Minggu, 11 Desember 2016

Terima Kasih Pandji, Terima Kasih #JuruBicaraJKT

Sabtu, 10 Desember 2016, satu potong puzzle terakhir akhirnya melengkapi lembaran mozaik cerita epik hidup saya tahun ini. Saya mewujudkan tekad dan niat menonton konser stand up comedy special milik idola dan inspirasi saya selama ini, Pandji Pragiwaksono.

Bertajuk Juru Bicara World Tour, Pandji setahun terakhir memang mengadakan tur dunia stand up comedy (lagi). Tidak tanggung-tanggung, 24 kota di 5 benua dia sambangi yang katanya untuk membuktikan kalau tur dunia sebelumnya yang diberi nama Mesakke Bangsaku World Tour bukan kebetulan semata.

Setelah resmi diumumkan, Juru Bicara Jakarta langsung jadi bidikan utama saya. Karena selain paling dekat dijangkau, Jakarta selalu jadi penutup rangkaian turnya Pandji. Dua tur sebelumnya, Merdeka Dalam Bercanda dan Mesakke Bangsaku juga berakhir di Jakarta jadi saya yakin dia tidak akan memberikan yang biasa, istilahnya Juru Bicara Jakarta adalah paling special dari yang special.

Dan benar saja, Pandji memilih The Kasablanka Hall berkapasitas 3500 orang di lantai tiga mal Kota Kasablanka sebagai venue Juru Bicara Jakarta. Gila!

17 Agustus 2016, presale satu yang menjual 1000 tiket dimulai dan tak dinyana dalam waktu 24 jam tiketnya ludes terjual. Saya beruntung karena termasuk yang bisa mendapatkan tiket dari penjualan tiket di presale satu itu. Lega dan tidak sabar!

Oia..sekedar informasi 3000 tiket akhirnya sold out beberapa minggu sebelum konser digelar. GOKS!
Empat bulan kurang menunggu akhirnya harinya tiba. Pukul 18.30 WIB saya sudah duduk manis di venue megah itu, menunggu, dengan lagu dari playlist Pandji yang kaya akan warna musik. The Kasablanka Hall memang sempurna untuk sebuah pertunjukan. Kapasitas, layout hingga audio sangat mumpuni (ya walau mic Pandji sempat mati dua kali sih).

Tepat pukul 19.30 WIB konser dimulai, dibuka dengan penampilan Coki Pardede dan Indra Jegel. Sejujurnya saya tidak terlalu suka dua komika ini tapi malam itu, saya terbahak menonton mereka bahkan sejak bit pertama. Coki dengan keabsurdannya dan Jegel yang agresif dan sangat berani membuat pembukaan Juru Bicara Jakarta bukan saja hangat tapi panas. Saya rasa tidak salah Pandji memilih opener.

Bit Coki favorit saya adalah bit pertama tentang Young Lex sementara bit Jegel favorit saya tentang reality show "Katakan Putus" yang cowonya pengangguran. Itu kampret banget!

Usai Coki dan Jegel, tanpa jeda Pandji langsung mengambil alih panggung. Diawali intro video selama perjalanan 23 kota dengan iringan lagu dari Bone Thugs-n-Harmony feat Phil Collins "Home", Pandji membuat isyarat bahwa ini saatnya kembali ke rumah, menutup tur di rumah, di Jakarta.

Sayangnya, bit pembuka dari Pandji tentang budaya kentut di Tiongkok sudah pernah saya dengar jadi tidak terlalu nendang tapi selepas itu selama lebih kurang dua setengah jam, Pandji menghajar saya dengan bit-bit yang membuat rahang dan perut saya sakit karena tak henti tertawa.

Lebih dari itu, Pandji tidak hanya memberikan tawa-tawa kosong tapi dia dengan sangat jenius memberikan motivasi, ilmu dan banyak keresahan yang harus jadi pemikiran kita, harus jadi concern kita dan harus kita cari solusinya. Itulah yang selalu terjadi ketika menonton stand up nya Pandji, keluar dari situ pikiran kita akan penuh dengan pemikiran-pemikiran. Ya walau saya tahu ada yang tidak setuju dengan banyak apa yang Pandji sampaikan tapi percayalah itu bikin ketagihan. Hehe.

Berbicara materi, Juru Bicara memang materinya paling tidak aman, isunya serius dan tidak ada lucu-lucunya tapi Pandji sekali lagi dengan sangat jenius membuat semuanya menjadi sangat lucu. Materi tentang rating, regulasi ganja, regulasi prostitusi, aksi kamisan, HAM dan konservasi satwa yang mencerahkan, materi berkarya yang menginspirasi hingga materi mie instan, daun bungkus Papua, magic tissue dan Duo Serigala yang ringan dibungkus dengan apik oleh Pandji sebagai bukti kematangan dan kedisplinan Pandji dalam berkarya. Unik, beda dan original.

Sehingga tak ayal kalimat "sedikit lebih beda lebih baik, daripada sedikit lebih baik" dan "disiplin awalnya mengekang pada akhirnya membebaskan" akan selalu terkenang oleh 3500 penonton yang standing ovation saat Pandji menutup dengan ucapan selamat malam. You deserved to be the best Mr. World Tour! Congratulations!

Dan akhirnya walau banyak sekali impian saya terwujud tahun ini termasuk impian sejak tahun 2008 yaitu kerja di PBSI tapi Pandji dan Juru Bicaranya menyadarkan saya sesuatu bahwa mewujudkan mimpi itu tidak cukup tapi kita harus berani menghidupi dan hidup dari mimpi-mimpi tersebut. Berkaryalah!

Terima kasih Pandji, terima kasih #JuruBicaraJKT!

@Destangreys, 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar