Edisi ke-103 kejuaraan bulutangkis All England tahun ini mungkin menjadi
salah satu edisi yang akan paling diingat sepanjang masa. Kejutan penuh kejutan
di setiap babak menjadi pemandangan menarik selama pagelaran, tumbangnya
beberapa unggulan di babak-babak awal tersaji penuh drama di Stadium National indoor Arena di kota Birmingham. Tangis bahagia, sentakan
haru dan emosi kekalahan membaur dalam ketegangan pertandingan bertensi tinggi
pada kejuaraan bulutangkis tertua benua biru.
Dihelat 5-10 Maret kemarin, All England 2013 memberikan
cerita-cerita unik, mencengangkan dan menakjubkan sehingga mampu mengerenyitkan
dahi bagi semua penikmat bulutangkis dunia. Walau dominasi China terlihat mulai
luntur, mereka tetap merengkuh paling banyak gelar dengan 3 juara di nomor
ganda putri, ganda putra dan tunggal putra. Sedangkan, tunggal putri direbut
Denmark dan ganda campuran dipertahankan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir untuk
Garuda Merah-Putih Indonesia.
Di All England kali ini, setiap nomor
menorehkan cerita dan kejutannya masing-masing.
Ganda putri
misalnya. Unggulan 2 asal Denmark Kamilla Ryther Juhl/Christinna Pedersen tanpa
diduga harus angkat koper di babak pertama setelah ditaklukkan ganda baru China
Tian Qing/Bao Yixin, padahal Juhl/Pedersen sudah unggul 21-9 di set pertama
sebelum dibalas 14-21 18-21. Pasangan-pasangan Indonesia tidak banyak berbicara
di nomor ini, mereka rontok di babak-babak awal. Hanya Pia Zebadiah/Rizki
Amelia yang meraih hasil lumayan, menembus perempat final sebelum dibenamkan
pasangan China Ma Jin/Tang Jinhua. Gelar sendiri direbut “The Great Chinese Pair” Wang Xiaoli/Yu Yang yang menundukkan rekan
senegara Shu Cheng/Zhao Yunlei 21-18 21-7.
Di ganda putra,
kejutan lebih sering terjadi. Mundurnya Cai Yun/Fu Haifeng di last minute membuat pasangan Denmark
Mathias Boe/Carsten Mogensen berada di atas angin tetapi gelar malah jatuh
kepada pasangan China lain Liu Xiaolong/Qiu Zihan. Liu/Qiu juga lah yang
memulangkan unggulan 1 tersebut di babak kedua lewat pertarungan 3 set alot
menguras emosi. Kejutan lain di nomor ini datang dari unggulan 3 Korea Selatan
Ko Sung Hyun/Lee Yong Dae yang harus takluk di partai pembuka oleh pasangan non
unggulan Jerman Ingo Kindervater/Johannes Schoettler 2 set langsung 21-23
18-21. Sementara dari 5 pasangan Indonesia yang turun di babak utama hanya
Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan yang mampu menembus semifinal, 4 sisanya gugur
di babak pertama dan kedua. Ahsan/Hendra sendiri akhirnya harus mengubur
mimpinya menjuarai All England untuk
sementara waktu setelah kalah dari Liu/Qiu di semifinal.
Beralih ke tunggal
putri, Indonesia membuat gebrakan besar usai Lindaweni Fanetri meruntuhkan
raksasa tiongkok Wang Yihan di babak pertama dengan pertarungan hanya 2 set 21-12
21-19. Hasil ini sontak menjadi buah bibir karena publik mungkin sudah lupa
kapan terakhir tunggal putri Indonesia mengalahkan tunggal putri unggulan China
di ajang sebesar All England. Luar Biasa. Kekalahan Wang Yihan ternyata menjadi kejutan
kedua di babak pertama itu karena sebelumnya Li Xuerui peraih emas Olimpiade
London 2012 sekaligus kolega Yihan yang hadir sebagai unggulan pertama juga
takluk dari tunggal Korea Bae Yeon Ju. Linda sendiri melaju hingga perempat
final setelah di babak kedua kembali dengan gemilang mengalahkan salah satu
tunggal handal, Porntip Buranaprasertsuk asal Thailand. Di perempat final,
Linda dihentikan veteran Denmark Tine Baun.
Dan sesungguhnya,
Tine Baun lah pemilik tunggal putri kali ini. Usai mengumumkan akan pensiun
dari bulutangkis profesional setelah All
England, Tine tampil “menggila” sejak awal kejuaraan. Kekalahan Xuerui dan
Yihan di babak awal memperingan langkahnya menuju final. Di final pun Tine “hanya”
bertemu Ratchanok Inthanon yang tanpa diduga berhasil memperdayai unggulan 2
asal India Saina Nehwal di semifinal. Tak pelak, gelar juara ketiga All England berhasil direngkuhnya. Tine
Baun menutup karir dengan kemenangan megah, perasaan mengharu biru dan sambutan
meriah penuh cinta semua orang yang mengenal dirinya. Prestasi cemerlang, kerja
keras, kontribusi dan dedikasi menasbihkan Tine Baun sejajar dengan para
legenda bulutangkis Denmark macam Peter Gade atau Camilla Martin. Bravo!
Minim kejutan justru
terjadi di nomor tunggal putra. Lee Chong Wei unggulan 1 hadir di final
menantang unggulan 2 Chen Long, partai ideal yang dimenangkan Chen Long straight set 17-21 18-21. Taufik Hidayat
yang diharapkan mampu mengeluarkan seluruh kemampuan di All England terakhirnya ternyata tidak dalam level permainan
terbaik, Taufik kalah di babak pertama dari Sho Sasaki. Setali tiga uang dengan
Taufik, Sony Dwi Kuncoro yang digadang-gadang bisa bersaing malah mengalami
cedera punggung sehingga mundur di babak kedua. Tommy Sugiarto yang minggu
sebelumnya menjadi finalis Jerman Terbuka juga hanya menapak perempat final
pasca ditekuk Tanongsak Saensomboonsuk. Kredit mungkin pantas diberikan kepada
putra Thailand itu, berangkat dari kualifikasi Tanongsak berhasil meretas jalan
hingga semifinal sebelum terhenti di tangan Lee Chong Wei.
Di satu nomor
tersisa atau nomor ganda campuran, mutlak menjadi milik Indonesia. Bagaimana
tidak? Selain mempertahankan gelar tahun lalu via nama Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, Indonesia juga berhasil
menempatkan 3 wakil di semifinal mengepung 1 ganda China. Tidak hanya itu, 4
dari 6 pasang ganda Indonesia yang turun mencetak kemenangan penting dari para
unggulan. Dimulai dari Markis Kido/Pia Zebadiah yang mengalahkan unggulan 4
Denmark Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen di babak pertama lalu di
perempat final mengalahkan pasangan Thailand yang menjadi unggulan 6 Sudket
Prapakamol/Saralee Thoungtongkam disusul Fran Kurniawan/Shendy Puspa yang
kandaskan perlawanan unggulan 3 Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying di babak kedua.
Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir juga tidak mau ketinggalan, setelah menghempaskan
unggulan 8 Robert Mateusiak/Nadiezda Zieba di perempat final, Owi/Butet
menghajar unggulan 5 Zhang Nan/Zhao Yunlei di partai puncak untuk pastikan
gelar All England beruntun. Namun dari
semua itu, salut harus disematkan pada Muhammad Rijal/Debby Susanto yang
berhasil menjungkalkan unggulan 1 China Xu Chen/Ma Jin di babak perempat final
lewat pertarungan ketat rubber game 16-21 21-13 21-18. Walau gagal ke final
karena kalah dari Zhang/Zhao namun permainan Rijal/Debby mendapat banyak
pujian.
Kembali ke sang
juara Tontowi/Liliyana, tidak terlalu diuji sejak babak pertama hingga perempat
final. Owi/Butet akhirnya menemukan lawan sepadan di semifinal, rekan senegara
yang selalu menyulitkan Markis Kido/Pia Zebadiah. Benar saja, Owi/Butet tampil
tertekan sepanjang set pertama dan akhirnya harus menyerah 18-21. Di set kedua
Owi/Butet mulai berani keluar menyerang, walau ketat mereka mampu memaksakan
set ketiga dimainkan setelah menang 21-15. Set penentuan, Owi/Butet kembali
tertekan. Kido/Pia bermain cukup apik sehingga merepotkan dan mampu unggul agak
jauh. Ketika kemenangan sudah mengarah pada pasangan adik-kakak ini, mental
kuat Owi/Butet akhirnya mampu keluar dari tekanan lalu membalikkan keadaan, unggul tipis 21-19.
Di final, Owi/Butet
dipertemukan dengan pasangan China Zhang Nan/Zhao Yunlei yang hadir setelah
selalu menghempaskan pasangan Indonesia dari babak kedua hingga semi final.
Wajar, publik agak was-was menyambut laga ini apalagi head-to-head juga tidak memihak pada pasangan Indonesia. Tetapi
kenyataan di lapangan berkata lain, ketenangan serta keberanian Owi/Butet
melancarkan serangan demi serangan membuat Zhang/Zhao terus berada dalam
tekanan. Owi/Butet bermain sangat lepas dan prima, serve, penempatan bola,
rotasi dan set play yang nyaris tanpa
cela, Zhang/Zhao sangat frustasi meladeni permainan mereka ini sehingga dalam
waktu 42 menit, Owi/Butet memastikan juara lewat kemenangan meyakinkan 21-13 21-17.
Walau hanya memboyong 1 gelar
tetapi perjuangan punggawa-punggawa bulutangkis Indonesia layak mendapat
apresiasi, permainan mereka terlihat di atas batas normal. Grafik positif
menunjukkan adanya pergerakan ke arah yang lebih baik sejak kepengurusan baru.
Kinerja dan berbagai kebijakan-kebijakan terapan memang belum sangat kentara
hasilnya tapi terbukti cukup ampuh menaikkan semangat juang pemain di lapangan.
Semoga performa mengesankan ini bisa dipertahankan dan terus ditingkatkan agar
kita bisa segera mengejar ketertinggalan dari para pesaing seperti Thailand dan
Jepang lalu menatap China yang mulai runtuh dominasinya. Semoga!
Hasil lengkap All England 2013 disini
Hasil lengkap All England 2013 disini
@Destangreys, 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar