Senin, 10 Maret 2014

Cahaya Kemenangan Di Langit Birmingham!


Di tengah-tengah persaingan politik yang semakin memanas memasuki bulan-bulan Pemilu, Indonesia kembali mencetak prestasi dan sejarah harum nan menawan di kancah internasional lewat olahraga paling membanggakan tadi malam. Ya (lagi-lagi) Bulutangkis mampu menerbangkan 2 gelar juara ke pangkuan Ibu Pertiwi dari The National Indoor Arena di kota Birmingham, Inggris, tempat berlangsungnya kejuaraan bergengsi All England 2014.

Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir adalah tokoh protagonis dalam kemenangan Indonesia itu. 2 pasangan terbaik ini mampu merengkuh target juara dan menjawab ekspektasi publik yang menanti gelar di tahun 2014 dengan torehan sempurna di waktu yang tepat.

Waktu yang tepat karena usai juara di Kejuaraan Dunia 2013, 2 pasangan ini dan para pemain Indonesia umumnya mengalami penurunan performa walau setelah itu Ahsan/Hendra sempat juara di Jepang Super Series, Owi/Butet di China Premiere Super Series plus Kido/Gideon yang berjaya di Perancis Super Series tapi secara keseluruhan penampilan mereka cenderung melempem. Dan keadaan itu berlanjut di awal 2014 dimana pemain Indonesia seperti kehilangan taji tanpa sebiji gelar di 2 kejuaraan awal bulan Januari, Korea Super Series dan Malaysia Premiere Super Series.

Dan sehingga kemenangan Ahsan/Hendra dan Owi/Butet ini menjadi amat penting sebagai signal dan wake up call untuk kembali bangkit berprestasi bagi pasukan kita seperti apa yang diperlihatkan sepanjang Januari-Agustus tahun lalu.

Keberhasilan Ahsan/Hendra dan Owi/Butet menjuarai All England semalam juga merangkai cerita menarik yang akan membekas sebagai sejarah bagi keduanya.

Dimulai dari Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan, ganda putra nomor 1 dunia ini memang mematok All England sebagai salah satu turnamen yang harus dimenangi dan melihat peta persaingan di nomor ini peluang itu sangatlah besar apalagi lawan asal Korea yang selama ini menjadi momok yaitu Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong tidak turun lantaran LYD sedang menjalani masa skors satu tahun akibat mangkir dari tes doping.  
 
Kesempatan ini akhirnya benar-benar dimanfaatkan oleh Ahsan/Hendra dengan bermain sangat baik sejak awal kejuaraan, kepercayaan diri dan ambisi menjadi sebuah motivasi luar biasa untuk meraih gelar All England pertama bagi kedua pemain yang baru saja menjadi seorang ayah ini. Hanya kehilangan satu game di babak kedua dari Chris Langridge/Peter Mills, Ahsan/Hendra menghempas semua lawan dengan permainan menawan bahkan di partai final melawan ganda alot Jepang Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa, Ahsan/Hendra mampu lepas dari tekanan lalu menang dengan skor kembar 21-19 21-19 sekaligus mengakhiri penantian 11 tahun puasa gelar ganda putra di All England sejak terakhir kali Chandra Wijaya/Sigit Budiarto di tahun 2003.

Bagi Hendra gelar ini menggenapi semua pencapaian di ajang bergengsi perorangan setelah Sea Games, Asian Games, Olimpiade dan Kejuaraan Dunia pernah ia raih sebelumnya. Lengkap!

Lain Ahsan/Hendra, lain pula cerita Owi/Butet. Owi/Butet yang sudah 2 kali juara All England beruntun di tahun 2012 dan 2013 berhasrat untuk menciptakan Three-Peat alias 3 kali juara berturut-turut. Bukan hal mudah mengingat Owi/Butet sedang tidak di top perform di awal tahun ini sementara para pesaingnya seperti Xu Chen/Ma Jin dan Zhang Nan/Zhao Yunlei malah tampil mengganas. Keberuntungan memang memihak dengan drawing relatif mudah sebagai unggulan kedua sehingga langkah menuju impian besar itu semakin dekat namun di lain sisi membuat Owi/Butet seakan tidak teruji sepanjang kejuaraan sehingga ada kekhawatiran mereka tidak in di partai puncak.

Namun kekhawatiran itu mentah saat The National Indoor Arena memainkan partai final kelima nomor ganda campuran yang mempertemukan Owi/Butet melawan pasangan unggulan pertama China Zhang Nan/Zhao Yunlei. Owi/Butet yang di pertemuan terakhir kalah nampak sangat siap dan enjoy menjalani pertandingan, mengambil inisatif serangan sejak awal Owi/Butet terus menekan hingga Zhang/Zhao tidak bisa mengembangkan permainan dan terus terbawa arus permainan lawan. Ditambah penampilan Owi yang sempurna serta Butet yang tenang membuat Zhang/Zhao seakan kehabisan akal untuk mengambil alih kontrol pertandingan. Owi/Butet akhirnya menang 21-13 21-17. Three-Peat is happened!!
 
Sekarang Owi/Butet bersanding dengan Park Joo-Bong/Chung Myung-Hee di deretan peraih Three-Peat nomor ganda campuran dan beberapa nama di nomor lain sehingga tidak berlebihan rasanya kalau Owi/Butet ditasbihkan sebagai legenda All England dari Indonesia.
 
Malam tadi, langit Birmingham bermandikan kerlap-kerlip bintang prestasi nan berkilauan yang membias gempita cahaya kemenangan penuh euforia berkat hasil kerja keras, keyakinan dan percaya akan sebuah mimpi.


Selamat dan terima kasih Ahsan/Hendra!!!








Selamat dan terima kasih Owi/Butet!!!






@Destangreys, 2014

*Courtesy : badmintonindonesia.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar