Jumat, 03 Mei 2013

Saatnya Mengembalikan Porsi Yang Berlebihan...


Tulisan ini saya buat di pertengahan 2010, semoga masih relevan dengan kenyataan sekarang. :)
 
"Pujian adalah sebuah teror"

Guyonan khas salah satu pelawak Indonesia di atas menjadi awal kenapa tulisan ini akhirnya saya buat. Nampak sederhana memang tapi bila ditelaah ada makna cukup dalam pada guyonan itu. Setidaknya untuk saya saat melihat perjalanan bulutangkis putri kita 2 tahun belakangan ini.

Semua berawal dari kejuaraan bergengsi Thomas-Uber Cup 2008. Ketika mengawali turnamen pada saat itu tim Uber kita dipandang sebelah mata dan diremehkan publik tapi tak dinyana mereka berhasil menembus babak final sebelum dikalahkan Cina dengan skor 3-0. Disadari atau tidak, keberhasilan ini dianggap sebagai awal hidupnya kembali kepercayaan, gairah dan semangat baru masyarakat untuk mendukung juga mengapresiasi perjuangan mereka. Lalu, tak bisa dipungkiri dalam gairah dan semangat baru itu selalu terselip harapan yang baru juga. Bila sebelumnya masuk final saja sudah merupakan prestasi maka sekarang minimal gelar juara harus dipersembahkan untuk Tanah Air.

Namun setelah itu alih-alih gelar juara, atlet-atlet putri kita malah tampil melempem di kejuaraan-kejuaraan bertaraf internasional. Paling banter hanya menembus babak final Super Series dan kalaupun ada yang juara dipastikan itu di nomor ganda campuran. Dan pada akhirnya, bersamaan dengan berakhirnya kejuaraan Indonesia Open Super Series 2010 kemarin yang lagi-lagi tidak menghasilkan gelar apa-apa terbersit dalam benak saya sebuah pertanyaan besar "Ada apa ini?"

Memang akan banyak sekali faktor untuk dapat menjawab pertanyaan ini tergantung dari persepsi mana anda melihat atau menilainya. Tapi, saya sebagai pencinta, penggemar, pendukung atau apapun itu namanya punya satu persepsi tentang ini semua. Yupz, satu kalimat yang dimunculkan di atas memang menjadi dasar persepsi saya. Mungkin inilah yang terjadi sekarang, atlet-atlet putri kita sudah kekenyangan akan berbagai pujian, dukungan dan apresiasi yang sudah memasuki jalur berlebihan yang kemudian menjelma menjadi sebuah teror. Baik teror berupa beban akan harapan maupun teror yang berupa sebagai sikap keterlenaan yang membuai dan menjadikan mereka seperti tidak lagi mementingkan prestasi dan gelar. Toch, apapun hasilnya mereka tetap dipuja.

Nah, berarti pujian, dukungan dan apresiasi yang kita berikan sudah tidak lagi bersifat objektif. Kita sebagai pencinta, penggemar, pendukung atau apapun itu namanya tidak mampu lagi memberikan saran, kritik atau keskeptisan yang membangun karna sudah kadung "jatuh cinta" atau terlanjur menggemari sehingga menang atau kalah, berprestasi atau tidak kita tetap memberikan pujian, dukungan dan apresiasi dengan kadar yang sama dan tetap. Kalau sudah begini, berlebihan bukan namanya?

Oleh karena itu, marilah kita mencoba mengembalilkan pujian, dukungan dan apresiasi yang sudah kelebihan porsi ini ke tempat yang semestinya, marilah mengurangi frekuensi dan kadarnya. Bukan untuk memandang remeh dan sebelah mata melainkan untuk melepaskan teror yang ada agar mereka kembali fokus. Percayalah, mereka bisa berprestasi luar biasa tanpa kagum yang terlalu atau tanpa cinta yang terlalu. Mereka bisa. 

@Destangreys, 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar