Rabu, 27 Februari 2013

Jangan Pernah Takut Menjadi Sport Industry, Bulutangkis Indonesia

2009 dan 2010, mungkin bukan menjadi tahun yang terlalu menggembirakan bagi prestasi bulutangkis Indonesia. Gelar-gelar juara di kejuaraan-kejuaraan internasional yang biasanya mudah diraih bahkan menjadi langganan kini seret dan boleh dibilang menurun drastis. Tengok saja di Tunggal Putra, Indonesia hanya menyabet 2 gelar Super Series lewat Taufik Hidayat di Perancis Super Series dan Sony Dwi Kuncoro di Singapura Super Series tahun ini. Sisanya digondol Lee Chong Wei dari Malaysia dengan 5 gelar dan 3 gelar lainnya dibagi oleh pemain China yaitu Lin Dan, Chen Jin juga Chen Long.

Penurunan ini ditengarai karena sistem regenerasi pemain kita yang belum berjalan seperti yang diharapkan sehingga tumpuan meraih gelar juara masih dibebankan kepada pemain-pemain senior. Tidak hanya tunggal putra yang sangat bergantung pada Taufik Hidayat atau Sony Dwi Kuncoro sebagai ujung tombak tetapi di sektor ganda putra-pun sama, pasangan Markis Kido/Hendra Setiawan tidak memiliki pelapis sepadan untuk berbicara banyak di kejuaraan internasional.

Pemain-pemain yang diharapkan mampu menggantikan peran mereka ternyata cenderung labil dan belum matang, sebut saja Simon Santoso, Dionysius Hayom Rumbaka dan pasangan Mohammad Ahsan/Bona Septano belum menunjukkan tajinya. Walau Hayom juga Ahsan/Bona baru saja mempersembahkan gelar di India Grand Prix minggu lalu tapi itu bukan ukuran untuk bersaing tahun depan.

Namun, kemunduran ini nampaknya tidak diikuti dengan animo masyarakat. Itu tercermin dari kejuaraan-kejuaraan yang diadakan di Indonesia yang tak pernah sepi penonton, baik itu kejuaraan bertaraf internasional seperti Indonesia Open Super Series dan Indonesia Grand Prix Gold atau kejuaraan bertaraf nasional seperti Kejurnas dan Sirnas.

Euforia penonton yang tak pernah padam itu menunjukkan kalau bulutangkis memang masih menjadi harapan rakyat untuk mengharumkan nama Indonesia di kancah olahraga dunia ketika olahraga-olahraga lain belum mampu menunjukkan prestasi yang mengkilap.

Nah, berbicara tentang euforia penonton, ada pemandangan unik di setiap gelaran bulutangkis Indonesia yang mungkin tidak akan dilihat di negara-negara lain yaitu banyaknya orang yang dengan asyiknya menunggu kehadiran pemain pujaannya di depan pintu masuk khusus pemain hanya untuk sekedar meminta tanda tangan hingga berfoto bersama.

Memang, mengidolakan seseorang atas segi dan dasar apapun itu adalah hak seorang penggemar dan juga memiliki harapan serta keinginan atas idolanya tersebut adalah sebuah hal yang lumrah selama mereka ada di dalam koridor yang biasa kita sebut wajar. Tapi ada beberapa orang itu yang menarik perhatian karena mereka tidak berniat menonton pertandingan bulutangkis melainkan hanya berniat mengumpulkan tanda tangan dan foto bersama dengan pemain-pemain pujaan sehingga mereka rela bersabar dan berpanas-panasan dari pagi hingga sore bahkan malam hari untuk menunggu. Mengesankan.

Selain menarik perhatian akhirnya satu pertanyaan mengusik tentang mereka, "Mendambakankah mereka dengan prestasi pemain-pemain pujaan mereka, pedulikah mereka dengan pencapaian juara yang gilang-gemilang pemain-pemain pujaan mereka?"

Tetapi, jawaban dari pertanyaan itu menjadi tidak begitu penting kalau kita melihat bahwa sebenarnya mereka adalah bukti. Bukti akan dukungan dan apresiasi luar biasa masyarakat yang seakan sudah mengakar sangat kuat pada olahraga ini. Sehingga sesungguhnya bila kelak benar-benar menjadi Sport Industry, bulutangkis Indonesia seharusnya tidak perlu takut karena seburuk apapun prestasi dan pencapaian yang sedang dialami kita tidak akan pernah kehilangan porsi penikmat, pencinta, penggemar dan pendukung. Mungkin.

@Destangreys, 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar