Sabtu, 22 Juni 2013

#NgIstora : Teror Itu Bernama Tribun Penonton



Ratusan atlet dari 23 negara sudah selesai bertarung di Djarum Indonesia Open Super Series Premiere 2013 pekan lalu. Banyak cerita dan kenangan terselip di sepanjang kejuaraan tahunan berhadiah total 700.000 USD atau hampir sekitar 7 Miliar Rupiah ini.

Salah satu yang akan selalu diingat adalah militansi supporter Indonesia. Gemuruh nyanyian, pekikan yel-yel, gema tepuk tangan dan hentakan kaki dari tribun penonton tak henti membisingkan seisi Istora, tempat penyelengaraan Djarum Indonesia Open Super Series Premiere 2013, kala mendukung atlet-atlet tuan rumah bertanding. Hal ini membuat penonton bulutangkis Indonesia disebut-sebut sebagai penonton paling ‘gila dan ‘menakutkan’.

Atmosfer Istora memang cukup menyeramkan bagi sebagian pemain yang ikut ambil bagian di Djarum Indonesia Open, bila tak kuat mental, bersiap saja angkat koper duluan. Bertanding di Istora bukan hanya harus melawan pemain tapi juga ribuan penonton di tribun yang menciutkan nyali. 

Sudah banyak contoh, termasuk tahun ini, lihat saja di babak pertama saat Sung Ji Hyun unggulan 6, Chen Long unggulan 2, Kenichi Tago unggulan 5 hingga Christina Pedersen/Kamilla Ryther Juhl unggulan 3 yang harus tumbang oleh pemain Indonesia yang sebetulnya peringkatnya di bawah mereka tapi dengan dukungan ribuan orang di publik sendiri, pemain Indonesia mampu tampil di luar batas ekspektasi sehingga mengintimidasi lawan yang sudah gentar diteror bangku penonton. 

Yang paling ngenes mungkin adalah ganda putra nomor 1 dunia asal Korea Selatan Lee Yong Dae/Ko Sung Hyung. Menjadi idola publik Istora dan mendapat dukungan sejak babak pertama karena berparas tampan bak boyband, LYD/KSH harus merasakan sorakan dan cemoohan penonton saat bentrok dengan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan di babak puncak. Situasi ini jelas tidak menguntungkan, mental mereka ambruk dan akhirnya harus menyerahkan gelar juara pada pasangan Indonesia itu sekaligus membuat Istora seperti akan runtuh oleh kegembiraan.

 Cerita tidak mengenakkan tidak hanya punya pemain luar negeri, pemain Indonesia pun tidak luput dari keangkeran Istora. Tidak percaya? Tanya saja pasangan Fran Kurniawan/Shendy Puspa Irawati saat harus melawan idola sejuta umat Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di babak kedua. Fran/Shendy menang game pertama dan seketika Istora terdiam tapi memasuki game kedua saat Owi/Butet mulai in dan terus unggul hingga akhirnya memaksa rubber dan menang, istora kembali bergairah dan semakin menjadi-jadi untuk memberikan dukungan. Pemandangan ini kontras bila Fran/Shendy mendapat poin, tidak ada sorakan memang tapi juga tidak ada dukungan, mereka seperti menjadi common enemy di negeri sendiri.

Mungkin bila Fran/Shendy menang saat itu, headline media akan seperti ini “Kalahkan Owi/Butet, Fran/Shendy kecewakan publik Istora”.

Berikut adalah komentar beberapa atlet tentang penonton Indonesia di Istora yang dirangkum dari berbagai sumber :

“Penonton di Indonesia luar biasa. Mereka seperti pasang loudspeaker. Suaranya sangat keras sekali. Memang cukup mengganggu kami. Tapi itu menjadi keuntungan bagi tim tuan rumah,” Ma Jin.

“Gemuruhnya memang gila. Penonton di Indonesia sangat fantastis. Menurut saya, hal tersebut hanya terjadi di Indonesia. Bahkan bisadibilang penonton Indonesia terbaik di dunia. Tidak ada yang seperti mereka di Negara lain.” Tang Jinhua.

“Suaranya memang cukup mengganggu (penonton Istora). Suaranya sangat keras. Tapi itulah yang membuat even ini sangat meriah “ Yoo Yeon Seong

Kami terganggu dengan supporter yang berisik, tapi kami maklum karena Ahsan/Hendra bermain di kandang sendiri, dukungan supporter sangat membantu mereka. Tadi kami sempat protes kepada wasit karena suasana stadion terlalu bising, ini mengganggu konsentrasi kami.” Ko Sung Hyung

“Kami lebih senang bermain di tempat yang ramai, meskipun terkadang terlalu berisik, tapi kami tetap suka bermain di tempat yang ramai. Pertandingan bulutangkis di Indonesia selalu ramai, berbeda dengan di luar negeri yang selalu sepi, sehingga pertandingan menjadi seru.” Richi Puspita Dili.

“Mereka (Penonton Istora) berteriak sepanjang pertandingan, bersorak, bertepuk tangan, salah satu penonton turnamen yang terbaik yang pernah saya rasakan, dan saya sangat bahagia bisa bertanding di hadapan penonton yang seperti ini.” Juliane Schenk

“Menjadi sebuah kebanggaan bagi saya bisa bertanding di depan penonton seperti ini, saya ingin kembali tiap tahunnya. Di Eropa bulutangkis tidak memiliki begitu banyak fans seperti disini, maka saya pasti akan kembali, selama saya masih bisa bertanding. Saya sering bertanding di berbagai negara, tapi memang tidak ada yang seperti disini.” Marc Zwiebler

“Di game ketiga tadi kita main lebih baik dan berani. Supporter Indonesia luar biasa, kita jadi lebih semangat. Walau ketinggalan tapi mereka tetap dukung.” Nitya Krishinda

“Kemenangan ini bukan untuk kami. Tapi untuk supporter Indonesia. Ini untuk bangsa Indonesia. Berkat dukungan tersebut, saya jadi tampil habis-habisan. Saya merasa tak punya capek sama sekali.  Tapi dukungan penonton membuat kami sadar. Kami harus membalas dukungan tersebut. Kami benar-benar bisa tampil fight berkat support masyarakat Indonesia.” Mohammad Ahsan

“Pasti senang sekali main di Indonesia dengan atmosfer yang berbeda, itu poin plus. Ingin all out. Kalau kalah pasti kecewa juga. Suasananya selalu dirindukan, selalu senang main disini.” Greysia Polii

Kalau sudah begini tak mengherankan kalau Indonesia Open akan selalu ditunggu dan dirindukan, bukan hanya oleh penonton, penggemar dan penikmat bulutangkis tapi oleh semua pihak yang terlibat di dalamnya.

@Destangreys, 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar