Minggu, 22 Maret 2015

Greysia Polii : The Powerpuff Girl



“Greysia Polii mengibaratkan atlit perempuan seperti tokoh kartun anak-anak perempuan superhero, Powerpuff girl, yang tangguh meski masih berusia dini. Ia menunjukkan karakter ini dalam kegigihannya meraih kemenangan sejak usia 5 tahun. Hasilnya, sebuah medali emas untuk Indonesia pada Asian Games 2014 yang telah dinanti selama lebih dari tiga dekade.”

Meski telihat garang di lapangan, dan pembawaan yang sedikit tomboy, tidak sulit ternyata untuk menonjolkan sisi feminim seorang Greysia Polii, atlet nasional ganda putri Bulutangkis. Dengan sedikit sentuhan makeup, ia dengan cepat bertransformasi layaknya seorang bintang televisi. Ia juga tidak tampak canggung melakukan berbagai pose di depan kamera. Sesekali ia meminta kakak, ibunya, atau salah satu rekan atlet untuk memotretnya ketika sedang bergaya di depan kamera fotografer yang tak lama setelah itu langsung ia unggah ke akun media sosialnya.

Greysia cukup serius mengelola media sosialnya, terutama di Instagram dan Twitter. Baginya itu menjadi salah satu cara untuk lebih dikenal masyarakat. “Era kami saat ini berbeda sekali dengan era Susi Susanti. Tidak ada orang Indonesia yang tidak mengenalnya, atau setidaknya mengenal namanya”, ungka Greysia saat ditemui awal Desember lalu di pusat pelatihan nasonal Bulutangkis, Cipayung, Jakarta. Greysia mengakui bahwa atlet tidak lagi menjadi tokoh favorit masyarakat, selain karena mungkin prestasi yang menurun, perhatian media yang semakin kurang, namun juga karena saat ini masyarakat memiliki lebih banyak pilihan hiburan dibanding dulu. “Atlet sekarang tidak bisa hanya mengandalkan prestasi di lapangan. Jika ingin dikenal lebih luas, kami harus rajin juga ‘memperkenalkan’ diri ke publik. Salah satunya adalah dengan media sosial,” ungkapnya.

Selain, mengunggah berbagai macam foto, Greysia cukup rajin mengunggah berbagai quote inspiratif serta mempromosikan kostum olahraga. Saat ini, Greysia sudah memiliki lebih dari 16.000 followers di akun Instagram dan lebih dari 80 ribu di Twitter. Dengan kemenangannya baru-baru ini di ajang Asian Games, bisa saja ia akan menjadi Susi Susanti era baru yang akan dikenal seluruh masyarakat Indonesia.

Marie Claire (MC) : Anda bersama pasangan bermain anda, Nitya Krishinda Maheswari, baru saja memenangkan medali emas bagi Bulutangkis ganda putri Indonesia di ajang Asian Games yang terakhir kali diraih 36 tahun lalu. Bagaimana rasanya mencapai terobosan seperti itu?
Greysia Polii (GP) : Ini adalah breakthrough untuk kami. Perjuangan, kerja keras, mimpi-mimpi yang rasanya satu persatu mulai tercapai. Sejak era Susi Susanti, jarang ada pemain putri yang berprestasi lagi. Kemenangan ini ibarat tembok batu yang jika kita beri air terus menerus, akan hancur juga. Di situ ada air mata, tantangan, perjuangan yang saya lakukan dari kecil. Agak susah sebetulnya diungkapkan dengan kata-kata

MC : Apa yang anda lakukan untuk merayakannya waktu itu?
GP : (Sambil tertawa) Dengan minum Soju! Di sela pertandingan, di tempat kami menginap. Liliyana Natsir sempat berkata pada seluruh atlet perempuan yang ikut pada Asian Games, bahwa jika ada yang meraih medali emas, maka kami semua akan minum Soju bersama-sama. Jadi ketika akhirnya saya dan Nitya bisa memenangkan emas, kami semua minum Soju.

MC : Menjadi seorang atlet pasti sangat menantang dan butuh pengorbanan yang sangat besar dalam banyak hal. Apa yang membuat anda bertahan dan maju terus?
GP : Ini adalah mimpi saya sejak kecil. Tidak mudah untuk give up terhadap mimpi-mimpi tersebut dengan pengorbanan yang telah saya lakukan. Yang kedua adalah keluarga saya. Mereka juga telah banyak berkorban dalam perjalanan saya sebagai atlet karena mereka yakin dan percaya saya bisa.

MC : Berbicara tentang give-up, dulu anda sempat hampir menyerah dan memutuskan untuk pensiun dari dunia Bulutangkis?
GP : Ya, itu terjadi di tahun 2012, ketika saya dan partner didiskualifikasi pada ajang Olimpiade London. Olimpiade adalah mimpi besar seorang atlet dan untuk lolos masuk Olimpiade kami harus berjuang bertahun-tahun. Momen saya didiskualifikasi tersebut rasanya adalah puncak emosi saya. Saya mengingat berbagai cedera yang saya alami, perasaan selalu kalah. Pemikiran itulah yang membuat saya berpikir, apa sebaiknya saya berhenti saja dan membangun sesuatu yang lain.

MC : Tapi ternyata anda tetap di Bulutangkis dan malah meraih emas.
GP : Setelah Olimpiade itu saya dilarang ikut bertanding selama sekitar 4 bulan, sehingga saya memiliki banyak waktu untuk berdiskusi dengan orang-orang terdekat saya. Mereka semua mendorong saya untuk lanjut dan membuat target lagi. Meninggalkan Bulutangkis yang sudah saya jalani sejak usia 5 tahun bukanlah hal yang mudah. Dan kepercayaan orang lain terhadap saya juga membuat saya percaya diri. Saya juga banyak bermeditasi, berdoa dan berpikir. Saya mengingat-ingat masa berat yang saya lalui, latihan sampai menangis. Tidak mungkin kan semua itu saya sia-siakan.

MC : Apa saja hal-hal yang biasanya membuat seorang atlet tangguh seperti anda menangis?
GP : Banyak hal, terutama ketika melawan rasa sakit fisik. Misalnya meskipun sedang cedera tangan, saya tetap harus latihan setiap hari. Itu rasanya sakit sekali. Belum lagi tekanan lain, yang membuat saya berpikir, ‘aduh udah ngga kuat’. Ini yang kadang mengundang perasaan sentimentil keluar.

MC : Anda mulai bermain Bulutangkis sejak usia 5 tahun. Bagaimana ceritanya waktu itu bisa terjun ke dunia Bulutangkis?
GP : Dulu waktu masih tinggal di Manado, banyak orang yang bermain Bulutangkis sore-sore di depan rumah saya sehingga akhirnya saya ikutan bermain. Ternyata menurut Mama, saya memiliki bakat yang menonjol di usia sedini itu. Kebetulan salah satu tante saya adalah pemain Uber Cup tahun ‘60an, jadi memang mungkin itu sudah bakat dalam keluarga juga. Melihat bakat saya terus berkembang, Mama mengusulkan saya bergabung dengan klub Jayaraya di Jakarta. Jadi kami pun pindah ke Jakarta saat saya berusia 8 tahun dan pada usia 15 tahun saya bergabung dengan Pelatnas.

MC  : Bagaimana menjalani disiplin tinggi sebagai atlet dari usia yang sangat dini?
GP : Pastinya berat. Malam hari saya jarang misalnya ada kesempatan untuk menonton TV karena Mama menyuruh saya tidur awal agar besoknya bisa bangun pukul 5 pagi untuk latihan sebelum berangkat sekolah. Ketika masuk Pelatnas, disiplin lebih ketat lagi dengan jam latihan lebih panjang yang ditambah sekolah malam.

MC : Masa remaja anda berbeda dari kebanyakan teman sebaya. Ada tidak persasaan iri atau godaan untuk memiliki kehidupan seperti mereka juga?
GP : Jangankan dulu, sampai sekarang saya masih merasakan itu. Awalnya agak susah juga untuk menyesuaikan waktu dengan teman-teman saya yang bukan atlet karena waktu saya yang sangat ketat. Misalnya peraturan di Pelatnas mengharuskan kami pulang sebelum jam 9 malam, sehingga ketika keluar malam, tiap sebentar saja akan lirik jam. Tapi pada akhirnya mereka sendiri yang menyesuaikan dengan jadwal saya.

MC : Bagaimana dengan kehidupan percintaan? Masih ada waktu untuk pacar?
GP :  (Sambil tersenyum dan diam sesaat) Hmm..harus dijawab ini ya? Ya ada sih, dan dia juga yang harus menyesuaikan waktu dengan jadwal saya.

MC : Dengan pola kehidupan disipilin dan pengorbanan yang anda lakukan untuk menjalani karier sebagai atlet. Apakah anda memandang diri anda berbeda dari perempuan-perempuan lain?
GP : Salah satu kriteria yang wajib dimiliki seorang atlet pastinya harus tangguh, baik perempuan atau laki-laki. Kami kuat karena memang sudah ditempa sejak kecil untuk menghadapi berbagai masalah yang harus kami hadapi dan selesaikan sendiri. Kami juga tidak bisa cengeng atau manja dan dengan mengadu pada orang tua. Kami ibaratnya karakter di Powerpuff Girl, berlatih keras dari kecil, dituntut dewasa sebelum waktunya, dan memikul tanggung jawab untuk membela negara karena kami juga adalah aset bangsa. Setiap atlet harus merasakan itu, memiliki kelebihan yang harus kami pertanggungjawabkan.

MC : Atlet bukanlah karier yang lama, dan banyak atlet yang setelah pensiun tidak memiliki masa depan yang pasti. Bagaimana dengan rencana anda?
GP : Target saya di sini hingga tahun 2016. Saya sudah memiliki beberapa rencana yang ingin saya lakukan nanti. Di negara kita belum ada program pensiun khusus untuk atlet nasional yang diterapkan di beberapa negara, jadi semuanya memang tergantung pada masing-masing atlet. Saya sendiri memutuskan untuk kuliah mempelajari Alutansi Perpajakan dengan beasiswa kerjasama PBSI dan Universitas Triskati. Itu merupakan pilihan satu-satunya yang bisa saya ambil sesuai dengan kesibukan saya sebagai atlet. Saya bersikeras untuk kuliah karena saya ingin tetap punya wawasan yang luas. Selama ini ada paradigma bahwa atlet tidak harus berpendidikan tinggi. Tapi saya ingin mengubah itu dengan menjadi atlet yang berprestasi tapi tetap berpendidikan.

MC : Lalu target anda untuk 2015 ini?
GP :  Saat ini saya menempati posisi 8 dunia, jadi tahun depan tentunya ingin naik peringkat

MC : Jadi nomor 1 dunia?
GP :  (Tertawa) Saya akan berusaha yang terbaik!

*Sumber : Majalah Marie Claire Indonesia edisi Januari 2015























@Destangreys, 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar