Gelaran Kejuaran Dunia Bulutangkis
2014 baru saja rampung malam tadi. 5 juara baru dari 5 nomor berhasil berdiri
di podium tertinggi Ballerup Super Arena
Kopenhagen Denmark tempat berlangsungnya turnamen bintang 5 BWF itu.
Kejutan demi kejutan memang terjadi
selama hampir seminggu penyelenggaraan, tengok saja daftar juara, praktis hanya
nomor ganda campuran yang sesuai prediksi dimana unggulan 1 Zhang Nan/Zhao
Yunlei berhasil merengkuh gelar juara usai menaklukkan Xu Chen/Ma Jin, selebihnya
para juara adalah non unggulan 1.
Kita mulai dari ganda putri, partai
puncak terjadi all Chinese final
antara Tian Qing/Zhao Yunlei melawan Wang Xiaoli/Yu Yang yang masing-masing
hanya menduduki unggulan 5 dan 4. Selain keunggulan peringkat, Wang/Yu yang
lebih difavoritkan juga unggul dalam rekor pertemuan yang mencapai angka 9-3
namun tak dinyana Tian Qing/Zhao Yunlei mampu keluar sebagai juara usai menang
21-19 21-15. Bagi Wang/Yu ini adalah kekalahan kedua berturut di partai puncak
setelah di Taipeh GPG 2014 bulan Juli
lalu juga tumbang dari pasangan Indonesia Greysia/Nitya. Bila bertanya kemana
unggulan 1, 2 dan 3 ganda putri, jawabannya mereka semua rontok sebelum babak
perempat final dihelat. Unggulan 1 China Bao Yixin/Tang Jinhua bertekuk lutut
di babak kedua dari Anggia Shitta/Della Destiara yang mewakili ganda ketiga
Indonesia sementara Ayaka Takahashi/Misaki Matsutomo asal Jepang yang merupakan
unggulan 3 dan Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl unggulan 2 tuan rumah dipaksa
angkat koper di babak ketiga oleh pasangan muda Korea Lee So Hee/Shin Seung
Chan dan pasangan Indonesia Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari.
Beralih ke ganda putra. Absennya
Ahsan/Hendra di kejuaraan ini membuat Lee Yong dae/Yoo Yeon Seong seperti
melangkah sendirian di bursa calon juara dan peluang itu bak cerita David vs Goliath hingga final saat
LYD/YYS tak menemukan kesulitan berarti menapak babak demi babak sebelum
akhirnya cerita berubah horror di satu langkah lagi menuju gelar saat LYD/YYS
harus rela menelan pil pahit ditikung koleganya
sendiri Shin Baek Choel/Ko Sung Hyun dengan pertandingan dramatis 3 game 22-20
21-23 21-18. LYD/YYS yang begitu perkasa di beberapa kejuaraan SS dan SSP
terakhir malah gagal juara di turnamen sepenting Kejuaraan Dunia, bukan kalah
oleh musuh bebuyutan tapi oleh teman sendiri. Sakitnya dua kali mungkln apalagi
bagi LYD yang pernah berpasangan dengan Ko Sung Hyun dan gagal total. Olahraga
memang bisa sangat mengerikan kadang-kadang.
Tapi cerita paling pilu hadir di nomor
tunggal putra dan tunggal putri melalui unggulan 1 nya. Yap, Lee Chong Wei dan
Li Xuerui punya cerita sama di Kejuaraan Dunia tahun ini, sama-sama kembali
gagal juara padahal sudah berada di partai puncak. Lee Chong Wei, Dato’
Malaysia yang sangat mendambakan gelar ini akhirnya harus kembali mengubur
ambisinya usai ditekuk unggulan dua Tiongkok Chen Long setelah tahun lalu LCW
juga tunduk atas Lin Dan yang notabene senior Chen Long. Menyakitkan memang di
saat usia yang tidak lagi muda, LCW lagi-lagi gagal mewujudkan satu dari dua
gelar yang belum didapatnya (Selain belum juara di Kejuraan Dunia, LCW juga
belum pernah juara di Olimpiade) padahal peluang besar ada di depan mata
menyusul tidak hadirnya lawan mengerikan, batu sandungan yang tidak bisa
ditangkal kekuatannya oleh LCW, si Alien
yang hampir sempurna Lin Dan.
Setali tiga uang dengan Lee Chong Wei,
Li Xuerui yang tahun lalu dikalahkan anak ajaib Thailand Ratchanok Intanon,
tahun ini berambisi besar menebus kesalahannya namun ketidakberuntungan
mengganjal pebulutangkis peraih emas Olimpiade London 2012 itu sehingga harus kembali
rela menjadi runner-up usai dipecundangi
anak muda kemarin sore asal Spanyol, Carolina Marin. History is made!
Ada keunikan dari gelar tunggal putri
di Kejuaraan Dunia sejak tahun lalu, dimana Intanon yang juara di 2013 dan
Marin yang juara di 2014 sama-sama mengalahkan Sindhu di semifinal dan Li
Xuerui di final sebelum akhirnya memastikan diri sebagai kampiun. Kebetulan!
Bila membicarakan kejuaraan
Bulutangkis apalagi sekelas Kejuaraan Dunia, kurang sreg rasanya kalau tidak menilik performa arjuna-arjuna dan
srikandi-srikandi Indonesia yang berlaga. Absennya Ahsan/Hendra dan Owi/Butet
yang tahun lalu mempersembahkan gelar juara membuat Indonesia realistis tapi
bukan berarti tanpa target yang jelas.
Nomor ganda putri dan tunggal putra
jelas paling membanggakan dan memenuhi ekspektasi. Walau gagal medali, ganda
putri menjadi sorotan nilai plus usai mengirim wakil terbanyak bagi Merah Putih
di babak perempat final dengan 2 wakil melalui nama Greysia Polii/Nitya
Krishinda dan Anggia Shitta/Della Destiara. Yang menjadi sangat memukau adalah
kedua pasangan ini mampu memulangkan unggulan 1 dan unggulan 2 dengan straight set.
Beralih ke tunggal putra, Tommy
Sugiarto yang melangkah sendirian karena gagal berangkatnya Simon Santoso
membuat beban terasa sangat berat namun Tommy menjawab target semifinal dengan
mulus bahkan mungkin bisa menapak final andai tidak cedera paha di
tengah-tengah laga kontra Chen Long.
Ganda campuran dan ganda putra nampak
pincang tanpa ujung tombak andalan, Indonesia hanya menyisakan Praveen/Debby
dan Angga/Rian di perempat final, itupun akhirnya kandas. Namun penampilan
Praveen/Debby di perempat final patut diacungi jempol, melawan satu dari Fantastic Four yang berstatus tuan
rumah, Praveen/Debby mampu memberikan tekanan dengan mengajak Joachim
Fischer/Christinna Pedersen bermain rubber
game.
Sementara di tunggal putri, tidak ada
kejutan berarti dari pebulutangkis-pebulutangkis kita. Bella dan Linda habis di
babak-babak awal.
Hasil ini memang kurang menggembirakan
apalagi bila indikatornya adalah capaian tahun lalu namun progress manis beberapa pemain harus tetap diapresiasi agar terus
meningkat positif. PBSI harus lebih jeli mengolah persiapan sebelum ajang
bergengsi lain tiba dalam waktu dekat, Asian
Games Incheon 2014.
@Destangreys, 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar