Jumat, 03 Mei 2013

HARDIKNAS

2 Mei 2013.

Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini saya merasa lebih miris dalam merayakannya. Banyak sekali problematika-problematika yang hadir menyapa tapi semestinya tidak harus terjadi untuk negara yang sistem pendidikannya sudah cukup baik walau belum istimewa.

Yang paing kentara dan masih diingat tentunya pelaksanaan Ujian Nasional tingkat SMA dan SMP beberapa waktu lalu yang kacau balau kalau tidak boleh dibilang gagal. Keterlambatan distribusi soal hingga kualitas kertas jawaban yang sangat jelek membuat banyak kalangan menilai pemerintah tidak serius mengadakan UN.

Jelas hal ini merugikan para peserta UN yang notabene sebagai objek pendidikan yang akan menjadi generasi penerus bangsa, menjadi generasi yang akan membawa nama Indonesia ke depannya. Pantaskah hak mereka dikorbankan dengan cara seperti ini? Layakkah hak mereka dicuri padahal mereka habis-habisan belajar demi sebuah kelulusan dan kebanggaan orang tua? Kalau sudah begini, lebih baik UN dihapuskan saja karena sudah tidak lagi menjadi sistem yang efektif dan potensi ladang bagi oknum yang pikirannya hanya menggendutkan kantong-kantong pribadi.

Tidak hanya itu, saya mendengar desas-desus bahwa kurikulum akan diperbaharui dimana pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dan Bahasa Inggris akan dihapus. Bila ini yang terjadi saya tidak setuju dan saya akan berada di garda depan menjadi penentang. 

Kenapa?

Karena saya tahu persis pentingnya dua pelajaran itu di masa kini dan akan sangat berguna bila dipelajari sejak dini. Pelajaran TIK atau mudahnya pelajaran Komputer adalah pelajaran wajib yang harus dikuasai sejak pendidikan dasar agar semakin tinggi semakin handal tentang komputer. Di dunia kerja selalu ada nilai plus bagi karyawan yang handal komputer apalagi tahu tentang IT dan pastinya karirnya juga akan mudah melesat. Begitu juga dengan Bahasa Inggris, menguasai dan berani berbicara bahasa ini sejak muda akan membuat kita hafal dan fasih agar nantinya mudah bergaul dan memperluas networking di era modern dan globalisasi ini. 

Sebagai perbandingan, Pak Gita Wirjawan yang merupakan Ketua PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia) saja menginstrusikan atlet-atletnya untuk belajar bahasa Inggris agar bisa menjawab saat diwawancara media asing masa yang di pendidikan dasarnya mau dihapus. :)

Akhirnya, saya mengucapkan selamat HARDIKNAS, semoga pendidikan tidak lagi menjadi HARDIK-HARDIKan masyarakat dan sistemnya terus mampu berkembang menjadi lebih sempurna agar terus mencetak generasi-generasi cerdas nan kreatif yang bisa membawa harum Indonesia di mata dunia.

@Destangreys, 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar