12 Mei 1998.
Usia saya sudah 9 tahun dan belum
genap setahun meninggalkan Jakarta menuju Sukabumi, rumah saya yang baru. Tapi
saya dengar beritanya, saya tahu dan saya mengerti.
Ratusan mahasiswa Universitas
Trisakti berorasi dan berdemonstrasi hari itu menuntut turunnya Soeharto
sebagai presiden RI di halaman kampusnya. Awalnya berlangsung damai sebelum
mahasiswa mulai bergerak menuju DPR, petugas pengaman demo yang terdiri dari
TNI dan Polri menghadang laju mahasiswa. Beranjak sore entah apa awalnya petaka
terjadi, chaos berujung bentrok antar mahasiswa dengan petugas pengaman yang
bersenjata lengkap tidak bisa dihindarkan.
Tembakan-tembakan petugas dibalas
lemparan batu mahasiswa yang berusaha kembali dan bertahan di kampus. Kontak
ini terjadi sekitar 20 menit dan hasilnya belasan mahasiswa terluka dan bahkan
4 orang meregang nyawa tertembus peluru aparat.
Hari ini, tepat 15 tahun
peristiwa itu tanpa pernah ada kejelasan lanjutan, tanpa pernah dibuka siapa
dalangnya dan tanpa ada keadilan yang seakan dibutakan. Namun, saya dan banyak
orang menolak lupa, kami akan teruskan perjuangan mereka agar kepergian mereka
tidak sia-sia. Kami akan terus menuntut kebenaran dan membongkar kasus ini
sampai total terkuak walau sekedar hanya dengan suara-suara kecil via timeline
Twitter.
Tulisan ini saya dedikasikan
untuk kakak-kakak yang gugur saat itu, Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto,
Hafidin Royan dan Hendriawan Sie. Terima kasih telah menjadi pelopor gerakan
mahasiswa akan reformasi dan demokrasi. Istirahatlah dengan tenang di surga
pahlawan, doa kami selalu mengiringi.
“Negara yang
hebat adalah negara yang tidak pernah melupakan jasa-jasa pahlawannya”.
@Destangreys, 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar