Ratusan atlet dari 23 negara
sudah selesai bertarung di Djarum
Indonesia Open Super Series Premiere 2013 pekan lalu. Banyak cerita dan
kenangan terselip di sepanjang kejuaraan tahunan berhadiah total 700.000 USD
atau hampir sekitar 7 Miliar Rupiah ini.
Salah satu yang akan selalu
diingat adalah militansi supporter Indonesia. Gemuruh nyanyian, pekikan
yel-yel, gema tepuk tangan dan hentakan kaki dari tribun penonton tak henti
membisingkan seisi Istora, tempat penyelengaraan Djarum Indonesia Open Super Series Premiere 2013, kala mendukung
atlet-atlet tuan rumah bertanding. Hal ini membuat penonton bulutangkis
Indonesia disebut-sebut sebagai penonton paling ‘gila dan ‘menakutkan’.
Atmosfer Istora memang cukup
menyeramkan bagi sebagian pemain yang ikut ambil bagian di Djarum Indonesia Open, bila tak kuat mental, bersiap saja angkat
koper duluan. Bertanding di Istora bukan hanya harus melawan pemain tapi juga
ribuan penonton di tribun yang menciutkan nyali.
Sudah banyak contoh, termasuk
tahun ini, lihat saja di babak pertama saat Sung Ji Hyun unggulan 6, Chen Long
unggulan 2, Kenichi Tago unggulan 5 hingga Christina Pedersen/Kamilla Ryther
Juhl unggulan 3 yang harus tumbang oleh pemain Indonesia yang sebetulnya
peringkatnya di bawah mereka tapi dengan dukungan ribuan orang di publik
sendiri, pemain Indonesia mampu tampil di luar batas ekspektasi sehingga
mengintimidasi lawan yang sudah gentar diteror bangku penonton.
Yang paling ngenes mungkin adalah ganda putra nomor 1 dunia asal Korea Selatan
Lee Yong Dae/Ko Sung Hyung. Menjadi idola publik Istora dan mendapat dukungan
sejak babak pertama karena berparas tampan bak boyband, LYD/KSH harus merasakan sorakan dan cemoohan penonton saat
bentrok dengan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan di babak puncak. Situasi ini
jelas tidak menguntungkan, mental mereka ambruk dan akhirnya harus menyerahkan
gelar juara pada pasangan Indonesia itu sekaligus membuat Istora seperti akan
runtuh oleh kegembiraan.
Cerita tidak mengenakkan tidak hanya punya
pemain luar negeri, pemain Indonesia pun tidak luput dari keangkeran Istora.
Tidak percaya? Tanya saja pasangan Fran Kurniawan/Shendy Puspa Irawati saat
harus melawan idola sejuta umat Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di babak kedua. Fran/Shendy
menang game pertama dan seketika
Istora terdiam tapi memasuki game
kedua saat Owi/Butet mulai in dan
terus unggul hingga akhirnya memaksa rubber
dan menang, istora kembali bergairah dan semakin menjadi-jadi untuk memberikan
dukungan. Pemandangan ini kontras bila Fran/Shendy mendapat poin, tidak ada
sorakan memang tapi juga tidak ada dukungan, mereka seperti menjadi common enemy di negeri sendiri.
Mungkin bila Fran/Shendy menang
saat itu, headline media akan seperti
ini “Kalahkan Owi/Butet, Fran/Shendy kecewakan publik Istora”.
Berikut adalah komentar beberapa
atlet tentang penonton Indonesia di Istora yang dirangkum dari berbagai sumber
:
“Penonton di Indonesia luar biasa. Mereka seperti pasang loudspeaker.
Suaranya sangat keras sekali. Memang cukup mengganggu kami. Tapi itu menjadi
keuntungan bagi tim tuan rumah,” Ma Jin.
“Gemuruhnya memang gila. Penonton di Indonesia sangat fantastis.
Menurut saya, hal tersebut hanya terjadi di Indonesia. Bahkan bisadibilang
penonton Indonesia terbaik di dunia. Tidak ada yang seperti mereka di Negara
lain.” Tang Jinhua.
“Suaranya memang cukup mengganggu (penonton Istora). Suaranya sangat
keras. Tapi itulah yang membuat even ini sangat meriah “ Yoo Yeon Seong
“Kami terganggu dengan supporter yang berisik, tapi kami maklum karena
Ahsan/Hendra bermain di kandang sendiri, dukungan supporter sangat membantu
mereka. Tadi kami sempat protes kepada wasit karena suasana stadion terlalu
bising, ini mengganggu konsentrasi kami.” Ko Sung Hyung
“Kami lebih senang bermain di tempat yang ramai, meskipun terkadang
terlalu berisik, tapi kami tetap suka bermain di tempat yang ramai.
Pertandingan bulutangkis di Indonesia selalu ramai, berbeda dengan di luar
negeri yang selalu sepi, sehingga pertandingan menjadi seru.” Richi Puspita
Dili.
“Mereka (Penonton Istora) berteriak sepanjang pertandingan, bersorak,
bertepuk tangan, salah satu penonton turnamen yang terbaik yang pernah saya
rasakan, dan saya sangat bahagia bisa bertanding di hadapan penonton yang
seperti ini.” Juliane Schenk
“Menjadi sebuah kebanggaan bagi saya bisa bertanding di depan penonton
seperti ini, saya ingin kembali tiap tahunnya. Di Eropa bulutangkis tidak
memiliki begitu banyak fans seperti disini, maka saya pasti akan kembali,
selama saya masih bisa bertanding. Saya sering bertanding di berbagai negara,
tapi memang tidak ada yang seperti disini.” Marc Zwiebler
“Di game ketiga tadi kita main lebih baik dan berani. Supporter
Indonesia luar biasa, kita jadi lebih semangat. Walau ketinggalan tapi mereka
tetap dukung.” Nitya Krishinda
“Kemenangan ini bukan untuk kami. Tapi untuk supporter Indonesia. Ini
untuk bangsa Indonesia. Berkat dukungan tersebut, saya jadi tampil
habis-habisan. Saya merasa tak punya capek sama sekali. Tapi dukungan penonton membuat kami sadar.
Kami harus membalas dukungan tersebut. Kami benar-benar bisa tampil fight
berkat support masyarakat Indonesia.” Mohammad Ahsan
“Pasti senang sekali main di Indonesia dengan atmosfer yang berbeda,
itu poin plus. Ingin all out. Kalau kalah pasti kecewa juga. Suasananya selalu
dirindukan, selalu senang main disini.” Greysia Polii
Kalau sudah begini tak
mengherankan kalau Indonesia Open
akan selalu ditunggu dan dirindukan, bukan hanya oleh penonton, penggemar dan
penikmat bulutangkis tapi oleh semua pihak yang terlibat di dalamnya.
@Destangreys, 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar