Sabtu, 22 Juni 2013

#NgIstora : Penuh Peluh dan Perjuangan (Bagian 1)



Djarum Indonesia Open Super Series Premiere 2013 (DIO2013) adalah Indonesia Open edisi ke-6 secara berturut saya  hadir di Istora sebagai saksi perjuangan atlet-atlet berjibaku merebut titel juara. Sejak 2008 tak pernah absen, saya sudah hafal betul karakter kejuaraan ini seperti apa dari mulai pagelaran, venue hingga penonton dan atlet-atletnya.

Namun ada perbedaan mencolok dari gelaran tahun ini, DIO2013 benar-benar memberikan banyak cerita mengesankan yang tak terlupakan. Nah..berangkat dari situlah saya memutuskan untuk menceritakannya disini agar kelak suatu hari bila saya lupa kejadian-kejadian itu saya bisa mengingatnya saat membaca tulisan ini. Hehe. Selain juga untuk berbagi pada pembaca setia blog saya. Ceileh.

Cerita dimulai saat mengajukan cuti 3 hari dari tanggal 12 hingga 14 Juni sejak sebulan sebelumnya dan Pimpinan saya mengizinkan. Aman. Tapi ujian pertama datang di akhir bulan Mei, kebijakan cabang untuk tidak cuti selama bulan Juni membuat saya agak panik dan berusaha untuk tetap mendapat cuti. Setelah berdiskusi sana-sini akhirnya saya tetap diperbolehkan cuti dengan syarat tetap bisa dihubungi selama cuti. Aman lagi. Belum lama menghela nafas, tanggal 3 Juni 2013 ujian datang lagi, mutasi mendadak ke Sumedang dari Bandung per tanggal 10 Juni 2013 membuat saya terkejut dan rencana #NgIstora terancam benar-benar gagal. Tapi Tuhan memang sedang baik pada saya saat itu, mutasi saya diundur hingga tanggal 17 Juni dan saya tetap bisa enjoy dengan DIO dan tidak perlu ribet meminta cuti pada Pimpinan baru. 

Istora, here I come! :)

Rabu pagi, 12 Juni pukul 09.00 WIB. Saya bergegas berangkat ke Jakarta, rasa excited dan tidak sabar terus menggelayuti diri saya, selalu ada perasaan ini setiap mau nonton DIO dari tahun ke tahun. Melesat dengan travel sebelum Tol Dalam Kota pukul 11.00 WIB menghambat pertemuan saya dengan DIO yang sudah saling merindukan, hehe. Macetnya keterlaluan dan saya harus bersabar hingga 1,5 jam untuk tiba di Istora. Tapi kekesalan itu langsung terbayar ketika saya mulai memasuki pelataran parkir, kemegahan dan keanggunan DIO membuat saya terkesima dan berdecak kagum lalu melupakan kekesalan-kekesalan selama perjalanan pun kemumetan-kemumetan yang mendera sebelum berangkat. Ada kepuasan dan kenyamanan tersendiri, ada daya tarik magis tersendiri dan ada rasa bahagia yang berlebihan saat itu. Saya merasa disinilah seharusnya tempat saya, rumah saya.



Tak lama, saya langsung menghubungi kakak-kakak dari #TimHore untuk bertemu dan sekedar ngobrol. Saya yang sengaja membawakan oleh-oleh khas Bandung untuk mereka akhirnya berkumpul di depan Media Room, ngampar alias lesehan. Kebetulan saat itu tidak ada pemain Indonesia yang sedang bertanding. Kami asyik ngobrol dan ber-hahahihi. Saya yang menurut mereka adalah “adik kesayangan” akhirnya diberikan nasi kotak sebagai barter telah membawa oleh-oleh dari Bandung. :D

Oia..#TimHore ini adalah sekumpulan kakak-kakak pewarta media cetak maupun online yang selalu bersama ketika ada event atau kejuaraan bulutangkis, nasional maupun internasional. Sebagian dari mereka, saya kenal baik dan menjadi mentor saya sejak setahun lalu bahkan salah satunya sudah saya kenal sejak tahun 2008. Kak Femi, Kak Wina, Mbak Wid, Bang Ega dan Boss Smes adalah beberapanya. Berkumpul bersama mereka bukan hanya membuat saya tahu lebih banyak tentang bulutangkis tapi juga membuat saya selalu terpingkal-pingkal mendengar kocaknya pengalaman liputan mereka. Hope will join with you later!

Setelah kumpul-kumpul manis dengan #TimHore, saya bertemu dengan keluarganya kak #Greys, ya kak Greysia Polii yang saya maksud. Dan *jreng-jreng* 2 tiket VIP langsung digenggam. Hari itu memang sedang digelar babak 1 hari kedua yang mempertandingkan nomor ganda putra, tunggal putra dan ganda putri. Kak #Greys yang berpasangan dengan Nitya Krishinda harus bentrok dengan lawan kuat dari Denmark yang menempati unggulan 3 Christina Pedersen/Kamilla Ryther Juhl.

Saat memutuskan berpisah dengan keluarganya dan menonton sendiri di VIP, masuk lewat pintu utama di A1, venue Istora benar-benar disulap elegan. Minim pencahayaan lampu bahkan cenderung gelap menghadirkan tribun Istora yang terasa lebih “sangar” dan “menakutkan”, lampu yang hanya disorotkan pada 3 court menjadikan arena benar-benar sebagai “Central of View”.

Cukup lama saya di dalam sebelum keluar untuk menjemput teman yang akan nonton bareng sekitar pukul 17.00 WIB. Eh..di luar ketemu Maria Selena, itu lho Putri Indonesia 2011 yang juga atlet basket membela klub Surabaya Fever. Sosoknya sekarang cukup eksis di layar kaca, ia datang dalam rangka memeriahkan DIO2013 sebagai tamu undangan.

Kembali ke A1 setengah jam kemudian, saya sempat menyaksikan beberapa pertandingan dan akhirnya pindah ke B5 yang lebih jelas memantau lapangan 2 tempat dimana Greys/Nitya akan bertanding. Pukul 20.00 WIB, partai yang dinanti-nanti itu pun dimulai, molor 1,5 jam dari jadwal yang ditetapkan.

Malam itu, Gryes/Nitya tampil heroik, mereka menang dengan 3 set yang menguras adrenalin dan stamina. Menegangkan sekaligus mendebarkan. Dukungan ribuan penonton Istora menjadi penyemangat Greys/Nitya juga peneror lawan yang ampuh. Saya saking senangnya juga sempat melakukan selebrasi intimidasi di depan pendukung Pedersen/Juhl yang duduk di belakang saya. 

Di balik kegembiraan menangnya Greys/Nitya, terselip penyesalan yang cukup perih bagi saya. Jadi, setelah match Greys/Nitya saya memutuskan untuk pulang padahal di lapangan 1 sedang bertanding Taufik Hidayat melawan tunggal India. Saya kira Taufik bakal menang sehingga besoknya masih bisa melihat penampilan dia di kejuaraan terakhir sebelum pensiun tapi tak dinyana Taufik menyerah dan harus menghentikan langkahnya. Pertandingan itu menjadi pertandingan terakhir Taufik Hidayat sebagai atlet profesional.

Sebagai pengagum Taufik Hidayat, tidak menyaksikan partai terakhirnya adalah sebuah penyesalan dan penyesalan itu bertambah ketika saya juga tidak bisa menghadiri “Retirement Speech” Taufik di Istora saat babak final. Sekarang entah kapan lagi saya bisa melihat dia mengayun-ayunkan raket dengan pukulan-pukulan ajaib di lapangan namun walau begitu Taufik Hidayat tetaplah seorang maestro bulutangkis dengan semua tinta emas dedikasi dan prestasi untuk Indonesia, bagi saya dia pantas disematkan menjadi legenda hidup bulutangkis Indonesia. Proud of you Aa!

*bersambung 

@Destangreys, 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar