Minggu, 18 Januari 2015

Sulitnya (Ber)-Legowo

Pilpres atau pemilu presiden 2014 di Indonesia mungkin menjadi episode pemilu langsung paling fenomenal sejak demokrasi bergulir di tahun 1998. Bagaimana tidak, pemilu yang menasbihkan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla sebagai penerus estafet pemerintahan SBY-Boediono selama 5 tahun ke depan ini terus menjadi sorotan masyarakat.

Jokowi-JK yang hanya menang tipis dari pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa ternyata membelah dua golongan, bukan hanya di kalangan elite DPR yang terbelah menjadi dua koalisi yaitu Koalisi Indonesia Hebat (KIH) pendukung Jokowi yang terdiri dari Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan, Partai Nasdem dan Partai Kebangkitan Bangsa dan Koalisi Merah Putih (KMP) yang digawangi Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Demokrat dan Partai Bulan Bintang yang mendukung Prabowo-Hatta tapi juga menjalar ke lapisan masyarakat.

Yap setelah perang panas antara KIH dan KMP yang sempat merebak di akhir tahun kemarin sejalan dengan dilantiknya presiden Jokowi agak mereda, konflik dan gesekan di masyarakat ternyata bukan ikut mereda namun malah terasa semakin kuat apalagi di media sosial. Cuitan-cuitan berisi sindiran, makian dan hujatan pada presiden Jokowi tak henti mendera dari pihak lawan namun para pendukung Jokowi tak kenal diam, serangan balik mereka lancarkan untuk membela, tak jarang twitwar pun terjadi. Hal ini jelas mengganggu stabilitas kehidupan bermasyarakat, semangat gotong royong dan keramahtamahan antar kita pun menjadi luntur.

Pertanyaannya kenapa bisa terjadi begini? Jawabannya cuma satu, karena ternyata akhir-akhir ini kita sedang mengalami krisis ke-legowo-an. Ya kita memang sulit legowo atas apa yang telah terjadi di negara ini. Semua punya pandangan masing-masing dan itu dipaksakan, ego meninggi dan semua jadi serba sok tahu. Sok paling benar dan sok paling bisa mengurus negara.

Ketidaklegowoan ini menjadi sebuah pembenaran dan alat paling ampuh untuk menyerang lawannya yang dianggap salah. Bukan hanya bagi yang anti pemerintahan Jokowi yang harus legowo, yang pro pun harusnya begitu.

Bagi yang anti pemerintahan, legowo lah kalian, masa sudah 2015 masih aja kampanye Prabowo, masa sudah 2015 masih jualan isu SARA, masih jelek-jelekin presiden dengan berita-berita yang masih simpang siur kebenarannya. Ucapan "Jokowi memang presiden tapi bukan presiden pilihan saya" adalah bentuk paling kentara dari ketidaklegowoan itu. Kritik lah presiden dengan cara membangun dan apresiasi lah bila kebijakannya pro rakyat. Sulit kah? Atau gengsi? Entahlah!

Nah bagi yang pro pemerintahan ayo legowo untuk dikritik, untuk diberi saran, jangan merasa tertekan dan merasa disalahi. Wajar karna tak ada yang sempurna. Bila salah ya akui saja dan ikutlah mengkritisi. Saya pendukung Jokowi bahkan sampai hari ini saya masih percaya beliau mampu membawa perubahan positif untuk bangsa ini tapi saya juga tidak menutup mata bahwa beliau melakukan beberapa kesalahan pengambilan keputusan. Wajar.

Jokowi setelah mencetak beberapa gol spektakuler di awal-awal pemerintahan dari mulai pemilihan menteri yang melibatkan KPK dan PPATK, kebijakan pengalihan subsidi BBM ke subsidi produktif, penenggalaman kapal asing yang mencuri ikan di perairan tanah air hingga menolak grasi terpidana hukuman mati kasus narkoba membuat dua blunder fatal yang satunya mengahsilkan gol bunuh diri dalam pemilihan Jaksa Agung dan Kapolri. Blunder pertama berbuah bunuh diri saat melantik Jaksa Agung H.M. Prasetyo yang seorang politisi partai sementara blunder kedua adalah pemilihan Komjen Budi Gunawan sebagai calon tunggal Kapolri yang akhirnya ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK karna kasus korupsi dan gratifikasi. Untungnya Jokowi menyelamatkan bola persis di garis gawangnya dengan menunda pelantikan Kapolri tersebut. Everybody happy and everybody win.

Akhirnya lewat tulisan ini saya ingin mengajak semua saudara sebangsa dan setanah air ini untuk menyudahi perpecahan yang terjadi karna yakinlah musuh paling berbahaya itu bukan datang dari pihak luar tapi dari diri kita sendiri, bukan datang dari intervensi asing tapi dari saudara sendiri. Mari legowo, bersatu, bulatkan tekad dan berjuang bersama demi Merah-Putih, demi Indonesia!!!

Ingat saudaraku, kita bukan politik yang busuk, dimana lawan tidak selamanya lawan dan kawan tidak selamanya kawan. Kita ini bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu, bahasa Indonesia! Selamanya!

#DariSeorangJokowiSide #YangInginRakyatnyaBersatu #MemajukanNegerinya

@Destangreys, 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar