itu yang dikatakan Greys pada saya usai simulasi TUC 2012 yang di-"tebengkan" di Axiata Cup 2012 Tennis Indoor. Greys memang tidak mau berbagi tentang kesakitannya padahal saya tahu persis bahunya sakit yang berpengaruh pada performanya. Greys sangat sadar hal itu dan ketika saya mendengar kabar jauh-jauh hari setelahnya bahwa dia sebenarnya sudah merencanakan untuk gantung raket usai Olimpiade andai berprestasi bagus saya sungguh terkejut. Ya kabar ini memang belum terkonfirmasi olehnya tapi masuk akal juga. Bayangkan bagaimana beratnya bila harus bertanding melawan musuh dengan tekanan publik yang tinggi sementara kita tidak bisa tampil maksimal karna bahu tidak bisa berkompromi. Sungguh tak nyaman rasanya.

Greys/Mei akhirnya melangkah ke London 2012 dengan percaya diri tapi lagi-lagi tragedi pahit menimpa keduanya, bersama 3 pebulutangkis lain asal Korea dan China mereka dituduh berbuat tidak sportif dan harus rela didiskualifikasi dari turnamen. Sontak berita ini memukul wajah Bulutangkis Indonesia dan dunia apalagi Indonesia juga merusak sejarah dengan pulang tanpa medali emas Olimpiade Bulutangkis. Greys/Mei menjadi sorotan tajam dan sasaran empuk caci dan maki masyarakat karena dirasa sudah membuat malu negara. Saat itu Greys/Mei seperti 2 orang pesakitan yang harus dihakimi. Semua mencibir, semua mengutuk dan semua meninggalkan. Berat rasanya cobaan itu bagi keduanya.

Tak heran saat kembali ke Indonesia, Greys/Mei sulit sekali untuk ditemui terutama oleh media tapi saya bersyukur bisa jadi orang pertama di luar keluarga dan temannya yang bisa bertemu usai tragedi itu.

11 Agustus 2012, tepat ulang tahun Greys saya bertandang ke rumahnya, tidak sama sekali bermaksud untuk bertemu hanya ingin menitipkan kue ulang tahun dan beberapa kado untuk memberikan dorongan moril pada Greys namun Oma Evie, Ibunda Greys, menahan saya untuk pulang dan memberikan harapan untuk bertemu. Kebetulan Greys sedang keluar dan saya disuruh menunggu. Saya tahu Greys waktu itu belum siap bertemu orang lain termasuk saya dan ada sedikit friksi antara dia dan Oma di telepon. Jujur saya tidak enak hati dan memutuskan untuk pamit saja tapi lagi-lagi Oma melarang. Saya bergumam, "Betapa baik Oma yang satu ini, andai saja bisa jadi mertua". Hehehe.

Pertemuan itu pun terjadi dan kesan pertama yang saya tangkap adalah ada satu kilatan matanya yang masih menunjukkan kekecewaan, gurat mukanya menampakkan beban berat yang ia pikul, down dan hampir putus asa mungkin. Tapi dia memilih untuk tidak membagi itu, dia lebih memilih menanyakan fansnya lalu menyampaikan apa yang akan dia lakukan ke depan. Dia akan kembali dengan semakin termotivasi ungkapnya.

Di perjalanan pulang saya merenung dan meyakini bahwa keputusan saya untuk terus mendukungnya tak pernah salah, saya percaya dia akan kembali dan cepat atau lambat akan membuktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin termasuk gelar juara.

Dan akhirnya setelah 2 tahun, melalui segala macam rintangan dan tantangan, gelar juara bergengsi itu pun direngkuhnya. Medali emas Asian Games 2014 menjadi pelengkap 2 gelar Grand Prix Gold, Thailand 2013 dan Taipei 2014 koleksinya dalam membangun kembali reputasi serta upaya kebangkitan usai masa-masa suram itu berlalu.

Greysia Polii adalah prototype sempurna postulat hukum alam berjalan dan janji Tuhan berlaku saat dimana kesuksesan akan lahir dari kerja keras yang tak pernah kendur, semangat keyakinan yang pantang menyerah dan doa yang tak pernah putus.

Ada banyak tawa, suka, duka dan air mata, tak terhitung keringat mengucur dan darah menetes, penantian yang penuh proses panjang. Tersandung, tegak lagi. Terjatuh, bangun lagi. Tenggelam, berlayar lagi. Terpuruk, bangkit lagi. Hingga wajar adanya bila saya yang menyaksikan hal itu selama 6 tahun lamanya ikut terisak dan berkaca-kaca saat dia ada di podium tertinggi dan Indonesia Raya berkumandang.

Bangga!!!

@Destangreys, 2014

Rabu, 03 September 2014

(meng) Hilang (kan) Tradisi "Setan Merah"

Sepakbola di jelang awal musim dan jeda musim dingin merupakan salah satu periode yang menyedot perhatian publik. Aktivitas lalu lintas jual-beli pemain jadi alasannya. Dan setiap tahun pasti ada kabar mengejutkan tentang kepindahan pemain atau pelatih yang mencengangkan dunia.

Tak terkecuali tahun ini, usai gelaran Piala Dunia bulan Juni-Juli lalu klub-klub Eropa langsung bergerilya mengincar pemain berkualitas guna menambah kekuatan skuatnya.

Di awal pembukaan jendela transfer, publik mengalihkan pandangan pada beberapa tim besar Eropa karna melakukan pembelian yang cukup fenomenal. Di Premiere League sebut saja Arsenal yang memboyong Alexis Sanchez dari Barcelona dan Mathieu Debuchy dari Newcastle atau Chelsea yang mendaratkan Diego Costa (Atletico Madrid) dan Cesc Fabregas (Barcelona). Namun Liverpool menjadi klub tersibuk Liga Inggris di awal masa transfer, tercatat Adam Lallana, Rickie Lambert (Southampton), Alberto Moreno (Sevilla), Manquillo (Atletico Madrid) hingga yang paling baru Mario Balotelli (AC Milan) bergabung dengan tim asuhan Brendan Rodgers ini.

Persaingan 2 rival sejati di Liga Spanyol pun tak kalah panas di bursa transfer. El Barca setelah membeli kiper Marc Ter-Stegen, bek eks Arsenal Thomas Vermaelen dan gelandang Ivan Rakitic, tanpa disangka klub Catalan itu berhasil mendatangkan si bengal El Pistolero Luis Suarez dari Liverpool dengan mahar 75 juta pound atau sekitar 1,48 Triliun Rupiah. Tak mau kalah Real Madrid juga melakukan pembelian fantastis untuk menyempurnakan Los Galaticos-nya. Tak tanggung-tanggung, Madrid menggelontorkan dana sangat besar untuk mengikat 3 bintang piala dunia Brazil 2014, mereka adalah kiper ciamik Kosta Rika Keylor Navas, sang jenderal lapangan tengah Jerman Toni Kroos dan top skor asal Kolombia James Rodriguez. Belum puas, Los Blancos juga meminjam striker MU Javier "Chicharito" Hernandez di detik-detik terakhir waktu transfer.

Di saat deadline transfer semakin dekat dan kejutan seperti tidak akan ada lagi, tiba-tiba publik tersedot perhatiannya kepada raksasa Inggris yang sedang terluka Manchester United. Sempat adem ayem dalam perburuan bintang, MU dan arsitek barunya Louis Van Gaal terlihat begitu gencar di akhir periode. Kepanikan seperti terlihat di gerak-geriknya.

MU sebetulnya sudah merekrut 2 pemain di awal-awal masa jabatan LVG, bek kiri Luke Shaw dari Southampton dan Ander Herrera dari Athletic Bilbao. Setelah itu praktis MU pasif di bursa walau sempat dikaitkan dengan beberapa nama tenar seperti Arturo Vidal dan Edinson Cavani. Penampilan impresif selama pra-musim jadi alasan "Setan Merah" untuk tidak ngoyo mendatangkan pemain baru lagi.

Tapi kebijakan itu menguap seiring perjalanan musim dimulai, MU tampil bagai klub semenjana dengan tidak pernah menang dari 3 pekan Liga Inggris, 1 kali kalah dan 2 imbang juga harus tersingkir memalukan dari Piala Liga usai ditekuk 4 gol tanpa balas dari tim divisi 3 MK Dons di babak kedua. Sadar akan ada yang salah dan besarnya ekspektasi fans pada dirinya untuk mengembalikan kejayaan juga tidak ingin seperti David Moyes tahun lalu yang dipecat karena membawa MU terpuruk yang diawali dengan pasif membeli pemain, LVG langsung memaksa manajemen untuk mendatangkan pemain baru lagi. Hasilnya, 4 pemain berkualitas wahid merapat ke Old Trafford. Angel Di Maria, Marcos Rojo, Daley Blind dan Radamel Falcao. Khusus Di Maria MU harus menebus dengan dana 60 Juta Pounds atau sekitar 1,16 Triliun Rupiah dari Real Madrid yang menasbihkan dia sebagai pemain termahal Liga Inggris sementara El Tigre (julukan Falcao) dipinjam MU semusim dari AS Monaco dengan dana yang tidak kecil, 6 Juta Pounds.

Di satu sisi, hal ini patut disyukuri mengingat sekarang MU punya skuat yang cukup mengerikan dan kompetitif untuk kembali ke big four bahkan untuk menjuarai Liga Inggris sekalipun. Namun di sisi lain kebijakan mendatangkan banyak pemain bintang bertentangan dengan tradisi klub. MU selama ini memang dikenal sebagai pencetak pemain-pemain potensial menjadi bintang bukan sebagai pembeli pemain bintang. Cristiano Ronaldo dan Wayne Rooney adalah contohnya. Ditambah lagi dengan banyaknya pemain asli binaan klub yang terbuang karna kedatangan pemain-pemain bintabg tersebut. Musim ini saja ada Danny Welbeck yang dilego ke Arsenal dan Tom Cleverley yang dipinjamkan ke Aston Villa juga beberapa nama potensial lainnya.

Kalau sudah begini, menarik rasanya menanti sejauh mana skuat "instan" ala LVG ini mampu berprestasi dan apakah cara baru ini akan dipakai di musim-musim berikutnya atau hanya musim ini saja sebagai jalan pintas mengembalikan kejayaan sebelum menata era baru dengan cara lama yang bertradisi.

Meneer?

@Destangreys, 2014

Senin, 01 September 2014

Cerita Dari Kopenhagen!


Gelaran Kejuaran Dunia Bulutangkis 2014 baru saja rampung malam tadi. 5 juara baru dari 5 nomor berhasil berdiri di podium tertinggi Ballerup Super Arena Kopenhagen Denmark tempat berlangsungnya turnamen bintang 5 BWF itu.

Kejutan demi kejutan memang terjadi selama hampir seminggu penyelenggaraan, tengok saja daftar juara, praktis hanya nomor ganda campuran yang sesuai prediksi dimana unggulan 1 Zhang Nan/Zhao Yunlei berhasil merengkuh gelar juara usai menaklukkan Xu Chen/Ma Jin, selebihnya para juara adalah non unggulan 1.

Kita mulai dari ganda putri, partai puncak terjadi all Chinese final antara Tian Qing/Zhao Yunlei melawan Wang Xiaoli/Yu Yang yang masing-masing hanya menduduki unggulan 5 dan 4. Selain keunggulan peringkat, Wang/Yu yang lebih difavoritkan juga unggul dalam rekor pertemuan yang mencapai angka 9-3 namun tak dinyana Tian Qing/Zhao Yunlei mampu keluar sebagai juara usai menang 21-19 21-15. Bagi Wang/Yu ini adalah kekalahan kedua berturut di partai puncak setelah di Taipeh GPG 2014 bulan Juli lalu juga tumbang dari pasangan Indonesia Greysia/Nitya. Bila bertanya kemana unggulan 1, 2 dan 3 ganda putri, jawabannya mereka semua rontok sebelum babak perempat final dihelat. Unggulan 1 China Bao Yixin/Tang Jinhua bertekuk lutut di babak kedua dari Anggia Shitta/Della Destiara yang mewakili ganda ketiga Indonesia sementara Ayaka Takahashi/Misaki Matsutomo asal Jepang yang merupakan unggulan 3 dan Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl unggulan 2 tuan rumah dipaksa angkat koper di babak ketiga oleh pasangan muda Korea Lee So Hee/Shin Seung Chan dan pasangan Indonesia Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari.

Beralih ke ganda putra. Absennya Ahsan/Hendra di kejuaraan ini membuat Lee Yong dae/Yoo Yeon Seong seperti melangkah sendirian di bursa calon juara dan peluang itu bak cerita David vs Goliath hingga final saat LYD/YYS tak menemukan kesulitan berarti menapak babak demi babak sebelum akhirnya cerita berubah horror di satu langkah lagi menuju gelar saat LYD/YYS harus rela menelan pil pahit ditikung koleganya sendiri Shin Baek Choel/Ko Sung Hyun dengan pertandingan dramatis 3 game 22-20 21-23 21-18. LYD/YYS yang begitu perkasa di beberapa kejuaraan SS dan SSP terakhir malah gagal juara di turnamen sepenting Kejuaraan Dunia, bukan kalah oleh musuh bebuyutan tapi oleh teman sendiri. Sakitnya dua kali mungkln apalagi bagi LYD yang pernah berpasangan dengan Ko Sung Hyun dan gagal total. Olahraga memang bisa sangat mengerikan kadang-kadang.

Tapi cerita paling pilu hadir di nomor tunggal putra dan tunggal putri melalui unggulan 1 nya. Yap, Lee Chong Wei dan Li Xuerui punya cerita sama di Kejuaraan Dunia tahun ini, sama-sama kembali gagal juara padahal sudah berada di partai puncak. Lee Chong Wei, Dato’ Malaysia yang sangat mendambakan gelar ini akhirnya harus kembali mengubur ambisinya usai ditekuk unggulan dua Tiongkok Chen Long setelah tahun lalu LCW juga tunduk atas Lin Dan yang notabene senior Chen Long. Menyakitkan memang di saat usia yang tidak lagi muda, LCW lagi-lagi gagal mewujudkan satu dari dua gelar yang belum didapatnya (Selain belum juara di Kejuraan Dunia, LCW juga belum pernah juara di Olimpiade) padahal peluang besar ada di depan mata menyusul tidak hadirnya lawan mengerikan, batu sandungan yang tidak bisa ditangkal kekuatannya oleh LCW, si Alien yang hampir sempurna Lin Dan.

Setali tiga uang dengan Lee Chong Wei, Li Xuerui yang tahun lalu dikalahkan anak ajaib Thailand Ratchanok Intanon, tahun ini berambisi besar menebus kesalahannya namun ketidakberuntungan mengganjal pebulutangkis peraih emas Olimpiade London 2012 itu sehingga harus kembali rela menjadi runner-up usai dipecundangi anak muda kemarin sore asal Spanyol, Carolina Marin. History is made!
 
Ada keunikan dari gelar tunggal putri di Kejuaraan Dunia sejak tahun lalu, dimana Intanon yang juara di 2013 dan Marin yang juara di 2014 sama-sama mengalahkan Sindhu di semifinal dan Li Xuerui di final sebelum akhirnya memastikan diri sebagai kampiun. Kebetulan!

Bila membicarakan kejuaraan Bulutangkis apalagi sekelas Kejuaraan Dunia, kurang sreg rasanya kalau tidak menilik performa arjuna-arjuna dan srikandi-srikandi Indonesia yang berlaga. Absennya Ahsan/Hendra dan Owi/Butet yang tahun lalu mempersembahkan gelar juara membuat Indonesia realistis tapi bukan berarti tanpa target yang jelas.

Nomor ganda putri dan tunggal putra jelas paling membanggakan dan memenuhi ekspektasi. Walau gagal medali, ganda putri menjadi sorotan nilai plus usai mengirim wakil terbanyak bagi Merah Putih di babak perempat final dengan 2 wakil melalui nama Greysia Polii/Nitya Krishinda dan Anggia Shitta/Della Destiara. Yang menjadi sangat memukau adalah kedua pasangan ini mampu memulangkan unggulan 1 dan unggulan 2 dengan straight set.

Beralih ke tunggal putra, Tommy Sugiarto yang melangkah sendirian karena gagal berangkatnya Simon Santoso membuat beban terasa sangat berat namun Tommy menjawab target semifinal dengan mulus bahkan mungkin bisa menapak final andai tidak cedera paha di tengah-tengah laga kontra Chen Long.

Ganda campuran dan ganda putra nampak pincang tanpa ujung tombak andalan, Indonesia hanya menyisakan Praveen/Debby dan Angga/Rian di perempat final, itupun akhirnya kandas. Namun penampilan Praveen/Debby di perempat final patut diacungi jempol, melawan satu dari Fantastic Four yang berstatus tuan rumah, Praveen/Debby mampu memberikan tekanan dengan mengajak Joachim Fischer/Christinna Pedersen bermain rubber game.
Sementara di tunggal putri, tidak ada kejutan berarti dari pebulutangkis-pebulutangkis kita. Bella dan Linda habis di babak-babak awal.

Hasil ini memang kurang menggembirakan apalagi bila indikatornya adalah capaian tahun lalu namun progress manis beberapa pemain harus tetap diapresiasi agar terus meningkat positif. PBSI harus lebih jeli mengolah persiapan sebelum ajang bergengsi lain tiba dalam waktu dekat, Asian Games Incheon 2014

@Destangreys, 2014

Minggu, 31 Agustus 2014

Carolina Marin! Juara Dunia Dari Semenanjung Iberia!

Selama ini, bila berbicara olahraga Spanyol, orang hanya akan membicarakan Matador atau Sepak bola dengan duel klasik Barcelona dan Real Madrid atau prestasi gemilang La Furia Roja (julukan timnas Sepak bola Spanyol) di medio 2008-2012 dimana mereka berhasil merebut 2 kali juara Eropa berturut dan sekali juara Piala Dunia. Juga mungkin Rafael Nadal yang mencengkeram erat persaingan Tennis dunia putra dan juga tidak melupakan Trio Marc Marquez, Dani Pedrosa dan Jorge Lorenzo yang begitu perkasa di sirkuit MotoGP.

Tidak ada orang yang membicarakan tentang Bulutangkis, yap Bulutangkis Spanyol. Olahraga ini tidak terlalu terdengar kalau tidak boleh disebut tidak ada di negara berpenduduk sekitar 46 juta jiwa itu. Tapi hari ini seorang wanita cantik berusia 21 tahun asal Huelva, sebuah kota di daerah Andalucia menghentak dunia.

Carolina Marin! Pebulutangkis ini baru saja mengukir prestasi dan mencetak sejarah dengan menjuarai Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2014 nomor Tunggal Putri di Kopengahen Denmark mengalahkan salah satu raksasa Tiongkok peraih medali emas Olimpiade London 2012 Li Xuerui dengan rubber game 17-21 21-17 21-18.

Hasil ini sungguh mengejutkan, karena selain hanya menempati unggulan ke sembilan di turnamen ini, Marin pun harus menghadapi jalan terjal menapak tangga juara. Bagaimana tidak? Marin harus bentrok dengan Wang Yihan sang unggulan tiga di babak ketiga lalu berturutan Tai Tzu Ying (8), Sindhu (11) dan Li (1) namun berkat konsistensi dan kegigihannya dia mampu menekuk semua lawan berat itu dan mempersembahkan gelar juara bagi negaranya sekaligus menasbihkan dirinya sebagai orang Eropa kedua di tunggal putri setelah Camilla Martin asal Denmark yang mampu juara di Kejuaraan Dunia Bulutangkis era modern.

Marin adalah intan diantara tembaga potensi Bulutangkis di Spanyol, bakatnya yang luar biasa terendus asosiasi Bulutangkis Spanyol yang akhirnya benar-benar memoles Marin secara maksimal. Rajin di kirim untuk berlaga di turnamen internasional dan berlatih di negara lain yang lebih punya kultur Bulutangkis seperti Indonesia dan Thailand adalah cara mereka mematangkan Marin yang sebelumnya pernah meraih perunggu di Kejuaraan Dunia Junior 2011 dan juara di London GPG 2013.

Dan akhirnya hari ini, 31 Agustus 2014, Carolina Marin mempertegas apa yang dilakukan Ratchanok Intanon tahun lalu saat membuktikan pada dunia bahwa kerja keras latihan, fokus pada proses, dan kepercayaan mimpi akan menghasilkan kesempurnaan kemenangan tanpa peduli apa sejarahnya, dari mana negaranya atau bagaimana dipandangnya.

Congrats Caro Marin!

@Destangreys, 2014

Senin, 18 Agustus 2014

#ExploreIndonesia #IndonesiaBagus : Pulau Harapan

Sabtu 16 Agustus 2014 pukul 06.00 pagi, hiruk pikuk aktivitas pasar pelelangan ikan dengan bau khas menyengat menyambut saya di gerbang pelabuhan menuju Dermaga Kali Adem Muara Angke. Berpuluh Kapal Motor tradisional dan semi modern juga Kapal Cepat modern berbaris rapi siap untuk mengantarkan para pencari sensasi keindahan bahari Indonesia di sepanjang gugusan Kepulauan Seribu yang terkenal itu. Selamat datang liburan!

Sebuah Kapal Motor bernama Milles di ujung dermaga sudah sarat penumpang termasuk teman-teman saya yang sudah asyik menempati tempat paling nyaman, inilah Kapal Motor yang akan membawa saya ke tempat tujuan liburan kali ini. saya pun bergegas untuk naik dan mulai menyapa satu persatu teman yang akan menjadi kelompok selama disana. Saat naik ada kekhawatiran tersendiri mendera saya tentang perjalanan ini, 3 jam mengarungi lautan dengan Kapal Motor yang belum terlalu modern untuk pertama kali seumur hidup jelas menimbulkan rasa takut, pikiran mabuk laut terus membayangi walau sebenarnya saya tidak terlalu asing dengan perjalanan laut karena dulu saya sering menggunakan Kapal Feri dari Merak ke Bakauhuni bila akan ke kampung halaman Palembang.

Saya akhirnya memutuskan untuk tidak bergabung dengan teman-teman sekelompok yang memilih tempat di bagian atas Kapal, saya lebih memilih turun ke bawah, ke sebuah ruangan di tengah Kapal. Menghindari angin laut dan ingin melanjutkan tidur jadi alasan saya. Kapal Motor ini didesain dengan 3 ruangan penumpang, lantai paling atas, tengah dan bawah. Lantai atas hanya seperempat bagian yang beratap, sisanya langsung menghadap langit termasuk geladak. Bagian tengah hanya sebagian yang dapat diisi, itupun dengan langit-langit yang sangat pendek, jarak dari lantai ke langit-langit mungkin hanya sekitar 150 cm. Bagian bawah bisa dibilang bagian paling nyaman dari semua bagian di Kapal ini untuk ditempati. Walau tidak bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan tapi ruangan ini cukup luas dan enak untuk yang ingin tidur. Kapal Motor ini tidak dilengkapi tempat duduk, hanya ada matras-matras panjang yang digelar di lantai untuk alas sehingga bisa dipastikan siapa yang lebih cepat datang pasti bisa menentukan posisi yang nyaman dan pilihannya menjadi mengabaikan empati untuk kenyamanan 3 jam atau mengorbankan egoisme demi berbagi pada penumpang lain. Pelajaran moral pertama saya dapat dari hal ini. :)

Sekitar pukul 08.00 WIB, KM Milles menyalakan mesin, melepas jangkar lalu meliuk-liuk meninggalkan dermaga, berayun keluar muara dan sejurus kemudian memasrahkan diri pada pelukan Laut Jawa yang tenang.

Pukul 11.00 WIB saya tiba di tempat tujuan, KM Milles merapat di dermaga utama Pulau Harapan. Yap, Pulau Harapan adalah destinasi saya. Satu dari sekian banyak pulau di gugusan Kepulauan Seribu yang mulai jadi primadona dan alternatif tujuan wisata setelah happening-nya Pulau Tidung beberapa tahun belakangan. Pulau Harapan memang masih cukup asri dan tenang sehingga cocok dijadikan home stay untuk menjelajah pulau-pulau di sekitarnya yang memiliki pesona luar biasa, belum lagi spot-spot Snorkeling yang menawarkan pemandangan bawah laut yang masih lestari dan indah menawan membuat pulau ini boleh jadi pilihan utama wisata bahari yang tidak terlalu jauh dari Ibukota.

Setiba disana saya langsung check in penginapan. Satu rumah dengan 2 kamar ber-AC dan 2 kamar mandi bersih sudah cukup bagi saya dan teman-teman merasakan kenyamanan untuk beristirahat sejenak. Ini juga jadi nilai positif pulau ini untuk jadi home stay wisata.

Istirahat sejenak dan makan siang menjadi agenda pertama saya di pulau ini sebelum tepat pukul 13.00 WIB inti perjalanan saya dimulai. Menggunakan kapal nelayan tradisional saya bergegas meninggalkan dermaga Pulau Harapan menuju tujuan awal, spot Snorkeling Genteng Kecil. Jaraknya lumayan cukup jauh dengan waktu tempuh di kisaran 40-45 menit tapi dengan pemandangan laut biru dan berpuluh-puluh pulau yang mengiringi, perjalanan menjadi tidak membosankan.

Spot Snorkeling Genteng berada di antara pulau Genteng Kecil dan pulau Genteng Besar, spot ini menawarkan keindahan terumbu karang beserta ikan-ikan yang penuh warna dengan arus tenang dan air laut yang jernih. Kedalamannya pun hanya berkisar 1-4 meter atau bisa disebut dangkal. Enaknya kita akan puas melihat-lihat tanpa harus menyelam terlalu dalam namun bahayanya adalah bila tidak hati-hati karang-karang tajam tersebut dapat melukai kaki atau tangan seperti yang saya alami.

Puas di spot Genteng, saya melanjutkan ke spot Macan Gundul. Disini keindahan terumbu karang tidak kalah indah dengan spot sebelumnya tapi keadaan air yang tidak terlalu jernih dengan arus yang cukup deras membuat spot ini menjadi agak kurang "menyenangkan" bagi saya.

Perjalanan dilanjutkan ke dua pulau bernama pulau Dolphin dan pulau Perak. Menikmati pantai pasir putih seraya mengisi perut usai lelah bersnorkeling adalah agendanya. Tak terasa sore pun beranjak, saya dan teman-teman pun bergegas kembali ke kapal untuk menuju pulau Bulat, pulau terakhir sebelum kembali ke pulau Harapan. Di pulau Bulat ini rencananya saya akan menyaksikan indahnya sunset laut Jawa yang cukup indah menurut penuturan Tour Guide saya.

Rencana terlihat akan sempurna mengingat cuaca yang cerah sepanjang hari, matahari setia menemani bahkan hingga sang raja Semesta itu tergelincir di ufuk barat pun tak ada satu awan yang berani menutupinya. Namun rencana hanya tinggal rencana, seketika matahari yang sudah berwarna kuning pucat dan mulai memendarkan sinar merah tiba-tiba menjadi amat sangat pemalu. Tanpa dinyana, dia menyembunyikan dirinya ke dalam awan persis sebelum tenggelam di ujung laut dan menghilang tanpa meninggalkan sedikit lembayung. Ga dapet! :(

Akhirnya dengan hati yang sedikit kesal saya dan teman-teman kembali ke penginapan di pulau Harapan. Makan malam dengan menu Ikan Bakar dan Cumi Goreng Tepung sudah menanti untuk disantap. Selesai makan, saya berjalan-jalan di sekitar pulau Harapan dan ternyata pulau ini cukup ramai dengan warung-warung yang menjual makanan-makanan kecil, jagung bakar dan sate Cumi. Di alun-alun pulau tersebut pun sedang diputar "layar tancep" memasang film berjudul "Alangkah Indahnya Negeri Ini" dalam rangka menyambut hari kemerdekaan Indonesia ke 69 esok harinya.

Minggu, 17 Agustus pagi. Agenda pertama sebenarnya adalah menyaksikan sunrise di dermaga pulau Harapan tapi lagi-lagi alam berkehendak lain. Hujan deras sejak jam 4 hingga jam 6 membuyarkan semua dan kekesalan itu bertambah lagi karena siangnya saya juga gagal ke pulau Penyu lantaran masalah teknis. Jadi hari itu sebelum pulang saya hanya mengantar teman-teman bermain Banana Boat. Pukul 12.00 tepat saya sudah berada kembali di KM Milles untuk perjalanan pulang.

Singkat memang liburan saya kali ini dan jujur saya belum terlalu puas tapi berangkat untuk menjelajah negeri ini di saat peringatan hari kemerdekaannya adalah sebuah pengalaman yang takkan terlupakan, membuat rasa nasionalisme saya semakin membuncah dan menumbuhkan rasa penasaran untuk mengelilingi setiap denyut nadi pesona dan detak jantung kehidupan di seluruh Indonesia yang luas ini.

Let's #ExploreIndonesia! #IndonesiaBagus!

Merdeka!!!

@Destangreys, 2014

Jumat, 08 Agustus 2014

Jangan Skeptis Pada Perubahan!

Keskeptisan pada perubahan selalu membawa kita pada pikiran-pikiran negatif dan ketakutan yang dibuat-buat yang akhirnya menimbulkan ketidakpercayaan pada perubahan itu.

Contoh kecil pada hubungan LDR, si doi biasanya kemana-mana selalu update status Path atau check in Foursquare tapi akhir-akhir ini kok engga ya? Jangan-jangan dia takut ketahuan lagi sama yang lain. Nah ini awalnya cuma jangan-jangan tapi kepikiran-kepikiran terus dan bisa bikin kepercayaan pudar dan hubungan renggang.

So, mari untuk tidak skeptis pada perubahan sekecil apapun. Lebih baik berpikir positif karna ingat apa yang kita takutkan bisa terjadi bila kita terlalu sering memikirkannya.

@Destangreys, 2014

Senin, 09 Juni 2014

Selamat Ulang Tahun #Greysians

Tak terasa hari ini tepat 3 tahun yang lalu saat saya memutuskan membuat sebuah akun Twitter sebagai bahan sharing, pusat informasi dan tempat menyalurkan dukungan untuk seorang Greysia Polii yang tak pernah henti menjadi inspirasi serta idola saya dan banyak teman-teman lain. Bernama awal we're GIC (Greyz Indonesian Community) lalu berubah menjadi #Greysians medio tahun 2012 atas permintaan sang idola saya mencoba konsisten merintis akun ini agar selalu tepat jalur dan accountable sesuai porsinya.

Banyak momen yang takkan bisa saya lupakan sepanjang 3 tahun bersama akun ini. #Greysians dengan luar biasa membawa saya pada pengembaraan-pengembaraan menakjubkan, pengalaman-pengalaman indah yang selama ini hanya jadi mimpi-mimpi belaka.

Bukan hanya momen bersama sang idola Greysia Polii yang terekam dan sekarang terputar ulang di benak tapi juga momen-momen lain penuh kejutan-kejutan. #Greysians membuat saya bertemu teman-teman yang setia mendukung Greysia Polii, membuat saya berteman dengan teman-teman akun fanbase Bulutangkis lain yang seperti tak berbatas wawasan tentang olahraga ini. #Greysians juga mengenalkan saya pada orang-orang hebat yang menantang saya untuk terus maju dan berkembang. Dan yang tak bisa dipungkiri adalah berkat #Greysians juga yang mempertemukan saya dengan seseorang yang Insya Allah mudah-mudahan menjadi pendamping hidup saya selamanya. Ceileh.

Akhirnya, di ulang tahun yang ketiga ini saya #admin1 sebagai pendiri, pelaksana dan penanggungjawab akun #Greysians yang jadi official fanbase account Greysia Polii menghaturkan banyak-banyak terima kasih kepada semua teman-teman yang sudah mau terus setia mendukung dan menyemangati Greys dan juga selalu keep in touch and stick together dengan kami. Terima kasih sudah jadi tenaga untuk kami berlari, sudah jadi mesin untuk kami bergerak. Dan kami sadar kamipun banyak kekurangan tapi kami berjanji untuk semua teman-teman #Greysians kami akan terus perbaiki itu.

Tetap cintai Greys dan #Greysians ya. :)

Oia..big thanks saya dedikasikan buat #admin2 yang (dulu) gembul, admin L dan admin baru yang tak kenal lelah membantu saya mengeksiskan akun ini. Semoga bisa terus seperti itu ya kawan.

"Sesuatu yang dilakukan dengan cinta selalu menghasilkan berkah yang besar"

@Destangreys, 2014

Senin, 12 Mei 2014

Kemana Nasionalisme itu?

Timnas Indonesia senior di bawah asuhan pelatih Alfred Riedl memang menang tipis 1-0 atas timnas Asean All Star di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan Jakarta malam tadi dalam laga bertajuk "Charity Match" namun ada hal menarik sekaligus memalukan yang membuat miris kita sebagai pendukung timnas.

"Kau yang turun atau aku yang naik"

Itulah kata-kata Ferdinand Sinaga, striker timnas Indonesia yang sejurus kemudian nekat memanjat tribun mengejar penonton yang meneriakinya. Yap, Ferdinand yang masuk di babak mendapat sorakan, ejekan dan teriakan-teriakan kotor bahkan sejak dia melakukan pemanasan di pinggir lapangan. Tak hanya Ferdinand, pemain seperti Hariono dan Supardi pun tak luput dari hal serupa. Berlebihan memang reaksi dari Ferdinand namun diperlakukan seperti itu sepanjang laga oleh penonton yang notabene pendukung negeri sendiri juga bukan sesuatu yang menyenangkan.

Menilik kejadian itu, jelas rasanya kalau yang menjadi target sasaran adalah pemain Persib Bandung dan jelas pula pelakunya adalah oknum pendukung Persija Jakarta yang hadir usai mendukung tim idolanya bertanding di pertandingan eksebisi kontra Ajax Amsterdam yang digelar persis sebelum pertandingan itu di stadion yang sama.

Pelik memang bila kita merunut benang merah dengan apa yang terjadi selama ini, imbas dan buntut yang tak kunjung selesai membuat kita berpikir perseteruan mengakar antara pendukung Persija dan Persib ini memang tak ada solusinya. Perjanjian damai kedua belah pihak yang ditandatangani bulan lalu pun nyatanya belum mampu menghindarkan Sepak Bola kita dari chaos. Bahkan di media sosial kita masih sangat mudah menemukan saling ejek, saling hina juga saling ancam antara dua pendukung ini.

Dan kejadian semalam menurut saya sudah sangat keterlaluan. Di saat timnas kita sedang berusaha bangkit dan mengukir prestasi, di saat timnas kita butuh semangat dan motivasi beberapa orang oknum tak bermoral itu malah melecehkan pemain timnasnya sendiri dengan dasar yang sangat tidak masuk akal.

Sedendam itukah mereka pada seterunya? Secinta itukah pada klubnya sehingga tidak bisa bedakan lagi mana kepentingan yang lebih penting? Klub atau negara? Hmm..mungkin mereka-mereka ini hanya meniru wakil rakyatnya yang di "Senayan" itu? *Blah kenapa jadi nyenggol ke politik? Hahaha*

Kembali ke pembahasan awal. Ini sekedar informasi bahwa saya yang orang Bandung sempat menyaksikan laga timnas langsung di SUGBK tahun lalu saat melawan Arab Saudi dan kebetulan saya bertemu dengan beberapa orang dari kelompok pendukung Persija Jakarta dan percaya atau tidak saya malah dirangkul karna kata mereka kita itu satu bila sudah mendukung timnas. Tulisan lengkapnya saya tulis disini -> deridestan.blogspot.com/2013/03/tribun-stadion.html?m=1. True story!

Intinya adalah mari kita sama-sama menjaga dan memberi pengertian dan pelajaran bagi pendukung sepak bola terutama oknum-oknum semalam untuk ikut memajukan Sepak Bola Indonesia menuju prestasi gemilang yang tertib, bebas rusuh dan tidak urakan.

"Bila sudah berjersey Merah-Putih dan bersemat Garuda di dada, ayo lepaskan atribut orange, biru, ungu, hijau dan lain-lain karena kita satu, satu Indonesia"

@Destangreys, 2014



Rabu, 30 April 2014

Berbahagialah...

"Bebas memilih selama sesuai dengan pilihan yang ada"

Sebuah kalimat dari sebuah iklan provider ini memang agak mengusik benak saya sejak lama. Bukan apa-apa tapi karena saya selama hidup ini sering kali mengalami hal seperti ini.

Sebagai seorang manusia, bebas memilih dan mengambil keputusan dalam sebuah masalah atau persoalan adalah hak asasi namun pada kenyataannya kebebasan memilih kita itu kadang dibatasi atau bahkan ditentukan oleh pilihan-pilihan orang lain sehingga apa yang kita putuskan bukanlah yang benar-benar kita inginkan. Kadang keputusan itu malah membuat kita tidak nyaman dan terpaksa menjalaninya.

Tidak menyenangkan memang namun bukan berarti kita harus bersedih tentang itu. Tetap berbahagialah dengan keputusan yang diambil seburuk apapun itu, cobalah jalani dengan ikhlas dan sepenuh hati karna Tuhan selalu penuh dengan kejutan manis di setiap langkah hidup kita.

Berbahagialah...

@Destangreys, 2014

Sabtu, 26 April 2014

Giggs, MU dan Debutnya

Ryan Joseph Giggs, lebih dari 23 tahun yang lalu atau 2 Maret 1991 tepatnya saat dia melakukan debut untuk Manchester United sebagai pemain pengganti melawan Everton. Walau kalah 0-2 tapi penampilan itu
menandai perjalanan panjang karir Giggs yang penuh dengan kegemilangan.

Dan malam tadi, pria berkebangsaan Wales itu memulai babak baru dalam hidupnya. Dia berdiri di pinggir lapangan, berjas dan berdasi serta berteriak memberikan instruksi kepada skuat Manchester United. Ya, Giggs baru saja menjalani debut sebagai manajer Setan Merah yang baru menggantikan David Moyes yang didepak Selasa lalu. Debut di Old Trafford melawan Norwich City yang mungkin kembali menjadi momen yang takkan dia lupa dari banyak momen yang dia torehkan disini.

Bagaimana tidak, di debutnya ini Giggs mampu memberikan kemenangan manis 4 gol tanpa balas lewat Rooney dan Mata yang masing-masing mencetak 2 gol. Selain itu, Giggs juga berhasil mengembalikan gairah bermain, fighting spirit dan permainan menghibur khas MU yang tidak kentara kalau tidak boleh disebut hilang selama era David Moyes.

Giggs memang pantas berbahagia karna selain debut memukau, dia ternyata mampu mengemban tugas berat ini, dia juga mampu memunculkan kembali ruh permainan MU dengan sentuhan-sentuhan cepat plus one-touch-passnya dalam polesan kurang dari seminggu.

Dalam pemilihan komposisi pemain Giggs juga terbilang sukses walau agak terlalu berani. Lihat saja, siapa yang menyangka Giggs akan menurunkan old twin tower Ferdinand dan Vidic di jantung pertahanan atau Tom Cleverley yang dipasang menemani Carrick namun "taruhan" Giggs nyatanya berbuah positif. Norwich kesulitan menembus lini belakang MU berkat kesolidan Ferdy-Vida dan lini tengah menjadi cukup seimbang dengan hadirnya Clev. Poros Jones-Valencia yang dipilih caretaker 40 tahun mengisi pos  kanan pun menjadi demikian ampuh merusak sisi kiri Norwich. Giggs pun jeli dalam strategi pergantian pemain, Juan Mata jadi contoh sahihnya. Pemain mungil asal Spanyol ini baru masuk di babak kedua menggantikan Danny Welbeck dan tak dinyana Mata menyumbang 2 gol bagi MU.

Pertanyaannya mampukah Giggs yang dibantu beberapa temannya dari alumni class of 92 seperti Phill Neville, Nicky Butt dan Paul Scholes menampilkan MU terus konsisten seperti ini seperti yang selalu dilakukan "ayah" mereka dahulu, Sir Alex Ferguson. Semoga!

Good luck Welsh Wizard!

@Destangreys, 2014

Selasa, 22 April 2014

#ByeDavidMoyes

51 pertandingan hanya meraup 27 kemenangan, 9 kekalahan dan sisanya imbang, terpuruk di posisi 7 klasemen EPL, gagal berlaga di Liga Champions musim depan setelah tak pernah absen sejak 1995 dan serentetan hasil buruk lainnya membuat manajemen Manchester United akhirnya menyerah, mereka secara resmi memberhentikan David Moyes sebagai manajer klub hari ini.

Ya, pria Skotlandia yang digadang-gadang mampu meneruskan kejayaan MU usai era Sir Alex Ferguson ini memang dianggap gagal memenuhi ekspektasi besar klub dan para fans, dia harus menelan pil pahit bahkan saat musim pertamanya belum usai dari kontrak 6 tahun yang ditandatanganinya.

Sejak awal musim, pelatih berjuluk The Choosen One ini memang diragukan bisa membawa Setan Merah tetap berjaya. Tengok saja hasil pra musim yang tidak meyakinkan dan itu berlanjut di 4 kompetisi resmi yang diikuti dimana MU begitu labil permainannya sehingga terasa sangat sulit untuk meraih kemenangan bahkan dari klub-klub semenjana. Old Trafford pun yang di masa SAF dikenal sebagai stadion yang angker ternyata kehilangan magis di tangan Moyes, tercatat 6 kali MU kalah di kandang. Selain itu Moyes juga hanya membawa 1 kemenangan dari total 8 laga melawan tim big five EPL musim ini yaitu saat menundukkan Arsenal 1-0 di kandang.

Namun walau begitu, sebenarnya Moyes bukan tanpa prestasi menukangi klub tersukses di Inggris Raya ini. Moyes sempat mempersembahkan 1 gelar Community Shield di awal musim, memberikan tiket perempat final Liga Champions dan dia juga hadir sebagai salah satu aktor mendaratnya playmaker handal asal Spanyol Juan Mata dari Chelsea ke Theatre Of Dreams. Dan yang paling fenomenal mungkin adalah saat Moyes mengenalkan pada dunia pemain berbakat yang siap menjadi idola asal Belgia, Adnan Januzaj.

Jadi, sejatinya Moyes adalah manajer yang bagus dan punya kapabilitas menarik hanya mungkin dia belum mampu menangani tim sekelas Manchester United, belum mampu mentransformasi strategi yang pas di dalam maupun luar lapangan dan mungkin apa yang saya sampaikan di akun Twitter beberapa bulan lalu ada benarnya bahwa Moyes belum cukup berwibawa untuk mengasuh pemain-pemain MU dibanding SAF yang sudah seperti ayah, Moyes masih sungkan memaki pemain-pemain MU bila bermain buruk dibanding SAF dengan hair dryer-nya sehingga berimbas pada tidak ada motivasi membakar dalam permainan? Entahlah!

Well, selamat melanjutkan karir David Moyes, terima kasih untuk semua perjuangan dan kerja keras. Suatu hari kamu mungkin akan kembali di saat sudah benar-benar matang dan siap untuk memberi gelar melanjutkan tradisi kejayaan Manchester United. Who knows?

#ByeDavidMoyes

@Destangreys, 2014

Selasa, 15 April 2014

Riky/Richi, Suci/Tiara dan Berry/Ricky



Selain Juaranya Simon Santoso, ada yang menarik dari penampilan beberapa pemain Indonesia yang berlaga di ajang Singapura Super Series 2014 kemarin. Dan itu harusnya menjadi catatan positif bagi PBSI jelang turnamen-turnamen berikutnya wabil khusus turnamen-turnamen yang menjadi target utama juara.

Apresiasi pertama patut diberikan kepada ganda campuran Riky Widianto/Richi Dili Puspita. Sekian lama berada di bayang-bayang Owi/Butet dan Rijal/Debby lalu sekarang mulai disaingi Jordan/Debby akhirnya Riky/Richi menemukan harinya. Mereka tidak disangka mampu melewati hadangan-hadangan lawan berat sebelum akhirnya menembus babak puncak yang menciptakan all Indonesian final melawan sang senior Owi/Butet. Walau gagal menang namun prestasi Riky/Richi boleh dibilang ciamik karna setelah menang WO atas Xu Chen/Ma Jin di perempat final, Riky/Richi melibas unggulan tiga asal korea Ko Sung Hyun/Kim Ha Na dengan skor 20-22 21-17 21-16 di semifinal. Agresifitas serangan dan defense rapat menjadi senjata ampuh mereka berdua.

Setali tiga uang dengan Riky/Richi  Suci Rizki Andini/Tiara Rosalia Nuraidah yang selama ini belum menjawab ekspektasi publik yang berharap banyak pada mereka perlahan mulai terlihat perkembangannya. Terhenti di perempat final memang namun perjuangan pasangan “CLBK” ini patut diacungi jempol. Suci/Tiara mampu membuat repot unggulan tiga Jepang Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi lewat pertandingan 91 menit yang menguras stamina dan adrenalin sebelum kalah “nyesek” 29-30 21-18 20-22.

Dan yang terakhir yang harus diberi cukup apresiasi adalah Berry Angriawan/Ricky Karanda Suwardi yang tak disangka mampu mengalahkan seniornya Angga Pratama/Ryan Agung Saputra di babak kedua.


Lalu, setelah ini harapannya adalah mereka terus berkembang lebih baik dan lebih baik lagi agar skuat gemuk di pelatnas PBSI ini menjadi sangat menjanjikan dan mumpuni sehingga tumpuan bisa disebar kepada semua pemain, tidak bergantung pada satu atau dua sosok sentral yang selama ini menjadi masalah bagi Indonesia. 

@Destangreys, 2014

*courtesy photo : badmintonindonesia.org