“Greysia Polii mengibaratkan atlit perempuan seperti tokoh kartun
anak-anak perempuan superhero, Powerpuff girl, yang tangguh meski masih berusia
dini. Ia menunjukkan karakter ini dalam kegigihannya meraih kemenangan sejak usia
5 tahun. Hasilnya, sebuah medali emas untuk Indonesia pada Asian Games 2014
yang telah dinanti selama lebih dari tiga dekade.”
Meski telihat garang di lapangan,
dan pembawaan yang sedikit tomboy, tidak
sulit ternyata untuk menonjolkan sisi feminim seorang Greysia Polii, atlet
nasional ganda putri Bulutangkis. Dengan sedikit sentuhan makeup, ia dengan cepat bertransformasi
layaknya seorang bintang televisi. Ia juga tidak tampak canggung melakukan
berbagai pose di depan kamera. Sesekali ia meminta kakak, ibunya, atau salah
satu rekan atlet untuk memotretnya ketika sedang bergaya di depan kamera
fotografer yang tak lama setelah itu langsung ia unggah ke akun media
sosialnya.
Greysia cukup serius mengelola
media sosialnya, terutama di Instagram dan Twitter. Baginya itu menjadi salah
satu cara untuk lebih dikenal masyarakat. “Era kami saat ini berbeda sekali
dengan era Susi Susanti. Tidak ada orang Indonesia yang tidak mengenalnya, atau
setidaknya mengenal namanya”, ungka Greysia saat ditemui awal Desember lalu di
pusat pelatihan nasonal Bulutangkis, Cipayung, Jakarta. Greysia mengakui bahwa
atlet tidak lagi menjadi tokoh favorit masyarakat, selain karena mungkin
prestasi yang menurun, perhatian media yang semakin kurang, namun juga karena
saat ini masyarakat memiliki lebih banyak pilihan hiburan dibanding dulu. “Atlet
sekarang tidak bisa hanya mengandalkan prestasi di lapangan. Jika ingin dikenal
lebih luas, kami harus rajin juga ‘memperkenalkan’ diri ke publik. Salah
satunya adalah dengan media sosial,” ungkapnya.
Selain, mengunggah berbagai macam
foto, Greysia cukup rajin mengunggah berbagai quote inspiratif serta mempromosikan kostum olahraga. Saat ini,
Greysia sudah memiliki lebih dari 16.000
followers di akun Instagram dan lebih dari 80 ribu di Twitter. Dengan
kemenangannya baru-baru ini di ajang Asian Games, bisa saja ia akan menjadi
Susi Susanti era baru yang akan dikenal seluruh masyarakat Indonesia.
Marie
Claire (MC) : Anda bersama pasangan bermain anda, Nitya Krishinda Maheswari,
baru saja memenangkan medali emas bagi Bulutangkis ganda putri Indonesia di
ajang Asian Games yang terakhir kali diraih 36 tahun lalu. Bagaimana rasanya
mencapai terobosan seperti itu?
Greysia Polii (GP) : Ini adalah breakthrough
untuk kami. Perjuangan, kerja keras, mimpi-mimpi yang rasanya satu persatu
mulai tercapai. Sejak era Susi Susanti, jarang ada pemain putri yang
berprestasi lagi. Kemenangan ini ibarat tembok batu yang jika kita beri air
terus menerus, akan hancur juga. Di situ ada air mata, tantangan, perjuangan
yang saya lakukan dari kecil. Agak susah sebetulnya diungkapkan dengan
kata-kata
MC
: Apa yang anda lakukan untuk merayakannya waktu itu?
GP : (Sambil tertawa) Dengan minum Soju! Di sela pertandingan, di
tempat kami menginap. Liliyana Natsir sempat berkata pada seluruh atlet
perempuan yang ikut pada Asian Games, bahwa jika ada yang meraih medali emas,
maka kami semua akan minum Soju bersama-sama. Jadi ketika akhirnya saya dan
Nitya bisa memenangkan emas, kami semua minum Soju.
MC
: Menjadi seorang atlet pasti sangat menantang dan butuh pengorbanan yang
sangat besar dalam banyak hal. Apa yang membuat anda bertahan dan maju terus?
GP : Ini adalah mimpi saya sejak kecil. Tidak mudah untuk give up terhadap mimpi-mimpi tersebut
dengan pengorbanan yang telah saya lakukan. Yang kedua adalah keluarga saya. Mereka
juga telah banyak berkorban dalam perjalanan saya sebagai atlet karena mereka
yakin dan percaya saya bisa.
MC
: Berbicara tentang give-up, dulu
anda sempat hampir menyerah dan memutuskan untuk pensiun dari dunia
Bulutangkis?
GP : Ya, itu terjadi di tahun 2012, ketika saya dan partner didiskualifikasi pada ajang
Olimpiade London. Olimpiade adalah mimpi besar seorang atlet dan untuk lolos
masuk Olimpiade kami harus berjuang bertahun-tahun. Momen saya didiskualifikasi
tersebut rasanya adalah puncak emosi saya. Saya mengingat berbagai cedera yang
saya alami, perasaan selalu kalah. Pemikiran itulah yang membuat saya berpikir,
apa sebaiknya saya berhenti saja dan membangun sesuatu yang lain.
MC
: Tapi ternyata anda tetap di Bulutangkis dan malah meraih emas.
GP : Setelah Olimpiade itu saya dilarang ikut bertanding selama
sekitar 4 bulan, sehingga saya memiliki banyak waktu untuk berdiskusi dengan
orang-orang terdekat saya. Mereka semua mendorong saya untuk lanjut dan membuat
target lagi. Meninggalkan Bulutangkis yang sudah saya jalani sejak usia 5 tahun
bukanlah hal yang mudah. Dan kepercayaan orang lain terhadap saya juga membuat
saya percaya diri. Saya juga banyak bermeditasi, berdoa dan berpikir. Saya mengingat-ingat
masa berat yang saya lalui, latihan sampai menangis. Tidak mungkin kan semua
itu saya sia-siakan.
MC
: Apa saja hal-hal yang biasanya membuat seorang atlet tangguh seperti anda
menangis?
GP
: Banyak hal, terutama ketika melawan rasa sakit fisik. Misalnya meskipun
sedang cedera tangan, saya tetap harus latihan setiap hari. Itu rasanya sakit
sekali. Belum lagi tekanan lain, yang membuat saya berpikir, ‘aduh udah ngga kuat’. Ini yang kadang
mengundang perasaan sentimentil keluar.
MC
: Anda mulai bermain Bulutangkis sejak usia 5 tahun. Bagaimana ceritanya waktu
itu bisa terjun ke dunia Bulutangkis?
GP
: Dulu waktu masih tinggal di Manado, banyak orang yang bermain Bulutangkis
sore-sore di depan rumah saya sehingga akhirnya saya ikutan bermain. Ternyata menurut
Mama, saya memiliki bakat yang menonjol di usia sedini itu. Kebetulan salah
satu tante saya adalah pemain Uber Cup
tahun ‘60an, jadi memang mungkin itu sudah bakat dalam keluarga juga. Melihat bakat
saya terus berkembang, Mama mengusulkan saya bergabung dengan klub Jayaraya di Jakarta.
Jadi kami pun pindah ke Jakarta saat saya berusia 8 tahun dan pada usia 15
tahun saya bergabung dengan Pelatnas.
MC : Bagaimana menjalani disiplin tinggi sebagai
atlet dari usia yang sangat dini?
GP
: Pastinya berat. Malam hari saya jarang misalnya ada kesempatan untuk
menonton TV karena Mama menyuruh saya tidur awal agar besoknya bisa bangun
pukul 5 pagi untuk latihan sebelum berangkat sekolah. Ketika masuk Pelatnas,
disiplin lebih ketat lagi dengan jam latihan lebih panjang yang ditambah
sekolah malam.
MC
: Masa remaja anda berbeda dari kebanyakan teman sebaya. Ada tidak persasaan
iri atau godaan untuk memiliki kehidupan seperti mereka juga?
GP
: Jangankan dulu, sampai sekarang saya masih merasakan itu. Awalnya agak
susah juga untuk menyesuaikan waktu dengan teman-teman saya yang bukan atlet
karena waktu saya yang sangat ketat. Misalnya peraturan di Pelatnas
mengharuskan kami pulang sebelum jam 9 malam, sehingga ketika keluar malam,
tiap sebentar saja akan lirik jam. Tapi pada akhirnya mereka sendiri yang
menyesuaikan dengan jadwal saya.
MC
: Bagaimana dengan kehidupan percintaan? Masih ada waktu untuk pacar?
GP
: (Sambil tersenyum dan diam sesaat)
Hmm..harus dijawab ini ya? Ya ada sih, dan
dia juga yang harus menyesuaikan waktu dengan jadwal saya.
MC
: Dengan pola kehidupan disipilin dan pengorbanan yang anda lakukan untuk
menjalani karier sebagai atlet. Apakah anda memandang diri anda berbeda dari
perempuan-perempuan lain?
GP
: Salah satu kriteria yang wajib dimiliki seorang atlet pastinya harus
tangguh, baik perempuan atau laki-laki. Kami kuat karena memang sudah ditempa
sejak kecil untuk menghadapi berbagai masalah yang harus kami hadapi dan
selesaikan sendiri. Kami juga tidak bisa cengeng atau manja dan dengan mengadu
pada orang tua. Kami ibaratnya karakter di Powerpuff
Girl, berlatih keras dari kecil, dituntut dewasa sebelum waktunya, dan
memikul tanggung jawab untuk membela negara karena kami juga adalah aset
bangsa. Setiap atlet harus merasakan itu, memiliki kelebihan yang harus kami
pertanggungjawabkan.
MC
: Atlet bukanlah karier yang lama, dan banyak atlet yang setelah pensiun tidak
memiliki masa depan yang pasti. Bagaimana dengan rencana anda?
GP
: Target saya di sini hingga tahun 2016. Saya sudah memiliki beberapa
rencana yang ingin saya lakukan nanti. Di negara kita belum ada program pensiun
khusus untuk atlet nasional yang diterapkan di beberapa negara, jadi semuanya
memang tergantung pada masing-masing atlet. Saya sendiri memutuskan untuk
kuliah mempelajari Alutansi Perpajakan dengan beasiswa kerjasama PBSI dan
Universitas Triskati. Itu merupakan pilihan satu-satunya yang bisa saya ambil
sesuai dengan kesibukan saya sebagai atlet. Saya bersikeras untuk kuliah karena
saya ingin tetap punya wawasan yang luas. Selama ini ada paradigma bahwa atlet
tidak harus berpendidikan tinggi. Tapi saya ingin mengubah itu dengan menjadi
atlet yang berprestasi tapi tetap berpendidikan.
MC
: Lalu target anda untuk 2015 ini?
GP
: Saat ini saya menempati posisi 8
dunia, jadi tahun depan tentunya ingin naik peringkat
MC
: Jadi nomor 1 dunia?
GP
: (Tertawa) Saya akan berusaha yang
terbaik!
*Sumber : Majalah Marie Claire Indonesia edisi Januari 2015
@Destangreys, 2015


Tidak ada komentar:
Posting Komentar