Senin, 01 September 2014

Cerita Dari Kopenhagen!


Gelaran Kejuaran Dunia Bulutangkis 2014 baru saja rampung malam tadi. 5 juara baru dari 5 nomor berhasil berdiri di podium tertinggi Ballerup Super Arena Kopenhagen Denmark tempat berlangsungnya turnamen bintang 5 BWF itu.

Kejutan demi kejutan memang terjadi selama hampir seminggu penyelenggaraan, tengok saja daftar juara, praktis hanya nomor ganda campuran yang sesuai prediksi dimana unggulan 1 Zhang Nan/Zhao Yunlei berhasil merengkuh gelar juara usai menaklukkan Xu Chen/Ma Jin, selebihnya para juara adalah non unggulan 1.

Kita mulai dari ganda putri, partai puncak terjadi all Chinese final antara Tian Qing/Zhao Yunlei melawan Wang Xiaoli/Yu Yang yang masing-masing hanya menduduki unggulan 5 dan 4. Selain keunggulan peringkat, Wang/Yu yang lebih difavoritkan juga unggul dalam rekor pertemuan yang mencapai angka 9-3 namun tak dinyana Tian Qing/Zhao Yunlei mampu keluar sebagai juara usai menang 21-19 21-15. Bagi Wang/Yu ini adalah kekalahan kedua berturut di partai puncak setelah di Taipeh GPG 2014 bulan Juli lalu juga tumbang dari pasangan Indonesia Greysia/Nitya. Bila bertanya kemana unggulan 1, 2 dan 3 ganda putri, jawabannya mereka semua rontok sebelum babak perempat final dihelat. Unggulan 1 China Bao Yixin/Tang Jinhua bertekuk lutut di babak kedua dari Anggia Shitta/Della Destiara yang mewakili ganda ketiga Indonesia sementara Ayaka Takahashi/Misaki Matsutomo asal Jepang yang merupakan unggulan 3 dan Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl unggulan 2 tuan rumah dipaksa angkat koper di babak ketiga oleh pasangan muda Korea Lee So Hee/Shin Seung Chan dan pasangan Indonesia Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari.

Beralih ke ganda putra. Absennya Ahsan/Hendra di kejuaraan ini membuat Lee Yong dae/Yoo Yeon Seong seperti melangkah sendirian di bursa calon juara dan peluang itu bak cerita David vs Goliath hingga final saat LYD/YYS tak menemukan kesulitan berarti menapak babak demi babak sebelum akhirnya cerita berubah horror di satu langkah lagi menuju gelar saat LYD/YYS harus rela menelan pil pahit ditikung koleganya sendiri Shin Baek Choel/Ko Sung Hyun dengan pertandingan dramatis 3 game 22-20 21-23 21-18. LYD/YYS yang begitu perkasa di beberapa kejuaraan SS dan SSP terakhir malah gagal juara di turnamen sepenting Kejuaraan Dunia, bukan kalah oleh musuh bebuyutan tapi oleh teman sendiri. Sakitnya dua kali mungkln apalagi bagi LYD yang pernah berpasangan dengan Ko Sung Hyun dan gagal total. Olahraga memang bisa sangat mengerikan kadang-kadang.

Tapi cerita paling pilu hadir di nomor tunggal putra dan tunggal putri melalui unggulan 1 nya. Yap, Lee Chong Wei dan Li Xuerui punya cerita sama di Kejuaraan Dunia tahun ini, sama-sama kembali gagal juara padahal sudah berada di partai puncak. Lee Chong Wei, Dato’ Malaysia yang sangat mendambakan gelar ini akhirnya harus kembali mengubur ambisinya usai ditekuk unggulan dua Tiongkok Chen Long setelah tahun lalu LCW juga tunduk atas Lin Dan yang notabene senior Chen Long. Menyakitkan memang di saat usia yang tidak lagi muda, LCW lagi-lagi gagal mewujudkan satu dari dua gelar yang belum didapatnya (Selain belum juara di Kejuraan Dunia, LCW juga belum pernah juara di Olimpiade) padahal peluang besar ada di depan mata menyusul tidak hadirnya lawan mengerikan, batu sandungan yang tidak bisa ditangkal kekuatannya oleh LCW, si Alien yang hampir sempurna Lin Dan.

Setali tiga uang dengan Lee Chong Wei, Li Xuerui yang tahun lalu dikalahkan anak ajaib Thailand Ratchanok Intanon, tahun ini berambisi besar menebus kesalahannya namun ketidakberuntungan mengganjal pebulutangkis peraih emas Olimpiade London 2012 itu sehingga harus kembali rela menjadi runner-up usai dipecundangi anak muda kemarin sore asal Spanyol, Carolina Marin. History is made!
 
Ada keunikan dari gelar tunggal putri di Kejuaraan Dunia sejak tahun lalu, dimana Intanon yang juara di 2013 dan Marin yang juara di 2014 sama-sama mengalahkan Sindhu di semifinal dan Li Xuerui di final sebelum akhirnya memastikan diri sebagai kampiun. Kebetulan!

Bila membicarakan kejuaraan Bulutangkis apalagi sekelas Kejuaraan Dunia, kurang sreg rasanya kalau tidak menilik performa arjuna-arjuna dan srikandi-srikandi Indonesia yang berlaga. Absennya Ahsan/Hendra dan Owi/Butet yang tahun lalu mempersembahkan gelar juara membuat Indonesia realistis tapi bukan berarti tanpa target yang jelas.

Nomor ganda putri dan tunggal putra jelas paling membanggakan dan memenuhi ekspektasi. Walau gagal medali, ganda putri menjadi sorotan nilai plus usai mengirim wakil terbanyak bagi Merah Putih di babak perempat final dengan 2 wakil melalui nama Greysia Polii/Nitya Krishinda dan Anggia Shitta/Della Destiara. Yang menjadi sangat memukau adalah kedua pasangan ini mampu memulangkan unggulan 1 dan unggulan 2 dengan straight set.

Beralih ke tunggal putra, Tommy Sugiarto yang melangkah sendirian karena gagal berangkatnya Simon Santoso membuat beban terasa sangat berat namun Tommy menjawab target semifinal dengan mulus bahkan mungkin bisa menapak final andai tidak cedera paha di tengah-tengah laga kontra Chen Long.

Ganda campuran dan ganda putra nampak pincang tanpa ujung tombak andalan, Indonesia hanya menyisakan Praveen/Debby dan Angga/Rian di perempat final, itupun akhirnya kandas. Namun penampilan Praveen/Debby di perempat final patut diacungi jempol, melawan satu dari Fantastic Four yang berstatus tuan rumah, Praveen/Debby mampu memberikan tekanan dengan mengajak Joachim Fischer/Christinna Pedersen bermain rubber game.
Sementara di tunggal putri, tidak ada kejutan berarti dari pebulutangkis-pebulutangkis kita. Bella dan Linda habis di babak-babak awal.

Hasil ini memang kurang menggembirakan apalagi bila indikatornya adalah capaian tahun lalu namun progress manis beberapa pemain harus tetap diapresiasi agar terus meningkat positif. PBSI harus lebih jeli mengolah persiapan sebelum ajang bergengsi lain tiba dalam waktu dekat, Asian Games Incheon 2014

@Destangreys, 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar