2009 dan 2010, mungkin bukan menjadi
tahun yang terlalu menggembirakan bagi prestasi bulutangkis Indonesia.
Gelar-gelar juara di kejuaraan-kejuaraan internasional yang biasanya mudah diraih
bahkan menjadi langganan kini seret dan boleh dibilang menurun drastis. Tengok
saja di Tunggal Putra, Indonesia hanya menyabet 2 gelar Super Series lewat
Taufik Hidayat di Perancis Super Series dan Sony Dwi Kuncoro di Singapura Super
Series tahun ini. Sisanya digondol Lee Chong Wei dari Malaysia dengan 5 gelar
dan 3 gelar lainnya dibagi oleh pemain China yaitu Lin Dan, Chen Jin juga Chen
Long.
Penurunan ini ditengarai karena sistem
regenerasi pemain kita yang belum berjalan seperti yang diharapkan sehingga
tumpuan meraih gelar juara masih dibebankan kepada pemain-pemain senior. Tidak
hanya tunggal putra yang sangat bergantung pada Taufik Hidayat atau Sony Dwi
Kuncoro sebagai ujung tombak tetapi di sektor ganda putra-pun sama, pasangan
Markis Kido/Hendra Setiawan tidak memiliki pelapis sepadan untuk berbicara
banyak di kejuaraan internasional.
Pemain-pemain yang diharapkan mampu
menggantikan peran mereka ternyata cenderung labil dan belum matang, sebut saja
Simon Santoso, Dionysius Hayom Rumbaka dan pasangan Mohammad Ahsan/Bona Septano
belum menunjukkan tajinya. Walau Hayom juga Ahsan/Bona baru saja
mempersembahkan gelar di India Grand Prix minggu lalu tapi itu bukan ukuran
untuk bersaing tahun depan.
Namun, kemunduran ini nampaknya tidak
diikuti dengan animo masyarakat. Itu tercermin dari kejuaraan-kejuaraan yang
diadakan di Indonesia yang tak pernah sepi penonton, baik itu kejuaraan
bertaraf internasional seperti Indonesia Open Super Series dan Indonesia Grand
Prix Gold atau kejuaraan bertaraf nasional seperti Kejurnas dan Sirnas.
Euforia penonton yang tak pernah padam
itu menunjukkan kalau bulutangkis memang masih menjadi harapan rakyat untuk
mengharumkan nama Indonesia di kancah olahraga dunia ketika olahraga-olahraga
lain belum mampu menunjukkan prestasi yang mengkilap.
Nah, berbicara tentang euforia
penonton, ada pemandangan unik di setiap gelaran bulutangkis Indonesia yang
mungkin tidak akan dilihat di negara-negara lain yaitu banyaknya orang yang
dengan asyiknya menunggu kehadiran pemain pujaannya di depan pintu masuk khusus
pemain hanya untuk sekedar meminta tanda tangan hingga berfoto bersama.
Memang, mengidolakan seseorang atas
segi dan dasar apapun itu adalah hak seorang penggemar dan juga memiliki
harapan serta keinginan atas idolanya tersebut adalah sebuah hal yang lumrah
selama mereka ada di dalam koridor yang biasa kita sebut wajar. Tapi ada
beberapa orang itu yang menarik perhatian karena mereka tidak berniat menonton
pertandingan bulutangkis melainkan hanya berniat mengumpulkan tanda tangan dan
foto bersama dengan pemain-pemain pujaan sehingga mereka rela bersabar dan
berpanas-panasan dari pagi hingga sore bahkan malam hari untuk menunggu. Mengesankan.
Selain menarik perhatian akhirnya satu
pertanyaan mengusik tentang mereka, "Mendambakankah mereka dengan prestasi
pemain-pemain pujaan mereka, pedulikah mereka dengan pencapaian juara yang
gilang-gemilang pemain-pemain pujaan mereka?"
Tetapi, jawaban dari pertanyaan itu
menjadi tidak begitu penting kalau kita melihat bahwa sebenarnya mereka adalah
bukti. Bukti akan dukungan dan apresiasi luar biasa masyarakat yang seakan
sudah mengakar sangat kuat pada olahraga ini. Sehingga sesungguhnya bila kelak
benar-benar menjadi Sport Industry,
bulutangkis Indonesia seharusnya tidak perlu takut karena seburuk apapun
prestasi dan pencapaian yang sedang dialami kita tidak akan pernah kehilangan
porsi penikmat, pencinta, penggemar dan pendukung. Mungkin.
@Destangreys, 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar