Rabu, 20 Maret 2013

Satu Indonesia…

Prahara itupun berakhir sudah! Kongres Luar Biasa 19 Maret 2013 adalah ujung dari kisruh sepak bola nasional yang sudah menggelinding besar bak bola salju sejak terpilihnya Djohar Arifin Husin sebagai ketua umum. Dualisme kepemimpinan sudah tidak ada lagi, PSSI tandingan bernama KPSI itu akhirnya bubar dan anggotanya termasuk sang pendiri La Nyalla kembali ke pelukan satu PSSI.

Digelar di Hotel Borobudur, Kongres Luar Biasa diwarnai sedikit ricuh dan walk out nya 6 anggota Exco namun hal itu tidak mempengaruhi hasil keputusan yang mufakat dan bisa dibilang bulat. Penyatuan liga dan ditunjuknya La Nyalla sebagai wakil ketua umum menurut saya merupakan salah dua keputusan yang menjadi win-win solution. Selain itu, kita juga patut bersyukur atas penetapan AFC dan FIFA yang mengesahkan KLB tersebut sekaligus menghindari Indonesia dari sanksi berat yang selama ini membayang-bayangi.

Keputusan berani malah hadir usai KLB, PSSI dengan mengejutkan kembali mengganti pelatih timnas untuk persiapan menghadapi Arab Saudi di lanjutan Pra Piala Asia 2015 akhir pekan nanti. Tidak tanggung-tanggung, PSSI memanggil dua nama pelatih kenamaan Rahmad Darmawan dan Jacksen F Tiago untuk berduet mengantikan Luis Manuel Blanco yang digeser posisinya ke Direktur Teknik. Kebijakan Blanco yang mencoret 14 pemain berkualitas padahal mereka belum genap sehari latihan ditambah belum juga begitu mengenal karakter sepak bola Indonesia ditengarai membuat PSSI akhirnya mengambil langkah itu.

Berat memang tugas coach RD dan Jacksen dengan waktu efektif hanya sekitar 4 hari untuk mempersiapkan timnas secara maksimal tetapi optimisme tetap harus didengungkan mengingat dua pelatih ini hafal betul karakter pemain-pemain kita apalagi beberapanya adalah anak asuh mereka di klub.    
 
Ok, kembali ke permasalahan awal. Disini, saya tak ingin membuka luka lama jadi saya memutuskan untuk tidak flash back apa yang awalnya terjadi sehingga sepak bola nasional bisa seperti ini, saya juga tidak terlalu mengikuti perkembangan perpecahan tersebut jadi tidak bisa mengurai berapa banyak kejadian, berapa banyak drama dan emosi yang hadir setiap episodenya tapi yang saya tahu banyak kongres yang dilalui tanpa menghasilkan keputusan yang membawa dampak baik bagi persepakbolaan kita sebelum KLB 19 Maret ini.

Saya hanya ingin berterima kasih kepada semua pihak yang concern akan penyelamatan sepak bola Indonesia. Terima kasih Menpora beserta jajarannya telah menjadi mediator yang luar biasa dan berjanji akan terus mengawal proses ini hingga benar-benar kondusif. Terima kasih pada Djohar cs, La Nyalla cs, Sekjen PSSI, anggota Exco dan semua pengprov yang mau duduk satu meja, yang mau mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama nan besar. Terima kasih masyarakat Indonesia yang terus berdoa dan percaya akan kebangkitan sepak bola nasional.

Rindu akan timnas dengan taburan talenta-talenta terbaik mungkin akan terbuncahkan akhir pekan ini namun rindu akan sebuah gelar juara masih akan menjadi penantian yang sesungguhnya tidak perlu terlalu lama bila mulai sekarang kita bahu membahu mambangun, menjaga dan memelihara sepak bola positif, damai dan kondusif lewat SATU LIGA, SATU TIMNAS, SATU PSSI demi SATU INDONESIA!

@Destangreys, 2013           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar