Rabu, 04 Maret 2015

Belajar Menghargai!

Minggu lalu, beberapa saat sebelum pertandingan babak pertama kompetisi Jerman Grand Prix Gold 2015, berita duka datang dari satu atlet Indonesia, Berry Anggriawan, pasangan dari Rian Agung Saputro di ganda putra ini kehilangan ayahanda tercinta untuk selama-lamanya. Ayahanda Berry meninggal dunia di Indonesia sementara Berry  sedang bersiap di Jerman.

Situasi ini sontak menjadi begitu berat bagi Berry. Tim pelatih dan pengurus PBSI pun menyerahkan keputusan pada Berry sendiri untuk memutuskan lanjut atau mundur di kejuaraan dan pulang ke Indonesia. Memang dispensasi bisa diberikan pada kondisi force majeure seperti itu.

Tapi tak dinyana, Berry memutuskan tetap melanjutkan pertandingan dengan konsekuensi tidak menatap sang ayahanda untuk terakhir kalinya dan mengantar ke peristirahatannya. Sebuah hal yang tidak biasa tapi luar biasa.

Berry bersama Rian memang terhenti di babak perempat final tapi pengorbanannya bernilai gelar juara dan harus diapresiasi setinggi-tingginya. Perjuangan mengharumkan nama bangsa yang menjadi cita-citanya dengan harus mengorbankan banyak hal termasuk hal seberat itu pantas disebut pahlawan sejati. Yakin bahwa Ayahandanya pun akan tersenyum nun jauh disana melihat kegigihan anandanya itu.

Berry adalah satu dari banyak contoh atlet-atlet Indonesia yang rela "berdarah-darah" demi Merah-Putih, yang rela "berpeluh-peluh" demi Ibu Pertiwi.

Jadi bagi saya menghargai mereka itu nomor satu, masalah prestasi atau menang kalah jadi bagian belakang sebagai hasil dan rezeki Tuhan. Toh tak ada orang yang mau kalah kan? :)

Sehingga tak pantas dan tak berhak rupanya untuk mencaci, memaki, mencibir dan menjatuhkan mereka usai memahami apa yang mereka korbankan selama hidupnya untuk menjadi pejuang-pejuang olahraga Indonesia sementara kita hanya disini menonton dan mengomentari seenak udel tanpa memberika kontribusi apa-apa. ;)

@Destangreys, 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar