Rabu, 14 Oktober 2015

Kekalahan Yang Memenangkan

Greysia/Nitya meraih hasil negatif di Denmark Super Series Premiere 2015 usai takluk dari ganda Korea Lee So Hee/Chang Ye Na 13-21 14-21 di babak pertama. Torehan ini mencoreng perjalanan Greys/Nitya yang sejak Juni lalu berada di performa terbaik dengan prestasi mentereng.

Usai juara di Korea Super Series beberapa minggu lalu, Greys/Nitya memang diharapkan mampu berbicara banyak di turnamen ini tapi tak dinyana mereka tampil di luar ekpektasi publik yang besar.

Namun juga kekalahan dari ganda baru Korea yang sedang bagus performanya juga tidak mengejutkan sebenarnya, sebagai catatan Lee/Chang baru saja meraih 2 final di 2 turnamen beruntun sebelum ini (Korea Super Series dan Thailand Grand Prix Gold), ditambah Denmark yang tidak ramah bagi Greysia juga jadi beban tersendiri untuk melangkah lebih jauh. Greysia tercatat sejak 2007 hanya 2 kali lewat dari babak pertama di Denmark Open baik Super Series maupun Super Series Premiere yaitu tahun 2008 dan 2009 bersama Nitya Krishinda Maheswari dengan raihan semifinalis dan babak kedua. Sedangkan 2007, 2010, 2011 dan 2013 Greysia selalu kalah di babak pertama. Sisanya, tahun 2012 dan 2014 Greysia absen.

Selain itu, permainan mereka memang tidak bagus kemarin. Itu diakui keduanya maupun pelatih Greys/Nitya, Eng Hian seperti dikutip dari press release PBSI di badmintonindonesia.org sebagai berikut :

"Di game pertama awalnya pola kami sudah masuk di permainan mereka. Cuma ketika mereka akhirnya ngejar dengan permainan cepat, kami jadi keikut main buru-buru. Jadinya malah jadi boomerang buat kami dan mati-mati sendiri,” kata Nitya

“Hari ini mereka bola-bolanya mateng banget. Sementara kami mau cepat matiin dan nggak sabaran. Seperti kata Nitya tadi, hal tersebut jadi boomerang buat kami. Selain itu bola-bola lawan hari ini jarang mati sendiri, jauh berbeda dengan penampilan mereka di Korea kemarin,” imbuh Greysia.

“Hasil hari ini bisa dibilang kurang menggembirakan. Yang harus lebih diperhatikan adalah bagaimana pola pikir mereka di lapangan. Saat strategi yang mereka jalankan tidak berhasil, saya arahkan mereka untuk tidak panik, tapi mereka malah jadi panik. Jadi pola pikir mereka yang harus dibentuk lagi,” kata Eng Hian.

“Saat pertemuan mereka di Korea strategi berjalan sesuai rencana. Sementara lawan pasti juga kan ada evaluasi. Jadi ketika di sini strateginya tidak berhasil, Greysia/Nitya harus mengantisipasi kondisi ini. Sebaliknya dipikiran mereka malah jadi, kenapa bola susah semua, apa-apa jadi nggak bisa. Mereka harus bisa mengontrol emosi,” tambah Eng Hian lagi.

Tapi jujur, saya tidak terlalu khawatir dengan kekalahan mereka kemarin karena seusai terus berada di puncak performa, Greys/Nitya harus segera kembali menapak ke bumi. Merasakan kekalahan di awal akan membuat pikiran mereka tidak jumawa sehingga fokus latihan dan evaluasi terus dilakukan sambil mencari formula, strategi dan kekuatan baru serta mempertahankan effort yang haus kemenangan dari turnamen ke turnamen. Hal ini perlu mengingat Greys/Nitya yang sekarang adalah Greys/Nitya yang ditakuti, diwaspadai dan diinginkan kekalahannya oleh semua lawannya jadi saya rasa adakalanya Greys/Nitya harus sedikit menurunkan tensi agar deteksi kewaspadaan lawan berkurang.

Dan akhirnya, semoga kekalahan kemarin di babak pertama dari lawan yang sudah pernah dikalahkan mampu memenangkan mereka. Memenangkan hati, mental dan tekad mereka untuk berjuang lebih keras di perjalanan demi sampai dan berprestasi di Olimpiade Rio De Janeiro Brazil tahun depan.

@Destangreys, 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar