Saya menyukai Srimulat tapi bukan sebagai penggemar nomor satu, mungkin nomor dua setelah Warkop DKI. Tapi saya selalu terkesan dengan gaya lawakan-lawakannya, khas dan menghibur walau terkadang absurd dan kasar. Lalu, ketika mendengar cerita Srimulat akan kembali diangkat ke layar lebar otomatis saya langsung memasukkan itu ke dalam list film wajib ditonton saya. Keinginan saya semakin kuat ketika melihat daftar pemain yang mengisinya, ada nama-nama seperti Reza Rahadian, Rianti Cartwright, Mamiek Prakoso, Gogon, Kabul (Tessy), dan banyak lagi pelawak-pelawak senior Srimulat lainnya.
Setelah rilis pada 11 April 2013, Sabtu
kemarin akhirnya saya bisa menonton film yang berjudul Finding Srimulat dan
disutradarai oleh Charles Ghozali ini. Dan keputusan saya tidak salah, film ini
sangat menghibur dan membuat saya terbahak selain itu juga menyampaikan banyak
pesan kehidupan untuk kita terutama kami para generasi muda.
Kisah dimulai saat Adi (Reza Rahadian) harus
menerima keadaan saat EO tempat dia bekerja harus gulung tikar karena investor
menarik diri tiba-tiba saat akan deal
untuk sebuah acara besar, rupanya hal ini terjadi karena Solim (Fauzi Baadila)
yang merupakan teman sekantor Adi mencuri konsep acara besar tersebut dan
menjualnya pada EO lain. Padahal saat itu Adi sedang membangun rumah tangga
bersama Astrid (Rianti Cartwright) dan sedang membutuhkan banyak dana jelang
kelahiran putra pertamanya. Keadaan itu membuat Adi agak terpuruk tetapi
memutuskan untuk tidak memberi tahu pada Astrid.
Di saat genting, Adi tanpa sengaja bertemu dengan Kadir yang sekarang
diceritakan menekuni usaha rumah makan Soto setelah vakumnya Srimulat dan Adi
yang memang sangat menggemari Srimulat sejak kecil tiba-tiba mempunyai ide
brilian yaitu mementaskan kembali Srimulat. Tak buang tempo, Adi langsung
menghampiri Kadir dan mencoba membujuk Kadir untuk menghidupkan kembali
Srimulat, awalnya Kadir bergeming tapi akhirnya luluh dan menerima ajakan Adi.
Dan Kadir jugalah yang membantu Adi bertemu dengan pentolan-pentolan Srimulat
lainnya macam Tessy, Nunung, Mamiek, Gogon bahkan hingga Djujuk yang tinggal di
Solo.
Ide Adi untuk mementaskan kembali Srimulat
disambut baik oleh anggota-anggotanya dan akhirnya Solo atau Stasiun Balapan
tepatnya dipilih menjadi tempat pentas pertama mereka. Srimulat dan Adi sukses
besar saat pertunjukan itu, tak ayal beritanya menyebar seantero negeri.
Srimulat mulai kembali terdengar gaungnya dan berimbas positif karena ada salah
satu penggemar mereka yang siap menjadi penyandang dana. Adi yang mendengar kabar
itu langsung meretas rencana baru yaitu memboyong kembali Srimulat untuk mentas
di Jakarta apalagi tak lama Icha (Nadila Ernesta) teman Adi menyusul ke Solo
untuk membantu.
Disinilah drama mulai memuncak. Dari mulai
Icha yang ternyata diam-diam mencintai Adi, keasyikan Adi hingga agak melupakan
Astrid sampai meninggalnya sang penyandang dana sebelum uang dicairkan padahal
Adi sudah membayar DP gedung, alat dan lain-lain untuk pementasan di Jakarta
menggunakan uang tabungan pribadi yang sejatinya akan digunakan untuk
persalinan Astrid.
Lalu, apakah yang terjadi selanjutnya?
Berhasilkah Adi mementaskan Srimulat di Jakarta? Bisakah Srimulat bangkit lagi?
Mampukah Adi mengembalikan ekonomi keluarganya yang terpuruk? Mari segera
tonton filmnya di bioskop-bioskop kesayangan kalian. Hehe.
Finding Srimulat sebenarnya bukan film
komedi walau tagline-nya “Selamatkan
Indonesia dengan Tawa”, ini film yang meaningful
menurut saya. Banyak pesan-pesan yang bisa diserap dari menonton film ini.
Keberanian bermimpi dan mewujudkannya jelas
sangat kental pada sosok Adi dan ini yang harus bisa kita contoh sementara
Astrid mengajarkan tentang sebuah cinta yang tulus, kepercayaan pada pasangan
dan kesabaran menanti.
Sedangkan dari sisi global, Finding Srimulat
menebar pesan bagaimana seharusnya kita memperlakukan dan melestarikan budaya
juga bagaimana sebuah kerja keras akan menghasilkan sesuatu yang besar apalagi
bila diikuti dengan keyakinan. Mengingat memori-memori masa jaya memang sangat
indah apalagi bisa mengulanginya dan Srimulat sebagai budaya memang sudah
seharusnya untuk mengulang masa-masa itu sekarang lewat generasi-generasi muda
yang mau peduli. Ayo bangun, bangkit Srimulat!
Di samping itu, Finding Srimulat juga
mengajarkan kita akan tanggung jawab, kesederhanaan, toleransi dan empati pada
sesama. Saat scene penyandang dana
meninggal hal ini akan sangat terasa. Ego dan emosi harus bisa dikendalikan
dengan menghargai orang lain. Saya mengharu biru saat mendengar dialog Mamiek
di scene itu yang saya simpulkan menjadi
seperti ini :
“Srimulat
itu ada untuk menghibur orang, tidak peduli apa yang sedang dirasakan Srimulat
harus bisa bikin orang tertawa dan bahagia. Tapi Srimulat harus bisa empati ke
orang lain, tidak boleh memaksakan kehendak atau tertawa ketika orang lain
bersedih.”
Terakhir, film luar biasa ini mengingatkan
pada kita untuk tidak melupakan keluarga sesibuk apapun kita bekerja, sekalipun pekerjaan itu
nantinya untuk keluarga juga karena tempat pulang kita yang paling nyaman dan hangat
hanyalah keluarga.
Finding Srimulat, keren!
“Ide
bisa dicuri tapi kreativitas dan semangat tidak pernah bisa”. Adi, Finding
Srimulat.
“Semua
orang punya mimpi tapi tidak semua orang bisa mewujudkannya”. Adi, Finding
Srimulat.
“Di
balik setiap pria sukses pasti ada wanita yang gelisah”. Djujuk, Finding
Srimulat
“Kamu
bilang ini untuk kita tapi selama ini kamu kerja sendiri, kita itu ada kamu dan
ada aku”. Astrid, Finding Srimulat
@Destangreys, 2013



Tidak ada komentar:
Posting Komentar