Sabtu 16 Agustus 2014 pukul 06.00 pagi, hiruk pikuk aktivitas pasar pelelangan ikan dengan bau khas menyengat menyambut saya di gerbang pelabuhan menuju Dermaga Kali Adem Muara Angke. Berpuluh Kapal Motor tradisional dan semi modern juga Kapal Cepat modern berbaris rapi siap untuk mengantarkan para pencari sensasi keindahan bahari Indonesia di sepanjang gugusan Kepulauan Seribu yang terkenal itu. Selamat datang liburan!
Sebuah Kapal Motor bernama Milles di ujung dermaga sudah sarat penumpang termasuk teman-teman saya yang sudah asyik menempati tempat paling nyaman, inilah Kapal Motor yang akan membawa saya ke tempat tujuan liburan kali ini. saya pun bergegas untuk naik dan mulai menyapa satu persatu teman yang akan menjadi kelompok selama disana. Saat naik ada kekhawatiran tersendiri mendera saya tentang perjalanan ini, 3 jam mengarungi lautan dengan Kapal Motor yang belum terlalu modern untuk pertama kali seumur hidup jelas menimbulkan rasa takut, pikiran mabuk laut terus membayangi walau sebenarnya saya tidak terlalu asing dengan perjalanan laut karena dulu saya sering menggunakan Kapal Feri dari Merak ke Bakauhuni bila akan ke kampung halaman Palembang.
Saya akhirnya memutuskan untuk tidak bergabung dengan teman-teman sekelompok yang memilih tempat di bagian atas Kapal, saya lebih memilih turun ke bawah, ke sebuah ruangan di tengah Kapal. Menghindari angin laut dan ingin melanjutkan tidur jadi alasan saya. Kapal Motor ini didesain dengan 3 ruangan penumpang, lantai paling atas, tengah dan bawah. Lantai atas hanya seperempat bagian yang beratap, sisanya langsung menghadap langit termasuk geladak. Bagian tengah hanya sebagian yang dapat diisi, itupun dengan langit-langit yang sangat pendek, jarak dari lantai ke langit-langit mungkin hanya sekitar 150 cm. Bagian bawah bisa dibilang bagian paling nyaman dari semua bagian di Kapal ini untuk ditempati. Walau tidak bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan tapi ruangan ini cukup luas dan enak untuk yang ingin tidur. Kapal Motor ini tidak dilengkapi tempat duduk, hanya ada matras-matras panjang yang digelar di lantai untuk alas sehingga bisa dipastikan siapa yang lebih cepat datang pasti bisa menentukan posisi yang nyaman dan pilihannya menjadi mengabaikan empati untuk kenyamanan 3 jam atau mengorbankan egoisme demi berbagi pada penumpang lain. Pelajaran moral pertama saya dapat dari hal ini. :)
Sekitar pukul 08.00 WIB, KM Milles menyalakan mesin, melepas jangkar lalu meliuk-liuk meninggalkan dermaga, berayun keluar muara dan sejurus kemudian memasrahkan diri pada pelukan Laut Jawa yang tenang.
Pukul 11.00 WIB saya tiba di tempat tujuan, KM Milles merapat di dermaga utama Pulau Harapan. Yap, Pulau Harapan adalah destinasi saya. Satu dari sekian banyak pulau di gugusan Kepulauan Seribu yang mulai jadi primadona dan alternatif tujuan wisata setelah happening-nya Pulau Tidung beberapa tahun belakangan. Pulau Harapan memang masih cukup asri dan tenang sehingga cocok dijadikan home stay untuk menjelajah pulau-pulau di sekitarnya yang memiliki pesona luar biasa, belum lagi spot-spot Snorkeling yang menawarkan pemandangan bawah laut yang masih lestari dan indah menawan membuat pulau ini boleh jadi pilihan utama wisata bahari yang tidak terlalu jauh dari Ibukota.
Setiba disana saya langsung check in penginapan. Satu rumah dengan 2 kamar ber-AC dan 2 kamar mandi bersih sudah cukup bagi saya dan teman-teman merasakan kenyamanan untuk beristirahat sejenak. Ini juga jadi nilai positif pulau ini untuk jadi home stay wisata.
Istirahat sejenak dan makan siang menjadi agenda pertama saya di pulau ini sebelum tepat pukul 13.00 WIB inti perjalanan saya dimulai. Menggunakan kapal nelayan tradisional saya bergegas meninggalkan dermaga Pulau Harapan menuju tujuan awal, spot Snorkeling Genteng Kecil. Jaraknya lumayan cukup jauh dengan waktu tempuh di kisaran 40-45 menit tapi dengan pemandangan laut biru dan berpuluh-puluh pulau yang mengiringi, perjalanan menjadi tidak membosankan.
Spot Snorkeling Genteng berada di antara pulau Genteng Kecil dan pulau Genteng Besar, spot ini menawarkan keindahan terumbu karang beserta ikan-ikan yang penuh warna dengan arus tenang dan air laut yang jernih. Kedalamannya pun hanya berkisar 1-4 meter atau bisa disebut dangkal. Enaknya kita akan puas melihat-lihat tanpa harus menyelam terlalu dalam namun bahayanya adalah bila tidak hati-hati karang-karang tajam tersebut dapat melukai kaki atau tangan seperti yang saya alami.
Puas di spot Genteng, saya melanjutkan ke spot Macan Gundul. Disini keindahan terumbu karang tidak kalah indah dengan spot sebelumnya tapi keadaan air yang tidak terlalu jernih dengan arus yang cukup deras membuat spot ini menjadi agak kurang "menyenangkan" bagi saya.
Perjalanan dilanjutkan ke dua pulau bernama pulau Dolphin dan pulau Perak. Menikmati pantai pasir putih seraya mengisi perut usai lelah bersnorkeling adalah agendanya. Tak terasa sore pun beranjak, saya dan teman-teman pun bergegas kembali ke kapal untuk menuju pulau Bulat, pulau terakhir sebelum kembali ke pulau Harapan. Di pulau Bulat ini rencananya saya akan menyaksikan indahnya sunset laut Jawa yang cukup indah menurut penuturan Tour Guide saya.
Rencana terlihat akan sempurna mengingat cuaca yang cerah sepanjang hari, matahari setia menemani bahkan hingga sang raja Semesta itu tergelincir di ufuk barat pun tak ada satu awan yang berani menutupinya. Namun rencana hanya tinggal rencana, seketika matahari yang sudah berwarna kuning pucat dan mulai memendarkan sinar merah tiba-tiba menjadi amat sangat pemalu. Tanpa dinyana, dia menyembunyikan dirinya ke dalam awan persis sebelum tenggelam di ujung laut dan menghilang tanpa meninggalkan sedikit lembayung. Ga dapet! :(
Akhirnya dengan hati yang sedikit kesal saya dan teman-teman kembali ke penginapan di pulau Harapan. Makan malam dengan menu Ikan Bakar dan Cumi Goreng Tepung sudah menanti untuk disantap. Selesai makan, saya berjalan-jalan di sekitar pulau Harapan dan ternyata pulau ini cukup ramai dengan warung-warung yang menjual makanan-makanan kecil, jagung bakar dan sate Cumi. Di alun-alun pulau tersebut pun sedang diputar "layar tancep" memasang film berjudul "Alangkah Indahnya Negeri Ini" dalam rangka menyambut hari kemerdekaan Indonesia ke 69 esok harinya.
Minggu, 17 Agustus pagi. Agenda pertama sebenarnya adalah menyaksikan sunrise di dermaga pulau Harapan tapi lagi-lagi alam berkehendak lain. Hujan deras sejak jam 4 hingga jam 6 membuyarkan semua dan kekesalan itu bertambah lagi karena siangnya saya juga gagal ke pulau Penyu lantaran masalah teknis. Jadi hari itu sebelum pulang saya hanya mengantar teman-teman bermain Banana Boat. Pukul 12.00 tepat saya sudah berada kembali di KM Milles untuk perjalanan pulang.
Singkat memang liburan saya kali ini dan jujur saya belum terlalu puas tapi berangkat untuk menjelajah negeri ini di saat peringatan hari kemerdekaannya adalah sebuah pengalaman yang takkan terlupakan, membuat rasa nasionalisme saya semakin membuncah dan menumbuhkan rasa penasaran untuk mengelilingi setiap denyut nadi pesona dan detak jantung kehidupan di seluruh Indonesia yang luas ini.
Let's #ExploreIndonesia! #IndonesiaBagus!
Merdeka!!!
@Destangreys, 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar