Selasa, 16 April 2013

#FindingSrimulat


Saya menyukai Srimulat tapi bukan sebagai penggemar nomor satu, mungkin nomor dua setelah Warkop DKI. Tapi saya selalu terkesan dengan gaya lawakan-lawakannya, khas dan menghibur walau terkadang absurd dan kasar. Lalu, ketika mendengar cerita Srimulat akan kembali diangkat ke layar lebar otomatis saya langsung memasukkan itu ke dalam list film wajib ditonton saya. Keinginan saya semakin kuat ketika melihat daftar pemain yang mengisinya, ada nama-nama seperti Reza Rahadian, Rianti Cartwright, Mamiek Prakoso, Gogon, Kabul (Tessy), dan banyak lagi pelawak-pelawak senior Srimulat lainnya.

Setelah rilis pada 11 April 2013, Sabtu kemarin akhirnya saya bisa menonton film yang berjudul Finding Srimulat dan disutradarai oleh Charles Ghozali ini. Dan keputusan saya tidak salah, film ini sangat menghibur dan membuat saya terbahak selain itu juga menyampaikan banyak pesan kehidupan untuk kita terutama kami para generasi muda.

Kisah dimulai saat Adi (Reza Rahadian) harus menerima keadaan saat EO tempat dia bekerja harus gulung tikar karena investor menarik diri tiba-tiba saat akan deal untuk sebuah acara besar, rupanya hal ini terjadi karena Solim (Fauzi Baadila) yang merupakan teman sekantor Adi mencuri konsep acara besar tersebut dan menjualnya pada EO lain. Padahal saat itu Adi sedang membangun rumah tangga bersama Astrid (Rianti Cartwright) dan sedang membutuhkan banyak dana jelang kelahiran putra pertamanya. Keadaan itu membuat Adi agak terpuruk tetapi memutuskan untuk tidak memberi tahu pada Astrid.

Di saat genting, Adi tanpa sengaja  bertemu dengan Kadir yang sekarang diceritakan menekuni usaha rumah makan Soto setelah vakumnya Srimulat dan Adi yang memang sangat menggemari Srimulat sejak kecil tiba-tiba mempunyai ide brilian yaitu mementaskan kembali Srimulat. Tak buang tempo, Adi langsung menghampiri Kadir dan mencoba membujuk Kadir untuk menghidupkan kembali Srimulat, awalnya Kadir bergeming tapi akhirnya luluh dan menerima ajakan Adi. Dan Kadir jugalah yang membantu Adi bertemu dengan pentolan-pentolan Srimulat lainnya macam Tessy, Nunung, Mamiek, Gogon bahkan hingga Djujuk yang tinggal di Solo.

Ide Adi untuk mementaskan kembali Srimulat disambut baik oleh anggota-anggotanya dan akhirnya Solo atau Stasiun Balapan tepatnya dipilih menjadi tempat pentas pertama mereka. Srimulat dan Adi sukses besar saat pertunjukan itu, tak ayal beritanya menyebar seantero negeri. Srimulat mulai kembali terdengar gaungnya dan berimbas positif karena ada salah satu penggemar mereka yang siap menjadi penyandang dana. Adi yang mendengar kabar itu langsung meretas rencana baru yaitu memboyong kembali Srimulat untuk mentas di Jakarta apalagi tak lama Icha (Nadila Ernesta) teman Adi menyusul ke Solo untuk membantu.

Disinilah drama mulai memuncak. Dari mulai Icha yang ternyata diam-diam mencintai Adi, keasyikan Adi hingga agak melupakan Astrid sampai meninggalnya sang penyandang dana sebelum uang dicairkan padahal Adi sudah membayar DP gedung, alat dan lain-lain untuk pementasan di Jakarta menggunakan uang tabungan pribadi yang sejatinya akan digunakan untuk persalinan Astrid.

Lalu, apakah yang terjadi selanjutnya? Berhasilkah Adi mementaskan Srimulat di Jakarta? Bisakah Srimulat bangkit lagi? Mampukah Adi mengembalikan ekonomi keluarganya yang terpuruk? Mari segera tonton filmnya di bioskop-bioskop kesayangan kalian. Hehe.

Finding Srimulat sebenarnya bukan film komedi walau tagline-nya “Selamatkan Indonesia dengan Tawa”, ini film yang meaningful menurut saya. Banyak pesan-pesan yang bisa diserap dari menonton film ini.

Keberanian bermimpi dan mewujudkannya jelas sangat kental pada sosok Adi dan ini yang harus bisa kita contoh sementara Astrid mengajarkan tentang sebuah cinta yang tulus, kepercayaan pada pasangan dan kesabaran menanti.

Sedangkan dari sisi global, Finding Srimulat menebar pesan bagaimana seharusnya kita memperlakukan dan melestarikan budaya juga bagaimana sebuah kerja keras akan menghasilkan sesuatu yang besar apalagi bila diikuti dengan keyakinan. Mengingat memori-memori masa jaya memang sangat indah apalagi bisa mengulanginya dan Srimulat sebagai budaya memang sudah seharusnya untuk mengulang masa-masa itu sekarang lewat generasi-generasi muda yang mau peduli. Ayo bangun, bangkit Srimulat!

Di samping itu, Finding Srimulat juga mengajarkan kita akan tanggung jawab, kesederhanaan, toleransi dan empati pada sesama. Saat scene penyandang dana meninggal hal ini akan sangat terasa. Ego dan emosi harus bisa dikendalikan dengan menghargai orang lain. Saya mengharu biru saat mendengar dialog Mamiek di scene itu yang saya simpulkan menjadi seperti ini :

“Srimulat itu ada untuk menghibur orang, tidak peduli apa yang sedang dirasakan Srimulat harus bisa bikin orang tertawa dan bahagia. Tapi Srimulat harus bisa empati ke orang lain, tidak boleh memaksakan kehendak atau tertawa ketika orang lain bersedih.”

Terakhir, film luar biasa ini mengingatkan pada kita untuk tidak melupakan keluarga sesibuk apapun  kita bekerja, sekalipun pekerjaan itu nantinya untuk keluarga juga karena tempat pulang kita yang paling nyaman dan hangat hanyalah keluarga.

Finding Srimulat, keren!

“Ide bisa dicuri tapi kreativitas dan semangat tidak pernah bisa”. Adi, Finding Srimulat.

Semua orang punya mimpi tapi tidak semua orang bisa mewujudkannya”. Adi, Finding Srimulat.

“Di balik setiap pria sukses pasti ada wanita yang gelisah”. Djujuk, Finding Srimulat

“Kamu bilang ini untuk kita tapi selama ini kamu kerja sendiri, kita itu ada kamu dan ada aku”. Astrid, Finding Srimulat

@Destangreys, 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar