Minggu, 08 Maret 2015

Berhenti Juara Tapi Tak Berhenti Bangga!

Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir adalah fenomena bagi Bulutangkis Indonesia bahkan dunia. Paceklik gelar di turnamen Bulutangkis paling bergengsi All England sejak 2003, Owi/Butet (Panggilan akrab Tontowi/Liliyana, red) menghapus dahaga itu usai meraih kemenangan di partai final atas pasangan Denmark Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl 21-17 dan 21-19. Gelar ini juga sekaligus mengakhiri nihil gelar Indonesia di nomor ganda campuran selama hampir 33 tahun.

Ternyata, kejutan Owi/Butet di All England tidak berhenti di tahun itu. National Indoor Arena di kota Birmingham tempat berlangsungnya kejuaraan menjadi saksi bisu berjayanya Owi/Butet di 2 tahun berikutnya. Dengan lawan yang sama yaitu Zhang Nan/Zhao Yunlei asal China, Owi/Butet mengukir rekor three-peat alias hattrick alias juara 3 kali beruntun di salah satu kejuaraan tertua di benua biru pada tahun 2013 dan 2014.

Memasuki bulan Maret tahun 2015, All England kembali dihelat dan publik menanti sejauh mana sang juara bertahan akan melaju apalagi Owi/Butet membidik rekor baru yaitu juara 4 kali beruntun atau quattrick. Dan trek kesana ternyata sukses dilalui Owi/Butet dengan cukup mulus. Dari awal babak hingga babak final, mereka hanya kehilangan satu game saat berhadapan dengan wakil tuan rumah Chris Adcock/Gabriella Adcock di babak perempat final, selebihnya pasangan nomor 4 dunia menang straight bahkan dari ganda Denmark Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen yang biasanya selalu merepotkan.

Di final Owi/Butet kembali berhadapan dengan lawan yang sama, peraih emas Olimpiade London 2012 asal China Zhang Nan/Zhao Yunlei yang notabene juga adalah lawan yang mereka kalahkan di 2 tahun sebelumnya untuk rengkuh gelar juara.

Minggu siang atau malam di Indonesia, 8 Maret 2015 partai final digelar, harapan membumbung tinggi namun tak dinyana memori indah tidak terulang, Owi/Butet harus mengakui keunggulan pasangan China 10-21 10-21 dan harus merelakan gelarnya direbut sang rival lewar permainan tanpa cela, set play sangat baik, penyerangan agresif dan pertahanan sempurna.

Hasil ini memang mengecewakan apalagi gagalnya Owi/Butet pertahankan juara berarti juga Indonesia harus puas tanpa gelar tapi hal itu bukan berarti kebanggaan pada mereka ikut dilunturkan. Torehan 4 kali final beruntun, dengan 3 kali juara dan 1 runner up adalah prestasi luar biasa yang tak mudah diulang oleh siapapun. Perjuangan Owi/Butet harus diapresiasi setinggi-tingginya seraya berharap mereka akan kembali lebih kuat dan lebih baik menghadapi kejuaraan-kejuaraan penting tahun ini jelang Olimpiade Rio De Janeiro Brazil tahun depan.

*Oia..btw Owi/Butet tadi kalah bukan hanya karna lawan main lebih bagus tapi lebih karna National Indoor Arena Stadium sekarang namanya berubah jadi Barclaycard Arena. Hilang deh hokinya. Hehe. :P

@Destangreys, 2015

*Just joke

1 komentar:

  1. iya, walau bagaimana pun mereka tetap juara di hati masyarakat seluruh Indonesia

    loh bukannya karena National Indoor Arena Stadium berubah seperti Istora ? :D *just joke

    BalasHapus