Gelaran Djarum Indonesia Open Super Series Premiere 2013 telah berakhir
kemarin. 7 hari penuh sejak tanggal 10 Juni 2013, Istora Senayan menjadi saksi
euforia dan gegap gempitanya ajang bulutangkis bintang 5 ini.
Secara prestasi, Indonesia
berhasil mengulang keberhasilan tahun lalu dengan merebut 1 gelar lewat
Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan di nomor ganda putra walau pencapaian bisa
dibilang tidak lebih baik. Tahun 2012, Indonesia menempatkan 2 wakil di final
yaitu Simon Santoso yang juara di tunggal putra dan Tontowi Ahmad/Liliyana
Natsir yang harus puas sebagai runner up ganda
campuran, sedangkan tahun ini Indonesia hanya menempatkan 1 wakil di final
dengan 3 semifinalis.
Namun secara penyelenggaraan, Djarum Indonesia Open Super Series Premiere
2013 atau lebih akrab disebut DIO 2013 dianggap sukses besar. Mengambil
tema Pride Of The Nation bercorak
penuh batik sebagai unjuk kebanggaan terhadap bangsa, Djarum yang tahun ini
adalah tahun terakhir menjadi sponsor utama akibat regulasi pemerintah yang
melarang perusahaan rokok menjadi sponsor event olahraga, benar-benar menggarap
kejuaraan ini secara megah dan meriah. Menggabungkan unsur Sport, Entertain dan Shopping
di sekitaran Istora membuat para pengunjung tidak hanya dimanjakan dengan
pertandingan bulutangkis tingkat dunia tapi juga dihibur dengan berbagai macam games, modern dance, marching band dan live
performance, selain itu berbagai macam stand-stand
dan booth-booth makanan, online shop, one stop shop, elektronik
serta kendaraan juga siap membantu melepas penat di jeda pertandingan.
Seperti tahun lalu, DIO 2013 juga
menghadirkan Celebrity Bazaar, booth
yang menjual barang barang milik selebritis seperti Maria Selena, VJ Daniel,
Marissa Nasution, Andien, Luna Maya, Mario Lawalata dan 1 atlet ganda putri
paling terkenal Greysia Polii. Selebriti ini selain membuka bazaar juga turut
hadir mendukung perjuangan atlet-atlet Indonesia dan mengadakan meet and greet.
Di dalam Istora tak kalah seru, DIO
2013 tahu benar apa yang diinginkan pengunjung. Kursi pijat paling hyaman milik
perusahaan ternama dan pojok recharge
menghiasi sudut-sudut aula Istora bersanding dengan foto-foto memori DIO
edisi-edisi sebelumnya yang bisa dinikmati secara gratis. DIO juga memasang
beberapa layar besar untuk nonton bareng, selain 4 display digital untuk
memantau semua pertandingan yang akan atau sedang berlangsung.
Masuk ke dalam Main Hall, DIO menyajikan pemandangan
berbeda. Dari mulai menggunakan 3 court sejak babak kualifikasi yang
membuat leluasanya para fotografer mengambil gambar dari sideline hingga black dark
pada tribun penonton membuat DIO begitu terasa elegan.
DIO 2013 hanya menyisakan
pekerjaan rumah untuk membasmi oknum calo yang masih berkeliaran dan melambungnya harga tiket yang agak keras
disuarakan agar tahun depan kejuaraan yang sudah menjadi pesta rakyat
bulutangkis Indonesia bisa lebih baik tanpa komplain berlebihan yang sebenarnya
tahun ini sudah tanpa kekurangan berarti.
DIO 2013, two thumbs up!
@Destangreys, 2013





Tidak ada komentar:
Posting Komentar