Senin, 11 Maret 2013

Review All England 2013


Edisi ke-103 kejuaraan bulutangkis All England tahun ini mungkin menjadi salah satu edisi yang akan paling diingat sepanjang masa. Kejutan penuh kejutan di setiap babak menjadi pemandangan menarik selama pagelaran, tumbangnya beberapa unggulan di babak-babak awal tersaji penuh drama di Stadium National indoor Arena di kota Birmingham. Tangis bahagia, sentakan haru dan emosi kekalahan membaur dalam ketegangan pertandingan bertensi tinggi pada kejuaraan bulutangkis tertua benua biru.

Dihelat 5-10 Maret kemarin, All England 2013 memberikan cerita-cerita unik, mencengangkan dan menakjubkan sehingga mampu mengerenyitkan dahi bagi semua penikmat bulutangkis dunia. Walau dominasi China terlihat mulai luntur, mereka tetap merengkuh paling banyak gelar dengan 3 juara di nomor ganda putri, ganda putra dan tunggal putra. Sedangkan, tunggal putri direbut Denmark dan ganda campuran dipertahankan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir untuk Garuda Merah-Putih Indonesia.

Di All England kali ini, setiap nomor menorehkan cerita dan kejutannya masing-masing.

Ganda putri misalnya. Unggulan 2 asal Denmark Kamilla Ryther Juhl/Christinna Pedersen tanpa diduga harus angkat koper di babak pertama setelah ditaklukkan ganda baru China Tian Qing/Bao Yixin, padahal Juhl/Pedersen sudah unggul 21-9 di set pertama sebelum dibalas 14-21 18-21. Pasangan-pasangan Indonesia tidak banyak berbicara di nomor ini, mereka rontok di babak-babak awal. Hanya Pia Zebadiah/Rizki Amelia yang meraih hasil lumayan, menembus perempat final sebelum dibenamkan pasangan China Ma Jin/Tang Jinhua. Gelar sendiri direbut “The Great Chinese Pair” Wang Xiaoli/Yu Yang yang menundukkan rekan senegara Shu Cheng/Zhao Yunlei 21-18 21-7.
Di ganda putra, kejutan lebih sering terjadi. Mundurnya Cai Yun/Fu Haifeng di last minute membuat pasangan Denmark Mathias Boe/Carsten Mogensen berada di atas angin tetapi gelar malah jatuh kepada pasangan China lain Liu Xiaolong/Qiu Zihan. Liu/Qiu juga lah yang memulangkan unggulan 1 tersebut di babak kedua lewat pertarungan 3 set alot menguras emosi. Kejutan lain di nomor ini datang dari unggulan 3 Korea Selatan Ko Sung Hyun/Lee Yong Dae yang harus takluk di partai pembuka oleh pasangan non unggulan Jerman Ingo Kindervater/Johannes Schoettler 2 set langsung 21-23 18-21. Sementara dari 5 pasangan Indonesia yang turun di babak utama hanya Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan yang mampu menembus semifinal, 4 sisanya gugur di babak pertama dan kedua. Ahsan/Hendra sendiri akhirnya harus mengubur mimpinya menjuarai All England untuk sementara waktu setelah kalah dari Liu/Qiu di semifinal.
Beralih ke tunggal putri, Indonesia membuat gebrakan besar usai Lindaweni Fanetri meruntuhkan raksasa tiongkok Wang Yihan di babak pertama dengan pertarungan hanya 2 set 21-12 21-19. Hasil ini sontak menjadi buah bibir karena publik mungkin sudah lupa kapan terakhir tunggal putri Indonesia mengalahkan tunggal putri unggulan China di  ajang sebesar All England. Luar Biasa. Kekalahan Wang Yihan ternyata menjadi kejutan kedua di babak pertama itu karena sebelumnya Li Xuerui peraih emas Olimpiade London 2012 sekaligus kolega Yihan yang hadir sebagai unggulan pertama juga takluk dari tunggal Korea Bae Yeon Ju. Linda sendiri melaju hingga perempat final setelah di babak kedua kembali dengan gemilang mengalahkan salah satu tunggal handal, Porntip Buranaprasertsuk asal Thailand. Di perempat final, Linda dihentikan veteran Denmark Tine Baun. 
Dan sesungguhnya, Tine Baun lah pemilik tunggal putri kali ini. Usai mengumumkan akan pensiun dari bulutangkis profesional setelah All England, Tine tampil “menggila” sejak awal kejuaraan. Kekalahan Xuerui dan Yihan di babak awal memperingan langkahnya menuju final. Di final pun Tine “hanya” bertemu Ratchanok Inthanon yang tanpa diduga berhasil memperdayai unggulan 2 asal India Saina Nehwal di semifinal. Tak pelak, gelar juara ketiga All England berhasil direngkuhnya. Tine Baun menutup karir dengan kemenangan megah, perasaan mengharu biru dan sambutan meriah penuh cinta semua orang yang mengenal dirinya. Prestasi cemerlang, kerja keras, kontribusi dan dedikasi menasbihkan Tine Baun sejajar dengan para legenda bulutangkis Denmark macam Peter Gade atau Camilla Martin. Bravo!
Minim kejutan justru terjadi di nomor tunggal putra. Lee Chong Wei unggulan 1 hadir di final menantang unggulan 2 Chen Long, partai ideal yang dimenangkan Chen Long straight set 17-21 18-21. Taufik Hidayat yang diharapkan mampu mengeluarkan seluruh kemampuan di All England terakhirnya ternyata tidak dalam level permainan terbaik, Taufik kalah di babak pertama dari Sho Sasaki. Setali tiga uang dengan Taufik, Sony Dwi Kuncoro yang digadang-gadang bisa bersaing malah mengalami cedera punggung sehingga mundur di babak kedua. Tommy Sugiarto yang minggu sebelumnya menjadi finalis Jerman Terbuka juga hanya menapak perempat final pasca ditekuk Tanongsak Saensomboonsuk. Kredit mungkin pantas diberikan kepada putra Thailand itu, berangkat dari kualifikasi Tanongsak berhasil meretas jalan hingga semifinal sebelum terhenti di tangan Lee Chong Wei.
Di satu nomor tersisa atau nomor ganda campuran, mutlak menjadi milik Indonesia. Bagaimana tidak? Selain mempertahankan gelar tahun lalu via nama Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, Indonesia juga berhasil menempatkan 3 wakil di semifinal mengepung 1 ganda China. Tidak hanya itu, 4 dari 6 pasang ganda Indonesia yang turun mencetak kemenangan penting dari para unggulan. Dimulai dari Markis Kido/Pia Zebadiah yang mengalahkan unggulan 4 Denmark Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen di babak pertama lalu di perempat final mengalahkan pasangan Thailand yang menjadi unggulan 6 Sudket Prapakamol/Saralee Thoungtongkam disusul Fran Kurniawan/Shendy Puspa yang kandaskan perlawanan unggulan 3 Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying di babak kedua. Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir juga tidak mau ketinggalan, setelah menghempaskan unggulan 8 Robert Mateusiak/Nadiezda Zieba di perempat final, Owi/Butet menghajar unggulan 5 Zhang Nan/Zhao Yunlei di partai puncak untuk pastikan gelar All England beruntun. Namun dari semua itu, salut harus disematkan pada Muhammad Rijal/Debby Susanto yang berhasil menjungkalkan unggulan 1 China Xu Chen/Ma Jin di babak perempat final lewat pertarungan ketat rubber game 16-21 21-13 21-18. Walau gagal ke final karena kalah dari Zhang/Zhao namun permainan Rijal/Debby mendapat banyak pujian.
Kembali ke sang juara Tontowi/Liliyana, tidak terlalu diuji sejak babak pertama hingga perempat final. Owi/Butet akhirnya menemukan lawan sepadan di semifinal, rekan senegara yang selalu menyulitkan Markis Kido/Pia Zebadiah. Benar saja, Owi/Butet tampil tertekan sepanjang set pertama dan akhirnya harus menyerah 18-21. Di set kedua Owi/Butet mulai berani keluar menyerang, walau ketat mereka mampu memaksakan set ketiga dimainkan setelah menang 21-15. Set penentuan, Owi/Butet kembali tertekan. Kido/Pia bermain cukup apik sehingga merepotkan dan mampu unggul agak jauh. Ketika kemenangan sudah mengarah pada pasangan adik-kakak ini, mental kuat Owi/Butet akhirnya mampu keluar dari tekanan lalu membalikkan keadaan, unggul tipis 21-19.
Di final, Owi/Butet dipertemukan dengan pasangan China Zhang Nan/Zhao Yunlei yang hadir setelah selalu menghempaskan pasangan Indonesia dari babak kedua hingga semi final. Wajar, publik agak was-was menyambut laga ini apalagi head-to-head juga tidak memihak pada pasangan Indonesia. Tetapi kenyataan di lapangan berkata lain, ketenangan serta keberanian Owi/Butet melancarkan serangan demi serangan membuat Zhang/Zhao terus berada dalam tekanan. Owi/Butet bermain sangat lepas dan prima, serve, penempatan bola, rotasi dan set play yang nyaris tanpa cela, Zhang/Zhao sangat frustasi meladeni permainan mereka ini sehingga dalam waktu 42 menit, Owi/Butet memastikan juara lewat kemenangan meyakinkan 21-13 21-17.
Walau hanya memboyong 1 gelar tetapi perjuangan punggawa-punggawa bulutangkis Indonesia layak mendapat apresiasi, permainan mereka terlihat di atas batas normal. Grafik positif menunjukkan adanya pergerakan ke arah yang lebih baik sejak kepengurusan baru. Kinerja dan berbagai kebijakan-kebijakan terapan memang belum sangat kentara hasilnya tapi terbukti cukup ampuh menaikkan semangat juang pemain di lapangan. Semoga performa mengesankan ini bisa dipertahankan dan terus ditingkatkan agar kita bisa segera mengejar ketertinggalan dari para pesaing seperti Thailand dan Jepang lalu menatap China yang mulai runtuh dominasinya. Semoga!

Hasil lengkap All England 2013 disini

@Destangreys, 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar